Cinta Satu Semester

Cinta Satu Semester
Deina dan Videla


__ADS_3

Seorang wanita sedang duduk termenung di kantornya. Gunungan kertas berada di depannya namun sang wanita tampak tak berselera menyentuhnya. Wajah awet mudanya itu terlihat sangat masam kali ini.


" Kenapa kau bersedih?? "


Tanya seorang wanita dengan dress bewarna pink.


" Aku tak tahu, rasanya seperti aku membenci diriku sendiri. Mengapa aku tak bisa melakukan banyak hal baik? Mengapa aku harus gelap mata? Mengapa aku harus kehilangan Mas Andi dan Mas Arga?? Hal yang paling aku sesali adalah meninggalkan putraku dan menyingkirkanmu!!, "


Kata Deiba sambil mengacak-acak rambutnya.


" Aku? "


Tanya wanita itu sambil menunjuk wajahnya.


" Kamu sudah mati, Aknes. Kamu sekarang hanya hayalanku karena kesepian. Aku juga membencimu!! Kenapa tak ada seorang pun yang mau mengerti diriku?? Kenapa tak ada seorang pun yang mau disisiku??!!, "


Jawab Deina sambil memukul mejanya itu.


" Huh!!, "


Suara tarikan napas Deina kasar.


" Ada apa, bu?? Tampaknya dari tadi pucat!! Apa anda sakit? Saya bisa menggantikan anda untuk sementara!!, "


Kata Ceisi yang tampak khawatir lantaran bosnya itu melamun dan berkeringat cukup banyak.


" Tolong sebentar, ya! Saya ingin keluar cari angin dulu. "


Pinta Deina tersenyum kecut pada Ceisi.


Ceisi tahu, Deina akan mencari angin ketika sedang stres.


" Baik, bu!!, "


Jawab Ceisi dengan cepat.


Deina pun bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruangan yang menyesakkan itu. Deina terus berjalan melewati lorong yang panjang dengan ribuan karyawan. Meski dia hanyalah bos dari anak ketiga perusahaan, tetap saja akan selalu mewah.


Akhirnya Deina berjalan keluar dan ke parkiran. Kini ia mengendarai mobil warna merah megahnya itu sendiri tanpa sopir. Deina dengan lihai mengendarainya.


Mobil itu berhenti tepat ketika seorang perempuan sedang dipukuli oleh seorang lelaki di parkiran sebuah bar. Perempuan itu berusaha memberontak dan berteriak meminta tolong. Banyak orang berlalu-lalang namun tak peduli dengan perempuan itu. Kejadian sang perempuan itu membuatnya ingat dengan Putri.


Deina turun dari mobilnya. Banyak mata yang melihat ke arahnya. Mereka semua menatap kagum padanya. Deina turun dengan pemukul bisbol yang selalu ia bawa di mobil pribadinya.


TTAAKK...


Suara ayunan tongkat bisbol yang mendarat di leher belakang lelaki itu. Lelaki itu pun pingsan dan tak sadarkan diri. Dirinya lantas meraih tangan sang perempuan dan membawanya masuk ke sebuah mobil. Secepat kilat Deina membawanya dari kerumunan dan hebatnya orang-orang itu tak sadar bahwa Deina sudah pergi membawa sang korban.


" Terimakasih, nona!!, "


Kata perempuan itu sambil menyentuh luka di tangannya.


" Aku akan membawamu ke rumah sakit. "


Lanjut Deina yang masih fokus menyetir.


" Tak perlu, nona!! Aku tak punya cukup banyak harta untuk membayarnya nanti!!, "


Timpal perempuan itu dengan panik.


" Mengapa? Itu gratis!!, "


Tanya Deina dengan muka datar dan masih fokus menyetir.

__ADS_1


" Itu... "


Jawab sang wanita yang tak melanjutkannya.


Akhirnya mereka pun sampai di sebuah rumah sakit. Rumah sakit ini tak terlalu besar hanya sederhana saja. Deina memapah perempuan itu untuk masuk. Tentu, perempuan itu tak enak hati padanya.


***


" Apa sudah tak sakit? "


Tanya Deina dengan muka datar dan terduduk di kursi samping perempuan itu.


Deina memandang perempuan itu. Terutama di lukanya. Dirinya dulu juga sering mendapatkan perlakuan seperti itu. Sekarang ia lebih menginginkannya daripada Arga yang tak memedulikannya. Semua masa lalu pun kembali hadir dalam benak Deina.


