Cinta Sang Pewaris Tampan

Cinta Sang Pewaris Tampan
Permintaan Sewa


__ADS_3

Hari yang super sibuk baru saja terlewatkan. Tubuh Belle menggeliat ke atas untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa tegang. Rasa-rasanya tulang-belulang di tubuh wanita itu sudah bermutasi menjadi puding saking loyonya.


“Leganya!” Sharon berseru gembira setelah seluruh pekerjaannya selesai.


Seruan itu lantas disambut tawa oleh Louis dan Belle. Begitu juga dengan Apollo dan Artemis yang tengah menikmati kopi di dekat mereka.


“Kerja yang bagus,” puji Belle seperti yang biasanya ia lakukan ketika selesai melakukan pekerjaan.


“Kau juga, Belle. Kemarilah! Aku akan memijat pundakmu. Kau pasti sangat kewalahan bekerja di dapur sendirian.” Sharon menarik kursi agar Belle duduk di hadapannya.


Belle tersenyum manis. “Tak apa, Sharon. Kau juga kelelahan setelah seharian bekerja. Istirahatlah!” perintah Belle.


“Ah, bukankah kau ada jadwal kuliah malam, Sharon?” tanya Louis ketika teringat dengan kegiatan Sharon setiap hari Kamis.


“Aku mengambil cuti untuk beberapa bulan ini,” ucap Sharon.


Alis Belle terangkat sebelah. “Mengapa kau mengambil cuti di pertengahan semester, Sharon?” tanyanya.


Sharon tersenyum penuh arti. “Aku ingin fokus dengan pekerjaanku, Belle.”


“Ayahmu sakit lagi?” tanya Louis tiba-tiba. Ah, benar-benar pria yang memiliki kepekaan tinggi.


“Begitulah. Kesehatannya memburuk belakangan ini, jadi aku ingin merawatnya dengan sebaik mungkin,” jawab Sharon.


“Ah, sudah waktunya pulang. Ayah pasti sedang menungguku di ruang tamu. Bolehkah aku pulang sekarang, Belle?” tanya Sharon.


“Aku juga harus pulang, Belle. Adikku sendirian di rumah. Kau tau sendiri, kan, dia sangat penakut,” ucap Louis.


Belle tersenyum. Dia beranjak mendekati meja kasir untuk mengambil dua kotak makanan yang telah ia persiapkan sejak tadi.


“Pulanglah! Bawa ini untuk keluarga kalian. Titip salam dariku untuk mereka,” ucap Belle sembari memberikan kotak-kotak makanan itu pada Louis dan Sharon.


Kedua pegawai di restoran Belle itu tersenyum senang. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka berdua beranjak pergi meninggalkan restoran Belle.

__ADS_1


“Kalian menginginkan sesuatu untuk dimakan?” tanya Belle pada Apollo dan Artemis.


“Tidak. Kami akan pergi setelah ini,” jawab Artemis.


“Dengan Arthur juga?” Belle bertanya sembari menunjuk ke arah belakang. Tepat ke arah ruangan paling dalam di restorannya yang berisi dapur, kamar mandi, dan kamar tidur.


“Mengenai itu ... Nona Belle, bisakah bila Arthur tinggal di tempatmu untuk sementara waktu? Kami akan membayar untuk hitungan sewa kamar dan seluruh kerugian yang kau terima beberapa waktu belakangan ini,” ucap Apollo.


Belle terkesiap dengan penuturan Apollo. Ia kebingungan untuk memberikan jawaban. Ia tak enak bila nanti tiba-tiba ada Aland datang berkunjung ke restoran ini, lalu menemukan Arthur di dalam kamar miliknya. Bisa diprediksi bila pria itu akan marah pada Belle dan hubungan mereka berdua akan renggang.


“Soal itu, Apollo. Mengapa kalian tak mencari tempat tinggal yang lebih layak dari restoran ini? Kau pun tahu Barcelona memiliki rMamaan rumah singgah yang disewakan dan aku yakin rumah-rumah singgah itu jauh lebih nyaman daripada tempatku,” ucap Belle.


“Ada sesuatu yang tak bisa kami jelaskan alasannya padamu, Belle. Yang jelas, kami merasa lebih tenang bila Arthur akan tinggal di sini bersamamu. Kau terlihat seperti orang yang sangat baik pada Arthur,” jawab Artemis.


“Kau keberatan dengan permintaan kami, Nona Belle?” tanya Apollo.


Belle ragu untuk memberikan jawaban. Dia menatap wajah pria kembar itu dengan kedua tangan saling menggenggam. Memikirkan kalimat terbaik yang bisa ia berikan sebagai jawaban.


Namun, sebelum Belle sempat membuka mulutnya, sebuah suara menghentikan niatan Belle untuk memberikan jawaban.


Belle menoleh ke belakang. Begitu juga dengan Apollo dan Artemis. Seketika itu juga ekspresi ketiga orang itu berubah menjadi penuh peringatan.


“Kau tak seharusnya bangun dari tempat tidurmu, Arthur,” peringat Belle.


Namun, Arthur tak memedulikan peringatan dari wanita itu. Dengan tertatih-tatih dia melangkah mendekat ke arah ketiga orang yang duduk melingkari satu meja yang sama. Kemudian, dia mengambil posisi duduk tepat berseberangan dengan Belle.


“Kau masih bisa membuka restoranmu tanpa perlu memedulikan aku, Belle. Anggap saja aku tidak ada di sini. Seperti apa yang dikatakan adik-adikku, mereka akan membayar untuk hitungan sewa dan kerugian yang kau dapatkan selama restoran tutup kemarin,” ucap Arthur. Mata tajamnya menatap tepat ke arah wajah cantik Belle.


