Cinta Suci Cowok Kampung

Cinta Suci Cowok Kampung
Bab 8 // Mengungkap Fakta


__ADS_3

Teman teman seclubnya tampak sudah nongkrong di PGC, ketika Nia tiba. Namun sebagaimana beberapa hari belakangan ini, Aldo dan Dea tidak bersama mereka. Hal itu membuat Nia jadi semakin bertambah heran. Kenapa keduanya tak muncul bareng? Seakan keduanya sudah janjian?


"Hai, Nia!" sapa seorang teman seclubnya.


"Hai juga!" balas Nia sembari menghampiri teman teman seclubnya. "Aldo ama Dea belum muncul juga?" tanya Nia.


"Ya, begitulah. Dan sepertinya, mereka tak akan muncul lagi seperti kemarin kemarin." jawab teman seclubnya.


"Kemana sih mereka pergi?" tanya Nia sembari memandang ke arah Lisa.


"Mana gue tahu. Nah lo sendiri yng selama ini dekat sama Aldo, masa lo gak tahu sih kemana perginya Aldo?"


"Gue udah menanyakan sama nyokapnya. Akan tetapi, kata nyokapnya, Aldo pergi gak ngasih tahu mau kemana. Bagaimana dengan Dea? Apa lo tahu kemana dia pergi?" tanya Nia lagi.


"Enggak. Gue juga sudah beberapa kalo ngontak ke rumahnya, namun pembokatnya mengatakan kalau dia juga gak tau kemana Dea pergi."


"Aneh..."


"Jangan jangan..." duga salah seorang teman cowok seclubnya Nia.


"Jangan jangan apa?"


"Aldo sama Dea pergi bareng."


"Ah, gak mungkin!" bantah Nia.


"Kenapa gak mungkin, Nia?" tanya temannya lagi.


"Gue tahu siapa Aldo. Kalau dia mau sama Dea, kenapa gak dari dulu aja?" ucap Nia.


"Bagaimana mana menurut lo, Lisa?" tanya teman seclub mereka.


"Entahlah... Kalau dugaan si Feri benar, wah, gue gak bisa ngebayangin apa jadinya gue?" keluh Lisa.


"Maksud lo, Lis?" tanya Nia tak mengerti dengan maksud ucapan teman nya itu.


"Gue sama Dea dulu pernah bertaruh."


"Bertaruh apaan?" tanya Nia penasaran.


"Siapa yang bisa memggaet Aldo, maka dia akan menjadi ratu, dan yang kalah akan menjadi budaknya." terang Lisa panjang lebar kepada Nia dan juga semua teman teman seclubnya.


Sepasang mata Nia terbelalak tak percaya mendengar penuturan Lisa. Pikirannya kini jadi tak menentu. Jika apa yang dikatakan oleh Lisa benar, maka itu berarti selama ini Dea diam diam berusaha menghianatinga. Dan bisa jadi, duggan Feri benar, kalau Aldo pergi berdua dengan Dea.


"Apakah taruha itu masih berlaku sampai kini, Lisa?" tanya Nia memastikan.


"Bagi gue sih, sebenarnya udah gak berlaku lagi. Soalnya terus terang aja, gue benar benar udah pengin jadi sahabat lo, Nia. Tapi entah dengan Dea. Setahu gue sih, Dea tetap terobsesi pada Aldo. Bahkan dia pernah ngomong gini sama gue, kalau dia belum puas jika belum berhasil mendapatkan Aldo. Nadia juga berujar ama gue, bahwa dia akan ngelakuin apa aja yang Aldo minta, asalkan Aldo mau menjadikan dia sebagai pacarnya..." ucap Lisa lagi panjang lebar menjelaskan kepada Nia.


"Sittt! Kenapa lo gak ngasih tau gue dari dulu, Lisa?!" dengus Nia.


"Mana gue tahu kalau Dea serius dengan omongan nya? Gue pikir, karena kita sudah baikan dan jadi teman, Dea gak serius dengan omongan nya itu. Dan pula, Nia, lo gausah cemas gitu. Siapa tahu Aldo gak lagi sama Dea."


"Sebaiknya kita cari mereka!" tegas Nia.


"Kemana? Kita gak ada yang tahu kemana mereka pergi."


Mereka semua diam. Ya, kemana mereka akan mencari Aldo dan Dea, sedangkan mereka tidak tahu kemana Aldo dan Dea pergi. Namun tiba tiba Nia teringat pada sesuatu yang pernah dialami nya bersama dengan Aldo.


