
"ah bisa ae" jwab pandu malu-malu
Sena melirik kearah pandu, dia tersenyum melihat tawa pandu yang ada malu malunya.
"syidan sama syadan mana dek?" tanya pandu memberanikan diri membuka pembicaraan yang terasa canggung.
"belum bangun " jawab sena sembari senyum nyengir ke pandu.
Pandu menundukkan pandangannya, dalam hatinya "eh busyet cantik sekali ini bocah" sampe berdebar2 jantungnya pandu. Pandu tambah salah tingkah, maklum pandu adalah cowok yang belum pernah berpacaran, dalam benaknya hanyalah karier saja. Ia cukup ganteng jika jadi cowok jomblo 🤣🤣 bukan hanya ganteng namun kelewat ganteng, ""Song Jong ki saja lewat""" 🤣🤣
Namun kali ini pertahanannya melemah, karena Sena. Ia pernah bertemu sena saat di bandara 2tahun lalu, masih terngiang2 wajah dingin nan cantik saat itu. Sosok cewek yang duduk disampingnya saat penerbangan. Sekarang ia menjelma menjadi wanita yang lebih dewasa namun tetap imut dan cantik.
"okelah kak saya lanjut dulu ya" pamit sena
__ADS_1
"baik dek hati2 ya?" jawab pandu.
Sena pun berlalu pergi, ia kembali kerumah kakak2nya. Hari itu mereka menghabiskan waktu jalan-jalan, dan berkumpul bersama. Sena terlihat bahagia berada diantara kakak-kakaknya. Malampun tiba, saat hendak istirahat syadan tiba2 mengetok pintu kamar sena.
"masuk" jawab sena yang belum tidur saat itu. Syadan pun masuk, dan duduk disamping adeknya yang masih nonton televisi dikamarnya.
"kenapa kak?" tanya sena sembari meletakkan hp nya.
Syadan pun mencari kata yang tepat untuk menanyai masa lalu adeknya. "kakak pengen tahu, ada apa dengan kamu sama Yoga?. bukannya kalian mengakhiri hubungan dengan baik2? awalnya kakak percaya namun kakak masih dihantui dengan pandangan adek dan Arin" tanya syadan penuh selidik.
"kakak tidak mengungkitnya, kakaknya hanya ingin tau kronologisnya" syadan yang lebih peka ke sena ingin tau sekali apa yang terjadi.
akhirnya sena menceritakan perlahan kisahnya dengan yoga, panjang dan kali lebar. Syadan yang mendengar cerita adeknya sudah mulai memanas hatinya.
__ADS_1
"tidak cuma itu kak, bahkan Arin bilang setelah hubungan kami berakhir, ia sering melihat sosok anggi menjemputnya" jawab sena sembari menyeka air matanya yang tiba tiba saja menetes. padahal sena sudah mengikhlaskan, namun masih terasa sesak.
"Dia pacaran sama Anggi sudah lama dek, dari masih ditaruna, kakak kenal Anggi. karena setiap kali cuti dan berkumpul dengan teman teman satu leting, anggi selalu ada. tapi kakak kira hubungan kalian sudah berakhir lama" jelas syadan dengan nada tidak senang.
Sena menarik kembali nafasnya, ia berusaha menahan air matanya agar tidak lagi jatuh. ia tidak ingin air matanya menetes begitu saja untuk laki laki yang telah menyakitinya.
"cukuplah kak, jangan jadi bahan cerita lagi. saya hanya curhat dengan kakak saja. Setelah pendidikan usai dan saat penempatan, yoga datang ke sena, dia bilang ingin mengkhiri hubungan ini karen sudah tidak ada kecocokan, ia ingin terfokus ke kariernya. baginya ia masih muda untuk terus memperjuangkan hubungan ini" jawab sena sembari menunduk tak kuasa menahan bendungan air matanya.
"kurang ajar memang itu anak, berarti selama 3tahun kamu diselingkuhin?, kenapa kamu tidak cerita?" bentak syadan penuh emosi yang meluap luap saat bicara dengan sena.
Sena pun hanya menunduk diam, ia tak ingin menambah kata karena melihat kakaknya yang begitu lemah lembut tiba tiba marah semarah ini.
Anisa masuk keruangan, "hust .... jangan ribut ribut kahiyang baru bobok" ujar anisa dengan menutupkan jarinya ke mulutnya, kemudian ia berjalan mendekati sena. "sudah lupakan, ikhlaskan ya dek" ujar anisa ke sena sembari menepuk nepuk pundak sena. "kamu syadan jangan ngompor ngomporin adekmu" ujar anisa melotot kearah syadan.
__ADS_1
"lupakan yang menyakiti kita, perjuangkan yang membahagiakan kita. kamu cantik dek, lelaki mana yang tidak kagum melihat kamu? kamu wanita yang penyayang, kamu punya segalanya. lupakan orang seperti itu" nasehat anisa lirih ke sena.
Sena mengangguk mantap, syadan pun terdiam. Ia tak menyangka sahabatnya sejahat itu terhadap adek bungsunya, adek yang begitu ia cintai, adek yang begitu ia bangga banggakan.