
melemparkan tasnya ke tempat tidur, ia buka kembali buku harian, di ambilnya catatan itu, ia baca kembali. meremas catatan itu. lalu ia buang ke tempat sampah yang sudah di sediakan di samping meja belajarnya.
"raniaaaa!!!!", marah
"kenapa harus kamu?? aku yang harusnya di cium sama dave. aku!!! rania aku tidak terima ini semua. aku sudah pendam selama ini ujungnya hanya lihat kalian berdua? aku harus cari cara supaya dave jadi milik aku."
tiba-tiba metha teringat akan seseorang yang menurutnya bisa mempermulus keinginannya.
"baiklah rania. aku akan mulai dari dia".
pesan baru masuk
jonesss
hai rania
apa kabar?
siapa ini tidak ada namanya
rraaniiaa
siapa ya?
jonesss
ini aku jon. masih inget kan?
rraaniiaa
oh jon. hai
iya aku inget
darimana tahu nomorku?
jonesss
rahasia
hehe
jon. hemm baru kenal sih. lumayan kharismatik.
dave. baik
eh apaan sih aku kenapa jadi bandingin mereka.
tapi dave. aduh kenapa hati aku jadi deg-degan lagi sih kalau ingat kejadian tadi.
ah sudahlah lupakan dulu mereka. lupakan dulu dave.
fokus dulu belajar sebentar lagi ulangan.
pesan baru masuk
daveee
rania 🤗
ih baru di omongin. panjang umur dia. baru mau fokus. aduh dave..
rraaniiaa
yaa..ada apa dave?
daveee
kamu sibuk ya?
rraaniiaa
mau belajar sih. kan dikit lagi mau ulangan loh. emang kamu lagi santai ya?
daveee
ikutan dong. belajar bareng yaa
rraaniiaa
ih ini sudah malam. masa malam-malam kamu kesini. lagian tadi habis kena hujan. sudah kamu jangan keluyuran dave
daveee
belajar bareng lewat chat saja ran..xixixixi
__ADS_1
kan bisa. kamu lagi baca apa aku ikut deh
rraaniiaa
oh oke..
lagi baca rumus matematika nih
setelah mereka chat sambil belajar bersama. tidak terasa sudah pukul 23.30. rania tertidur begitu pun dave. mereka sudah tidak saling balas pesan.
*rania..
rania..
rania..
dave..
dave.. kamu dimana?
rania aku di belakang kamu
dave*
menarik kedua tangan rania
rania. aku
aku
aku
aku
kriiiiiingggggg!!!!!!
kriiiiiing!!!
rania terbangun mematikan alarm berbunyi.
"ya ampun. ternyata mimpi", masih setengah sadar sambil mengelap mukanya yang kusut dan masih mengantuk.
"eh tunggu. kenapa aku mimpiin dave sih? pasti karena kejadian kemarin deh. haduh".
segera ambil handuk dan bergegas ke kamar mandi.
setelah selesai merapikan pakaian, merapikan buku ke dalam tas, kemudian berdandan, ia mulai dari memakai toner, kemudian sunscreen lalu krim pagi, ia juga memakai poreskin baru deh dia pakai bedak. selesai bedak lalu ia cuma pakai lipbalm. ketika ia ingin memakai lipbalm ke bibirnya. rania jadi teringat moment di bawah hujan, melamun sambil memegang bibirnya yang mungil. lalu ia ikat rambut seperti biasanya dan menyisir poninya.
"haduh, bibir aku kira-kira bakal berubah jadi jeding tidak yaa?"
"kalau di ingat lagi, kenapa masih terasa ya?"
"haduh gawat nih, gimana nih, sudah ah aku poles dulu"
setelah pamit dan menutup pagar. rania berjalan sambil memikirkan apa yang harus di lakukan rania kalau sudah bertemu dengan dave.
tiba-tiba seseorang menepuk pundak rania
puk
rania terkejut
"aaaaaa".
"sialan kamu rogerrr, kagetin saja".
"jalannya serius sih, hayo mikirin apa nih ratu buku? xixixi".
"ih roger apaan sih, jangan ledek deh".