Saat itu, Aldo mengajaknya pergi ke puncak. Aldo mengatakan, kalau Papa nya punya villa di puncak. Karena Aldo waktu itu mengatakan cuma mau memperlihatkan pada Nia keberadaan villa papanya, akhirnya Nia pun diajak kesana. Namun begitu sampai di villa, Aldo merayu Nia, dan mengajak Nia tidur bersamanya. Tentu saja Nia menolak ajakan Aldo tersebut.


"Gila! Jadi lo ngajak gue kemari, karena lo pikir gue akan mau lo ajak berbuat yang enggak enggak, gitu?!" dengus Nia waktu itu.

__ADS_1


"Gue gak berpikir begitu Nia." jawab Aldo beralasan.


"Lalu apa?" berang Nia.


"Gue mencintai lo. Dan gue rasa, lo juga suka sama gue. Jadi apa salau kalau kita melakukannya?" ucap Aldo sambil merayu Nia.


"Cinta bukan berarti harus melakukan perbuatan yang belum semestinya dilakukan, Aldo! Apa jangan jangan, selama ini lo berbohong ama gue?"


"Berbohong gimana maksud lo, Nia?"


"Jangan jangan, selama ini lo sudah sering ngajak cewek lain kemari. ucap Nia memastikan.


"Suer, Nia. Baru lo yang gue ajak kemari."


"Gue gak percaya!"


"Please Nia... Gue benar benar baru kali ini ngajak cewek kemari. Dan gue baru kali ini jatuh cinta. Dan cewek yang gue cintai itu ya lo, Nia. Gue ngajak lo tidur bareng, karena gue cinta sama lo, dan lo juga cinta kan sama gue? Wajar kan kalau orang yang sama sama saling jatuh cinta melakukan nya? Dan hal seperti itu, di jaman sekarang udah bukan masalah tabu lagi, Nia. Tapi sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh remaja yang saling mencintai seperti kita."


"Orang lain boleh berpikir seperti itu, Aldo. Tapi gue enggak! Kita baru beberapa bulan kenal, bagaimana gue yakin kalau lo gak akan ninggalin gue setelah lo mendapatkan kesucian gue?!"


"Jadi lo gak mau?"


"Enggak! Terserah lo mau nerusin hubungan lo ama gue atau enggak. Kalau cinta lo tulus ama gue, maka lo bisa menerima alasan gue. Sebaliknya kalau lo cuma ingin main main ama gue, lebih baik lo cari cewek lain yang mau lo ajak tidur bareng lo disini! Sekarang, antar gue kembali ke Jakarta, atau gue pulang sendiri dan cukup sampai disini aja hubungan kita!" tegas Nia.


Nia tersadar dari lamunannya, ketika salah seorang teman cewek seclubnya memanggil, "Nia.."


"Oh, eh, ada apa?" tanya Nia.


"Semestinya kita yang tanya begitu."


"Kenapa memangnya?"


"Gue tahu dimana mereka," cetus Nia tiba tiba.


"Maksud lo?"


"Kalau benar Aldo berdua sama Dea, gue tahu dimana sekarang mereka berada."


"Dimana?"


"Ikut gue!" ajak Nia.


"Kemana?"


"Nanti kalian juga tahu. Sebaiknya kalian ikut gue aja dulu."


Teman teman seclubnya pun akhirnya menurut. Maka dengan naik tiga mobil, satu mobil Honda Jazz milik Nia, mobil Daihatsu Taruna milik Feri, dan Kijang Innova milik Lisa, mereka pun meninggalkan PGC. HP Nia yang mobilnya berada paling depan berbunyi.


"Ya...?" jawab Nia.


"Kita mau kemana?" terdengar suara Feri bertanya.


"Ke puncak." jawab Nia singkat.


"Ngapain?"


"Gue rasa Aldo dan Dea disana."


"Dimananya dimana, Nia?"


"Di villa milik orang tuanya Aldo."

__ADS_1


"Gimana lo bisa menduga begitu?"


"Sebab gue pernah diajak Aldo kesana."


"Apa?! Jadi lo juga pernah diajak Aldo ke villa?" tanya suara Lisa.


"Ya!"


"Lo udah tidur bareng sama Aldo?"


"Sinting! Emangnya gue cewek apaan?! Aldo emang ngajakin gue tidur bareng ama dia, tapi gue tolak! Bahkan gue langsung minta pulang kembali ke Jakarta."


"Bagaimana jika benar Dea dan Aldo sedang berdua?" tanya Lisa lagi.


