
Namaku Putri Diane Alkeisyi atau biasa dipanggil Putri, setidaknya itulah yang tertulis di akta kelahiranku.
Pada masa SMA aku menemukan cinta pertamaku. Cinta yang sangat berkesan hingga aku seperti mc di sebuah karya novel. Cinta yang mengajarkan caranya menjaga satu sama lain, mengajarkan caranya tertawa dan caranya menangis.
Aku jatuh cinta pada seorang badboy sekolah. Cowok yang kerjaannya langganan Ruangan BK. Cowok yang sering mendapatkan ceramah.
Aku mencintainya karena aku memandangnya dengan cara berbeda. Aku mengingat ketika pertemuaan pertama kami. Pertemuan yang seperti anugrah dari Tuhan.
Waktu itu aku akan menyebrang sebuah jalan raya di depan sekolahku, kepalaku sangat pusing saat itu dan pandanganku buram.
Itu terjadi akibat aku yang sering belajar non-stop karena orangtuaku yang sangat protektif.
Satu langkah aku berjalan sebuah tangan merangkul dan menarikku dari belakang. Pandanganku suram dan aku tak mengetahui itu tangan siapa. Akhirnya aku berjalan 2 langkah ke belakang akibat tarikan kuatnya itu.
Aku merasakan tangannya yang menggenggam perutku dari belakang, pelukannya itu seperti ada rasa harapan yang kuat dan hangat.
Aku semakin mengerutkan keningku setelah tangan itu melepaskan pelukannya, seperti harapan yang melebur dan kembali dingin.
Aku membalikkan badanku dan malah menabrak badannya. Kepalaku terkena dadanya.
" Duh... "
Rintihku kesakitan sambil memegangi kepalaku.
Kemudian aku mengangkat wajahku dan melihat wajah sosok yang memelukku barusan.
Aku terdiam, terpaku dengan ketampanan cowok ini. Rambutnya yang di belah sisi kanan itu bergerak mengikuti arah angin. Alis dan rahangnya tegas. Matanya bewarna biru bak lautan namun seakan membuatku tenggelam di dalamnya. Bibirnya merah muda namun tak terlalu tebal.
Seperti tokoh cowok yang sering aku temui di drama yang aku tonton. Kami terpaku satu sama lain kemudian mataku mulai remang-remang lagi dan aku pun pingsan serta tak ingat dengan apa yang selanjutnya terjadi.
***
Ketika aku membuka mataku perlahan bau khas obat-obatan menjemputku membuatku sedikit merasa mual namun rasa sakit di kepalaku sudah hilang.
Aku membuka mata dan melihat seorang guru BK di samping kasur tempatku tadi berbaring.
" Syukurlah, kau sudah bangun. "
Katanya sambil tersenyum dan mengusap dadanya.
" Maaf Bu Ika, tadi saya kenapa ya??, "
Tanyaku bingung dengan ekspresi guru itu.
Ia adalah Bu Ika Guru Bk yang memang sering menjaga UKS.
" Kamu tadi pingsan di luar. Untungnya Pangeran bantu kamu kesini. "
Jelasnya dengan raut wajah sedikit khawatir.
" Dia gendong saya, bu??, "
Tanyaku dengan agak kaget karena membayangkan caranya membawaku ke UKS.
" Iya, dia sendiri yang gendong. Kamu ada urusan kah dengannya??, "
Tanya Bu Ika dengan bisik-bisik dan matanya itu ke kanan dan ke kiri seperti sedang memastikan sesuatu.
" Tidak bu, justru saya tadi akan tertabrak mobil kalau dia tidak membantuku. "
Jawabku menjelaskan dengan Bu Ika untuk menenangkannya.
" Huh, syukurlah!!, "
Katanya sambil tersenyum dan memegang dadanya lagi.
" Memangnya kenapa toh, bu??, "
Tanyaku keheranan sepertinya memang aku kurang update berita tapi memang aku tak suka dengan sebuah gosip.
Bu Ika mendekatiku kemudian dengan pelan berkata.
" Kamu itu!! Masa gak tahu??!! Pangerankan murid langganan BK. "
Katanya dengan nada agak sedikit naik.
" Beneran bu, saya gak tahu... Lagian dia juga sudah menolongku!! Jadi jangan terlalu memihak seperti itu!!, "
Kataku yang agak kesal dengan Bu Ika karena ia berprasangka yang buruk.
