
Jam saat itu menunjukkan angka 4sore, ketika sebuah bus antar kota amat provinsi (AKAP) jurusan Tegal-Jakarta memasuki terminal Pulo gadung. Begitu bus berhenti di areal pemberhentian yang ada di dalam terminal, dari dalam bus itu keluar para penumpangnya termasuk Parjo. Begitu menjejakkan kedua kakinya di tanah, Parjo pun menengadahkan wajahnya memandang langit.
INIKAH JAKARTA. UHH...
PANAS SEKALI. . ! Keluh pemuda kampung itu dalam hati, sembari menyeka keringat di pelipisnya. Sementara sepasang matanya menyapu ke sekeliling, berusaha mencermati keadaan.
Oh, akhirnya sampai juga aku di metropolitan ini, desahnya dalam hati. Namun seketika dia jadi bingung sendiri, kemana dia akan melangkah? Jakarta tidaklah sesempit kota kabupaten Brebes. Dan pula, penduduk ibu kota negara ini, jarang sekali mengenal satu sama lain. Bahkan ada tetangga yang satu tidak mengenal tetangga yang lain. Kalau mencari orang di Jakarta, mesti punya alamat yang lengkap dan jelas. Kalau tidak, mana mungkin dapat segera menemukan orang yang dicari-nya.
Pemuda desa yang masih polos dan lugu itu sudah tahu akan hal itu. Namun hati dan niatnya sudah bulat, bahwa apapun yang akan terjadi, dia akan berusaha mencari orang yang sangat dirindukannya. Apapun rintangan dan halangan akan dia hadapi di belantara kota metropolitan ini, demi menunjukkan kesungguhan cintanya pada gadis yang telah menambat hati dan perasaannya. Ia berharap kiranya gadis pujaan hatinya itu mau menerimanya dan mengerti akan berapa besar serta dalam rasa cintanya pada gadis itu.
Baru sekali ini Parjo menginjakkan kakinya dikota metropolitan Jakarta. Sehingga dia pun tidak tahu sebelumnya kalau Jakarta panas. Kalau Jakarta kota macet dan semerawut. Yang Parjo dengar dari beberapa orang tetangganya yang sering ke Jakarta, kalau kota metropolitan ramai, banyak gedung-gedung tinggi pencakar langit. Segala macam hiburan dan kesenangan ada.
Kini ia sudah berada di Jakarta, namun ia tak tahu kemana harus melangkah untuk bisa menemukan rumah tinggal gadis itu. Ia belum pernah sekali pun ke Jakarta sebelumnya, jadi ia benar-benar bingung harus bagaimana. Memang ia mengantongi alamat rumah keluarga Nia, namun ia tak tahu di wilayah mana alamat itu berada, dan harus naik apa agar sampai di alamat tersebut.
Setelah sesaat terdiam, Parjo kemudian memutuskan untuk mencoba bertanya pada salah seorang yang ada di terminal. Dia berharap orang yang ditanya bisa memberikan keterangan kepadanya, agar bisa sampai di alamat rumah Nia.
"Permisi, mas" Kata Parjo begitu mendapatkan seseorang yang diharapkan bisa menolongnya.
"Ya, ada apa?"
"Mau tanya."
"Tanya apa?"
Parjo pun merogoh salah satu kantong depan celana jeans-nya, mengeluarkan secarik kertas bertuliskan alamat rumah Nia yang akan ditujunya.
"Kalau mau ke alamat ini dari sini naik apa ya, Mas?" Tanya Parjo sembari menyodorkan secarik kertar bertuliskan alamat rumah keluarga Nia pada lelaki berumur sekitar tiga puluh tahunan itu, yang segera menerimanya dan membaca tulisan yang ada di secarik kertas itu.
Sesaat lelaki berusia sekitar tiga puluh tahunan itu terdiam sembari memandangi sekujur tubuh Parjo, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hmm, sepertinya nih anak baru dari kampung dan baru kali ini ke Jakarta, gumamnya dalam hati.
"Kamu baru datang dari kampung ya?"
"Iya, mas."
"Kamu mau cepat sampai atau lama sampai ke alamat yang hendak kamu tuju?"
"Maksud mas?"
"Alamat yang akan kamu tuju jauh sekali dari sini. Perlu beberapa kali naik angkutan umum, dan memakan waktu yang lama. Tetapi kalau ku antar, kamu tidak perlua repot mencari alamat itu."