"Kalau selama ini Dea sama Aldo, maka berarti dia udah diajak tidur bareng sama cowok br*ngsek itu!" dengus Nia. "Bahkan mungkin bukan cuma sekali Dea diajak tidur oleh cowok br*ngsek itu!"


"Bagaimana kalau benar Aldo dan Dea ada di villa milik orang tuanya Aldo?"


"Gue gak bakal memaafkan mereka berdua! Dan gue bersumpah gak akan percaya lagi pada keduanya!" tegas Nia.


Ketiga mobil itu terus melaju, mbawa sekita dua puluh anak muda yang tergabung dalam club YOUNG JACK semakin jauh meninggalkan PGC.


Setelah hampir tiga jam menempuh perjuangan, akhirnya Nia dan teman teman seclubnya pun tiba di puncak. Bahkan mereka akhirnya sampai tepat didepan villa milik orang tua Aldo. Setelah mematikan mesin mobil, Nia pun turun dari mobilnya. Dan tanpa banyak omong lagi, Nia langsung menerobos masuk kedalam villa mewah itu. Tentu saja hal itu membuat penjaga villa jadi kaget karena aksi nekat dan brutal Nia itu.


"Nona, mau kemana?" tanya penjaga villa kepada Nia.


"Dimana Aldo?! bukannya menjawab pertanyaan si penjaga villa, tetapi Nia malah balik bertanya sambil menahan emosinya.


"Den Al.. Aldo...?" tanya si penjaga villa lagi sambil tertutup karena merasa tertekan.


"Ya!" jawab Nia singkat.


"Di... Dia..."


Nia yang tak sabar menunggu jawaban si penjaga villa, akhirnya bergegas naik ke loteng dimana dulu sewaktu mengajaknya kemari, Aldo mengajak dia ke loteng. Melihat Nia masuk, teman temannya pun mengikutinya dari belakang. Begitu juga ketika Nia naik ke loteng, teman temannya pun juga ikut naik ke loteng.


Begitu sampai dipotong, Nia langsung menuju ke kamar yang dulu Aldo mengajaknya memasuki kamar itu. Dan begitu sampai didepan pintu kamar itu, dengan jurus karatenya, Nia pun menendang pintu kamar itu dengan sekuat tenaga yang ia punya.


Brak!!


Pintu kamar yang memang tidak terkunci, seketika terbuka. Pada saat itu, teman teman seclub Nia yang cewek pun memekik.


"Wuaa!" teriak mereka berbarengan.


Sedangkan yang cowok, sama sama melongo bengong melihat pemandangan yang ada di dalam kamar itu.


"Oh, rupanya selama ini lo berdua ada disini?" gumamNia. "Gak gue sangka, ternyata lo berdua penghianat! Gue benci ama lo berdua! Gue gak percaya lagi pada lo berdua!" dengus Nia sambil menunjuk kearah Aldo dan Dea yang sedang dalam kekagetan dan kebingungan mereka berdua. Kemudian tanpa menghiraukan bagaimana kekagetan Aldo dan Dea yang tak menduga kalau Nia dan teman teman seclub mereka akan memergoki mereka, Nia pun bergegas meninggalkan tempat itu.


"Lo berdua gila yaa?!" sungut Lisa. "Kami semua kebingungan mencari, eh ternyata lo berdua lagi enak enakan disini! Huh!"


"Lo berdua bakal tahu akibatnya!" timpal Feri.


"Ya! Mulai sekarang, lo berdua bukan lagi anggota Young Jack lagi! Sebab lo berdua telah melanggar ikrar dan janji Young Jack!" timpal Steven.


Satu persatu, anggota club Young Jack pun pergi meninggalkan loteng dimana Aldo dan Dea masih berada didalam kamar berdua.


Dengan membawa kekecewaan dan kekesalan setelah tahu kalau dirinya dikhianati, Nia pun melaju dengan mobilnya meninggalkan halaman villa mewah itu. Dia tak peduli, meski teman teman nya memanggil. Dia tak peduli dengan semuanya. Kini dia sadar bahwa apa yang dikatakan oleh papa dan mama nya benar.


Kini dia sadar, bahwa selama ini dia telah diperdaya dan dibohongi oleh Aldo dan Dea. Padahal, selama ini dia telah berusaha untuk menuruti semua keinginan Aldo, selain tidur bersama sebagaimana yang dilakukan oleh Aldo dan Dea. Mungkinkah karena dia menolak diajak tidur oleh Aldo, sehingga cowok itu berpaling darinya?


***

__ADS_1


__ADS_2