
Seorang wanita dengan pakaian jas rapi serba hitam sedang berjalan keluar dari koridor dengan raut wajah panik dan tergesa-gesa. Dua orang pria dibelakang mengikutinya sambil membawa kertas di tangan mereka, dapat dilihat bahwa mereka adalah bodyguard wanita itu.
Saat wanita ini berjalan sepanjang koridor maka orang yang berpas-pasan akan menundukkan tubuhnya, dapat dilihat bahwa wanita ini sangat penting.
Ya, wanita ini adalah ibuku yang bernama Deina Algeyshi yang menjabat sebagai CEO di Perusahan ternama bernama Alge.
Keluargaku memiliki sebuah sistem marga jika posisi orang itu berpengaruh pada perusahaan dan keluarga, maka ia akan mendapatkan nama Algeyshi dan Keisyi bagi yang masih dalam masa belajar.
Ibuku berjalan dan berhenti di sebuah ruangan, keberhentiannya diikuti juga oleh kedua bodyguardnya.
" Ada urusan apa, Mas??!!, "
Tanya Ibuku dengan panik pada Ayahku yang sedang duduk di sofa sambil meminum teh. Pasalnya suaminya itu akan kemari jika masalah sangat besar datang.
Ya, tempat itu adalah ruang tunggu.
Setelah meminum teh dan meletakkannya kembali ke meja, ayahku memandang lekat ibuku dengan pandangan seperti mata elang yang akan memangsa.
Ibuku seketika tambah panik melihat tatapan tak enak suaminya itu.
" Kalian keluar!!, "
Perintah Ibuku dengan tegas pada kedua bodyguardnya.
Para bodyguard pun mematuhinya, menunduk dan meninggalkan sepasang suami istri itu disana.
" Duduk!!, "
Perintah Ayahku dengan dingin dan tegas.
Ibuku pun menurutinya dan duduk berhadapan dengan suaminya itu. Jantungnya sudah berdetak tak karuan mendengar dan melihat setiap inci apa pun yang keluar dari suaminya itu.
" Deina, aku masih mengingat nama itu. 20 tahun lalu aku masih melihatmu sebagai karyawan yang selalu mengejarku- dan juga orang yang melakukan segala cara untuk mendapatkanku. Terutama menggangguku. "
Kata Ayahku dengan penuh penekanan terutama di akhir kalimat dan raut wajah yang tak berubah.
Banjir keringat dingin pun membasahi badan Ibuku. Dirinya pun tersenyum gentir.
" Mas, masa lalu tidak perlu dibahas?! Yang penting adalah masa sekarang!!, "
Katanya mencoba mencoba merayu dengan senyuman kecut yang dipaksakan, ia berusaha berbicara dengan nada tenang sebisa mungkin.
Mendengar itu Ayahku langsung berdiri dan melempar cangkir tehnya tadi ke sembarang arah, matanya masih menatap lekat Wanita di depannya itu.
" Mas, tenang!! Emm, aku ngaku salah Mas!! Aku khilaf!!, "
Kata Deina dengan napas yang tersenggal-senggal, kemudian berlutut dan menggenggam tangan ayahku yang berdarah akibat lemparan cangkir tadi.
Sebenarnya ia tak tahu memiliki salah apa, tapi ia yakin sudah melakukan kesalahan yang sangat besar hingga suaminya itu yang seperti singa tertidur bangun.
Ayahku kemudian mencengkram pipi ibuku dengan kuat hingga membuat wanita itu berdiri dan meringis.
" Kamu menghancurkan semuanya!! Aku memberimu satu kesempatan tapi kamu mengkhianatiku lagi!! Dasar wanita beracun!!, "
Bentak Ayahku dengan keras dengan
matanya yang sudah merah.
" Kamu sama sekali gak bisa merawat anakku!! Dia tumbuh tanpa kedua orangtuanya!! Apa kau tahu? Dia sampai menangis!! Dimana kamu yang dulu bersikap tenang dan berpikir jernih??!! Kamu melakukan kesalahan besar, Deina!! Maaf, kali ini tak ada ampun buatmu!! Kamu-"
Kata Ayahku yang terpotong dengan perasaan sesak dihatinya.
Dirinya yang memiliki penyakit jantung memegangi dadanya. Kepalanya semakin sakit dan penglihatannya remang-remang.
" Duh Mas, kamu kan punya penyakit jantung!! Ceisi!!, "
Keluh Ibuku dengan panik dan memanggil nama asistennya itu.
Kemudian nama orang yang dipanggil pun datang dengan tergesa- gesa.
Pembicaraan kedua suami-istri ini menimbulkan sedikit kerumunan di luar. Orang yang tak sayang nyawa akan mendengarkan dan yang sayang nyawa akan memilih mendapatkan berita dari karyawan lain.
" Cepat kamu panggilkan Dokter Willi, Cepat!!, "
Perintah Ibuku sambil memegangi kepalanya yang ikutan pusing.
