
pesan baru
daveee
rania.. aku di depan rumah kamu nih
sambil menduduki motor yang ia bawa. lalu rania mengintip di balik jendela. dan benar teryata dave ada di depan rumahnya memakai jaket biru tua kaos putih dan melambai tangan ke arah jendela rania.
rraaniiaa
mau kemana?
daveee
kita jalan-jalan yuk. kamu pakai jaket ya biar tidak masuk angin
rraaniiaa
oke. tunggu aku sebentar ya. sekalian pamit sama mamaku
kemudian dave turun dari motor dan pamit dengan ibunya rania. lalu mereka pergi.
"mau kemana sih dave?"
"ke dunia lain"
"maksudnya dunia lain? dunia ghaib gitu?"
"hahaha"
"kok ketawa sih? jangan macam-macam dave"
"kamu pegangan ya", mempercepat
"ihh davee!!"
pintu di ketok. dan di bukakan pintu.
"permisi tante, ranianya ada?"
"rania lagi pergi sama temannya"
"boleh tahu siapa ya tante?"
"dave nak".
sial keduluan.
kemudian jon pamit dan melipir ke depan pagar rumahnya.
buka handphone, pilih kontak lalu panggilan keluar deh.
"halo!! ada apa jon?"
"ada apa ada apa! rania keluar sama dave"
"apaa??? kok bisa sih. kamu gimana sih jon. aku sudah kasih kamu jalan buat deketin rania. masih saja bodoh!!"
"eh santai saja dong. tidak perlu kamu katain aku bodoh. justru yang bodoh itu kamu! bukannya ajak dave kemana kek, sudahlah tidak penting aku hubungi kamu!", jon kesal dan mematikan handphonenya.
sampai di tepi laut. hembusan angin malam menyapa mereka, dave dan rania. suasana yang tidak sepi juga tidak ramai. dave menggandeng tangan rania.
"ehh dave"
menghampiri warung kopi, "bu, kopinya dua ya"
rania menepuk jidatnya
"jadi jauh-jauh kita kesini cuma buat minum kopi doang? ya ampun dave di rumah aku juga bisa kali"
"iya jauh. tapi lihat deh suasananya. disini tidak ada sofa, pintu, jendela. disini adanya air laut, suara laut, angin, ada pasirnya, ada warung kopinya juga, hehehe".
"hahaha. iya juga sih. terus kenapa kamu ajak aku kesini? dan cuma aku? apa ajak yang lain juga?", penasaran.
"tidak, kamu saja rania", tersenyum ke rania.
dih dave kalau senyum begitu kenapa jadi manis sih, yah aaaduh deg-degan lagi
__ADS_1
"o..ohh..", rania sedikit gagap akibat gugup.
"kang, neng kopinya"
"mau pesen cemilan sekalian tidak?"
belum jawab sudah di potong ibunya
"...ada roti bakar, martabak mini, ondel-ondel...."
"keong racun ada tidak bu?"
"waduh itu mah lagu akaang, yasudah kalau pesan yang lain panggil ibu saja atuh ya"
ibu pun menjauh dan kembali ke warungnya.
rania tidak bisa menahan tawa. dan akhirnya mereka tertawa bersama.
"eh dave kamu belum jawab, kenapa kamu ajak aku?"
"rania, memang sih ada something yang mau aku omongin ke kamu"
"apa?", penasaran
memegang tangan rania
"ran, kita kenal sudah lama. sejak saat itu aku sudah menaruh rasa sama kamu. pas kita satu kelas lagi aku seneng. aku bisa lihat kamu setiap hari..."
rania memotong
"..memangnya kalau lagi libur sekolah, kita ketemu juga?"
"hehe, tidak sih. maksud aku setiap di sekolah"
"jadi?"
"jadi aku suka sama kamu rania. masa tidak paham sih"
rania masih tidak konek
"oh sukaa".
"apaa? sukaa? kamu suka sama aku?", terkejut
melihat reaksi rania dave tertawa terbahak-bahak
"kenapa ketawa? memang ada yang lucu?"