"aku lagi mikirin ulangan!!".
"kamu kan pinter, tak usah khawatir".
sudah hampir sampai gerbang sekolah dave muncul menghampiri roger dan rania. kemudian menyapa mereka
"heyy".
"wey dave, masbro".
rania tiba-tiba diam sambil memegang bibirnya dengan pasang wajah bingung.
"ran, kamu kenapa? kok kayak orang bingung sih". tanya roger
"emm...emm"
__ADS_1
"eng..tidak apa-apa. aku ke kelas duluan ya".
"em ger, aku juga kekelas duluan ya? kamu kalau mau ke kantin sendirian saja ya. aku sudah sarapan di rumah", terburu-buru mengejar rania.
sambil garuk-garuk kepala, "ada apa sih sama mereka? sudah ah ke kantin dulu saja lapar kali aku ini".
rania yang sudah hampir melewati tangga berpapasan dengan metha yang ingin turun ke bawah.
metha!! aku harus tanya dia
"metha!!"
methapun berhenti dan memberikan senyuman.
"hey ran!! aku mau ke kantin nih, mau ikut tidak?".
"aku taruh tas dulu yaa"
"yaudah ran aku tunggu di deket tangga ya".
"oke"
cepat-cepat rania taruh tas di kelas, kemudian di susul dave.
"dave!!"
"hai met, kekelas duluan ya", melewati metha yang sudah menyapanya.
ih dave, cuek sih
pasti mau susul rania deh
ketika sudah selesai menaruh tas, rania bergegas keluar menghampiri metha yang mengajaknya ke kantin. berharap sikapnya kemarin tidak akan merusak persahabatan mereka. tapi tiba-tiba dave datang dan menghalangi rania.
"ih dave. awas ah. aku di tunggu metha nih. dia sudah tidak cuek sama aku".
"ran ran tunggu.. aku mau bicara sama kamu", sambil memegang kedua lengannya rania.
rania melepaskan tangannya.
"dave, mau bilang apa sih? sudah ya nanti metha kelamaan nunggunya. atau kamu mau ikut yuk ke kantin". ajak rania.
"yaudah duluan saja ran..nanti aku nyusul".
*haduh. mau bilang suka saja susah. belum tepat momentnya. atau mungkin bilangnya nanti ya setelah ujian nasional.
dave mau bilang apa sih sampai halangi aku jalan segala. sudah ah nanti saja di pikirin. sekarang aku mau cari tahu dulu sikap metha sebelumnya*.
setelah meninggalkan kelas saat turun kebawah rania berpapasan dengan mike. mike menatapnya dengan datar.
"hai mike"
"hai ran". mike berusaha mengelus kepala rania, tapi rania langsung hempaskan tangannya
"mike!!"
"duluan ya"
"methaa!!".
padahal cuma baru mau pegang kepala saja. kenapa sama dave tidak begitu?
roger masih di kantin dan di hampiri rania dan metha.
"ran, kesini juga kamu. lagian masih pagi kekelas ngapain? belajar mulu memangnya tidak bosan?", tanya roger sambil menyuruput teh hangatnya.
"tidak apa ger, awas tersedak!!! aku ketawain kamu. haha".
"kamu pesen apa ran?"
"aku teh manis sajalah masih pagi mau minum es takut mules".
"mbaa teh manis satu sama air jeruk hangat satu mba!!".
"met, cerita dong kamu kemarin kenapa sih? sakit kok tidak bilang dari awal masuk kan kamu bisa ijin. terus gimana keadaan kamu sekarang?".
"haa metha kamu sakit kemarin?", sambil memegang jidatnya.
"iya kemarin memang agak meriang gitu, bawaannya cuma pengen diam saja"
"kamu metha buat aku khawatir saja, aku kira kamu kenapa habisnya diamin aku. takut ada salah apa aku sama kamu"
"sorry ya buat kamu khawatir, sekarang sudah enakan kok. tenang saja", sambil tersenyum palsu.
tidak mungkin kan aku bilang karena cemburu lihat kalian kemarin. terlebih dave tulis surat cinta buat kamu ran
__ADS_1