
Malam itu akhirnya selesai denganku yang diantar pulang oleh Pangeran dengan motornya. Aku masih mengingat kejadian lucu saat ia selesai mengantarku.
" Makasih, ya. "
Ucapku padanya sambil tersenyum tulus.
" Enggak deh. "
Jawabnya dengan cemberut.
" Kok gitu??!!, "
Tanyaku sambil mengerutkan kening.
" Kita gak kenal. "
Katanya menjelaskan dengan manja.
Pangeran memang seperti itu. Ketika ia dekat dan nyaman dengan seseorang sifat manis dan lucunya itu akan sangat terlihat.
" Huh!!, Putri. "
Kataku sambil menodorkan tangan sebagai tanda salaman.
" Enggak dulu. "
Jawabnya singkat lagi dengan wajah coolnya meskipun terlihat sangat imut di mataku.
" Sekarang apa lagi???!!, "
Tanyaku berpura-pura kesal sambil memincingkan mataku.
" Mana nomor wanya??!!, "
Katanya dengan gembira dan antusias.
Aku tahu anak ini hanya ingin nomorku saja dan apa yang ia lakukan tadi hanya drama dan modus.
" Huh, nih!!, "
Kataku menghela napas kasar berpura-pura kesal dengannya sambil menyodorkan hpku.
Kemudian Pangeran meraihnya dan mulai mengetik nomornya disana. Setelah itu ia mengembalikannya padaku.
" Malam, cil!!, "
Katanya lalu segera mengemudikan motornya.
Tahu saja kalau tidak segera pergi maka motornya akan ku hancurkan. Tanpa sadar aku sedikit tertawa melihat punggungnya yang semakin menjauh.
Aku melihat ponselku dan juga fokus pada nama yang ia sv di nomorku.
' Bocilnya Pangeran '
Itulah nama yang ia ketik untuk kontaknya, meski aku kesal dengan semua ejekan dan tentu panggilannya itu tapi aku akui itu menjadi warna baru untuk hidupku.
Aku pun masuk ke rumah besar dan megah itu. Banyak orang yang iri dengan kehidupanku yang serba mewah dan megah juga apa pun yang aku inginkan pasti akan aku dapatkan.
Bagaimana jika yang aku inginkan hanyalah cinta dari kedua orangtuaku? Bahkan waktu mereka pun meski 1 menit aku tak mendapatkannya. Mereka memilih mengeluarkan uang daripada memedulikanku.
Rasa sakit, kecewa dan benci masih tertanam jelas jauh dalam lubuk hatiku. Kenangan kedua orangtuaku yang mengabaikanku berenang jelas dalam pikiranku.
" Huh... "
Suara helaan nafas kasarku.
Kemudian aku memilih menjatuhkan badanku ke ranjang dengan size yang besar. Aku terus memandangi atap rumahku, termenung sesaat karena mengingat kedua orangtuaku.
Tak lama sebuah suara nonfikasi menghancurkan renunganku. Aku segera meraih ponselku dan membukanya.
' Malam, cil. '
' Jangan begadang, ya!! '
Bunyi chat dari Pangeran.
Tanpa sadar aku mulai tersenyum, antusias dan semangat karena bunyi chat itu.
' Dih, siapa lo??!!, '
Balas Putri pada chat Pangeran.
Putri memilih berpura-pura kesal dan marah pada Pangeran padahal hatinya sedang berbunga-bunga.
' Gantengnya bocil dong😎!!, '
Balas Pangeran dengan cepat.
Aku dibuat ngakak oleh chatnya itu apalagi dengan emojinya.
' Dih pd banget!!, '
Balasku pada chatnya.
Aku mencoba sebisa mungkin untuk terlihat ngambek.
' Masih marah, cil??!!, ingat nanti tambah pendek lho!!!, '
__ADS_1
Balas chat Pangeran mengejekku.
Aku sedikit kesal, orang seperti Pangeran memang ngangenin tapi juga ngeselin.
' Ishh, udah ku bilang!! Kamunya aja yang jerapah!!!, '
Balas chatku pada Pangeran.
Kemudian aku tertawa keras karena melihat history chat kami berdua. Lalu aku mendengar sebuah telepon masuk. Aku segera meraih ponselku dan melihat siapa yang menelponku.
Ternyata itu adalah telepon dari Pangeran, aku mencoba melatih suaraku agar terlihat kesal lalu mengangkatnya.
