Cinta Suci Cowok Kampung

Cinta Suci Cowok Kampung
Bab 10 // Ending


__ADS_3

Liburan panjang kenaikan kelas tiba. Untuk mengisi liburan kenaikan kelas yang lumayan lama, hampir sebulan, orang kota yang masih mempunyai kerabat atau family di kampung, akan menghabiskan waktu liburannya dengan tinggal di kampung, menghindari kebisingan dan kesibukan yang ada di kota.


Nia memilih tinggal dirumah neneknya, yaitu ibu dari papa nya yang tinggal di kampung. Di sebuah desa dekat dengan pantai yang terletak di wilayah kecamatan Bulakamba, kabupaten Brebes. Sudah lama memang Nia tidak pernah ke kampung halaman papa nya. Terakhir dia di desa Grinting, ketika dia masih duduk di kelas tiga sekolah dasar. Saat itu dia bersama kedua orang tua ya. Sejak itu, dia tidak pernah lagi datang menjenguk neneknya. Karena kamu tidak papa nya yang pulang kampung sendirian, neneknya lah yang datang ke Jakarta.


Kehadiran Nia disambut dengan suka cita oleh sang nenek dan sanak keluarga serta kerabatnya yang ada di desa Grinting. Terlebih sang nenek, dengan suka cita dan penuh keharuan bahkan sampai menangis hari dan bahagia saat memeluk Nia.


"Aduhh, cucu nenek yang cantik... nenek senang dan bahagia sekali karena masih diberi umur yang panjang sehingga bisa melihatmu tumbuh besar seperti sekarang ini."


"Nia juga senang, Nek. Karena Nia masih bisa bertemu nenek."


"Kamu cuma sendirian kemari?" tanya kakak papa Nia yang tak lain adalah Bude nya.


"Iya, Bude."


"Papa dan Mama mu tidak ikut?"


"Tidak, Bude."


"Terus, rencananya berapa hari kamu disini?"


"Nia akan menghabiskan waktu liburan sekolah disini, Bude."


"Benarkah?"


"Ya, Bude. Nia harap Bude tidak keberatan..."


"Kenapa harus keberatan? Malah bude senang kok. Kalau kamu mau, kamu tinggal dirumah bude."


"Terimakasih, bude. Tapi Nia mau tinggal bersama nenek saja."


"Ya sudah, terserah kamu..."


Saat itu adalah saat musim panen padi. Karena kebetulan padi di sawah neneknya sudah masa panen, Nia pun ikut membantu menuai padi di sawah milik neneknya bersama dengan para petani lain. Sebagai gadis kota yang tak pernah turun ke sawah, merupakan kesenangan tersendiri bagi Nia bisa ikut memetik padi.


Nia yang tak pernah turun ke sawah, terjebak di dalam lumpur sawah. Seekor lintah sawah yang menggelikan menempel di paha Nia. Karuan saja, Nia yang jijik dan juga takut, menjerit jerit ketakutan.


"Tolong...! Tolong....!" teriaknya.


Mendengar jeritan Nia, Parjo yang sedang membabat padi segera berlari menghampiri.


"Ada apa?" tanyanya.


"Ini...! Tolong...!" kata Nia sambil menunjuk seekor lintah sebesar ibu jari tangan yang mele6di pahanya.


"Tenang!" kata Parjo. Lalu dia pun jongkok. Perlahan dia pencet kepala lintah itu dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Kemudian dia tarik dan dia lemparkan jauh jauh.


Bekas gigitan lintah di paha Nia, membuat lubang kecil yang mengeluarkan darah. Dan karena menurut orang tua, bahwa lintah itu beracun, maka untuk mencegah agar racunnya tidak menjalar ke pembuluh darah, maka bekas luka gigitan lintah harus disedot.


Berpikir seperti itu, serta khawatir akan keselamatan gadis itu, Parjo pun langsung bertindak. Dicengkeramnya paha Nia dengan kedua tangannya. Kemudian, dia pun mendekatkan mulutnya ke paha gadis itu.


"Heh, kamu mau apa?!" teriak Nia marah, menyangka Parjo hendak bermaksud yang tidak tidak.


"Aku harus mengeluarkan racun dari tubuhmu."


