
Begitu sampai dirumah, Nia langsung mengahmbur ke dalam pelukan mamanya sambil menangis. Hal itu membuat papa dan mama nya yang sedang duduk duduk di ruang tamu keluarga, dibuat tak mengerti.
"Ada apa, Nia?"
"Maafkan Nia, Ma. Maafkan Nia, Pa..."
"Kamu kenapa? Kenapa pulang pulang menangis dan meminta maaf? Apa yang sudah terjadi?" tanya sang papa.
"Ternyata apa yang papa dan mama katakan tentang Aldo selama ini benar."
"Maksudmu?"
"Aldo ternyata laki laki bajingan! Dia tidak lebih dari budaya darat! Penipu! Penghianat...!" kecam Nia ddi selak isak tangisnya.
"Kenapa kamu berubah penilaian pada Aldo? Bukankah menurutmu dia baik?" tanya sang Mama.
"Nia bodoh, Ma. Sehingga Nia mudah dibodohi olehnya." jawab Nia sambil menangis dipelukan sang mama.
"Tenang. Sekarang tenangkan dulu perasaanmu, baru kemudian kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, sehingga tiba tiba kamu pulang dalam keadaan menangis seperti ini dan langsung berubah penilaian terhadap Aldo?"
Nia pun berusaha untuk menenangkan perasaannya dan menghentikan tangisnya. Kemudian setelah meneguk segelas air putih yang diberikan oleh mamanya, Nia pun menceritakan apa yang baru saja dilihatnya di villa milik orang tua Aldo yang ada di puncak.
"Jadi, sekarang kamu melihat dengan mata kepala sendiri kalau ternyata Aldo bukanlah lelaki yang baik baik?"
"Iya, Ma. Yaang lebih menyakitkan lagi, Dea yang selama ini Nia anggap sahabat, ternyata hanya pura pura baik sama Nia. Diam diam, selama ini Dea dan Aldo telah merencanakan semuanya..."
"Mama sebenarnya sudah tahu siapa Aldo," desah sang mama.
"Dari mana mama tahu?"
"Sari yang memberitahu pada mama. Saat itu mama main kerumah Sari, dan dari Sari lah mama pun tahu siapa Aldo ynag sebenarnya. Sari panjang lebar menceritakan sepak terjang Aldo. Bahkan menurut Sari, Aldo pernah merayunya. Namun karena kamu dekat dengan Aldo, dengan tegas Sari menolak rayuan Aldo. Apalagi setelah dia tahu kalau ternyata Aldo seorang lelaki biaya darat yang sudah banyak korbannya, Sari semakin tak suka. Dia sebenarnya pengin memberitahu kamu akan siapa Aldo yang sebenarnya, namun karena dia takut kamu nanti malah menuduhnya yang tidak tidak, akhirnya dia pun membiarkannya. Baru pada mama dia mengatakan semuanya..." terang mama nya panjang lebar menjelaskan apa yang dia tahu dari Sari.
"Lalu, kenapa mama selama ini diam?"
"Bagaimana mama mau memberitahu kamu akan siaap Aldo yang sebenarnya, kalau kamu selalu membelanya dan tetap bersikeras mengatakan kalau Aldo lelaki baik? Sudahlah, tak perlu kamu tangisi apalagi sesali. Semestinya kamu bersyukur, karena akhirnya kamu tahu sendiri siapa Aldo yang sebenarnya. Sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap dirimu. Kamu belum berbuat macam macam sama dia kan?" tanya sang mama memastikan.
"Demi Tuhan, Ma, Nia masih suci..."
__ADS_1
"Sungguh?" tanya mamanya lagi.
"Ya. Aldo memang pernah mengajak Nia ke villa itu, dan begitu sampai di villa, dia pun mengajak Nia tidur bersama, namun dengan tegas Nia menolaknya. Bahkan hari itu juga, Nia minta dia untuk mengantat Nia kembali ke Jakarta. Itu sebabnya Nia tahu dimana villa orang tua Aldo berada..."
"Syukurlah. Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat dan menenangkan pikiran mu."
"Mana Parjo, Pa?" tanya Nia kepada papa nya.
"Untuk apa kamu tanyakan dia?" sang papa balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Nia tadi.
"Nia mau minta maaf padanya, Pa. Karena selama ini Nia telah berbuat jahat padanya. Padahal sewaktu Nia di kampung, dialah yang selalu menemani dan melayani semua permintaan Nia..." jawab Nia sambil mengingat perbuatannya yang sudah dia lakukan kepada Parjo.
"Jadi, rupanya kini kamu benar benar sudah sadar?"
"Iya, Pa." jawab Nia lesuh.
"Sayang, ya? Kenapa penyesalan selalu datangnya terlambat?" gumam sang papa.
"Maksud papa apa?"
"Parjo telah kembali ke kampung."
