Cinta Sang Pewaris Tampan

Cinta Sang Pewaris Tampan
Ciumannya


__ADS_3

“Kau tahu, Belle? Makanan yang kau buat semakin lezat saja. Tak heran jika restoranmu ini begitu banyak diminati oleh orang-orang,” puji Aland saat Belle tengah sibuk mencuci piring dan gelas bekas makan malam mereka tadi.


Belle tersenyum dengan kepala menggeleng. “Kau juga harus tahu, setelah pulang dari Madrid kau pun bertambah mahir dalam menggoda wanita,” ucapnya disertai tawa kecil.


Aland tidak mampu menahan senyumnya. Ia biarkan saya kedua sudut bibirnya tertarik hingga menciptakan sebuah lengkungan senyum yang manis. Senyum yang selalu mampu membuat Belle nyaman bersama dengannya. Aland tahu itu.


“Boleh aku tahu kenapa kau mengubah jam tutup restoran ini? Padahal jika kau masih buka hingga jam makan malam, akan ada banyak orang yang datang ke sini.”


Setelah menghembuskan napas berat, Belle menjawab, “Aku membutuhkan waktu yang cukup untuk beristirahat, Aland. Seharian penuh aku berkutat sendirian dengan semua jenis masakan yang dipesan para pelanggan. Bahkan, dua pegawaiku saja sering kewalahan menghadapi pelanggan.”


Aland mengangguk mengerti. “Mengapa tidak kau cari pegawai baru untuk membantumu? Dua pegawai untuk satu shift. Mungkin kalian tidak akan begitu kewalahan.”


“Aku akan mencoba memikirkan saranmu.”


Baru saja mematikan keran air di wastafel, Belle merasakan sesuatu melingkari pinggangnya. Membuat Belle menunduk untuk menatap tangan kekar milik Aland. Hingga pandangan mata Belle terpaku pada gelang hitam yang begitu familier di matanya.


Tangan Belle terulur untuk menyentuh gelang di tangan Aland. Gelang sederhana yang Belle ingat sebagai salah satu hasil karyanya saat ada tugas membuat kerajinan tangan di sekolah menengah atas dulu.


Dulu gelang itu ada dua. Sengaja Belle berikan salah satunya pada Aland agar pria itu selalu mengingat dirinya ke mana saja dia pergi. Begitu juga sebaliknya. Belle menyimpan satu gelang lainnya agar sewaktu-waktu dia hanya perlu menatap ke arah gelang itu ketika sedang merindukan Aland.


“Kau masih menyimpannya?” tanya Belle. Meskipun sebenarnya pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban, karena Belle dapat melihat sendiri jawabannya.


Meskipun warnanya sudah tidak secantik dulu, tapi Belle masih melihat keindahan tersendiri ketika gelang itu melingkar di tangan Aland.


“Aku pikir sudah kau lupakan,” bisik Belle terharu. Tanpa sadar setetes air mata menggenang di pelupuk matanya.


Aland membalikkan posisi tubuh Belle hingga berubah posisi menjadi berhadapan dengannya. Dia menunduk untuk menempelkan dahi mereka. Hingga kini Aland dapat merasakan embusan napas Belle menyentuh permukaan bibirnya.


“Kau sudah cukup lama mengenalku, Belle. Apa pernah kau menemukan Aland Davidson lupa pada sepupunya yang sangat cantik ini? Hm?” bisik Aland lembut.


“Aku tahu ada banyak wanita-wanita cantik di Madrid. Mereka menyukaimu, Aland. Aku tauu itu, karena kau populer di sana,” ucap Belle pelan. Dari nada suara itu, ada kesedihan yang terselip di antara setiap kata yang terucap.


Aland tahu Belle sedih setelah hampir satu tahun dia meninggalkan wanita itu seorang diri di Barcelona. Tidak ada kabar apa pun yang ia berikan untuk wanita itu. Sehingga mungkin itulah yang membuat Belle berpikir bahwa Aland telah melupakan dirinya.


“Wanita cantik ada banyak di dunia ini, Belle. Namun, wanita yang memiliki ketulusan hati, wanita yang rela mengorbankan diri untukku, aku tidak pernah menemukannya di dalam diri wanita lain selain kau, Belle,” balas Aland.


Aland memajukan wajahnya hingga bibirnya menempel sempurna pada bibir Belle. Niatnya hanya ingin memberikan kecupan sekilas. Namun, begitu merasakan rasa manis sisa anggur yang mereka minum bersama tadi membuat Aland mengurungkan niatnya. Dia ******* bibir manis milik Belle penuh kelembutan.


“Kau harus mencari tempat tinggal yang layak, Belle,” bisik Aland setelah melepas pagutan bibirnya.


“Restoran ini memiliki ruang yang layak untuk aku tinggali, Aland,” balas Belle.

__ADS_1


“Tidak. Keamanan di sini tidak terjamin. Tinggallah di Penthouse bersamaku. Kau akan aman di sana karena ada aku yang akan selalu menjagamu,” pinta Aland penuh permohonan.


Sembari memberikan senyum tipis, Belle menggelengkan kepala sebagai pertanda bahwa dia menolak untuk menuruti permintaan Aland yang satu itu.


“Aku tidak bisa tinggal bersamamu, Aland.”


Sinar mata Aland menampilkan kekecewaan setelah mendengarkan penolakan itu. Tanpa ragu, dia bertanya, “Karena kau tak ingin terlibat lagi di lingkungan keluargaku?”


Belle menggelengkan kepala. “Bukan itu alasannya. Aku ingin menjaga restoran ini. Kau pun tahu kalau restoran ini adalah satu-satunya sumber penghidupan yang aku punya saat ini,” ucapnya.