"Racun apa?! Jangan kurang ajar ya! Jangan mentang mentang kamu telah menolong ku, lalu kamu hendak berbuat kurang ajar padaku!"


"Terserah. Aku cuma ingin menolong. Jika racun lintah yang sudah masuk ke tubuhmu tak segera dikeluarkan, akan berbahaya bagi mu.kamu bisa pingsan untuk kemudian mati bila tak segera ditolong." tutur Parjo.


Mendengar penuturan Parjo, Nia pun jadi takut. Namun begitu, dia juga masih ragu akan niat baik cowok kampung itu. Karenanya, dia pun hanya diam saja.


"Bagaimana? Boleh tidak aku menolong mu?" tanya Parjo meminta ijin.


"Kamu benar tak bermaksud kurang ajar pada ku?"


"Mana mungkin aku berani."


Nia terdiam.


"Bagaimana? Mau kutolong atau tidak...?" tanya Parjo lagi.

__ADS_1


Nia pun akhirnya mengangguk, mengijinkan Parjo untuk menolongnya. Maka tanpa banyak kata lagi, Parjo segera menempelkan mulutnya ke paha Nia dimana bekas gigitan lintah itu berada. Lalu menghisapnya dengan kuat darah dari luka itu, untuk kemudian meludahkan ya.


Darah itu agak kehitaman, sebagai tanda sudah terkena racun. Maka untuk membersihkan semua racun, Parjo pun harus melakukan hisapan beberapa kali, sampai darah yang dihisap benar benar bersih dari racun, berwarna merah, sebagai mana warna merah darah pada umumnya.


"Lihat!" katanya, "Kalau tak segera dihisap keluar, racun itu akan terus menjalar ke seluruh tubuh kamu. Dan kamu tahu apa yang akan terjadi pada mu bukan?"


Dengan tubuh agak menggigil Nia mengangguk.


"Kini kamu sudah aman. Mungkin akan demam sedikit. Karena itu, sebaiknya kamu pulang ..."


Belum juga habis ucapan Parjo, tubuh Nia sudah terkulai lemas. Beruntung Parjo segera menyambut nya. Kalau tidak, tentulah Nia akan terjatuh di lumpur. Segera Parjo membopong tubuh Nia, dan membawanya pergi dari sawah menuju ke rumah nenek Nia yang jaraknya lebih dari satu kilometer dari sawah.


Melihat keponakannya pingsan dibopong oleh Parjo, para pakde dan bude serta neneknya Nia jadi cemas dan khawatir.


"Apa yang terjadi dengan Nia, Jo?" tanya salah seorang bude nya Nia setelah Nia dibaringkan di ranjang sembari membersihkan kaki keponakannya yang masih kotor oleh lumpu dengan lap basah.


"Dia digigit lintah, lalu pingsan." jawab Parjo.


"Kalau begitu cepat panggil dokter!"


"Saya rasa tidak perlu, bude. Sebab racunnya sudah saya hisap keluar. Mungkin dia pingsan karena agak shock."


"Terimakasih, Jo." kata nenek Nia.


"Sama sama, Mbah." jawab Parjo. "Permisi, saya harus kembali ke sawah lagi untuk melanjutkan pekerjaan saya..."


"Ya ya... sekali lagi terimakasih nak Parjo."


"Sama sama. Permisi..."


Parjo pun bergegas meninggalkan rumah besar dan bagus milik neneknya Nia untuk kembali ke sawah meneruskan pekerjaannya yang tertunda karena harus menolong Nia, dan membawa gadis itu pulang ke rumah neneknya karena pingsan.


Setengah jam kemudian Nia pun sadar dari pingsannya. Dan dia kaget bercampur heran, karena dirinya kini tidak lagi berada di sawah, melainkan berada didalam kamar tidurnya ditunggui oleh nenek dan para bude nya.


"Nenek, bude..." panggil Nia.


"Oh, akhirnya kamu sudah siuman, sayang."


"Parjo yang membawamu pulang kemari." tutur salah seorang bude nya memberitahu.


"Ya, kamu pingsan setelah digigit lintah. Karena itu Parjo kemudian membawamu kemari. Dia haru membopongmu dan menempuh jarak yang lumayan jauh, lebih dari satu kilometer untuk membawamu kemari."


