Cinta Sang Pewaris Tampan

Cinta Sang Pewaris Tampan
Hidangan Luar Biasa


__ADS_3

“Jika kau ingin terus-terusan memandangi benda itu, aku akan pergi dari sini,” ancam Arthur kala wanita di sampingnya tidak berkutik sama sekali.


“Oh, Tuhan! Bagaimana ini?” tanya wanita itu dengan suara berbisik terkejut.


“Itu hanya kipas angin, Nona. Wajar bila dia akan hancur ketika terjatuh dari tempat setinggi itu. Mengapa kau harus memberikan reaksi terkejut hingga seperti itu?” tanya Arthur datar. Ia sungguh tidak habis pikir dengan isi pikiran wanita yang ada di dekatnya kini.


Wanita itu menatap Arthur panik. Bahkan, ekspresi kebingungan di wajah itu jauh lebih menyedihkan dibanding sebelumnya. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi bila dia tidak segera menemukan solusi untuk masalah ini.


“Esok akan ada seseorang dari pusat kota datang ke sini. Seorang penilai makanan yang datang rutin setiap pertengahan bulan untuk menilai setiap restoran dan rumah makan di kota ini,” ucap wanita itu.


Alis Arthur saling bertautan mendengarnya. “Lalu, mengapa kau begitu panik? Kau hanya harus menghidangkan makanan yang kau banggakan sebagai makanan terlezat di sini. Bukan begitu, Nona?” tanyanya.


Wanita itu mengacak-acak rambutnya frustrasi. “Mereka datang bukan hanya untuk menilai hidangan di restoran milikku. Akan tetapi, mereka juga akan menilai kebersihan, kenyamanan, dan keamanan yang aku berikan. Jika aku tidak segera menemukan solusi untuk ini, restoranku tidak akan diberi izin untuk beroperasi seperti sebelumnya,” katanya.


“Lalu, mengapa kau biarkan kipas sialan ini tetap di sana? Bukankah itu juga termasuk membahayakan keselamatan orang lain. Bahkan, keselamatan pemiliknya saja tidak terjamin,” ucap Arthur.


Wanita itu menghembuskan napas berat. Ia berjongkok untuk kembali mengamati puing-puing kipas angin besar yang telah remuk tak berbentuk.


“Aku sudah membeli kipas angin yang baru. Namun, tidak ada yang membantuku memasangkannya. Seharusnya hari ini seseorang akan datang untuk membantuku, tetapi entah bagaimana dia tak kunjung datang. Padahal aku sudah menunggu kedatangannya sejak tadi,” bisik wanita itu lemah.


Alis Arthur saling bertautan. Pikirannya telah mempersiapkan kalimat untuk mencela kecerobohan wanita itu. Namun, suara perut yang bergemuruh kencang membuat kalimat itu kembali tenggelam di dalam pikirannya.


“Di mana kipas angin baru itu?” tanya Arthur. Ia yakin wanita itu pun mendengar suara gemuruh perutnya yang memalukan.


Kini giliran wanita itu yang menautkan kedua alisnya. “Apa yang akan kau lakukan dengan kipas angin itu?” tanyanya.


“Tentu saja memasangkannya di tempat yang layak. Apa lagi yang bisa aku lakukan selain itu?”


Mata wanita itu berbinar. Memancarkan aura positif yang turut menyerbu benak Arthur untuk ikut bergembira bersamanya.


“Benarkah kau bersedia memasangkan kipas angin itu untukku?” tanya wanita itu. Mungkin ia masih sulit mempercayai apa yang baru dia dengarkan.


“Semua itu tidak gratis, Nona,” ucap Arthur.

__ADS_1


“Belevia. Itu namaku. Kau bisa memanggilku Belle, Tuan,” ucap wanita itu memperkenalkan dirinya.


“Aku Arthur Deigo Tornello dari Amerika,” balas Arthur.


Belle membungkukkan tubuh sembari mengangkat gaunnya sedikit. “Senang bertemu denganmu, Tuan Arthur,” ucapnya.


“Panggil namaku saja, Belle. Jangan menyertakan embel-embel ‘tuan'.”


Belle mengangguk setuju.


“Jadi, bisakah aku mendapatkan makanan terlebih dahulu sebelum menjadi sukarelawan pemasang kipas angin?” tanya Arthur. Sengaja ia mengatakan itu untuk menyindir Belle.


Belle tersenyum manis membalasnya. “Kau ingin makan apa, Arthur? Aku bisa membuatkan hidangan terbaik dari Spanyol dan juga Italia,” tanyanya.


“Terserah apa saja yang bisa membuat perutku kenyang dengan cepat,” balas Arthur.


“Baiklah, aku akan membuatkan Paella Mixta dan juga Gazpacho untukmu. Dua menu itu yang paling digemari di restoranku dengan Crema Catalana sebagai penutup,” ucap Belle.


“Terserah apa maumu saja,” jawab Arthur.


“Kau cukup menunggu di luar saja, Arthur. Makanan akan aku antarkan sampai ke hadapanmu,” ucap Belle tanpa mengalihkan perhatian dari pisau tajam kesayangannya.


