Cinta Sang Pewaris Tampan

Cinta Sang Pewaris Tampan
Peluru Beracun


__ADS_3

“Halo. Ada apa kau menghubugiku, Arthur?”


Belle berusaha menenangkan diri ketika seorang pria menerima panggilan telepon yang ia lakukan menggunakan ponsel Arthur. Seluruh tubuhnya bergetar akibat rasa panik yang menyelimuti benaknya semenjak menemukan Arthur dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Belle bingung harus bagaimana menjelaskan kondisi Arthur saat ini.


“Arthur!” Suara pria dari dalam ponsel masih terdengar memanggil-manggil nama Arthur.


“Jika kau tidak segera mengatakan keperluanmu, akan aku tutup panggilan ini. Masih ada banyak pasien yang membutuhkan bantuanku di sini,” lanjut pria di seberang sana.


“Tidak! Jangan tutup panggilan ini, Tuan!” cegah Belle.


“Siapa kau?”


Belle menggigit bibirnya kuat. Setelah berhasil mengumpulkan keberanian, Belle berkata, “Aku Belle, teman Arthur. Saat ini Arthur tengah berada di restoranku, Tuan. Dia sekarat.”


“Setahuku Arthur tak memiliki teman di Barcelona. Kau mencuri ponsel ini darinya, kan? Apa yang kau inginkan dengan menghubungi diriku?”


Belle hampir putus asa mencari jawaban yang tepat untuk tuduhan itu. Namun, biar bagaimanapun ia harus terus mengusahakan agar Arthur lekas mendapat penanganan. Andai saja Arthur tidak bersikeras menolak niat Belle membawanya ke rumah sakit, mungkin pria itu sudah mendapatkan penanganan terbaik.


“Dengar, Tuan! Aku tidak berniat buruk. Aku meneleponmu karena memang Arthur sedang terluka parah di tempatku. Dia menolak dibawa ke rumah sakit dan lebih memilih memintamu datang ke sini,” ucap Belle.


Selama beberapa saat kemudian, terdengar helaan napas dari dalam ponsel. “Kirimkan lokasi kalian padaku. Akan aku usahakan untuk tiba secepat mungkin.”


Belle tersenyum lega setelah pria itu mempercayai dirinya. Sesegera mungkin Belle mengirimkan lokasi restorannya kepada pria yang berbicara dengannya di telepon tadi. Setelahnya, Belle kembali masuk ke dalam kamar tempat Louis memberikan pertolongan pertama kepada Arthur.


“Bagaimana, Belle?” tanya Louis. Pria itu turut merasa khawatir memikirkan kondisi yang tengah terjadi saat ini.

__ADS_1


Belle mengerti. Louis hanya mengkhawatirkan dirinya. Jika ada aparat yang mengetahui ada pria terluka di restoran Belle, bukan tidak mungkin Belle akan menjadi orang pertama yang dituduh melakukan kejahatan. Biar bagaimanapun, restoran ini berada di dalam tanggung jawab Belle sehingga wanita itu akan terseret hukum bila terjadi sesuatu yang buruk pada Arthur.


“Dokter pribadinya sedang dalam perjalanan menuju ke sini,” jawab Belle.


“Lalu, bagaimana dengan restoranmu? Jika ada orang yang tahu pria ini terluka begitu parah di sini, mereka pasti akan berpikir yang tidak-tidak,” tanya Louis lagi.


Belle menghembuskan napas berat. Ia sudah memikirkan hal ini sejak tadi. Mungkin akan lebih baik jika restorannya tutup hari ini. Ia tidak mungkin mengabaikan Arthur yang tengah terluka begitu parah di sini.


“Sepertinya restoran akan aku tutup saja hari ini,” jawab Belle dengan berat hati.


Louis tampak terkejut mendengar jawaban Belle. Mungkin dirinya kecewa karena Belle lebih mementingkan pria itu ketimbang membuka restorannya. Padahal Louis tahu pasti bahan-bahan makanan di dapur masih tersedia cukup banyak karena baru datang malam tadi.


“Kau tak bisa mengambil keputusan begini, Belle. Kalau kau tutup restoran hari ini, kau tak akan mendapat pemasukan. Lalu, bagaimana kau akan mendapatkan biaya untuk kebutuhan hidupmu?”


Belle melirik sekilas ke arah Arthur. Memastikan bahwa pria itu tak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Louis. Meskipun, Belle tahu itu mustahil. Arthur pasti sudah mendengarnya.