" Halo. "
Kataku singkat dan ada nada judes disana.
" Dih, cil!! Gausah marah gitu!! Lagian emang kau ini bocil!!, "
Katanya yang membuatku ingin sekali menampolnya dengan keras.
" Bocil terus!! Apa gak ada yang lain??!!, "
Kataku dengan nada kesal padahal jauh dalam hatiku sedang tertawa keras.
" Yaudah, cil!!, "
Jawab Pangeran.
Pangeran itu antara peka dan tidak peka. Peka karena memanggilku tapi setelahnya kembali tidak peka.
" Yaudah aku blokir nomormu!!, "
Ancamku pada Pangeran yang berhasil membuatnya panik.
Pangeran memang hanya bisa melirik satu cewek dan dirinya memang susah untuk move on.
" Eh jangan!! Yaudah manis!!, "
Katanya lagi dengan nada panik.
" Gak. "
" Cantik deh!! "
" Gak!! "
" Gula!! Permen!! Gulali!! Akhh- "
Kata pangeran yang membuatku semakin ingin tertawa, apa ia pikir aku makanan??
" Ya udah deh bocil!!, "
" Oke. "
Balasku singkat.
Terima dah tuh, prank dariku.
" Hah??!!, Prank lo, ya??!!, "
Katanya lagi dengan nada kesal merasa di permainkan.
" Hahahah. Malam Pangeranku!!, "
Kataku sambil tertawa kemudian dengan cepat mematikan telepon itu.
" Aaaaakkhhhh!!!, "
Teriakku histeris sambil mengguling kesana-kemari dan memukul bantal yang berada di sampingku.
Itu adalah kali keduanya aku salting setelah kejadian pelukan sebelumnya.
Entah sejak kapan aku menjadi selalu tertarik pada Pangeran. Bahkan malam itu aku tak bisa tidur, memikirkan wajahnya, caranya bicara dan tingkah lakunya yang lucu itu.
Aku tak banyak mengerti tentang cinta saat itu dan juga waktu itu aku hanya berharap kami bisa semakin dekat.
Entah kapan rasa kantuk datang saat mataku terbuka lagi itu adalah pagi. Seperti tak biasanya karena aku akan selalu malas ke sekolah apalagi bergaul dengan murid lain, aku memang seorang introvet dan hanya dekat dengan beberapa orang saja.
Pagi ini aku dipenuhi dengan antusias dan semangat untuk pergi ke sekolah bukan untuk belajar melainkan bertemu dengan Pangeran lagi.
Aku membuka hpku dan melihat sebuah nonfikasi disana.
' Pagi, Cil!!, gw jemput, ya!!, '
Bunyi chat yang tak lain adalah dari Pangeran.
Aku kemudian berteriak histeris lagi seperti tadi malam kemudian segera berlari ke meja rias, melihat wajahku dan aku pun segera mandi.
Aku mandi harus dengan bersih dan wangi kemudian merias wajahku secantik mungkin tanpa terlihat menor. Merapikan rambutku dan segera menyisir setelah itu aku menggunakan pelicin dan pelembut rambut, mengingat Pangeran menyentuh kepalaku kala itu.
Setelah itu aku merapikan pakaian seragamku, buku dan melihat lagi ke cermin. Setelah memastikan pas aku pun segera pergi meninggalkan kamar dan keluar rumah.
Aku memang sedari dulu sangat jarang sarapan, biasanya akan sarapan atau makan siang di kantin sekolah.
Aku pun memakai sepatu yang lebih cantik dari yang biasanya ku pakai, meskipun sama-sama sepatu sekolah.
Lalu aku berjalan keluar ala model agar aku lebih berkarisma karena ternyata Pangeran sudah menungguku di luar dengan helmnya. Helm, jaket dan motor ninjanya yang serba hitam menambahkan demage padaku. Benar-benar tampan.
__ADS_1
" Sudah siap??, "
Tanya Pangeran sambil mengambilkan helm dan memakaikannya untukku.
" Sudah, ayo!!, "
Jawabku pada Pangeran karena ingin segera diboncengnya.
Kemudian kami naik motor.
" Pegangan!!, "
Perintah Pangeran dan aku pun menurutinya.
Di satu sisi aku memang ingin mencari kesempatan di sisi lain aku tahu cara Pangeran mengendarai motornya. Lebih baik di jalan yang aman dan penuh dengan kesempatan saja dan jangan mencari sebuah resiko.
