Cinta Satu Semester

Cinta Satu Semester
Sekolah


__ADS_3

Hari seperti biasa terlalui dengan Pangeran yang menjemputku sekolah. Kini aku sedang berada di kelas seperti biasa. Seorang guru berhenti menulis di papan tulis. Guru itu pun memandangi kami.


" Anak-anak kita kedatangan murid baru kali ini!!, "


Katanya yang membuat banyak murid antusias dan menebak-nebak siapa murid baru itu.


Seorang siswa laki-laki mengangkat tangannya, tanda ingin bertanya. Sang guru pun mempersihkannya.


" Bu, cewek atau cowok??, "


Tanya siswa laki-laki itu dengan cengengesan dan dibalas seruan para siswa sekelas.


" Huuuu, Bu Romi mata keranjang!! Hahaha!!, "


Tambah seorang siswa perempuan lagi dengan menertawakan pertanyaan barusan.


Sekelas pun tertawa. Mereka memang asyik dalam belajar. Tertawa juga serius.


" Sudah-sudah ayo, silahkan masuk. "


Pinta guru itu sambil membukakan pintu untuk siswa baru.


" Perkenalkan nama saya Videla, saya dari Jakarta dan saya sekarang disini karena perpindahan orangtua. Semoga kita semua bisa menjadi teman yang baik. "


Katanya memperkenalkan diri.


Para lelaki pun ssmangat karena mereka menang. Videla memang anak yang cantik. Hidungnya mancung, kulitnya bersih, bibirnya merah muda. Bulu matanya lentik, alisnya kecil dan tak terlalu besar juga dengan matanya yang bewarna hitam pekat.


" Ya sudah kalo begitu, kamu duduk di depan meja Putri, ya!!, "


Kata bu guru memberitahu tempat Videla untuk duduk.


Dirinya pun duduk di depan meja Putri dan Windi. Windi mendekat padaku. Dirinya membisikkan sesuatu padaku. Tatapannya dari tadi memang tak suka dengan Videla.


" Put, coba lo lihat!! Tuh bocah kencur sombong amat!! Aura-auranya tuh kayak-, "


Bisik Windi mengghibahkan orang yang tepat di depannya.


" Ssst... Udahlah, Win!! Jangan gitu!!, "


Kataku menasehati Windi dan kembali fokus pada pelajaran guru itu.


Windi pun ikut fokus ke pelajaran meskipun dengan perasaan sedikit kesal. Windi mengajakku ke kantin saat bel istirahat sudah berbunyi. Dirinya denganku memang sangat suka jajan. Kami memang memiliki banyak kesamaan.


Belum sempat kami pergi, para siswa cowok sudah berkerumun ke meja Videla. Mereka melayangkan senyuman menggoda. Melatunkan banyak sekali godaan. Ada pun yang menanyakan nomor, alamat bahkan status.


" Weh, bubar kalean!! Sesak tahu!!!, "


Kata Windi meminta mereka untuk bubar dengan keningnya yang ia kernyitkan.


" Huh!! Bilang aja lo iri kan sama, Videla??!!, "


Tanya seorang siswa cowok sambil merendahkan penampilan Windi.


Windi memang wanita yang tomboy. Rambutnya pendek mirip laki-laki. Dirinya lebih suka memakai celana daripada rok. Bergaya atau pun berpose seperti halnya cowok.


" Na-jis!!, "


Teriak Windi keras ke telinga siswa cowok itu.


Kerasnya suara Windi membuat siswa itu menutup telinganya. Kerumunan pun sudah berkurang. Mereka lebih memilih sayang nyawa, mengingat Windi adalah cewek bar-bar.


" Huh!!, "


Deru suara tarikan napas kasar Windi.


" Emm, aku bisa ikut ke kantin gak bareng kalian?, "


Tanya Videla sambil memainkan jarinya dan tatapan menunduk ke bawah.


" Gak. "


Jawab Windi singkat kemudian langsung menyeretku pergi meninggalkan kelas.


" Ishh!! Sakit, Win!!, "


Rintihku pada Windi dan ia pun melepaskan tanganku.


" Win, gak boleh gitu!!, "


Kataku mengingatkannya lagi.


" Iya-iya, udahlah!! Ayo, jajan!!, "


Ajaknya lagi sambil merangkul pundakku.


" Huh!! Kamu ini!! Yaudahlah!!, "


Jawabku padanya dengan nada sedikit kesal.


Kami pun berjalan menghampiri kantin. Disana banyak sekali siswa yang sedang makan, mengobrol dan juga bermain hp. Para penjaga kantin pun sedang sibuk dengan pesanan murid-murid.