" Huh, lagian dia ini lho!! Tiap hari kerjaannya ada-ada saja!!, "
Keluh Bu Ika dengan raut wajah yang tertekan sehingga membuatku tertawa karena di akhir kalimat sangat menghayati.
" Ya nasib itu bu namanya. "
Kataku dengan cengengesan.
" Darah tinggi saya itu yang jadi korbannya!!, "
Keluhnya lagi kemudian memijat-mijat pelipisnya.
" Jangan pingsan dulu, bu!! Nih pakai minyak kayu putih!!, "
Kataku dengan khawatir sambil menyodorkan minyak yang berada di meja samping tempatku berbaring.
__ADS_1
Apa yang dikeluhkan oleh Bu Ika membuatku membayangkan apa yang dilakukan oleh cowok itu atau yang namanya Pangeran.
Pangeran memang cowok yang bar-bar dan susah ditebak, sangat cocok dengan guru yang darah rendah dan cerah hidupnya.
Bu Ika meraih minyak itu kemudian mengoleskannya ke pelipisnya kemudian ia duduk di sebelahku dan berkata.
" Bagaimana keadaanmu??, "
Tanyanya sambil mengoleskan minyak.
" Sembuh total bu, apalagi setelah dengar curhatannya!!, "
Kataku yang masih dengan cengengesan.
" Ahh, kalian itu sama saja. "
Katanya pasrah sambil memikirkan apa tidak ada murid yang beneran normal di sekolahnya itu.
" Ah ya, tadi aku memanggil orangtuamu katanya mereka akan mengirimkan sopir untuk menjemputmu. "
Kata Bu Ika yang membuatku bernapas kasar.
Kedua orangtuaku memang sangat sibuk. Keduanya adalah CEO di perusahaan terkenal dan berpengaruh di negara ini. Jadi, mereka tidak memiliki waktu sedari dulu denganku dan itu membuat suasana hatiku memburuk.
" Huh, ya sudah bu. Saya pamit dulu mau pulang takut buat Ibu lembur juga. "
Kataku pada Bu Ika kemudian segera meraih ransel yang berada di meja sebelahku berbaring tadi.
" Ya sudah. Hati-hati,yaa!!, "
Pesan Bu Ika padaku kemudian aku tersenyum nakal dan berkata.
" Kalau terlambat nanti ada kunti di genteng,bu !!!, "
Kataku menggoda Bu Ika dan itu membuatnya tambah kesal.
" Sana pergi!!, "
Perintahnya dengan nada kesal mengusirku yang membuaku tertawa kecil sepanjang jalan.
Aku meraih ponselku dan membuka aplikasi chat.
' Put, ibu sudah kirim sopir. Kamu pulangnya diantar,ya!!, '
Bunyi chat itu yang tak lain adalah dari ibuku.
' Putri nginap Rumah Dina bu. '
Balasku untuk chat ibu.
' Ya, bu ya!!!!, '
' Huh, ya sudah!!, '
Balas singkat ibuku, aku tahu dia kesal namun aku tak peduli sama seperti dia yang tak terlalu peduli padaku.
Aku berjalan menjauhi sekolah. Rumah Dina hanya alasan saja karena ketika aku sudah muak pada dunia, aku akan berjalan mencari angin segar.
Setiap langkahku seperti membuatku lupa dengan semua problem hidupku, apalagi dengan angin sore yang akan segera malam.
Aku melewati banyak pepohonan sepanjang jalan yang sangat asri membuat suasana hatiku semakin membaik. Kemudian aku membeli sebuah kopi botol di warung di pinggir jalan itu.
" Kopi botolnya, pak!!, "
Pesanku pada seorang bapak-bapak yang sedang menjaga warungnya.
" Oh ya, neng. Satu atau dua??, "
Tanya bapak itu.
" 2 Pak, tidak usah dibungkus!!, "
Lanjutku lagi.
" Oke. "
Balas bapak itu singkat lalu berbalik mencari barang yang aku pesan dan membawanya ke arahku. Aku pun langsung membayarnya dan meraih 2 botol kopi yang ku pesan.
Aku berjalan dari warung itu sekitar 15 langkah kemudian aku sampai pada sebuah tebing yang di bawahnya lautan bewarna biru.
Tepat saat aku kesana langit sudah malam dan dibanjiri oleh bintang dan rembulan yang bersinar terang.
Lagi-lagi aku terpaku pada indahnya alam yang berada di depanku. Tempat ini adalah tempat yang akan selalu aku kunjungi saat sedang memiliki masalah.
