
Brakkk...
Suara kaca jendela yang pecah akibat tendangan seorang cowok.
" Siapa yang lo katain berakhir??, "
Tanya suara seorang cowok dengan nada bicara khasnya.
Ya, cowok ini adalah Rambo. Seorang yang ahli dalam taekwondo, memiliki potensi sejak kecil dan seribu kali mengikuti turnamen besar. Dirinya hanya satu kali kalah dalam pertandingan tak resmi saja. Sosoknya adalah idola bagi calon maupun pemain taekwondo lain. Gerakannya yang bukan hanya indah tetapi bak seorang pahlawan, mampu membuat musuh waspada. Dirinya begitu mempesona, kekurangannya hanyalah tidak pernah pacaran sahaja.
Setelah menendang kaca jendela dan membuatnya hancur, entah mengapa sosoknya sangat heroik kali ini. Kedua tangannya dimasukkan ke saku hoodie abu-abunya. Dirinya memandang ke depan, melihat Andi dan Rendi. Senyum aneh terukir di bibirnya juga sorot matanya yang sulit dijelaskan.
" Dua vs satu. "
Katanya lagi dengan suara bak hewan buas dengan raut wajah aneh.
****
" Sudahlah Geyhan, kamu tak akan bisa menang. "
Kata seorang lelaki sambil menghisap rokoknya kemudian mematikan teleponnya itu.
Lelaki itu adalah Arga. Seorang yang dianggap sebagai iblis para pembisnis, banyak partner dan musuhnya yang sudah merasakan auranya itu. Aura bak predator yang sangat haus dengan darah musuh. Dirinya tak akan segan-segan membunuh secara brutal siapa pun yang menghalanginya. Semua itu tak luput dari mata elangnya yang begitu mengintimidasi. Siapa pun dan apa yang kamu lakukan, itu semua tak berguna di tatapan mata elangnya itu.
***
" Hei!! Mau mati?, "
Tanya seorang wanita dengan rambut ungun yang sedang terjongkok di sebuah meja.
Semua mata lelaki menatapnya dan mengintimidasinya. Mencoba untuk menakutinya namun melihat itu wanita ini tersenyum miring, menundukkan kepalanya lalu kembali menatap ke depan.
" Ayo, mati!!!!!, "
Katanya berteriak dengan siluet cahaya bewarna putih yang mucul dan membesar dimatanya.
Tik.. Tak.. Tik.. Tak..
Suara jam yang entah darimana berdering. Suaranya itu awalnya begitu kecil namun perlahan semakin membesar.
Klip...
Suara semua lampu mati secara bersamaan.
" Aaaaaaaaakhhhhh!!!, "
Suara histeris semua lelaki yang berada disana.
Klap...
Suara semua lampu kembali menyala seperti semula secara bersamaan.
Bersamaan dengan lampu yang kembali menyala, dapat dilihat timbunan semua lelaki itu disana. Badannya sudah hancur tak berbentuk dan menyisakan banyak sekali darah.
Kedua lelaki dengan rambut pink dan hitam putih sedang berdiri di depan timbunan itu. Wajah mereka ditutupi oleh cahaya lampu hingga tidak terlihat begitu jelas.
Wanita berambut ungu yang berjongkok tadi kini bersender pada sebuah dinding. Kedua lelaki itu menghampirinya. Mereka pun ikut bersender disana. Lalu memandang ke arah kaca lebar tepat di mereka. Wanita ini meraih sesuatu di sakunya lalu menghisapnya.
" Sebenarnya aku sudah berhenti tapi-, "
Katanya terpotong karena menghisap rokok yang sudah dinyalakan itu.
" -Masa lalu begitu suram untuk sekedar menikmatinya. Kita hanya memandang saja, yang berlalu sudah berlalu. Namun aku tak akan pernah lupa dengannya. "
Kata wanita itu sambil menggunakan jaket bewarna hitam bergambarkan serigala disana.
Kedua lelaki itu tak menjawab dan mereka juga mengenakan jaket itu.
****
Tak... Tak... Tak...
" Silahkan merasa hidup lo sendiri berakhir, seenggaknya bernapas bentar buat gebetan lo. "
Kata Rambo yang sudah memakai jaket bergamber serigala, berdiri kemudian berjalan ke arah Pangeran.
" Semua tergantung pikiran lo, tapi dunia gak pernah se-simple itu. "
Lanjutnya lagi sambil menyodorkan tangan pada Pangeran.
Pangeran meraih tangan Rambo kemudian berdiri dan menatap ke arah Andi dan Rendi.