Dokter Willi adalah seorang dokter pribadi keluarga kami.
Ibuku segera memapah suaminya itu untuk duduk kembali ke sofa.
Asisten itu pun menekan-nekan layar hpnya.
" Siapkan mobil juga!!, "
Perintah Ibuku lagi kepada bodyguardnya itu yang datang untuk memastikan keamanannya.
Kedua bodyguardnya itu pun segara pergi melakukan perintah.
__ADS_1
Deina tahu suaminya itu lebih suka dirawat dirumahnya pribadi saja.
Mobil siap dan mereka pun pergi menuju rumah.
Sementara itu di sisi lain bumi.
Aku sedang berada dirumahku sambil chatingan dengan Pangeran. Kami memang sering bertukar kabar, membicarakan hal random yang tak berguna dan juga curhat.
Fokusku teralihkan setelah mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahku. Aku segera berlari ke arah pintu itu setelah tau itu suara dari mobil Ibuku.
Aku sangat hapal suara mobil mereka meski sangat jarang dan hampir tak pernah pulang ke rumah. Segera aku berpamitan pada Pangeran dan segera berlari dengan cepat menghampiri pintu dan membukanya.
Secara bersamaan Ibunya dan Ayahnya itu datang dengan keadaan acak-acakan dan ibunya yang membantu memapah Ayahnya.
Deg...
Suara detak jantung Putri meskipun ia tak suka dengan keacuhan kedua orangtuanya itu, bukan berarti Putri akan senang jika melihat keadaan kedua orangtuanya seperti ini. Ikatan darah memang menjadi penghubung meski jarang berinteraksi.
Mereka pun masuk ke kamar Ayahnya itu untuk membaringkannya disana.
Tak perlu waktu lama Dokter Willi pun datang dan memeriksa keadaan Ayahnya itu. Dirinya memberikan sebuah obat dan membuat Ayahnya itu tertidur. Dokter Willi pun keluar dan meminta mereka mengikutinya. Mereka pun mematuhinya.
Di ruang tamu mereka pun duduk.
" Ayahmu itu, mengalami stres berat!! Sangat berbahaya untuk penyakitnya!! Ingat untuk jangan membuat masalah dulu terutama kamu Deina!!, "
Jelas Dokter Willi sambil memandang sinis Deina di akhir kalimat.
" Huh!!, "
Suara tarikan nafas Kasar Putri, dirinya tahu bahwa hubungan Ibunya dengan Keluarga Ayahnya memang tak baik.
Putri memilih meninggalkan kedua orang itu agar kepalanya tidak ikut pusing mendengar perdebatan kecil mereka. Ibunya tak mau kalah dan si Dokter akan terus memanas-manasi, ada baiknya ia menjaga kewarasannya.
Putri berjalan melewati Kamar Ayahnya itu. Niatnya memang kembali ke kamarnya sendiri dan kamar Ayahnya itu di samping kamarnya. Saat ia melewati Kamar Ayahnya langkah putri berhenti. Kemudian masuk ke kamar itu dan berdiri di depan ranjang Ayahnya itu lumayan jauh.
" Putri anakku, maafkan Ayah, ya?, "
Kata Ayahnya yang tertidur seperti ngelindur namun masih bisa Putri dengar.
Air mata putri jatuh membanjiri pipinya itu. Rasa kecewa, sedih dan juga kesal menjadi satu. Semua perasaan itu menghancurkan
setiap serpihan diri Putri.
" Aku udah maafin Ayah, bahkan sebelum Ayah minta maaf. Aku cuma kecewa aja, Yah. Selebihnya aku sayang Ayah!!, "
Putri pun berlari namun sebisa mungkin tidak menimbulkan suara, dirinya kembali ke kamarnya dan mengunci pintu.
Tanpa disadari semua kejadian itu disaksikan oleh Ibunya. Ibunya yang sedang dibalik dinding ujung lorong itu pun melangkah mundur. Dirinya menggenggam erat pakaiannya, raut wajahnya menjadi sedih dan seperti memiliki penyesalan yang besar.
" Maafin Ibu juga ya, Put. Ibu tahu Ibu jahat.
Seharusnya dulu Ibu tak membuat banyak masalah. Seharusnya dulu Ibu lebih sabar, kamu pasti akan bahagia dengan keluargamu yang sesungguhnya!!, "
Kata Deina sambil menangis sesegukan dan terduduk di lantai sambil menangis.
Sesampainya di kamar, Putri langsung meraih hpnya dan membuka aplikasi chatingnya. Kemudian terdengar suara ia sedang menelpon seseorang.
" Ya, kenapa, Cil??!!, "
Tanya Pangeran dalam telponnya itu.
" Hiks, Pa- Pangeran!!, "
Panggil Putri mencoba memanggil Pangeran.