"lucuu"
"bercanda mulu nih dave, garing ih".
memegang tangannya kembali sambil menatap matanya rania.
"aku serius rania. aku suka sama kamu"
diam beberapa detik
"aku juga suka kamu dave"
dave terlihat sumringah.
"kamu juga suka aku rania? berarti kita jadi?"
"apaa?"
"huft, oke rania.. kamu mau tidak kalau kita pacaran?"
mengingat metha yang juga menyukainya, "aku suka sama dave ran", rania diam dan memasang wajah tidak senang padahal dalam hatinya begitu senang mendengarnya.
"ran, kenapa kok diam?"
rania masih diam dan masih di tatap dave penuh harap agar di jawab iya.
dave bingung. sudah ada sepuluh menit rania diam.
"ran tolong jangan diam saja"
__ADS_1
rania menghela nafas
"dave"
"iya. apa rania?"
"kita kan sahabatan. apa kamu pikir yang lain setuju kalau kita pacaran?"
rania sangat ingin menjawab iya. tapi di sisi lain metha menyukainya juga dan tidak ingin menyakitinya. di tambah mereka adalah sahabat.
"gimana bisa sih dave, kita yang tadinya sahabat, malah kita juga yang pacaran. itu jelas dua kalimat dan arti yang beda dave"
"ya cukup kita saja yang tahu, gimana? lagipula kenapa kita harus meminta persetujuan mereka?"
"maksud kamu kita khianatin persahabata kita? khianatin metha, mike, roger begitu?"
"ya kan aku tidak mau pacaran sama mereka. mereka juga. yang jelas rasa suka antara satu lainnya seperti kita. ya cuma kita kan ran. yang lain kan tidak. apa masalahnya?"
"masalahnya, sikap di antara kita pasti beda ke yang lain", masalahnya metha suka kamu juga dave, aku tidak bisa dave maaf. tapi aku tidak mau kasih tahu kamu ini alasannya.
"rania, selama ini sikap aku dari pertama kenal sama kamu tidak berubah sampai sekarang rania.."
"apa aku tidak cukup meyakinkan kamu ya ran?"
rania menggeleng
"ran, kamu ingat hujan deras waktu itu?"
kenapa jadi di bahas lagi sih aduh
"aku tidak bisa tahan rasa suka aku ke kamu ran, maaf aku bersikap tidak sopan sama kamu"
rania diam.
kemudian dave memegang kedua pipinya rania dan menatapanya dalam. menariknya.
desir angin seolah mendorong dave untuk kembali mencium rania.
perlahan dan sudah hampir sampai,
tapi rania kemudian sadar dan melepaskan tangan dave.
"dave, aku mau pulang. aku mau tidur"
mereka pulang.
"dave, thanks ya!! buat hari ini. aku masuk dulu. kamu hati-hati".
"tapi ran.."
*M**aaf ya dave, aku juga suka kamu dave. Aku senang kamu nyatakan perasaanmu ke aku. Tapi baiknya kita tidak egois. Demi persahabatan kita juga demi metha. Aku tidak mau menyakiti dia
Ran, aku tidak akan menyerah. Aku akan sabar tunggu kamu. Bahkan setelah lulus nanti. Tetap kamulah yang di hatiku rania*.
Dave pun kemudian pulang setelah lama menatap rania yang sudah masuk kerumah, menghilang dari pandangan matanya.
Klekk!!
Di bukanya pintu kamar rania, di nyalakan lampu kamarnya, ia lemparkan tubuhnya di atas kasurnya yang hangat dan empuk. Memejamkan mata. Tidak terasa air mata menetas membasahi seprei motif kucing kesayangannya yang berwarna merah.
"dave....", lirih
"maaf dave", terisak
Telepon berdering
Siapa sih? malam-malam telepon
Di lihatlah layar ponselnya.
Dih metha? buat apa malam gini telepon?
Males ah. Unmood.
Matiin saja.
"ih kok di matiin sih dave, jangan-jangan dia masih sama rania lagi. Aduh rania, kamu sudah janji sama aku. Tidak bisa begini terus"
__ADS_1
"aku harus segera buat dave jadi pacar aku"