Cinta Suci Cowok Kampung

Cinta Suci Cowok Kampung
Bab 5 // Perubahan Sikap Nia


__ADS_3

Malam harinya, begitu suaminya pulang, sebelum sang suami sempat berkata apa apa, Mama Nia sudah mengajaknya keluar jalan jalan ke sekeliling rumah mewah yang mereka tempati. Hal itu membuat sang suami jadi mengerutkan kening, sembari berpikir karena tak mengerti akan maksud dari istrinya itu. Karena tidak biasa biasanya Mama Nia mengajaknya keluar jalan jalan di sekitar rumah mereka. Tapi malam ini, kenapa istrinya tiba tiba mengajaknya jalan jalan kelilinh sekitar rumah?


"Ada apa sih Ma? Ngapain kamu ngajak aku melihat lihat sekitar rumah?"


"Nanti Papa juga akan tahu. Dan Mama yakin, Papa pasti akan dibuat terpesona dengan apa yang akan Mama tunjukkan."


"Oh ya?"


"Ya."


"Memangnya, apa yang hendak Mama tunjukkan?"


"Nanti juga Papa bakal tahu. Ayoo..."


"Kemana?"


"Ke taman samping rumah."


"Buat apa?" Tanya suami nya lagi.


"Ya, buat melihat taman." jawab Mama Nia sambil tersenyum senang.


"Ah, taman sudah berantakan dan kotor tidak pernah dirawat begitu, buat apa kita lihat?"


"Sudah deh Pa, lebih baik Papa ikutin aja ajakan Mama..."


Dengan wajah yang masih menunjukkan ketidak mengertian, Papa nya Nia pun akhirnya terpaksa menurut mengikuti ajakan istrinya. Dan begitu sampai di taman, Papa Nia pun dibuat tertegun dengan wajah menunjukkan rasa kagum yang teramat sangat.


"Ma..."


"Bagaimana?"


"Indah dan bagus sekali. Siapa yang membuatnya jadi seindah dan sebagus ini, Ma?" tanya Papa Nia.


"Coba Papa terka, siapa yang telah mengubah taman yang rusak dan kotor tak terawat ini, menjadi taman yang indah dan nyaman serta asri?*


" Ya tentunya seorang arsitektur yang profesional Ma. Tapi, sejak kapan pemugaran ini dilakukan, Ma? Bukankah perlu waktu dua sampai tiga hari untuk melakukan nya?"


"Sejak tadi pagi, Pa."


"Tadi pagi?"


"Ya."


"Secepat itu?"


"Iya Pa."


"Wah, hebat bener. Berapa orang yang melakukan nya?"

__ADS_1


"Satu orang, Pa."


"Satu orang?" tanya Papa Nia penasaran sekaligus merasa takjub.


"Iya."


"Siapa nama arsitektur itu, Ma?"


"Papa jangan kaget ya kalau Mama kasih tahu namanya siapa."


"Apa Papa sudah mengenalnya?"


"Tentu"


"Siapa arsitek itu?"


"Parjo, Pa."


"What?!" sepasang mata Papa Nia membelalak kaget saat mendengar pemberitahuan dari Istrinya tadi. "Jangan bercanda dong, Ma..."


"Kenapa emangnya, Pa?"


"Mana mungkin Parjo yang melakukan semua ini hanya dalam satu hari?"


"Kenyataannya memang dia, Pa. Kalau Papa tidak percaya, tanya saja pada pak satpam atau orang rumah lainnya yang melihat."


"Benarkah?"


"Wah, tidak disangka ternyata dia jago dan kreatif serta memiliki jiwa seni juga. Padahal, seorang ahli pembuat taman sekali pun, pasti membutuhkan waktu yang cukup lama, paling cepat tiga hari, Ma..."


"Nyatanya, parjo cuma butuh waktu setengah hari saja, Pa."


"Ah, Papa jadi pingin ngobrol sama dia. Ayo ma, kita temui dia..."


"Dengan senang hati." sahut mama Nia seraya mengikuti langkah suaminya meninggalkan taman samping rumah mereka, masuk kembali kedalam rumah untuk menemui Parjo sang ahli pemugaran taman dadakan itu. Namun ternyata Parjo sedang mengaji setelah selesai menjalankan sholat maghrib. Sehingga akhirnya Papa dan Mama Nia pun harus menunggu sampai Parjo selesai mengaji dan sholat isya. Mereka memilih duduk duduk di ruang keluarga.


"Ma..."


"Ya, Pa?"


"Nia mana?"


