Cinta Suci Cowok Kampung

Cinta Suci Cowok Kampung
Bab 6 // Parjo Keluar Dari Rumah


__ADS_3

Semakin lama, sikap Nia sebagai ungkapan ketidak sukaan nya terhadap keberadaan Parjo yang tinggal di rumah nya, semakin bertambah menjadi jadi. Apalagi setelah teman teman se club nya tahu, kalau cowok kampung itu tinggal di rumah nya. Teman teman se club nya jadi sering menggoda nya.


"Nia, bagaimana kabar kerbau piaraan lo itu?" tanya salah seorang cowok teman se club nya.


"Maksud lo?"


"Cowok kampunh yang ada di rumah lo..." sahut teman se club nya yang lain memberitahu.


"Siittt...!" dengus Nia dengan sepasang mata membelalak dan wajah menunjukkan kejengkelan yang tiada kiranya. Dengan kedua mata yang masih melotot, Nia bertanya pada teman teman se club nya.


"Katakan, dari mana lo semua tau kalau di rumah gue ada seekor kerbau dungu, ha?!"


"Ya... Yang namanya berita, pasti akan kesebar dengan sendirinya dong..."


"Pasti Aldo yang udah memberitahu sama kalian kan?!"


"Kami rasa siapa pun yang memberitahu hal itu pada kami gak penting. Yang jelas, berita itu benar, kan?"


"Brengsek!" maki Nia. "Mana Aldo?!"


"Mau apa lo cari Aldo?"


"Mau gue beri dia pelajaran!"


"Buat apa? Kenyataannya di rumah lo memang ada kerbau dungu dari kampung, kan?" ejek teman teman se club nya, yang semakin membuat Nia kian bertambah kesal dan jengkel saja. Dia jadi malu pada teman teman se club nya, karena kini keberadaan Parjo di rumah nya sudah diketahui oleh mereka semua.


"Kalau gue jadi lo Nia. Akan gue manfaatin tuh kerbau dungu dari kampung."


"Maksud lo manfaatin bagaimana?"


"Dia kan dungu. Ya jadiin aja budak..."


Lalu teman teman nya kembali mentertawakan nya, yang semakin membuat Nia kian bertambah kesal dan jengkel bercampur malu. Dia pikir, selama Parjo masih berada di rumahnya, maka dia tak akan pernah tenang dari godaan dan ejekan teman teman se club nya. Karena itu, dia harus membuat cowok kampung itu tak betah tinggal di rumah nya dan segera cepat cepat angkat kaki dari rumah nya.


Berbagai upaya telah Nia lakukan dengan harapan Parjo cepat angkat kaki dari rumah nya. Tak jarang Nia pun akan bersikap kasar, menghina dan memakai Parjo. Bahkan, Nia pernah dengan sengaja bermaksud mencelakakan Parjo. Namun, tak satu pun usaha yang dilakukan oleh Nia membuahkan hasil. Parjo tetap betah tinggal di rumahnya, sebab Papa dan Mama nya tetap mempertahankan agar Parjo tetap tinggal di rumah mereka. Semua itu membuat Nia benar benar sangat frustasi. Sehingga Nia pu  semakin bertambah tak betah berada di rumah.


Parjo sendiri sebenarnya tak enak dengan keadaan yang seperti ini. Dia jadi merasa sebagai penyebab ketidak betahan Nia di rumah. Dia juga merasa sebagai penyebab ketidak lagi harmoni dan hubungan Nia dengan kedua orang tua nya.


Parjo bukan orang yang bermuka badak, yang tidak mengerti akan perasaan. Dia juga sudah menyadari kalau keberadaan nya di rumah ini, membuat hubungan Nia dan kedua orang tua nya jadi kurang harmonis sebagaimana sebelumnya. Karenanya, Parjo pun bermaksud akan pergi dari rumah ini, namun lagi lagi Papa dan Mama Nia melarangnya. Apalagi semenjak Parjo menunjukkan kalau diri nya seorang pekerja keras dan punya kreatifitas, Papa dan Mama Nia semakin bertambah suka kepada nya.


Parjo masih ingat apa yang pernah dikatakan oleh Nia kepada nya beberapa hari yang lalu, saat mereka kembali bertemu.


"He anak kampung, gue mau bicara ama lo" seru Nia memanggil.


"Ada apa Nia?"


"Dengar ya, gue gak bakal pernah berhenti membenci dan memusuhi elo, sebelum lo cepat angkat kaki dari sini, dari rumah gue!" tegas Nia.


"Apa sebenarnya salah ku pada mu, Nia?" tanya Parjo dengan wajah sedih.


"Gue gak peduli lo salah atau enggak. Yang jelas, gue gak suka lo berada di rumah ini!" tegas Nia.

__ADS_1


"Aku mengerti perasaan mu, Nia. Dan aku juga sudah berusaha untuk pergi dari rumah ini. Tapi..."


"Tapi apa?!"


"Papa dan Mama mu tak mengijinkan ku untuk pergi dari rumah ini."


"Kenapa mesti harus ijin sama Papa dan Mama segala sih?! Kalau lo mau, lo kan bisa aja pergi dari sini tanpa perlu ijin!"


"Itu tak mungkin, Nia."


"Kenapa gak mungkin?!" sentak Nia.


"Karena kalau saya pergi dari rumah ini tanpa ijin dulu pada Papa dan Mama mu, apa nanti kata Papa dan Mama mu? Tidak, Nia. Saya tidak mau dituduh sebagai anak yang tidak tahu berterima kasih. Tapi saya janji pada mu, secepatnya saya akan berusaha agar bisa segera pergi dari rumah ini. Sebab saya pun tak enak sendiri melihat hubungan mu dengan kedua orang tua mu jadi kurang harmonis semenjak keberadaan saya di rumah ini."


