Cinta Sang Pewaris Tampan

Cinta Sang Pewaris Tampan
Foto


__ADS_3

Belle menggoyangkan lonceng yang sengaja ia pasang di dekat pintu dapur untuk memberikan kode pada para pegawainya bahwa makanan yang dipesan telah siap. Sehingga beberapa detik selanjutnya Louis dan Sharon berdatangan untuk mengambil makanan yang suah jadi. Sementara Belle kembali bergerak dengan begitu lincah memasak makanan lain yang telah tertulis di daftar pesanan, lengkap dengan nomor meja si pemilik pesanan.


Yah, seperti itulah cara kerja restoran sederhana Belle. Semuanya masih manual dan sangat menguras tenaga. Belle belum memikirkan untuk menambah pegawai karena sejujurnya dia sendiri masih kesulitan dalam masalah keuangan.


“Kau selalu bekerja seperti itu setiap hari, Belle?”


Belle tersentak kaget mendengar seseorang berbicara di belakangnya. Secara otomatis Belle membalikkan badan dengan cepat hingga sikunya menyenggol mangkuk berisikan potongan sayur. Mangkuk itu terjatuh dengan bunyi pecahan yang sangat keras. Membuat seluruh sayurannya berserakan di mana-mana bercampur pecahan beling dati mangkuk itu.


“Arthur, jangan tiba-tiba datang dan mengejutkanku seperti itu,” omel Belle dengan wajah kesal.


Sebelah alis Arthur terangkat naik. Dia menatap Belle bingung. Terlebih saat wanita itu menyentuh dadanya sendiri untuk menetralisir degup jantungnya yang bekerja lebih keras dari sebelumnya. Mungkin benar, Belle terlalu terkejut dengan kemunculan Arthur yang terlalu tiba-tiba.


“Kau terlalu mudah terkejut, Belle.” Arthur berkata sembari melangkah mendekat ke arah pecahan mangkuk yang berserakan di lantai.


Belle menghembuskan napas panjang setelah berhasil menormalkan detak jantungnya. “Maaf, Arthur. Aku memang sangat mudah terkejut, bahkan dalam hal kecil sekalipun. Jadi, aku memohon padamu untuk tidak membuatku terkejut lagi,” ucapnya penuh permohonan.


“Maafkan aku, Belle. Akan aku usahakan untuk tidak membuatmu terkejut lagi.” Arthur membalas dengan santai. Meskipun, dalam hati dia menertawakan dirinya sendiri karena baru saja melakukan hal yang paling mustahil untuk dia lakukan.


Meminta maaf. Mungkin masih bisa terhitung jari, berapa kali Arthur mengutarakan maaf dalam sepanjang usia hidupnya. Namun, dengan Belle entah mengapa Arthur mudah sekali mengutarakan kata-kata langka itu.


Belle menggumam. Dia berjongkok untuk membantu Arthur mengumpulkan serpihan-serpihan mangkuk pecah tadi. Namun, belum sempat tangannya meraih salah satu serpihan itu, Arthur menahan pergerakan Belle dengan cara menggenggam tangan wanita itu.


“Lanjutkanlah pekerjaanmu, Belle. Biar aku yang membereskan kekacauan ini,” ucap Arthur.


Belle menggeleng. “Kau beristirahatlah, Arthur. Kondisimu belum sepenuhnya membaik,” tolaknya.


“Aku sudah lebih baik, Belle. Tak masalah jika hanya membereskan pecahan ini. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu. Jangan buat para pelanggan di luar sana semakin kelaparan.” Arthur membantah. Ia memohon pada Belle agar bersedia menuruti apa yang ia ucapkan.

__ADS_1


“Kau serius?” tanya Belle untuk memastikan.


Arthur mengangguk mantap.


Sehingga Belle berakhir menghembuskan napas panjang disertai senyuman pasrah. “Baiklah, aku akan melanjutkan pekerjaanku. Berhati-hatilah dengan serpihan itu, Arthur. Jangan sampai luka di tubuhmu bertambah karena serpihan itu,” ucap Belle.


Tanpa disadari, senyuman Arthur mengembang. Ketika ia menemukan Belle kembali berbalik badan dan memfokuskan diri pada seluruh jenis bahan masakan yang dia perlukan untuk membuat makanan pesanan para pelanggan. Tampak begitu mengagumi dengan tampilan luar yang begitu biasa. Bahkan, bisa dibilang penampilan wanita itu selalu biasa saja.


Namun, entah mengapa justru penampilan sederhana itulah yang membuat Arthur merasa senang melihatnya. Entah juga bila itu disebabkan oleh rasa bosan Arthur karena terlalu sering berhadapan dengan wanita-wanita yang selalu berpenampilan serba mewah.