Aland menghela napas berat. Dengan penuh penyesalan, dia berkata, “Maafkan aku, Belle. Seharusnya aku bisa membantumu mendapatkan keadilan.”


Tangan Belle terulur untuk menyentuh wajah Aland. “Jangan salahkan dirimu, Aland. Aku tahu, kau pun tak menginginkan ini terjadi. Aku percaya kau tidak buruk seperti anggota keluargamu yang lain. Maka dari itu aku bersedia bertahan di sampingmu hingga saat ini,” ucapnya penuh kelembutan.


Seperti biasanya, Belle selalu mampu menjadi penenang hati Aland.


“Tolong jangan membahas tentang itu lagi. Aku hanya ingin fokus pada kehidupanku hari ini dan esok hari,” pinta Belle. Yang kemudian dibalas anggukan kepala oleh Aland.


“Pulanglah, Aland. Kau perlu istirahat setelah perjalanan jauh dari Madrid.”


Belle melangkah keluar dari dapur bersih miliknya. Sementara Aland segera menyusul langkah Belle. Pria itu menarik tubuh Belle agar menempel sempurna pada tubuhnya saat berada di tengah-tengah ruang pelanggan.


“Aku masih ingin bersamamu, Belle. Kau tahu, hampir satu tahun aku memendam rindu padamu.”


Setelahnya mereka kembali bercumbu. Meluapkan kerinduan yang katanya telah dipendam hampir satu tahun lamanya. Hingga tanpa mereka sadari, tindakan mereka sudah lebih jauh dari cumbuan semata.


“Aland!” panggil Belle lembut kala Aland tidak bisa mengontrol dirinya.


Hingga lonceng di pintu utama membuat Belle segera mendorong tubuh Aland menjauh dari dirinya. Belle melompat turun dari meja yang entah kapan sudah ia duduki. Lalu, matanya memandang gugup pada sosok pria yang ia kenali.


“Arthur!” panggil Belle tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya.


“Maaf mengganggu waktu kalian. Aku pikir restoran ini telah tutup, sehingga tak terpikirkan bahwa ada orang lain selain Belle,” ucap Arthur. Dia tampak pura-pura tidak tahu dengan apa yang ia lihat tadi.


“Aku pikir kau tak akan datang lagi ke restoranku setelah hari itu.”


“Aku akan pergi, jika kalian masih punya urusan.”


“Tidak!” Belle mencegah langkah Arthur dengan cepat.


Begitu menyadari tatapan bingung yang diberikan Aland, Belle berkata, “Aland, dia Arthur. Dialah yang membantuku memasang kipas angin ini beberapa hari yang lalu.”

__ADS_1


Meskipun tampak tidak senang dengan kehadiran Arthur, Aland tetap melangkah maju mendekati pria itu. “Senang bertemu denganmu, Tuan,” ucapnya sembari menjabat tangan Arthur.


‘Cih! Formalitas belaka,' pikir Arthur.


“Cukup panggil aku dengan nama saja,” pinta Arthur.


“Kau tak tampak seperti orang Spanyol. Apakah kau seorang Imigran?” tanya Aland.


“Katakanlah begitu. Aku tumbuh di Amerika. Namun, Ayahku adalah salah satu keturunan penduduk Spanyol.”


Aland mengangguk mengerti.


Sebelum obrolan menjadi semakin jauh, Belle menyentuh lengan Aland. “Pulanglah terlebih dahulu, Aland. Kita masih bisa bertemu besok.”


Terlihat adanya penolakan dari sorot mata Aland. Namun, entah mengapa yang diberikan pria itu malah sebaliknya. Dia mengangguk menyetujui permintaan Belle dan bergegas pergi meninggalkan Belle bersama dengan Arthur.


Selama beberapa saat, baik Belle maupun Arthur, keduanya sama-sama diam. Hingga suara perut Arthur menyadarkan Belle dari diamnya.


Wanita itu tertawa geli menatap Arthur dengan wajah malunya. Dia bertanya, “Kau kelaparan?”


Arthur menganggukkan kepala.


“Mau makan Pizza atau yang lainnya?” tanya Belle.


“Pizza saja,” jawab Arthur.


Belle tersenyum manis. “Baiklah. Tunggu di sini, akan aku buatkan Pizza untukmu,” ucapnya.


Sebelum Belle menghilang dari pandangan matanya, entah mendapat ide dari mana tiba-tiba Arthur bertanya, “Pria itu kekasihmu?”


Secara otomatis langkah Belle terhenti. Mimik wajahnya berubah drastis setelah mendengar pertanyaan dari Arthur.


Belle tidak memiliki jawaban yang cukup meyakinkan untuk pertanyaan itu. Meskipun, dalam hati ia menjawab dengan kata 'iya', tidak pernah ada perkataan apa pun yang membuat Belle dan Aland terikat di sebagai sepasang kekasih.


Pada akhirnya yang keluar hanyalah jawaban teknis saja.


“Tidak. Dia sepupuku,” jawab Belle.


Jawaban yang berhasil membuat alis Arthur saling bertaut bingung. Ingin rasanya dia bertanya lebih jauh, tapi ia tidak akan melakukannya. Karena demi apa pun, mengulik kehidupan seseorang bukanlah karakter Arthur.


Namun, sepasang saudara sepupu berciuman seperti tadi? Apakah itu layak?

__ADS_1


Ah, baiklah. Di beberapa negara mungkin hak seperti itu sudah biasa terjadi. Arthur sering menemukannya saat di Amerika. Mungkin hal itu pun sudah biasa di sini.


__ADS_2