" Hei, kenapa?? Aku kesitu, ya?!, "
Tanya Pangeran dengan nada panik setelah mendengar suara Putri.
" I- iya. "
Jawab Putri kemudian ia mematikan teleponnya.
Tak perlu waktu lama Pangeran datang dengan moror ninjanya itu. Melihat itu Putri langsung berlari keluar tanpa peduli dengan penampilannya.
Putri berlari dengan sangat kencang agar bisa cepat sampai ke tempat Pangeran. Ia tak peduli pada Ayahnya atau pun Ibunya itu. Ia hanya ingin Pangeran saja untuk saat ini. Ketika sakit memang yang dicari adalah obat, sedangkan sakit hati memang yang dicari adalah cinta tulus dari seseorang.
Setelah sampai Putri pun langsung memeluk Pangeran tanpa basa-basi. Ia hanya ingin pelukan hangat dari cowok ini tanpa ditanya kenapa. Banyak yang ingin Putri ceritakan namun semakin ia berbicara matanya akan terus mengalirkan air mata.
Pangeran pun hanya membiarkan Putri memeluknya, pelukan itu sangat lama dan sangat erat. Ia juga merasa tak enak hati setelah melihat dan mendengar semuanya tentang apa yang diceritakan oleh Putri.
Pangeran saat itu tak bertanya bahkan mulutnya terlalu lemas untuk sekedar bertanya, melihat pemandangan Putri seperti ini mirip dengan seribu abad tak minum air.
Pangeran hanya bisa memeluk Putri, mengelus kepalanya dan memberinya semangat juga solusi ringan. Pangeran memang tidak terlalu pandai dalam urusan drama keluarga. Dirinya membantu Putri untuk tidak perlu overthingking.
Bagi Putri, Pangeran sudah melakukan banyak hal untuknya juga sangat membantunya.
__ADS_1
" Makasih ya, Pangeran. "
Kata Putri sambil tersenyum lebih cerah dari tadi.
" Pokoknya kalau ada apa-apa, hubungi Pangeran ya, Cil!! Ingat lo gak sendiri!!, "
Kata Pangeran sambil mencubit pipiku.
" Ishh, sakit tau!!, "
Keluhku manja padanya.
Pangeran tak menjawab dan hanya tersenyum.
" Duluan ya, Cil!!, "
Pamit Pangeran kemudian langsung mengemudikan cepat motornya itu.
Putri hanya tersenyum cerah memandangi punggung pemuda yang semakin menjauhinya itu.
" Willi, tolong jantung saya pindah ke kaki!!, "
Kata Ayah yang sedari tadi melihat pemandangan kami di deoannya.
Willi hanya bisa panik sambil tersenyum masam.
" Bagaimana pun, ia sudah besar. "
Jawab Willi tanpa beban.
Mendengar itu Ayah langsung memukulnya, sahabat dari kecilnya ini memang sangat bodoh karena tak bisa menilak situasi.
Willi sadar bahwa ia salah berucap tadi dengan terpaksa harus merasakan rasa sakit akibat pukulan dari sahabatnya itu.
Disisi lain bumi.
" Nape lo, mukanya kayak ketemu setan??!!, "
Tanya Rambo penasaran dengan wajah Pangeran.
" Bapaknya ngeri!!, "
Jawab Pangeran merinding.
Maklum meskipun umur Ayahnya Putri 40 tahun tapi masih seperti umur 25 tahun, otot dan wajahnya itu tidak setuju dengan penuaan.
" Lo mau gua tutorin dapet restu calom mertua??!!, "
Kata Andrean sambil menaik-turunkan alisnya.
" Dih, emang gimana tuh caranya??!!, "
Tanya Pangeran penasaran dan mendekatkan telinganya ke mulut Andrean.
Mereka pun mendekat dan saling bisik-bisik.
" Weh, napa kalian?! Ngomongin sape?? Udah dosa lo pada ghibahin orang!!, "
Kata Bi Ijah yang tiba-tiba datang dai arah belakang dengan ember cucian baju.
Rasa usil mereka pun kembali datang.
" Gak ghibah namanya kalo orangnya disini!!, "
Jawab Andrean dengan senyuman minta di pukul itu.
" Terus lo pada ghibahin siape??, "
Tanya Bi Ijah penasaran.
" Ghibahin yang abis nanya, dong!!, "
Kata mereka serentak dengan tawa karena berhasil mengerjai Bi Ijah.
" Eh dasar anak-anak kurang ajar!!, "
Bentak Bi Ijah sambil memukulkan sapu yang entah datang darimana ke tubuh mereka bertiga.
Sementara itu disisi lain.
" Ini kok rasanya ada yang ngomongin Ayah, ya??, "
Tanya Ayah yang sedang duduk di ranjang.
Dokter Willi dan Deina yang mendengar itu hanya menggeleng secara bersamaan, tanda bukan mereka yang melakukannya.
...(End)...
__ADS_1