Aku dan Windi memilih meja paling pojok, meja biasa kami ke kantin. Windi meninggalkanku untuk memesankan makanannya dan juga memesankan makananku. Aku bisa melihat punggung cewek bar-bar dan tomboy itu.


Pangeran kebetulan juga sedang makan, melihatku kemudian menghampiriku. Dirinya duduk disampingku sambil memakan makanannya. Entah mengapa para murid biasa saja dan tak heboh. Dirinya juga duduk dengan santai.


" Cil, nih!! Makan sayur sapa tahu lo bisa tinggi!!, "


Katanya sambil menyuapkan sayuran ke mulutku.


Pangeran menyuapiku tanpa aba-aba. Terpaksa aku harus mengunyah dan menelannya. Kebiasaannya itu membuatkh sedikit mengernyitkan kening.


" Sapa juga yang lo katain bocil?!! Tinggiku itu ya 165!! Kamunya aja yang tiang bendera!!, "


Kata Putri dengan kesal ke Pangeran.


Pangeran hanya melihatku dan tersenyum.

__ADS_1


" Emang udah pernah itung tinggi tiang bendera??, "


Tanya Pangeran sambil menopangkan wajahnya ke tangan kanannya dan melirikku.


" Udah, kenapa??, "


Jawabku berbohong padanya.


" Oh yaa?? Berapa coba??, "


Tanya Pangeran lagi sambil mengangkat kedua alisnya.


" Hitung aja coba sendiri!!, "


Jawabku padanya sambil memakan humburger Pangeran.


" Eh?? Kok dimakan?? Habisin lagi!!, "


Kata Pangeran dengan nada sedikit kesal padaku.


" Huh!! Habisnya aku laper!! Tuh Windi mesen aja kayak enam abad!!, "


Kataku menjelaskan pada Pangeran.


Pangeran hanya bisa menarik napas kasar. Dirinya tahu akan terus kalah debat denganku. Ia pun menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


" Emm, aku bisa ikut gabung gak sama kalean??, "


Tanya seorang wanita dari belakang.


Suara itu membuat kami berdua menoleh kebelakang, memastikan siapa yang barusan berbicara. Benar apa kata Windi. Videla, wanita ini sedikit berbeda.


Aku sebenarnya keberatan namun akhirnya membiarkannya saja. Pangeran juga sedikit bingung pasalnya ia hanya tahu bahwa Putri temannya hanya Putri. Videla ini memang aneh. Mengapa harus duduk ditengah-tengah mereka? Padahal sebelah Putri pun kosong.


Melihat tingkahnya itu membuatku sangat kesal.


" Apa dia tak tahu situasi atau memang benalu? Apa dia tak melihat aku sedang berduaan dengan Pangeran? Meja yang lain pun kosong, mengapa harus dengan kami?, "


Batinku dengan penuh pertanyaan dan sedikit memaki ke cerobohan bocah ini.


Windi berjalan ke arah meja kami. Dirinya tahu ada benalu ditengah-tengah kami.


" Benalu ya?? Panggil lontong boleh gak sih?? Agak kesel gitu!!, "


Batin Windi yang juga mengutuk Videla.


Windi pun menaruh pesananku dan kemudian menatap Videla dan tersenyum.


" Eeh, Videla!! Temenin aku dong!! Aku mau ke kamar mandi bentar!!, "


Kata Windi kepadanya dengan wajah manja.


Wajahnya itu sedikit membuatku tertawa kecil. Wajah yang tak cocok dengan Windi. Dapat dilihat dia sedang sangat kesal.


" Emm, tapi aku laper!!, "


Timpal Videla dengan mata yang sedikit sedih.


Tanya Windi sambil menaikkan kakinya ke meja dan mata yang penuh intimidasi.


" Weh!! Santaii!!!, "


Kata Pangeran pada Windi.


Sifat lakik Windi kalau sudah bangkit sangat sehat untuk darah tinggi.


" Emm, aku... Aku... Aku masih, ee.. Laper!!, "


Lanjut Videla lagi dengan muka sedikit terharu kemudian malah terisak dan memeluk Pangeran.


" Dih, sape lo anji*%??!!, "


Batinku memaki, mengutuk dan menelan Videla hidup-hidup.


Pangeran pun segera melepaskan pelukan itu. Dirinya sudah notice ada asap yang keluar dari badan Putri. Pangeran bernapas kasar.


" Ya sudah kalau gitu!! Aku mau balik dulu ke kelas!!, "


Katanya berpamitan dengan teman-teman gengnya di belakangnya.


Dirinya pun pergi meninggalkan kami. Disana sebenarnya ada Andrean, dirinya ingin menyapa Windi. Melihat situasi dan posisi kaki Windi lebih baik lain kali saja.