"Dari sore dia pergi dengan Aldo."


"Kemnaa?"


"Dia gak ada bilang mau kemana. Bahkan pamit pun tidak. Hanya aldo yang pamitan pada Mama.."


"Ada apa sih dengan anak itu?"

__ADS_1


"Entahlah. Sepertinya dia tak suka pada Parjo."


"Kenapa? Apa salah Parjo? Karena Parjo anak kampung? Bukankah papa juga orang kampung? Dan lagi pula, bukankah sewaktu dia di kampung, parjo yang selalu menemani nya? Malah Parjo juga yang telah menolong dan menyelamatkan nya saat digigit lintah. Papa jadi heran. Sejak bergaul dengan Aldo, kenapa Nia jadi berubah sifatnya? Bahkan dia sepertinya juga menjauhi Sari..."


"Iya ya Pa. Sejak Nia dekat dengan Aldo, Sari jadi tidak pernah kemari lagi."


"Itulah... sepertinya sejak bergaul dengan Aldo, Nia jadi memilih milih dalam berteman. NIa yang dulu lebih suka berdiam diri di rumah, kini lebih suka pergi keluyuran entah kemana meninggalkan rumah, tanpa pamit pula."


"Papa tahu tidak?"


"Apa?"


"Tadi Nia mencela pekerjaan yang dilakukan oleh Parjo. Bahkan sepertinya dia sengaja bersikap mesra dan manja pada Aldo di depan Parjo."


"Hmmm... apa maunya dia sebenarnya ya, Ma?"


"Ya, seperti yang tadi Mama katakan, sepertinya Nia tidak suka kalau Parjo tinggal di sini, Pa."


"Ya, kenapa? Harus ada alasan yang jelas dong. Kalau alasannya cuma karena Parjo anak kampung, jelas Papa tidak Terima. Sebab Papa sendiri juga orang kampung, bahkan sekampung dengan Parjo, Ma."


"Apa mungkin Nia malu pada teman temannya, ya Pa?"


"Emang malu kenapa? Karena punya saudara atau teman orang kampung? Memangnya yang memberi makan dia teman temannya? Papa jadi semakin bertambah yakin, kalau semua perubahan sikap dan sifat Nia karena dia bergaul dan dekat dengan Aldo. Sebab sebelum dia kenal dengan Aldo, dia tidak begitu. Kalau Nia tidak bisa mengubah sikapnya kembali seperti dulu sebelum mengenal Aldo, maka lebih baik dia tidak usah bergaul dan mengenal pemuda itu!" tegas Papa Nia.


Sang istri hanya bisa menghela napas panjang mendengar ucapan sang suami. Dia sebenarnya tak setuju dengan perkataan suaminya yang menyalahkan orang lain. Namun Nia sendiri memang sudah kelewatan. Kenapa dia harus tidak suka pada Parjo? Apa salah Parjo? Padahal Parjo yang sudah menemani serta menolongnya sewaktu dia ada di kampung.


Begitu parjo selesai menjalankan sholat Isya, sebagaimana kemarin malam, Papa dan Mama Nia mengajaknya untuk makan malam bersama.


"Jo..."


"Ya Om?"


"Kamu yang membuat taman ya?"


"Iya, Om. Maaf, karena saya telah lancang..."


"Tidak. Justru om sangat kagum atas hasil karya mu. Om pikir, bukan kamu yang membuat, tetapi seorang arsitek yang ahli seni."


"Parjo lah arsitek nya, Pa."


"Tante bia aja..."


"Nyata memang begitu, kan? Kata Om mu, seorang arsitek sekali pun butuh waktu dua sampai tiga hati untuk membuat taman seperti itu. Tapi kamu... hanya butuh waktu setengah hari saja untuk menyelesaikan nya. Jadi, menurut Tante kamu lebih hebat dari seorang insinyur..."


"Sudahlah, tak perlu diperdebatkan lagi. Yang pasti Om sangat kagum dengan hasil karya mu itu. Sekarang, Ayo kita makan dulu..."


"Baik, Om..."


Papa, Mama Nia, dan Parjo pun segera melanjutkan makan malam mereka dengan khidmat, dengan sesekali diisi dengan obrolan obrolan yang ringan.

__ADS_1


Setelah selesai menyantap makan malam, mereka bertiga punĀ  berkumpul di ruang keluarga sambil menonton acara televisi sembari bercerita ngalor ngidul, sampai pada akhirnya mereka masuk ke kamar masing masing guna untuk meng-istirahatkan tubuh mereka dari kegiatan hari ini.


***


__ADS_2