Arthur tidak menjawab. Pandangan matanya tidak bisa beralih dari setiap pergerakan yang dilakukan Belle. Ketika wanita itu mengasah setiap jenis pisau yang akan dia gunakan, tampak sangat menakjubkan dan cukup berpengalaman. Bahkan setiap potongan daging dan sayuran yang ia buat pun tampak seperti hasil tangan seorang juru masak profesional.


“Kau mengelola restoran ini sendiri?” tanya Arthur.


“Katakanlah begitu.”


Kedua alis Arthur saling bertaut kebingungan. “Benarkah?” tanyanya tidak percaya.


Dalam benak Arthur, terbesit rasa tidak percaya yang nyata. Melihat keseluruhan penampilan Belle yang tampak di depan mata, sepertinya mustahil wanita itu benar-benar mengelola restoran ini sendirian.


“Secara teknis, mungkin iya aku mengelolanya sendiri. Restoran ini dulu dimiliki oleh seorang transmigran asal Italia. Dia memberikan seluruh hak kepemilikan restoran ini untuk membayar hutang pada mendiang orang tuaku. Hingga sekarang aku hanya ditemani dua orang pegawai yang bekerja bergantian di pagi hari dan menjelang sore hari,” ucap Belle memberitahu.

__ADS_1


Arthur mengangguk mengerti. Selanjutnya hanya diam yang mengisi jarak waktu ini. Arthur menikmati apa yang dilihat oleh matanya. Begitu juga dengan aroma-aroma harum dari masakan Belle yang begitu memanjakan indra penciumannya.


“Benda apa itu?” tanya Arthur ketika Belle tengah mencuci sesuatu di bawah aliran air keran wastafel.


“Ini Percebes. Sejenis kerang yang memiliki cita rasa gurih. Kira-kira hampir mirip seperti tiram,” jawab Belle.


“Sebenarnya aku tak pernah memakan makanan yang berasal dari laut. Aku juga benci pada semua jenis kerang,” ucap Arthur.


Gerakan Belle terhenti. Dia mematikan aliran air keran, kemudian menatap Arthur dengan mata membulat lucu. “Benarkah? Kau tak menyukai kerang?” tanyanya.


“Tentu saja. Manusia macam apa yang menyukai hewan menjijikkan seperti kerang,” ucap Arthur datar.


Belle mengangkat sebelah alisnya mendengar perkataan Arthur. Dengan lugu, ia membalas, “Aku menyukai kerang. Lalu, kau lihat aku manusia yang seperti apa?”


Arthur menatap geli pada sosok Belle. Setidaknya itu sudah cukup membuktikan bahwasanya dia benar-benar tidak menyukai kerang. Baiklah kalau begitu. Sepertinya Belle harus menyimpan kerang itu ke dalam lemari pembeku.


Selama beberapa saat lamanya, semua hidangan pun telah selesai disajikan dengan rapi di atas meja. Arthur menatap hidangan itu satu persatu. Seperti tengah menilai penampilan yang tampak di dalam pandangan matanya.


“Aromanya cukup menggugah selera. Namun, kau yakin rasanya dapat memanjakan lidahku?” tanya Arthur.


Senyuman Belle merekah dengan sempurna. Dia mengulurkan peralatan makan kepada Arthur sembari berkata, “Cobalah terlebih dahulu. Jika kau tak menyukainya, aku akan buatkan yang baru.”


Arthur mengambil alih peralatan makan dari tangan Belle. Perlahan ia pun mulai mencicipi hidangan pembuka yang disebut Belle dengan nama Gazpacho. Begitu lidahnya bersentuhan dengan sensasi rasa luar biasa dari hidangan sejenis sup itu, mata Arthur langsung membulat menatap kepada Belle.


Belle sendiri tampak menantikan reaksi Arthur saat mencicipi hidangan hasil jerih payahnya. Tak disangka ternyata hasilnya luar biasa. Terbukti dari ekspresi gembira yang diberikan Arthur kala menatap dirinya.


“Ini luar biasa,” puji Arthur dengan binar kegembiraan yang jelas terpancar dari mimik wajahnya.


“Terima kasih,” ucap Belle penuh ketulusan.


“Sepertinya aku akan sering datang ke restoranmu untuk mencicipi hidangan lezat yang lainnya.”


Belle mengangguk. Tanpa melunturkan senyuman manisnya, Belle berkata, “Datanglah. Aku akan memberikan hidangan gratis selama satu minggu penuh untukmu. Sebagai tanda terima kasih karena kau telah membantuku memperbaiki kipas angin.”

__ADS_1


Tanpa ragu, senyuman Arthur turut mengembang. Melihat Belle tersenyum sedemikian indahnya, tak urung membuat Arthur terpesona.


Arthur tahu ada ketulusan yang cukup dalam dibalik senyuman itu. Bahkan, Arthur memastikan bahwa dirinya tak pernah menemukan senyuman setulus itu seumur hidupnya.


__ADS_2