"Nah, itu lo ngerti... apa lo pengin gue ama kedua orang tua gue makin bertambah buruk hubungan nya?"


"Tidak," jawab Parjo. "Saya tak ingin kamu menderita, Nia. Bahkan demi kebahagiaan mu, apapun akan ku lakukan untuk mu, termasuk berkorban nyawa sekalipun."


"Udahlah... gue gak mau dengar apapun lagi dari li. Yang gue mau, lo segera secepatnya angak kaki dari rumah gue ini, agar gue gak lagi diperolok sma teman teman gue!" tegas Nia.


"Baik, Nia, aku janji secepatnya pergi dari rumah ini."


Ingat akan pembicaraan nya dengan Nia, pagi itu saat sarapan pagi bersama, kembali Parjo mengutarakan keinginannya agar pindah atau pergi dari rumah itu kepada Papa dan mama nya Nia.


"Om, Tante... sebelumnya saya minta maaf, kalau selama ini saya telah banyak merepotkan keluarga Om dan Tante. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Om dan Tante yang selama ini sudah banyak membantu saya..."


"Apa maksud kamu, Parjo?" tanya Mama Nia


"Ya, apa maksudmu, Jo?" timpal Papa Nia.


"Kamu mau kemana? Dan kenapa kamu harus pergi dari sini?" tanya Papa nya Nia.


"Kamu tidak enak pada Nia?" duga mama Nia.


"Ya, Tante."


"Kenapa?"


"Karena gara gara kehadiran saya disini, hubungan Nia dengan Om dan Tante jadi renggang tidak seharmonis seperti dulu," tutur Parjo. "Dan, karena saya di sini Nia jadi tidak betah berada di rumah ini..."


"Biarkan saja dia begitu. Nanti juga dia sadar sendiri..."


"Tidak, Om. Kalau dibiarkan, saya khawatir nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan padanya," tutur Parjo.


"Kami juga sudah berusaha menyadarkan nya, Jo. Tapi kenyatodia bukannya sadar, tapi malah semakin hari semakin bertambah tak karuan saja tingkah nya. Meski dia anak kami, namun kalau salah ya kami tetap menyalahkan nya, bukan membelanya. Begitu juga sebaliknya, meski kamu bukan anak kami, tetapi karena kamu benar ya bakal saya bela..."


"Lagi pula, kami masih membutuhkan mu, Jo." tambah Mama Nia. "Kami masih belum lancar membaca Qur'an."


"Atau begini saja. Supaya kamu tidak di rumah terus, bagaimana kalau kamu mulai bekerja di perusahaan Om saja? Sehingga kamu akan lebih lama di kantor ketimbang berada di rumah." usul Papa nya Nia.


"Benar, Jo. Apa yang Om mu usulkan, Tante rasa itu merupakan jalan tengah yang baik..."

__ADS_1


"Bagaimana, Jo?"


"Kalau Om dan Tante mengijinkan, saya pengin nge-kost saja, Om."


"Kenapa harus nge-kost?" tanya Papa Nia.


"Iya, kenapa harus nge-kost, Jo?" timpal Mama Nia. "Kost kan harus mengeluarkan uang, Jo. Lagi pula, rumah ini besar dan luas, buat apa kamu hari nge-kost? Dari pada buat kost, bukankah lebih baik uangnya digunakan untuk keperluan mu yang lain?"


"Semua demi kebaikan bersama Om, Tante."


"Maksud mu?"


"Kalau saya tetap ada di sini, tak akan menyelesaikan persoalan."


"Nia yang memaksa mu untuk tidak tinggal disini?" tanya Papa Nia.


Parjo tak menyahut.


"Katakan saja, Jo,"


"Maafkan saya Om, Tante. Bagaimana pun juga, saya tidak ingin terus terusan merepotkan keluarga Om dan Tante. Saya harus belajar mandiri..."


Papa dana Mama Nia terdiam ketika mendengar semua penuturan Parjo. Sebenarnya mereka tahu kalau Parjo memutuskan untuk tidak tinggal di rumah mereka, karena tentu Nia yang telah menekan atau mengancamnya.


"Ya, kalau kamu memang sudah memutuskan begitu, Om dan Tante tak bisa mencegah. Nanti biar Tante yang akan mencarikan tempat kost untuk mu. Tapi kamu masih mau kan untuk membimbing kami memperlancar membaca Al Qur'an?"


"Tentu saja, Tante."


"Baiklah, sekarang kamu segera bersiap siap," kata Papa Nia.


"Mau apa, Om?"


"Kan kamu sekarang mau kerja? Kita berangkat bersama. Masalah kost, biar Tante mu yang urus. Tidak usah jauh dari sini, Ma."


"Iya, Pa."


"Nah, sekarang kamu bersiap siap ya."


"Baik, Om... kalau begitu saya permisi dulu Om, Tante..."


"Ya, ya..."


Parjo pun segera bergegas bangun dari duduknya, kemudian melangkah menuju ke kamarnya untuk mempersiapkan diri. Tak lama kemudian, parjo telah kembali dengan pakaian yang agak rapi.


"Baiklah. Ma, Papa pergi dulu..."


"Iya, Pa." jawab Mama Nia sambil meraih dan mencium punggung tangan suami nya.


"Ayo, Jo..."


"Iya, Om."

__ADS_1


Dengan diantar oleh Mama nya Nia, Parjo pun mengikuti langkah sang suami keluar dari rumah. Tak lama kemudian, mereka pun pergi meninggalkan rumah untuk pergi kerja ke kantornya Papa Nia.


***


__ADS_2