"Mas, mau mengantarkan saya ke alamat ini?"
"Ya."
"Wah, terimakasih banyak kalau begitu, Mas."
"Eh, jangan dulu berterimakasih. Karena aku mau mengantar kamu, bukan dengan cuma-cuma. Di Jakarta, tidak ada yang namanya gratis, dik. Kencing saja harus bayar... "
"Ya, ya, ya, saya mengerti. Berapa yang mas minta untuk mengantar saya sampai di alamat ini?" tanya Parjo.
"Dua ratus ribu."
"Dua ratus ribu?" Ulang Parjo dengan mata membelalak kaget. Materialistis sekali orang Jakarta. Hanya mengantar dan menunjukkan alamat saja, meminta imbalan sebanyak itu. Pikir Parjo dalam hati.
"Bagaimana?"
"Wah, saya tak punya uang sebanyak itu, mas."
"Berapa uangmu?"
"Tidak banyak."
"Iya, berapa?"
"Paling cukup untuk makan sehari hari sambil berusaha mencari pekerjaan, mas."
"Kamu tamatan apa?"
__ADS_1
"SMA, Mas."
Lelaki berusia sekitar tiga puluh tahunan itu tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepala, membuat Parjo mengerutkan kening, tak mengerti akan maksud dari senyuman dan gelengan kepala lelaki itu.
"Kenapa, Mas?"
"Cuma tamatan SMA?"
"Ya."
"Punya keahlian lain?"
"Maksud mas, keahlian lain apa?"
"Dik, untuk bisa mendapatkan pekerjaan dan kehidupan di Jakarta, tidak mudah. Kalau cuma mengandalkan ijazah SMA dan tidak punya keahlian lain percuma. Sebab yang sarjana saja disini banyak yang menjadi pengangguran. Untuk bisa bertahan hidup disini, kamu perlu memiliki keahlian khusus yangbbisa diandalkan. Tak cukup hanya dengan mengandalkan ijazah. Apalagi cuma ijazah SMA."
"Sebenarnya, tujuan saya ke Jakarta memang bukan untuk mencari pekerjaan, Mas. Saya hanya ingin menemui seseorang di alamat ini. Setelah saya bertemu dengannya, barulah saya akan memikirkan rencana selanjutnya. Bisa kerja, bisa juga meneruskan sekolah ke bangku kuliah." tutur Parjo.
"Begitu?"
"Ya."
"Saya akan membantumu menemukan alamat yang hendak kamu tuju, tetapi saya minta imbalan. Bagaimana?"
"Ya, saya mengerti. Tapi kalau dua ratus ribu, saya tidak punya uang sebanyak itu, Mas."
"Lalu berapa yang kamu punya?"
"Paling lima puluh ribu, Mas."
"Wah, kalau segitu tidak cukup. Untuk ongkos taksi aja kurang."
"Taksi?"
"Ya. Agar kamu bisa segera sampai di alamat yang hendak kamu tuju, kamu mesti naik taksi. Nah, ongkos yaksinya aja, lebih dari lima puluh ribu rupiah. Lalu, bagaimana uang jasa untuk saya?"
"Bagaimana?"
"Maaf mas, kalau uang sebanyak itu saya tidak punya. Permisi, saya akan berusaha mencari sendiri... "
"Eh, tunggu!" seru lelaki itu sembari memegang tas yang dibawa oleh Parjo. Sehingga mau tidak mau, akhirnya Parjo pun menurut berhenti.
"Ada apa?"
"Kalau kamu cari sendiri, sampai berhari-hari pun kamu tak akan bisa menemukannya."
"Tak apa... Kalau memang tidak ketemu, ya saya kembali ke kampung." Jawab Parjo.
"Sabar. Begini saja. . . Kamu punya uang berapa?"
"Seperti yang tadi sudah saya katakan, saya hanya punya uang segitu."
"Iya, berapa?"
"Lima puluh ribu."
"Baiklah, tak menjadi soal. Asal kita jangan naik taksi."
"Lalu, naik apa?"
"Angkutan umum saja, bagaimana?"
"Terserah, yang penting saya sampai di alamat yang hendak saya tuju."
"Oh, tak perlu khay. Nah, sekarang serahkan uang itu padaku, biar aku yang urus semuanya."
"Tapi. . ."