"Ya.dia mengatakan bahwa Jakarta tak pantas untuk dirinya. Papa yakin, sebenarnya bukan itu alasannya untuk pulang kampung. Papa yakin, dia tidak betah di Jakarta, karena kamu yang dia harapkan akan mau menyambut dan menerimanya dengan baik, ini malah bersikap tak seperti harapannya. Jadi, dia pikir, buat apa lagi dia ada di Jakarta? Apalagi yang bisa dia harapkan disini, setelah orang yang dia harapkan akan mau menyambut dan menerimanya dengan baik, justru malah bersikap sebaliknya? Dari pada disini jiwanya tersiksa, maka dia pikir lebih baik dia pulang saja ke kampungnya..."
"Ohhh..." Nia mengeluh.
"Non... Non Nia..." panggil sang bibi ART yang bekerja dirumah orang tua Nia.
"Ya bi?"
"Ini ada titipan dari den Parjo. Katanya, tolong kado ini bibi berikan pada Non Nia setelah Non pulang. Nah, karena Non sudah pulang, maka bibi serahkan kado ini..." ucap si bibi sambil memberikan kado titipan Parjo kepada Nia.
"Makasih, bi." jawab Nia ketika menerima kado itu.
"Apa isinya?" tanya mama Nia kepada bibi.
"Saya tak tahu, bu. Wong den Parjo sudah membungkusnya seperti itu. Mana berani saya membukanya. Apalagi bungkusannya begitu rapi dan bagus. Kalau dibuka, bagaimana saya mengembalikan bungkusan itu seperti ke semula?"
__ADS_1
"Nia rasa buku..." desah Nia.
"Bagaimana kamu tahu kalau yang ada di dalam bungkusan itu buku?" tanya sang papa.
"Ehmmm... Nia hanya menduga saja, Pa."
"Tapi, dari rona wajahmu, sepertinya sudah tahu kalau bungkusan itu adalah buku."
"Karena... Karena..." Nia tampak berpikir mencari alasan yang pas.
"Karena apa?"
"Nia yang memberikan buku ini sebelumnya pada Parjo, Pa."
"Hm... Dan kini dia kembalikan padamu?" Nia hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Itu artinya, dia kecewa terhadap sikapmu, sehingga dia pun mengembalikan buku kenang kenangan darimu itu, karena dia tak ingin mengingat kembali dirimu."
"Enggak... Nia yakin, bukan itu maksudnya."
"Maksud kamu?"
"Nia yakin, dia tak akan melupakan Nia."
"Bagaimana kamu yakin?" tanya sang mama. Buktinya, dia memutuskan untuk pulang kampung..."
Nia tak menyahut. Yang dilakukannya justru membuka sampul kado itu, dan ternyata dugaannya benar. Yang ada dalam bungkusan kado itu adalah buku agenda pemberiannya. Namun sebagaimana yang pernah dia lihat, buku itu sudah tidak kosong lagi. Tetapi sudah berisi tulisan. Bahkan, kalau waktu itu baru sampul depan dan halaman muka buku itu yang ada tulisannya, kini buki itu sudah terisi penuh oleh tulisan Parjo.
Pada sampul buku itu, tulisan tetap sama sebagaimana yang pernah Nia baca sebelumnya, yaitu berbunyi :
{ TUK SESEORANG YANG SANGAT KUSAYANGI, YANG DEMI KEBAHAGIAANNYA, AKU RELA MELAKUKAN APA SAJA, TERMASUK MENGORBANKAN NYAWA KU SEKALIPUN. }
Lalu dihalaman pertama buku itu pun tetap berisi sebuah tulisan yang berbunyi : Sengaja kutulis segala yang ada didalam hatiku selama ini, dengan harapan yang kiranya setelah buku ini selesai ku isi dengan curahan hatiku, orang yang sangat ku cintai dengan sepenuh dan setulus hatiku, akan mau menerimanya.
Halaman kedua kosong, baru dihalaman ketiga kembali terdapat tulisan besa besar besar yang tentunya sebuah judul. Tulisan itu berbunyi : "CINTAKU TAK AKAN PERNAH BERUBAH."
Setelah itu, halaman selanjutnya pun terisi dengan tulisan yang isinya merupakan penuturan perasaan yang ada di hati Parjo yang gaya penyajiannya tak ubah seperti sebuah novel. Dari awal pertama kali Parjo bertemu dengan Nia, sampai akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, karena dia merasa tak ada lagi yang bisa dia harapkan di kota Jakarta ini, karena cinta yang dia harap dan didambakan nya justru berpaling darinya.
__ADS_1
Ingatan Nia pun seketika melayang jauh ke masa setahun yang silam, saat dia mengahabiskan waktu liburan sekolahnya dikampung halaman papa nya, yang sekaligus rumah neneknya di desa Grinting.
***