" Oke, gini-, "


Kata Windi yang terpotong karena tiba-tiba Videla berdiri.


" Aku juga mau pulang aja!!, "


Katanya kemudian langsung pergi dengan wajah acuh.


" Ta%, memang!!, "


Umpat Windi yang sudah kesal.


" Huh!! Sabar, Win!!, "


Pintaku padanya meskipun aku juga ikut kesal.


" Videla, itu siapa? "


Tanya Windi dalam hatinya dengan gelisah.


Suara bel pertanda masuk pun berbunyi. Aku dan Windi pun segera masuk ke kelas. Saat kami kembali Videla tak ada di depan kami. Entah kemana bocah itu, kami tak peduli.


Akhirnya pelajaran yang cukup menguras otak pun selesai. Kami pun memberi salam perpisahan bersama pada guru mata pelajaran terakhir. Kami pun piket membersihkan kelas. Meski terlihat tak peduli, mengingat kelakuan Videla yang ceroboh kami jadi sedikit khawatir, ia melakukan hal bodoh lagi.


Aku pun berpamitan pada Windi untuk pergi duluan karena sudah ditunggu Pangeran.

__ADS_1


***(Pov Windi)


Aku sedang berjalan di sebuah koridor untuk mengambil sepedaku di tempat parkiran. Aku pun sampai namun belum lama aku disana, kejadian tak mengenakan kembali ku lihat. Pacarku Andrean sedang berci*%!n dengan Videla. Hatiku sangat terasa sesak dan aku pun memilih memantau mereka secara diam-diam.


Kakiku terlalu lemas dan tak sanggup melihat lengkapnya. Mataku mulai memerah dan kemudian aku memilih pergi meninggalkan mereka termasuk sepedaku. Aku berjalan sambil melamun, kejadian yang ku lihat barusan berenang di kepalaku.


Terpaksa aku harus berjalan pulang, aplikasi walletku sedang ada masalah tak mungkin jika aku memesan driver. Perjalanan ke rumahku juga lumayan. Sakit hati membuatku berlari kencang sehingga terlihat sangat pendek jaraknya.


Bruuk....


Suara badanku yang terjatuh di tanah.


" Weh, maaf ya!! Gak sengaja soalnya!!, "


Kata seorang lelaki dari arah samping dengan bola basket yang ia pantulkan ke tanah.


" Sini lo anji&@, bangs&!, sialan!!!, "


Umpat Windi dengan kesal.


Windi pun bangun dan terduduk sambil memeluk kakinya dan menenggelamkan kepalanya.


" Salah hari gw. "


Batin lelaki itu sambil berjalan ke arah Windi.


" Nape lo?? Sini lo liat abang lo ini!!, "


Kata Lelaki itu yang ternyata adalah abangnya Windi.


Windi pun perlahan menegakkan kepalanya dan melihat wajah tampan abangnya itu.


" Gimana??!!, "


Tanya Abangnya dengan riang.


" Kayak monyet. "


Jawab Windi dengan muka masam.


" Gini amat, punya adek!!, "


Batin Abang Windi dengan tertekan.


" Lo ceritaiin ke abang!! Nape lo nangis!!, "


Perintah Abang Windi kali ini dengan nada tegas.


" Gak papa kok, Bang!!, "


Jawab Windi sambil mengusap air matanya.


" Goblo@ banget lo kalau soal boong!!, "


Timpal Abang Windi sambil memeluk tubuh adiknya itu.


Abang Windi tak masalah jika, Windi tak mau menceritakannya. Windi pun balik menangis lagi.


" Janji dulu Bang, jangan marah!!, "


Kata Windi di sela-sela tangisnya.


" Enggak akan!!, "


Jawab Abang Windi.


" Pokoknya enggak!!, "


Lanjut Windi menegaskan.


" Oke-oke!!, "


Jawab Abang Windi lagi.


Windi pun menyeritakan segalanya pada Abang Windi.


" Woi anjen@!! Si perkedel itu??!!!, "


Umpat Abang Windi dengan sangat ramah.


" Bang!!, "


Panggil Windi agar Abangnya itu tak marah.


Huftt...


Suara tarikan napas kasar Abang Windi.


" Ya udahlah, dek!! Lagian cowok yang lebih baik banyak!! Lo pasti bisa!!, "


Kata Abang Windi memberi semangat.


" Makasih ya, Bang!!, "


Jawab Windi senang.


" Sama-sama!!, "


Lanjut Abang Windi.


" Btw sana mandi!! Bau ikan tongkol, lo!!, "


Kata Abang Windi sambil mengibas-ngibaskan hidungnya.


" Dih!!, "


Kata Windi kemudian meninggalkan Abangnya itu sendiri.

__ADS_1


......(End).......


... ...


__ADS_2