"Jadi, dia bernama Parjo?" desis Nia pelan tapi masih bisa didengar oleh bude dan juga nenek nya.


"Ya, kenapa?"


"Siapa dia, bude?"


"Anak Pak Sucipto."


"Dimana dia tinggal?"


"Lima rumah sebelah Utara rumah ini."


"Apa sekarang dia sudah pulang dari sawah, bude?"


"Belum. Paling nanti sore. Ada apa memangnya?"


"Nia harus mengucapkan terimakasih kepadanya, bude. Sebab dia telah menyelamatkan Nia." tutur Nia.


"Ya, itu nanti saja. Sekarang sebaiknya kamu istirahat dulu."


Nia pun akhirnya menurut tetap merebahkan tubuhnya diranjang. Sementara nenek dan bude nya, setelah tahu kalau Nia tidak apa apa, akhirnya meninggalkan gadis itu seorang diri didalam kamarnya untuk beristirahat. Namun Nia tidak tidur. Dia justru termenung melamun, kembali membayangkan apa yang baru saja dialaminya.


Cowok itu sebenarnya tampan. Hanya saja karena tinggal dikampung dan sering bergelut dengan panas serta lumpur sawah, membuat kulit tubuhnya jadi gelap. Dia juga tampak masih polos dan lugu. Padahal cowok lainnya yang ada di kampung ini, sepertinya sudah terpengaruh oleh budaya kota.


Parjo...


Cowok yang sederhana, lugu, namun juga tampan. Kalau saja tidak ada dia, entah bagaimana nasib gue saat ini sekarang, gumam Nia dalam hati sembari kembali mengingat kejadian di sawah beberapa saat yang lalu, ketika dia ketakutan karena paha nya ditempeli seekor lintah. Sementara orang lain, termasuk para cowok yang lain hanya memandang, Parjo justru dengan sigap dan cepat langsung mendatanginya, untuk kemudian menolong melepaskan lintah itu dari pahanya. Lalu menghisap darah beracun dari bekas gigitan lintah itu yang ada di pahanya. Rasanya Nia tidak akan pernah bisa melupakan kejadian itu, dimana mulut Parjo menempel di pahanya untuk menghisap keluar darah beracun itu.

__ADS_1


Seumur umur, baru tadi pahanya yang putih mulus dan halus ditempeli dengan mulut lelaki. Itu sebabnya tadi dia sempat punya prasangka buruk terhadap Parjo. Namun ternyata pemuda itu tulus ingin menolongnya. Itu terbukti meski harus menempuh jarak lebih dari satu kilometer, Parjo mau membopong tubuhnya yang lumayan berat dalam keadaan pingsan dari sawah sampai kerumah neneknya. Padahal, belum tentu lelaki lain mau melakukan hal itu.


Ah, Nia benar benar merasa berhutang Budi pada pemuda itu. Dan sudah semestinya dia harus mengucapkan banyak terimakasih pada pemuda itu. Caranya, dia harus bersikap baik dan bersahabat dengan pemuda itu. Lagi pula, tak ada buruknya dia bersikap baik dan bersahabat dengan Parjo. Karena menurut penilaiannya, dari sekian cowok yang ada di desa Grinting ini, Parjo lah cowok yang lumayan tampan, baik, serta pekerja keras.


Menurut keterangan bude nya, Parjo juga masih sekolah di SMA Negeri 1 Brebes yang merupakan sekolah favorit di desa itu. Namun cowok itu tak merasa gengsi untuk turun ke sawah. Padahal teman teman sekampung yang seusia sama dengan nya, mana mau mereka turun ke sawah untuk membantu orang tua mereka bertani?


*


Parjo benar benar merupakan sosok cowok yang beda dari yang lain. Tampan, baik, tidak sombong, juga merupakan siswa yang cerdas dan juga pintar. Buktinya, menurut keterangan bude Sri, anak desa Grinting, hanya dia seorang yang bisa masuk ke SMA Negeri 1 Brebes yang merupakan sekolah favorit.


"Tidak sembarang orang bisa diterima masuk ke SMA favorit itu, Nia." tutur bude Sri memberitahu.


"Oh ya?"


"Ya. Karena SMA itu, merupakan kan SMA favorit. Dari jamannya papa mu sampai sekarang, bisa dihitung dengan jari anak desa ini yang diterima di SMA Negeri 1 Brebes itu."