Sesaat kemudian Arthur tersadar kala tangannya tak sengaja tergores pecahan beling. Ia terkejut, tapi tak sampai mengeluarkan suara karena tak mau membuat fokus Belle kembali teralihkan. Dia memilih menggenggam luka di tangannya.


Hanya luka goresan kecil bukanlah masalah. Arthur jelas pernah mendapatkan luka yang jauh lebih parah daripada ini.


“Jika sudah selesai kau bersihkan, duduklah di kursi, Arthur. Atau kau bisa kembali ke kamar untuk melanjutkan istirahatmu,” perintah Belle.


“Membosankan sekali jika terus-menerus berdiam diri di kamar, Belle.” Arthur protes. Itu adalah suara hatinya.


Setidaknya sampai nanti dua pria kembar itu menemukan siapa saja yang terlibat di dalam aksi percobaan pembunuhan terhadap Arthur kemarin.


“Kau masih membutuhkan perawatan yang lebih intensif, Arthur. Ingat perkataan Apollo beberapa hari yang lalu. Selain diharuskan mengonsumsi makanan sehat, kau juga harus menjaga waktu istirahatmu,” peringat Belle.


“Mamaku saja tak pernah peduli pada kesehatanku, Belle. Mengapa kau malah mengomeliku sedemikian rupa?” Arthur bertanya dengan nada pelan. Bersamaan dengan suara nyaring penggorengan begitu Belle memasukkan potongan bawang-bawang ke dalam sana.


“Kau bilang apa, Arthur?” tanya Belle karena tak mendengar setiap kata yang baru saja diucapkan oleh Arthur.


“Lupakan saja,” sahut Arthur.

__ADS_1


Belle tak membalas lagi. Kali ini dia benar-benar memfokus dirinya untuk menyelesaikan setiap makanan yang ia buat. Hingga saat waktu hampir menunjukkan pukul tiga sore, Belle baru bisa bernapas lega karena akhirnya jam buka restoran telah berakhir.


Belle meletakkan sepiring Churros dengan saus coklat sebagai pelengkap ke hadapan Arthur dan Louis. Sementara Sharon masih sMamak mengurusi daftar pengeluaran dan pemasukan hari ini.


“Sejak kapan kalian berdua menjadi akrab?” tanya Belle. Senyumannya mengembang menyadari komunikasi antara Arthur dan Louis tampak lebih luwes dan santai.


“Entahlah. Ternyata Arthur tak seburuk kelihatannya,” jawab Louis.


“Seburuk itukah aku di matamu, Bajingan Tengik?” tanya Arthur.


Louis tak mampu menjawab karena tawanya lebih dulu menyembur keluar. Wajah datar Arthur tak lantas membuatnya bergidik ketakutan, akan tetapi malah terlihat begitu konyol.


Arthur sendiri kebingungan dengan sikap yang ia tunjukkan. Biasanya ia akan marah atau tersinggung ketika ada orang yang terang-terangan menertawai dirinya selain Apollo dan Artemis. Namun, entah mengapa kali ini dia pasrah saja membiarkan Louis menertawai dirinya seperti selayaknya melihat seorang badut.


“Jangan terlalu banyak tertawa, Louis. Nanti kau bisa menangis setelahnya,” peringat Sharon dari tempatnya.


“Kau percaya dengan kalimat itu, Sharon? Ayolah, itu hanya peringatan orang-orang tua yang tidak suka bila ada orang yang tertawa terlalu keras,” balas Louis.


“Ah, kalimat itu ternyata berlaku juga di sini,” celetuk Arthur.


Belle tersenyum. “Sepertinya semua negara cukup familier dengan kalimat itu. Setelah aku pikir-pikir kalimat itu ada benarnya juga,” ucapnya.


Arthur menatap Belle. Wanita itu melangkah ke arah meja kasir dan berdiri berhadapan dengan meja yang terdapat beberapa bingkai foto di atasnya. Arthur baru menyadari keberadaan benda-benda itu di sana, meskipun ia telah tinggal di restoran ini selama beberapa hari.


Namun, bukan itu yang membuat atensi Arthur mengikuti wanita itu. Bukan keberadaan foto-foto itu di sana, melainkan bagaimana perubahan drastis di dalam ekspresi Belle. Dari ekspresi tulus nan penuh senyuman, seketika berubah menjadi sendu seperti menyimpan kesedihan yang teramat besar. Itu yang membuat Arthur penasaran.


“Foto siapa yang sedang dia pandangi?” tanya Arthur pelan. Sejatinya pertanyaan itu tak berharap mendapat jawaban karena ia pun tak tahu pada siapa pertanyaan itu layak diutarakan.

__ADS_1


Tak sadar bila pertanyaan itu didengar oleh Louis. Sehingga, pria muda itu menjawab tanpa diminta.


“Itu foto mendiang keluarga Belle. Ada orang tua dan adik laki-lakinya. Mereka meninggal saat Belle baru berusia 19 tahun.”


__ADS_2