Sepanjang jalan aku terus memerhatikan wajahnya yang tertutup helm itu dari kaca spion motornya. Menampilkan matanya yang bak lautan dan juga alisnya yang tegas juga hidungnya yang mancung. Meski hanya terlihat sebagian ketampanannya itu sama sekali tak berkurang.
" Tampan, lucu meski nakal "
Batinku memandang kagum pada sosok Pangeran.
Akhirnya kita sampai di parkiran dekat sekolahan, umur kami yang kurang sedikit menyebabkan harus memarkirkan motornya disana. Itu adalah hal biasa untuk para murid.
" Jalan gak papa ya, cil??!! Hitung-hitung olahraga. "
Kata Pangeran sambil melepaskan helmku.
" Gak papa. "
Jawabku singkat padanya.
Bagiku untuk jalan dari tempat ini ke sekolah sama sekali tak jauh.
Aku bingung karena Pangeran tak mau berjalan sejajar denganku dan memilih berjalan beriringan saja. Tetapi saat aku berada di jalan raya, ia membantuku menyebrang.
Aku khawatir kalau Pangeran tidak nyaman dengan penampilanku atau sebuah kesalahanku yang tak ku ketahui. Bahkan ketika kami sampai ke sekolah, ia harus sudah pergi berkumpul dengan gengnya.
Kebetulan juga kelas kami berbeda makanya aku juga baru tahu namanya dari cerita Bu Ika. Aku berjalan menuju kelasku yang paling pojok, kemudian aku masuk dan duduk disebelah bestieku Windi.
Windi yang melihat ekspresiku masuk kelas dengan masam pun segera merangkul pundakku.
" Weh, napa bestie??!!, "
Tanyanya dengan sedikit khawatir namun tetap frendly.
Memang Windi adalah orang yang ramah, peduli padaku makanya aku dekat dengannya meskipun omongannya sangat pedas untuk orang lain. Terlebih ketika sudah menyinggung hatinya.
" Win, aku mau nanya sama kamu tentang sesuatu!!, "
Tanyaku dengan Windi dengan tampang serius.
" Tanya apa???!!, "
Kata Windi keheranan dengan nada dan raut wajah yang ikut serius.
" Menurut kamu gimana Pangeran?!!, "
Tanyaku pada Windi yang membuatnya melepaskan rangkulannya pada pundakku.
" Pangeran, ya?!! Yang sering langganan BK, yang sering bolos, yang pakaiannya gak pernah rapi dan juga yang geng-gengan itu, ya???!!! "
Kata Windi yang membuatku mengerutkan kening, dia ini memang update sekali.
" Emang kenapa?? Ya, menurutku biasa aja sih. Toh gw juga sering gitu apalagi langgansn Bk!!, "
Katanya yang membuatku langsung menampolnya memang ternyata sia-sia saja bertanya pada Windi.
" Akhh sudahlah!!, "
Kataku menyerah.
" Woilah, jan gitu!! Emang lo diapain sama itu Jamal??!!, "
Tanya Windi lagi sambil memukul pundakku.
" Gak ada!! Ya, penasaran aja gitu!! "
Jawabku yang membuatnya menatap curiga.
" Ooh. "
Balas Windi sambil memandangiku dan mengangguk-anggukkan kepalanya itu.
Lonceng jam pelajaran dimulai pun berbunyi kemudian aku belajar dan fokus pada apa yang guru itu ajarkan. Aku termasuk anak yang ambis dan juga serakah dengan posisi juara 1. Dulunya aku kesal karena tuntutan dari kedua orang tuaku tapi sekarang posisi juara 1 harus hanya aku yang memilikinya. Itu adalah ambisi kuat yang diajarkan dari kedua orangtuaku. Memang mereka juga memiliki banyak ambisi sayangnya tak pernah melirik anak kandungnya sendiri. Begitu mengenaskan.
Rasa khwatir dengan tingkah Pangeran di sekolah semakin nyata saat ia bertemu denganku namun tak menyapanya, seakan kami adalah orang asing saja.
Aku pun hanya membiarkannya saja kemudian meraih ponselku dan mengetikkan sesuatu disana.
' Pulangnya kamu anter atau gimana?? '
Bunyi chat ku untuk Pangeran.
5 menit kemudian baru Pangeran membalasnya.
' Aku antar aja. '
__ADS_1
Balas Pangeran pada chatku.
Kemudian chat kami berakhir hingga disitu dan mata pelajaran berakhir seperti biasanya.