“Ini hari Rabu, Belle. Di hari ini jumlah pelanggan yang datang selalu meningkat lebih banyak dari hari-hari biasanya karena mereka tahu bahan-bahan makanan baru saja tiba. Mereka suka datang ke restoran setiap hari Rabu karena berpikir menu makanannya akan jauh lebih lengkap dari sebelumnya. Lalu, kau mau melewatkan hari baik ini dengan menutup restoranmu ini? Jangan bercanda, Belle.” Louis masih berusaha membujuk Belle agar wanita itu mau mengubah keputusannya.


Belle menatap Louis dengan senyuman manis yang ia miliki. Mencoba membuat Louis mengerti akan alasannya membuat keputusan ini. Pria muda itu cukup dekat dengan dirinya, bahkan terasa seperti adik bagi Belle sendiri. Itu sebabnya Louis akan sangat kecewa bila Belle menutup restoran karena itu artinya wanita itu akan kekurangan dana untuk bertahan hidup.


Yah, Belle hanya bisa mengandalkan pendapatan dari restoran untuk membiayai seluruh kebutuhan hidupnya.


“Louis, aku mencoba mengerti kekhawatiranmu. Kau tak perlu mengkhawatirkan diriku. Aku masih ada tabungan untuk mencukupi kebutuhanku sendiri dan hari ini ada manusia yang membutuhkan setitik rasa kemanusiaan dariku. Tolong mengertilah,” bisik Belle.


Louis menghembuskan napas berat. Ia hafal karakter Belle yang akan tetap mengutamakan sisi kemanusiaan ketimbang apa pun. Wanita itu sangat baik, bahkan kadang bisa jadi orang yang terlalu baik. Sudah tak terhitung berapa kali Louis mendapati Belle terpuruk sendirian karena kebaikannya di salah gunakan.

__ADS_1


Namun, apa pun keadaan yang harus dihadapi, Louis akan tetap berdiri di depan Belle dengan membawa serta senyuman manisnya. Dia dan Sharon, pegawai lain di restoran ini sudah sama-sama berjanji pada diri mereka sendiri untuk selalu menjadi pelindung Belle. Apa pun yang terjadi.


“Baiklah, Belle. Kuharap pria itu cukup tahu diri untuk tidak merepotkan dirimu lebih jauh lagi,” ucap Louis sembari menatapi sosok Arthur yang terbaring di atas tempat tidur milik Belle.


Belle tertawa mendengar ucapan Louis. Dengan penuh ketulusan dirinya mengusap puncak kepala Louis.


Sering kali kehadiran Louis dan Sharon menjadi satu hal yang sangat disyukuri oleh Belle. Karena kehadiran dua anak muda itu, hidup Belle menjadi tidak begitu datar. Tingkah polah mereka yang menggemaskan benar-benar mampu membuat Belle merasa bahagia di tengah kesendiriannya tanpa ada yang bisa disebut sebagai keluarga.


“Tunggulah di luar, Louis. Jika dokter pribadi itu telah datang, antarkan dia kemari. Aku akan masuk untuk memastikan keadaannya baik-baik saja sampai dokter itu sampai ke sini,” pinta Belle. Louis mematuhinya. Dengan segera pria muda itu meninggalkan Belle.


Sementara Belle kembali masuk ke dalam kamar untuk memeriksa keadaan Arthur. Begitu sampai di sana tiba-tiba Belle memekik kala Arthur mencoba menyayat kulit perutnya yang mengeluarkan darah.


“Apa yang kau lakukan, Arthur?” Belle berseru panik. Dia berusaha menahan tangan Arthur agar tidak terlalu jauh menyayat kulit perutnya sendiri.


Arthur terbatuk hingga mulutnya menyemburkan percikan darah. Hal yang membuat kepanikan Belle semakin bertambah besar.


Dengan susah payah, Arthur mencoba berbisik, “Tolong beri aku sarung tangan karet atau plastik, Belle.”


“Untuk apa?” Belle bertanya bingung.


“Aku harus segera mengeluarkan peluru dari dalam perutku. Tolong lepaskan tanganku dan ambilkan saja sarung tangan yang aku minta.”


“Tidak!” Belle menggeleng sekuat mungkin untuk menolak. “Doktermu akan segera datang, Arthur. Biarkan dia yang akan melakukannya,” lanjutnya.


“Tak ada waktu, Belle. Peluru ini beracun. Jika aku tak segera mengeluarkan peluru sialan ini, dokter pun tak akan mampu menyelamatku karena aku akan mati sia-sia di sini,” bisik Arthur.

__ADS_1


Belle mematung. Tak tahu harus melakukan apa. Sekujur tubuhnya bergetar ketakutan melihat luka sayatan yang dibuat Arthur pada perutnya sendiri. Sangat tidak bisa dibayangkan seberapa besar rasa sakit yang dirasakan pria itu kini.


Namun, melihat bagaimana Arthur memohon lewat tatapan matanya, Belle mulai berani membuat keputusan.


__ADS_2