
“Kau bisa mendengarku, Arthur?” tanya dokter yang menangani Arthur.
Nama dokter itu adalah Apollo. Sedangkan yang datang bersamanya bernama Artemis. Mereka berdua saudara kembar tak seiras.
Hubungan kembar bersaudara itu cukup dekat dengan Arthur.
Dulu saat dirinya masih bayi, Ayahnya Arthur—Diego pernah menolong seorang wanita hamil yang sekarat di jalanan. Wanita itu kemudian dibawa ke rumah oleh Diego dan di adopsi oleh keluarga Tornello. Terciptalah hubungan saudara antara Diego dan wanita itu.
Wanita itu bernama Helena, yang tidak lain dan tidak bukan adalah ibu dari Apollo dan Artemis.
Wanita berhati mulia yang begitu disayangi oleh keluarga Tornello, termasuk Diego yang begitu menyayangi sang adik angkat. Bahkan, Diego rela mengambil alih perwalian Apollo dan Artemis karena Helena tak mau melibatkan kedua bocah itu dengan ayah biologisnya.
Selama bertahun-tahun bersama, baru diketahui oleh keluarga Tornello bahwasanya Helena adalah pemegang rahasia besar dari salah satu pimpinan bisnis gelap penjualan organ dalam manusia. Seorang pria kejam yang dikenal sebagai ayah biologis si kembar. Keselamatan Helena dan kedua putra kembarnya terancam, sehingga keberadaannya disembunyikan dengan baik oleh Diego. Hingga saat ini, hanya Apollo dan Artemis yang mengetahui keberadaan Helena.
“Sudah merasa lebih baik?” tanya Apollo lagi.
Setelah menghembuskan napas yang cukup panjang, Arthur mengangguk mengiyakan pertanyaan Apollo. Perlahan-lahan, matanya mengedar mencari seorang wanita pemilik tempat ini. Namun, dia tak ada di tempat mana pun yang bisa dipandang oleh Arthur.
“Kau mencari wanita itu?” tanya Apollo.
“Di mana dia?” Arthur bertanya balik.
“Dia di luar. Artemis bilang dia tertidur di sana karena kamarnya kau gunakan,” jawab Apollo.
“Ah, sialan! Seharusnya biar aku saja yang di luar,” sesal Arthur. Ia merasa bersalah karena telah membuat Belle harus mengalah dan tidur di luar.
Apollo tersenyum tipis. “Sebenarnya siapa wanita itu?” tanyanya.
“Teman baruku,” jawab Arthur.
“Kau yakin hanya itu? Sepertinya tak pantas jika hanya dikatakan sebagai teman belaka. Pertama, kau tak memberitahuku tentang dia. Kedua, kau lebih memilih datang padanya saat terluka ketimbang datang ke tempatku. Ketiga, dia begitu cantik, Arthur. Tak mungkin bila kau tak menyukainya.” Apollo memberikan senyum penuh arti kepada Arthur.
Sementara Arthur tak memberikan jawaban. Ia hanya menanggapinya dengan senyuman singkat. Tidak membantah dan tidak pula membenarkan perkataan Apollo. Meskipun, Arthur sendiri mengakui bahwa dirinya sempat terpesona dengan kecantikan dan kebaikan hati Belle.
“Kau tersenyum? Waw, ini sangat langka. Seorang Arthur Diego Tornello tersenyum karena seorang wanita.” Apollo masih tak menyerah menggoda Arthur.
__ADS_1
“Hentikanlah, Apollo. Beritahu aku sekarang sudah pukul berapa?” tanya Arthur untuk mengalihkan topik. Ia malas mendengar Apollo terus-menerus menggoda dirinya.
Apollo tersenyum. Kemudian dia melangkah menjauh dari tempat tidur yang ditempati Arthur. Mengambil air mineral yang diberikan oleh Belle kepadanya malam tadi.
“Pukul 6 pagi. Secara teknis, ini sudah berganti hari sejak kau sekarat,” jawab Apollo sebelum menenggak air mineral miliknya hingga tandas.
“Apakah aku tidur selama itu?” tanya Arthur.
“Ya. Dan kau membuat wanita cantik itu tersiksa karena mengkhawatirkan kondisimu,” ucap Apollo.
Alis Arthur terangkat sebelah. “Belle mengkhawatirkan diriku?” tanyanya.
Apollo mengedikkan bahu sebagai jawaban. Sepersekian detik kemudian, dia bergerak cepat menahan Arthur yang hendak beranjak dari tempatnya berbaring.
“Tetaplah merebahkan tubuhmu, Arthur. Kau baru saja terbebas dari racun sialan itu. Aku sangat tahu jika aku terlambat memberikan penanganan kurang dari sedetik, aku pasti sudah mengirimkan perintah kepada Artemis untuk mengatur pemakamanmu,” omel Apollo.