" Masih ada waktu An, Ren, selama itu semoga kalian bisa menemukan cahaya. "
Kata Pangeran kemudian memakai Jaket bergambar serigala yang diberikan oleh Rambo.
Mereka kemudian berjalan meninggalkan dua orang pemuda yang pingsan dengan tidak terlalu banyak darah.
Rambo adalah sahabat Pangeran. Sahabat pertamanya, orang pertama yang mau menganggap Pangeran sebagai manusia. Orang pertama yang memberi bantuan dan semangat. Orang yang akaj berdidi ketika Pangeran berbaring.
" Thanks, bro!!, "
Kata Pangeran sambil merangkul pundak Rambo.
" Nape lo nangis??!!, "
Tanya Pangeran sambil berjalan sejajar dengan Rambo.
Pangeran terkejut dengan Rambo yang menangis.
" Ini air mata cowok sejati!! Sampai kapan gw harus menjomblo, Ran??, "
Tanya Rambo sambil memeluk tiang di depannya.
****
" Wah-wah, apa sesingkat ini, tuan??, "
Tanya seorang cowok dengan pakaian seragam SMAnya.
__ADS_1
" Hmm, perjalanan masih panjang. Mengalahkan Geng Anjing tak semudah itu. Pada akhirnya itu hanya untuk perkembangan. Selanjutnya apa yang akan terjadi, ya??, "
Jawab seorang lelaki sambil menaruh cangkir yang baru saja ia minum.
****
Windi sedang menelpon seseorang, seketika raut wajahnya menjadi sangat cerah.
" Put, abis ini kita kumpul-kumpul, yuk!!, "
Ajak Windi antusias.
Putri sedang tak selera dengan liburan, rasa
tak enak itu pagi ini juga sudah menghilang.
" Hmm. "
Suara Putri berdeham antara setuju dan tidak setuju.
" Ihh!! Sekalian dah lo ajak gebetan lo, tuh!! Ntar biar gw ajak gebetan gw!!, "
Kata Windi memutar bola matanya kesenengan.
" Hah?!! Bentar-bentar!! Lo punya gebetan??!!!, "
Tanya Putri mencoba mencerna perkataan Windi.
" Lo nape gitu amat?!! Kalo iya kenapa?!!, "
Tanya Windi dengan raut wajah merendahkan Putri.
" Enggak gitu, emang ada cowok yang suka sama lo??!!, "
Tanya Putri yang sudah tak peduli apakah Windi akan kesal atau tidak.
" Dih!! Gitu amat lo!! Udahlah serah!! Gw mau pulang, dandan yang cantik!! Ingat jam 09.00, ya!! Gw tunggu!!, "
Kata Windi sambil membawa kembali tas-tasnya yang besar itu.
Tindakan Windi membuat Putri mengernyitkan keningnya.
" Cowok mana yang mau sama Windi??, "
Batin Putri keheranan.
Pembicaraan mengenai gebetan membuat Putri ingat dengan Pangeran. Putri segera berlari untuk mencari ponselnya itu. Ponsel dinyalakan dan ia mulai mengirim pesan dengan Pangeran.
' Pangeran. '
Chat Putri memanggil nama pacarnya itu.
' Ya, cil!! Kenapa??, '
Tanya Pangeran.
Huftt...
' Nanti sibuk??, '
Tanya Putri agar tak mengganggu waktu Pangeran.
' Enggak, kenapa?? Kamu kangen, ya?!!, '
Jawab Pangeran masih dengan candaannya itu.
' Huh!! Jam 09.00 kesini ya!!, '
Chat Putri kemudian mematikan ponselnya itu.
****
" Duh woi!! Hati-hati lah!! Sakit ini, cuy!!, "
Rintih Pangeran saat lukanya diolesi obat.
" Woi!! Ini gw juga udah hati-hati, lonya aja
yang terlalu histeris!! Akhh serah lo!!, "
Kata Andrean kemudian pergi meninggalkan Pangeran karena kesal.
" Lo balut aja sendiri, Ran!! Hehehe, kita mau tidur!!, "
Kata Rambo kemudian juga langsung pergi.
" Ckk!!, "
Decakan Pangeran kesal.
Frank datang dari arah belakang. Untungnya dirinya mau membantu Pangeran, tidak seperti sahabat bodohnya itu. Frank melakukannya dengan teliti dan akhirnya semuanya selesai dengan lebih cepat.
" Huh, thanks ya Frank. "
Kata Pangeran berterimakasih pada Frank yang kini duduk berhadapan dengannya.