Belle menggumam. Berpikir untuk memberikan jawaban apa untuk hal ini. Entah mengapa pria-pria yang ada di hadapannya kini benar-benar ngotot untuk membuat Belle menuruti keinginan mereka.


“Kamar di sini hanya satu. Kalian pun tahu itu,” ujar Belle gugup. Tangannya menunjuk ke belakang, sehingga para pria yang ada di hadapannya ini tahu apa maksud dari ucapan wanita itu.


“Dia bisa tidur di luar, Belle. Atau kalau kondisinya memungkinkan, Arthur tak akan keberatan jika harus berbagi kamar denganmu,” celetuk Artemis asal.

__ADS_1


Semua orang memelototi Artemis. Termasuk Belle yang langsung memucat. Sementara Artemis sendiri malah cengengesan tak jelas.


“Ayolah, sekalipun kalian berbagi kamar, tak akan jadi masalah. Kau tak perlu khawatir, Belle. Tak akan terjadi apa-apa padamu, karena Arthur adalah pencinta sesama jenis,” celetuk Artemis lagi.


Untuk kedua kalinya, Artemis mendapatkan tatapan tajam dari Arthur dan Apollo. Pria itu selalu bertingkah dan berucap seenak ingusnya. Tak memikirkan bila perkataan itu bisa saja dipercayai oleh Belle. Meskipun, Arthur dan Apollo pun sama-sama bisa melihat bagaimana Belle menganggukkan kepala sialannya itu dengan begitu lugu.


“Benarkah kau ....” Belle menggantungkan kalimatnya. Ia menatap Arthur dengan mata yang berkedip-kedip lucu. Sangat menggemaskan.


Artemis benar-benar sialan!


Tanpa diteruskan pun Arthur tahu apa yang akan dipertanyakan oleh Belle. Ah, sialnya wanita itu begitu mudah terperdaya oleh kebohongan Artemis. Namun, biar bagaimanapun Arthur malas menanggapi hal ini. Karena ia begitu menikmati apa yang terpampang di depan matanya kini.


Wajah menggemaskan Belle. Demi Tuhan, Arthur mengakui bila kecantikan wanita itu bertambah berkali-kali lipat dengan ekspresi begitu.


“Ya, itu benar. Maka dari itu kami bersikeras memohon padamu untuk menampung pria yang baru saja sekarat ini selama beberapa waktu ke depan. Dia jinak, Belle. Jadi, kau tak perlu takut.” Apollo menambahi kelaknatan Artemis.


Hm. Benar-benar kembar bersaudara ini memiliki bibit otak yang sama-sama terkutuk. Arthur sendiri sering sekali dMamaat tak habis pikir oleh kelakuan kedua pria itu. Hanya saja untuk urusan yang lebih internal dan berbahaya, Arthur sungguh-sungguh bisa mengandalkan Apollo dan Artemis.


Apollo, dia dokter yang begitu hebat. Dia mampu mendeteksi keberadaan racun berbahaya di tubuh seseorang melalui tanda-tanda sekecil apa pun yang muncul. Seperti yang baru saja terjadi pada Arthur.


Di waktu yang bersamaan, dia bisa menjelma menjadi pembunuh paling transparan untuk semua musuh yang berani menyenggol kehidupan orang-orang tersayangnya. Melalui ketelitian dan kecerdasannya dalam menyuluh zat-zat berbahaya, dia bisa membuat para pecundang sialan itu mati dalam hitungan batin yang tepat.


Apollo memiliki satu zat beracun yang diberi nama Alice. Nama yang memiliki arti kebenaran. Di mana Apollo tak akan pernah menggunakan zat beracun itu, terkecuali dengan alasan penggunaan yang berdasar pada kebenaran.


Sepertinya yang selalu ia banggakan, “Takaran yang tepat selalu bergandengan mesra dengan hitungan yang tepat untuk meregang nyawa. Kecuali ada yang kepintarannya melebihi diriku dalam mendeteksi tanda-tanda zat racun itu bereaksi.”


Sementara Artemis, dia seorang pria yang selalu dihina oleh orang-orang di luar sana karena dianggap tak punya pekerjaan. Kesehariannya hanya mengikuti Apollo bepergian atau menyMamakkan diri di kebun dan peternakan milik mendiang Diego.


Tanpa mereka tahu, bagaimana hebatnya pria itu dalam kepemimpinannya menggantikan mendiang Diego. Bersama dengan Arthur, mereka berkolaborasi dalam mengayomi warisan Diego yang tak pernah diketahui oleh siapa pun selain mereka bertiga dan beberapa anak buah Diego yang setia.


Warisan yang identik dengan kegelapan. Baik dari segi lokasi pertemuan maupun apa saja yang mereka kerjakan.


Seperti yang sangat dihafal oleh Arthur dan Apollo, bahwasanya Artemis tak pernah sudi memberikan toleransi pada siapa pun yang berani menyakiti orang-orang kesayangannya. Bisa dipastikan para pecundang itu tak akan dikuburkan dalam keadaan utuh.

__ADS_1


Bukan Artemis yang menghilangkannya, tapi itulah pilihan orang-orang yang menolak mati di tangan Artemis. Mereka memilih tutorial kematian mereka sendiri.


Hingga hari ini, Arthur masih sulit mempercayai bahwa kedua pria yang terlihat bodoh di depan matanya itu bisa menjadi monster mengerikan.


__ADS_2