__ADS_1
"Jangan takut. Yang penting kamu sampai di tempat yang kamu tuju." Kata lelaki itu terus berusaha meyakinkan Parjo, kalau dia benar-benar ingin membantu dan menolong pemuda kampung itu.
Mau tak mau, akhirnya Parjo pun menurut, menyerahkan uang sebesar lima puluh ribu pada lelaki itu, yang berjanji akan mengantarkannya sampai dia alamat tujuan.
"Ayo ikut aku." Ajak lelaki itu.
"Kemana?"
"Lah, kamu maunya kemana?"
"Ke alamat teman saya."
"Ya sudah, ikut aku... "
Parjo pun akhirnya menurut, mengikuti langkah lelaki itu. Keduanya menuju ke sebuah bus angkutan kota jurusan Pulo Gadung-Blok M. Lalu keduanya naik bus itu yang sudah penuh sesak. Dan tidak lama kemudian, bus itu pun melaju, meninggalkan terminal Pulo Gadung, membawa para penumpangnya termasuk Parjo dan lelaki berusia tiga puluh tahun yang baru dikenalnya menuju ke arah Blok M.
***
Sebagai orang yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di kota metropolitan, Parjo pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan melihat lihat pemandangan kota Jakarta. Sehingga sangking adiknya dia mengarahkan pandangan matanya keluar jendela bus, Parjo tidak tahu kalau lelaki yang berjanji mengantar dia sampai tujuan, turun di Klender. Parjo baru sadar kalau lelaki itu sudah tak bersamanya, ketika kondektur bus meminta ongkos kepadanya. Parjo pun jadi celingukan sendiri.
"Ada apa?" tanya kondektur bus itu.
"Orang yang bersama saya tadi dimana, Mas?" Parjo balik bertanya.
"Sudah turun di Klender." Parjo bengong.
"Kenapa?"
"Dia... Dia janji mau mengantar saya sampai ke alamat yang saya tuju. Bahkan uang saya pun diminta nya. Bagaimana saya bisa sampai ke tempat yang saya tuju?" tutur Parjo setengah mengeluh.
"Adik baru di Jakarta?"
"Iya, Mas." jawab Parjo
"Memangnya adik mau kemana?" tanya salah seorang penumpang.
Parjo pun menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan alamat rumah Nia yang hendak ditujunya pada penumpang yang menanyainya.
Orang itu menerima dan membacanya. Kemudian lelaki separoh baya itu manggut-manggut.
"Bapak tau alamat itu?" tanya Parjo.
"Kalau tak salah alamat ini dekat dengan UKI."
"UKI itu apa, Pak?"
"Universitas Kristen Indonesia."
Dengan wajah masih menunjukkan kebingungan, Parjo manggut-manggut. Kemudian tanyanya "UKI itu adanya dimana, Pak?"
"Nanti bus ini akan membelok ke arah Blok-M. Nah, sebelum bus ini membelok, adik turun di perempatan Cawang. Disitulah UKI. Dari situ, adik bisa tanya pada orang mengenai alamat ini. Saya yakin, orang-orang sana pasti tahu alamat ini."
"Makasih, Pak."
"Sama-sama..." jawab lelaki parah baya itu dengan wajah menunjukkan rasa iba melihat wajah Parjo yang tampak kebingungan. "Adik habi dibohongi orang. Makanya, di Jakarta ini adik harus hati hati..."
"Ya, Pak. Terima kasih."
"Terus, sekarang adik tidak punya uang?"
"Alhamdulillah masih ada, Pak. Karena saya tidak menyerahkan semua uang saya padanya. Semula dia minta semua uang saya, tetapi saya mengatakan kalau saya tidak punya banyak uang. Saya katakan, kalau saya cuma punya uang lima puluh ribu. Nah, orang itu meminta uang saya yang lima puluh ribu itu dengan janji dia akan mengantar saya sampai tujuan. Tapi nyatanya..."
"Ya sudah, tak tak perlu adik sesali semua yang sudah terjadi. Untung adik masih dilindungi oleh Tuhan, sehingga adik tidak memberikan semua uang adik padanya. Kalau tidak, entah bagaimana nasib adik. Ya, kalau adik bisa langsung ketemu dengan alamat orang yang hendak adik tuju. Kalau tidak, bisa-bisa adik bakal menjadi gelandangan di kota ini..."
"Iya, pak."
Bus terus melakukan, membawa para penumpangnya semakin bertambah jauh meninggalkan terminal Pulo Gadung.
__ADS_1
***