" Sans aja. "
Jawab Frank singkat.
" Anak-anak gimana??, "
Tanya Pangeran kali ini dengan serius.
" Anak-anak juga aman yang sakit juga diurus, palingan juga cuman luka ringan. "
Jawab Frank ikut serius.
" Ya sudah kalo gitu, nanti kamu jam 09.00 ikut gw, ya??, "
__ADS_1
Tanya Pangeran pada Frank.
Frank mengernyirkan keningnya. Dirinya tak pernah diajak pergi oleh siapa pun. Meski untuk pekerjaan serius sangat tak mungkin Pangeran mengajaknya.
Melihat Frank yang lama tak menjawab membuat Pangeran kesal.
" Jadi, mau atau tidak?!!, "
Tanya Pangeran dengan nada agak tinggi.
Nada suara Pangeran membuat Frank tersadar dari pikirannya.
" E-eh.. okelah. "
Kata Frank menjawab dengan sedikit kaget.
Akhirnya Frank pun meninggalkan Pangeran sendiri untuk istirahat, dari semuanya hanya Pangeran lah yang terluka berat. Hal ini membuat Arga sedikit kesal.
" Apa sudah diurus??!!, "
Tanya Arga dengan tegas.
" Sudah tak apa, bahkan ia nanti akan pergi bermain dengan anak yang lain. "
Kata Frank menjelaskan pada Arga.
" Huh, ya sudah kalau begitu!!, "
Kata Arga kemudian kembali fokus dengan lembaran kertas dimejanya.
Akhirnya profesi Arga sebagai seorang CEO terlihat. Akhir-akhir ini ia memang harus fokus pada aspek lain dirinya. Lembaran kertas itu mungkin hanya setumpukan kertas bagi oranglain, namun setumpukan kertas itu bisa menjadi harapan besar untuk sebagiab besar.
****
" Putri. "
Panggil Deina setelah mengetuk pintu kamar Putri.
Sang pemilik nama yang merasa terpanggil pun bangun dan membukanya.
" Ya bu, ada apa??, "
Tanya Putri pada ibunya.
Wajah ibunya itu tampak panik dan dibanjiri oleh keringat dingin.
" Ehh itu loh, ibu masak kita sarapan bareng, ya??!!, "
Pinta Deina pada Putri, berharap anaknya itu mau.
Putri hanya tersenyum aneh.
" Tunggu dibawah ya, bu!!, "
Kata Putri dengan nada senang.
Mendengar itu membuat Deina bernapas lega. Ini juga menjadi pertama kalinya bagi Putri mereka makan bersama.
Akhirnya Putri menyiapkan pakaiannya rapi. Dirinya juga memang sudah siap untuk pergi. Kemudian Putri turun dari tangga dan mereka makan bersama.
Saat makan sama sekali tak ada suara selain sendok dan garpu yang saling beradu. Keduanya diajarkan tatakrama agar tidak berbicara ketika sedang makan. Setelah selesai pembicaraan pun dimulai.
" Kamu mau pergi??, "
Tanya Deina pada Putri.
Deina sebenarnya heran dengan pakaian Putri yang sangat rapi.
" Iya bu, sama Windi dan anak lain. "
Jelas Putri pada ibunya.
Ibunya hanya mengangguk tanda mengerti.
" Hati-hati, ya. "
Pesan ibunya kemudian mencuci piring mereka.
Setelah selesai ibunya itu mempersiapkan diri agar dapat bekerja.
" Selamat tinggal, bu!!, "
Kata Putri tanda perpisahan.
Deg...
Ini adalah pertama kalinya Putri memberi salam perpisahan pada Deina.
" Huft!! Kamu juga!!, "
Kata Deina, dirinya bersyukur Putri bisa lebih terbuka sekarang.
Deina pun masuk ke dalam mobil hitam mewahnya, satu paket dengan sopir yang selalu gesit.
" Jalan, Pak!!, "
Perintah Deina.
Mobil itu pun berjalan setelah mendengar perintahnya.
Tak lama Pangeran datang dengan motornya. Entah ibunya itu melihat atau tidak. Kedatangan Pangeran langsung membuat Putri menghampirinya.
" Ayo Pangeran!!, "
Ajak Putri segera karena ia juga sudah tahu tempatnya setelah chat dari Windi.
" Ohhh ya sudah!! Ayoo!!, "
Jawab Pangeran setelah memakaikan helm pada Putri.
__ADS_1
Mereka pun mengendarai motor itu untuk segera sampai di tempat tujuan.
.........(End).........