Arthur pasrah. Dia kembali merebahkan tubuhnya seperti semula. Meskipun, rasanya begitu membosankan hanya berdiam diri seperti ini.
“Di mana Artemis?” tanya Arthur.
“Ah, para pengecut itu pasti tak akan dikuburkan dalam keadaan utuh,” sahut Arthur.
Apollo tersenyum bangga. “Adik-adikmu tak akan pernah memberikan toleransi pada siapa pun yang mencoba membunuhmu.”
“Pergilah keluar untuk mencari Belle. Dia akan memberikan makanan lezat untukmu. Katakan padanya bahwa aku akan membayar seluruh kerugian yang ia terima sejak kemarin,” perintah Arthur.
Apollo tak menjawab. Dia beranjak menjauh dari tempat tidur untuk keluar dari kamar. Begitu keluar dari kamar itu, Apollo langsung berhadapan dengan dapur. Di mana wanita bernama Belle itu tengah sibuk berkutat dengan beberapa jenis sayuran.
“Sedang membuat apa?” tanya Apollo setelah berdiri tepat di belakang.
Tubuh Belle terkesiap. Dari bibirnya keluar pekikan kecil yang membuat Apollo terkekeh geli. Terlebih lagi saat wanita itu menoleh pada Apollo dengan menampilkan wajah paniknya.
“Kau mengejutkanku, Dokter.”
Apollo tak mampu menyembunyikan tawanya. “Aku minta maaf,” katanya.
__ADS_1
Belle memberikan senyuman manis. “Tak apa-apa. Mungkin aku yang terlalu mudah terkejut,” jawab Belle.
“Bukan soal itu. Aku meminta maaf karena menuduhmu melakukan sesuatu yang buruk pada Kakakku,” ucap Apollo dengan hati yang tulus.
“Arthur Kakakmu?” tanya Belle. Dia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Belle mengamati penampilan Apollo dari atas ke bawah. Mencari letak kemiripan Arthur dengan pria yang baru saja mengakui dirinya sebagai adik pria itu. Namun, hingga beberapa saat lamanya Belle tak menemukan apa pun yang mirip di antara mereka berdua.
Arthur memiliki rambut hitam kecokelatan yang unik, sementara pria di hadapannya memiliki rambut pirang. Bola mata Arthur berwarna hitam pekat, sementara pria di hadapannya itu memiliki bola mata biru safir.
“Kau sedang apa, Nona?” tanya Apollo. Ia ikut meneliti penampilannya. Barangkali ada yang salah dengan dirinya.
“Tidak. Aku hanya mencari tanda-tanda persaudaraan kalian. Tidak ada yang mirip antara kau dan Arthur, Dokter,” ucap Belle.
Apollo tertawa mendengarnya. “Tentu saja tak ada yang mirip di antara kami berdua. Kami saudara sepupu,” ucap Apollo.
Belle menyadari kekonyolannya. Dia tersipu malu kala Apollo masih menertawakan kekonyolannya.
“Mau aku buatkan makanan apa?” tanya Belle untuk mengalihkan topik pembicaraan.
“Apa saja yang menurutmu cocok untuk sarapan di pagi hari,” jawab Apollo.
“Aneka pastry dengan sup hangat sebagai pelengkapnya. Kau mau?” tanya Belle.
Apollo memberikan anggukan kepala. Sehingga sejurus kemudian Belle bergerak mengeksekusi seluruh bahan yang dia butuhkan untuk membuat sup dan aneka pastry. Hal yang tak luput dari perhatian Apollo sedikit pun.
Apollo menikmati apa yang ada di depan matanya. Kelincahan Belle dalam mengolah berbagai macam bahan makanan, serta kemahiran wanita itu dalam menggerakkan kedua yang secara bersamaan untuk mengendalikan dua peralatan masak yang berbeda sekaligus. Tampak sangat mengagumkan.
“Kau buka restoran hari ini?” tanya Apollo setelah teringat bahwa tempatnya singgah saat ini adalah sebuah restoran.
“Sepertinya tidak. Aku takut kebisingan para pelanggan akan mengganggu istirahat Arthur,” jawab Belle tanpa menoleh.
Apollo tersenyum. Wanita itu memikirkan kondisi Arthur dengan baik, meskipun mereka berdua hanya teman biasa.
“Bukalah restoranmu, Nona. Jangan buat para pelanggan itu merindukan masakanmu terlalu lama. Soal Arthur, biar itu menjadi urusanku.”
__ADS_1
Belle menoleh ke arah Apollo. Mencari hal apa saja yang bisa memiat Belle yakin dirinya bisa membuka restoran hari ini. Kemudian, ketika Apollo memberikan senyuman beserta satu anggukan kecil, Belle nyaris melompat saking girangnya.