Aku tak sadar ada sepasang tangan yang meraih salah satu botol kopiku kemudian tangan itu menempelkannya pada pipiku. Dingin botol kopi itu membuatku tersadar dari lamunanku.
Kemudian aku menoleh ke samping mencoba mencari tahu siapa yang berani melakukan hal itu denganku.
" Hahaha, jangan bengong!!, "
Kata orang itu sambil tersenyum tanpa beban, aku mengenalnya ia adalah Pangeran.
" Siapa yang bengong coba?!!, "
Kataku dengan cemberut kemudian membuka segel botol kopi itu, aku mencoba membukanya sebanyak 3 kali namun tak berhasil.
__ADS_1
" Sini biar abang tutorin, bocil kayak kamu mana kuat!!, "
Katanya meledekku sambil meraih botolku dan membukannya.
" Siapa yang lu katakain bocill???!! Lagian aku 16 tahun. "
Kataku dengan sangat cemberut tak terima dengan panggilan itu.
" Iya, tinggi kamu 165 kan??!!, "
Katanya sambil menertawakan tinggiku.
" Bukan aku yang bocil!! Kamunya aja yang jerapah!!, "
Kataku berbalik mengejeknya.
Pangeran memang tingginya 185 jadi tak heran ketika aku seperti bocil dihadapannya, ia hanya mendengarkan ejekanku dan meminum minuman itu. Hal itu membuatku membelalakkan mataku.
" Woii!!!, minuman gw!!, "
Kataku tak terima dengan minumanku yang ia habiskan. Kemudian ia membuka botol satunya yang ia pegang lalu memberikannya padaku.
" Nih, yang ini aman buat bocil kayak lo!!, "
Katanya dengan muka seperti mengajariku. Aku kesal dan memukul-mukul lengannya itu meski aku tahu itu tak kan membuatnya sakit.
" Akhhh, aduuh!!!, "
Katanya merintih kesakitan.
Aku tahu itu drama tapi setelah ia merintih lama rasa khawatir mulai hadir di benakku.
" Eh-eh, mana yang sakit??!!!, "
Kataku sambil memegangi lengannya itu mencari luka disana.
" Panik, cil??!!, "
Tanya Pangeran melanjutkan ejekannya.
" Isshh, serah kamu!!, "
Kataku sambil meminum kopi itu.
Aku memang sangat suka dengan rasa kopi meski aku sering sakit perut karenanya, namun itu tak mengurangi rasa sukaku pada minuman itu.
" hah, harusnya gw biarin lo mati tadi, eh enggak deh!! Jangan mati dulu!!!, "
Kata Pangeran mengingat kejadian yang kami alami tadi.
" Huh, by the way thanks, ya!!, "
Kataku tersenyum padanya.
Aku sadar akan tertabrak mobil ketika mobil itu membunyikan klaksonnya saat aku melangkah mundur karena tarikan dan pelukan Pangeran dari belakang.
" Emang lo gak mati ketabrak mobil, tapi pas gw gendong lu harusnya gw buang aja ke tong sampah!!, "
Katanya lagi dengan senyum tanpa beban.
" Woilah!! Nyesel gw berterimakasih sama lo!!, "
Kataku dengan kesal kemudian berjalan mendekati lautan dan duduk disana juga memandangi lautan dan langit.
" Bagus,kan??!!, "
Tanya pangeran kali ini dengan nada tenang dan duduk di sebelahku.
" Bagus, yang jelek itu kamu!!, "
Kataku dengan nada lebih rendah tadi.
Pangeran kemudian mengelus kepalaku dan melempar jaketnya ke kepalaku.
" Malam, ntar kedinginan, lo. "
Kata pangeran dengan wajah yang masih fokus dengan lautan.
" Huh!!, "
Kataku menghela napas kasar sambil mengenakan jaketnya memang benar kata Bu Ika Pangeran memang menyebalkan.
Hening pun datang di antara kami, kami sudah tenggelam pada dunia dan masalah masing-masing. Setelah itu aku membuka pembicaraan.
" Kenapa kamu kesini??, "
Tanyaku yang awalnya memandangi lautan lalu menoleh untuk memandangnya.
" Di sini dulu, tempat gw dan bapak sering mancing. "
Jelasnya padaku dengan nada sedikit berat sepertinya aku salah bertanya.
" Kalau lo, cil??, "
Tanya Pangeran padaku.
__ADS_1
" Kalo ada masalah aja kesini. "
Balasku kemudian kami kembali menatap langit dan lautan itu.