" Saya tidak apa-apa, lagian saya sudah terbiasa!! Tampaknya anda lah yang butuh pertolongan!!, "


Kata perempuan itu, menatap khawatir pada Deina.


" Ya, aku memang membutuhkannya namun aku tahu tak akan ada yang mau membantuku. Rasanya benar-benar hambar, hampa dan mati. "


Batin Deina dengan masam.


" Ya sudah kalau begitu, oh ya, siapa namamu?? "


Tanya Deina pada perempuan yang sedang duduk dikasur dan tangannya yang dibalut kain kasa.


" Ahh itu, namaku Videla. "


Kata Videla sedikit malu.


" Kau tampak masih muda, apakah masih SMA?? "


Tanya Deina lagi padanya.


Jawab Videla bertambah malu.


" Hmm, sebenarnya lelaki itu tadi adalah Ayahku. Ia memukulku lantaran tak membawa uang yang ia inginkan. Aku bekerja di club malam. Terimakasih sudah memukulnya!!, "


Kata Videla menjelaskan.


" Berhenti saja dari pekerjaan itu!! Dimana rumahmu?? "


Tanya Deina lagi pada Videla.


Mendengar kata rumah membuat Videla menjadi masam.


" Ada, aku hanya tinggal dengan Ayahku. Ibuku pergi meninggalkan kami ketika aku masih kecil. "


Kata Videla dengan masam menjelaskan.


Deg...


Flasback masa lalu kembali hadir dalam ingatan Deina. Dirinya yang meninggalkan putra dan suaminya. Bekerja di club malam.


" Kalau begitu tinggal lah bersamaku. Bukan rumah hanya tempat untuk mengeluh saja. "


Ajak Deina pada Videla.


" Apa itu tak merepotkan? Aku juga sudah lama ingin meninggalkan rumahku itu!!, "


Balas Videla tak enak hati.


" Tinggal lah. Kita bisa kesana sekarang. Kau tak perlu bekerja dan memikirkan ayahmu itu. "

__ADS_1


Kata Deina dirinya tahu bahwa Videla sangat membenci ayahnya itu.


" Terimakasih!! Aku tak akan melupakan jasamu itu!!, "


Kata Videla langsung memeluk Deina tanpa aba-aba.


Pelukan, hal yang sudah 20 tahun tak di dapatkan Deina.


" Kau sudah membalasnya. "


Batin Deina membalas pelukan itu.


Bukan harta. Pelukan saja dapat membuat Deina sedikit hidup. Dahulu ia ingin hidup dengan mewah. Nyatanya justru dengan kemewahan ia tak lagi bisa hidup.


****


Mobil merah mewah itu berhenti di sebuah rumah. Rumah itu hanya sederhana. Akan tetapi terlihat begitu mewah dimata Videla. Videla bahkan menyamakannya dengan istana.


" Apa ini rumahmu??!! Terlihat seperti istana para princes!!, "


Tanya Videla dengan muka berbinar-binar dan antusias.


" Ya. Ayo masuk!!, "


Ajak Deina padanya, dirinya tadi sudah berkenalan dengan Videla dan memintanya jangan memanggil nona atau pun bu.


Keduanya pun masuk ke dalam rumah itu. Ini adalah rumah yang dibuat dan di desain sendiri oleh Deina. Dirinya memang memilih yang sederhana. Ia sering sekali kemari saat ada masalah.


" Ini sangat keren!!, "


Puji Videla setelah melihat desain dalam rumah itu.


" Ikuti aku!!, "


Perintah Deina singkat pada Videla dan dirinya hanya mengikuti saja.


Mereka pun sampai di sebuah kamar yang cukup luas. Bednya lumayan besar dan juga barang-barang yang lengkap disana.


" Ini adalah tempat tidurmu. "


Jelas Deina yang membuat Videla membelalakkan matanya.


" Sungguh? Bahkan aku tidur di teras saja tak apa-apa!!, "


Kata Videla dengan antusias.


" Huh!! Tidurlah disini!!, "


Kata Deina memaklumi sikap Videla yang penuh dengan kobaran api.


Videla langsung menghampiri kasur itu dan berbaring disana.


" Bersihkan dirimu du- "


Kata Deina yang terpotong saat menghampiri kasur itu dan mendapati Videla sudah terlelap tidur.


" Hah... "


Suara tarikan napas Deina lelah, dirinya pun meninggalkan kamar itu.


Dibalik pintu kamar, ia tersenyum kecut. Bunga sedikit tumbuh dihatinya. Meski Videla melelahkan tapi akhirnya ada seseorang yang membantu Deina hidup.


.........(End).........

__ADS_1


__ADS_2