"Jadi, papa dulu SMA nya di SMA Negeri 1 Brebes?"


"Ya, karena papa mu anak yang pintar dan cerdas.


"Ya, Nia bisa mengerti. Kalau papa tidak pintar dan cerdas, mana mungkin papa bisa seperti sekarang ini?"


"Ya. Dan kebanyakan, tamatan SMA Negeri 1 Brebes, bisa diterima di perguruan tinggi negeri, untuk kemudian akan menjadi orang yang sukses. Contohnya papa mu, begitu tamat dari SMA Negeri 1 Brebes, papa mu bisa lulus PMDK dan diterima di perguruan tinggi negeri dengan mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Kalau tidak, mana mungkin papa mu akan bisa jadi orang sukses seperti sekarang ini? Apalah kakek dan nenek mu? Mereka cuma petani kecil.."


Nia hanya manggut manggut mendengar penuturan dari bude Sri. Di keluarga papa nya, hanya papa nya dan bude Sri yang bersekolah tinggi. Yang lainnnya, paling cuma tamat SD atau SMP.


Sementara bude Sri, meski tidak seperti papa nya, namun lumayan, karena merupakan tamatan SMA. Bude Sri juga sebenarnya mendapatkan beasiswa dari pemerintah, karena bude Sri jauh lebih pintar dari papa nya. Hanya saja, bude Sri sudah keburu menikah. Sehingga tidak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi sebagaimana papa nya.


Kembali ke masalah Parjo. Cowok itu juga sepertinya disukai oleh keluarga dan sanak familinya. Sebab sebagaimana menurut penilaian bude Sri, Parjo anaknya ringan tangan, dan suka membantu orang.


*


Setelah mengingat kembali saat saat indah bersama Parjo semasa dia liburan di kampung halaman neneknya, seketika Nia tergerak hatinya untuk pergi. Dan tanpa banyak kata lagi, Nia pun bergegas meninggalkan ruang keluarga dimana papa dan mama nya berada.


"Nia... kamu mau kemana?" tanya mama nya yang keheranan melihat tingkah Nia yang tiba tiba itu.


Nia tak menyahut. Dia terus saja berlari keluar menuju dimana mobilnya berada. Dan begitu sampai diluar, Nia segera masuk kedalam mobil. Lalu dia pun menghidupkan mesin mobil yang tak lama kemudian melaju dengan kencang meninggalkan pelataran halaman depan rumahnya.


Begitu sampai di terminal bus Pulo Gadung, setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir terminal, Nia bergegas lari menuju kearah terminal pemberangkatan. Dia berharap Parjo belum naik bus, dan belum meninggalkan terminal Pulo Gadung.


Sambil melangkah, Nia terus berusaha mencari keberadaan Parjo. Dan akhirnya, dia melihat Parjo hendak naik kedalam bus AKAP jurusan Jakarta Tegal.


"Mas Parjo...! seru Nia memanggil.


Parjo yang hendak naik, akhirnya menengok ke arah datangnya suara orang yang memanggil namanya. Dan Parjo pun tertegun, begitu melihat siapa orang yang telah memanggil namanya.


"Nia..." lirih Parjo tak percaya dengan apa yang dia lihat didepan matanya.


"Mas Parjo...! seru Nia lagi.


Nia bergegas lari memburu ke arah Parjo yang mengurungkan niatnya naik ke dalam bus. Dan begitu tiba didepan Parjo, sambil menangis Nia pun langsung memeluk tubuh Parjo dengan sangat erat.


"Maafkan Nia mas... maafkan Nia.." isak Nia dalam pelukan Parjo.


"Aku selalu memaafkan mu, Nia. Karena aku sangat sayang padamu," bisik Parjo.


"Sungguh mas Parjo sayang sama Nia?"


"Ya."


"Kalau begitu, jangan lagi tinggalkan Nia, mas..." pinta Nia kepada Parjo.


"Kamu mau menerimaku?"


Nia mengangguk.


"Terimakasih, Nia..."


Keduanya kembali berpelukan, sebelum akhirnya meninggalkan terminal dengan membawa cinta yang mereka miliki.

__ADS_1


END


***


__ADS_2