
Nia baru pulang ketika jam sudah menunjukkan angka tujuh pagi. Sebagaimana biasanya, dia diantar oleh Aldo. Hal ini membuat Papa dan Mama nya heran bercampur marah. Sebab tidak biasanya putri mereka sampai tidak pulang. Namun begitu, karena masih ada Aldo, Papa dan Mama nya Nia pun berusaha menahan diri. Bahkan mereka berusaha untuk menunjukkan sikap baik dan ramah.
"Nak Aldo, mari sarapan bareng." ajak Mama Nia.
"Terimakasih, Tante. Maaf saya tak bisa sarapan bareng, soalnya saya juga mau pulang dulu."
"Oh iya, kenalkan ini Parjo, tetangga Papa nya Nia di kampung."
Parjo pun mengulurkan tangannya yang dengan segera disambut oleh Aldo.
"Parjo. . . "
"Aldo." balas Aldo. "Senang bisa berkenalan dengan anda."
"Sama sama. . . "
"Baiklah, Om, Tante, Parjo, saya mohon pamit. Assalamu'alaikum. . . "
"Ya, wa'alaikumsalam."
"Pa, Ma, Nia antar Aldo dulu ya."
Papa dan Mama nya pun hanya mengangguk.
Nia kemudian menggandeng tangan Aldo, dan berusaha bersikap mesra sembari merebahkan kepala nya di pundak cowok itu. Parjo yang melihat adegan itu pun hanya diam sembari menundukkan kepala nya.
"Nia. . . "
"Ya?"
"Dia di rumah lo."
Nia hanya mendesah.
"Ternyata dia tetangga bokap lo yang ada di kampung?"
"Mungkin." jawab Nia sembari mengangkat kedua pundak nya.
"Masa lo gak kenal sama dia?"
"Harus berapa kali gue bilang? Kalau gue gak kenal ya gak kenal!" dengus Nia.
"Sorry. . . jangan marah gitu dong."
"Habisnya, dari kemarin sore lo tetap aja bahas si cowok kampung itu."
"Oke, oke, sekali lagi gue minta maaf."
__ADS_1
"Lupakanlah. . . "
"Hmm, Nia?"
"Ya?"
"Apa bokap ama nyokap lo gak marah karena lo baru pulang? Apa gak sebaiknya gue jelaskan sama mereka?"
"Gak perlu. Biar gue yang urus."
"Bener lo gak apa apa?" tanya Aldo dengan wajah cemas.
"Kenapa lo yang jadi khawatir?"
"Gue takut, setelah hari ini bokap ama nyokap lo bakal melarang larang lo buat jalan bareng ama gur lagi. . "
"Lo gak perlu khawatir. Bokap ama nyokap gue bukan orang yang kolot. Mereka orang yang berjiwa demokratis. . . "
Hendra menghela napas panjang.
"Hmm baiklah, kalau begitu gue pulang dulu ya?"
"Ya."
"Sampai nanti, Nia. Bye. . . "
Aldo pun masuk ke dalam mobilnya kemudian duduk di belakang kemudi mobil, menghidupkan mesin mobil. Lalu setelah melambaikan tangan ke arah Nia yang dibalas cewek cantik itu, Aldo pun segera menjalankan mobil nya meninggalkan halaman depan rumah keluarga Nia.
Setelah mobil Honda Jazz merah yang di kendarai oleh Aldo menghilang dari pandangan nya, barulah Nia meninggalkan teras rumah nya dan masuk ke dalam rumah. Nia bermaksud langsung menuju ke kamar tidur nya, akan tetapi ketika Papa nya memanggil.
"Nia. . "
"Ya, Pa?
"Kamu mau kemana?"
"Ke kamar Pa. Mau tidur, ngantuk."
"Ini ada tamu. Parjo datang dari kampung ingin ketemu dengan mu."
"Nia ngantuk, Pa." ucap Nia sambil berlalu pergi meninggalkan Papa dan Mama nya juga Parjo menuju ke kamar tidur nya.
Usai berkata begitu, tanpa memperdulikan bagaimana perasaan Parjo dan sikap kedua orang tua nya, Nia meneruskan langkahnya menuju ke kamar tidurnya. Masuk kamar dan mengunci pintunya.
"Keterlaluan!" sungut Papa Nia.
"Maafkan sikapnya Nia ya nak Parjo."
__ADS_1
"Oh, tidak apa apa kok, Tante."
"Ma. .?"
"Ya, Pa?"
"Kamu temui Nia. Tanyakan, apa sih maunya?!" dengus Papa Nia. "Katakan juga padanya, Papa tidak suka punya anak sombong dan congklak!"
"Biarkan aja, Om. Mungkin benar dia sedang lelah dan mengantuk." kata Parjo berusaha meredakan emosi Papa nya Nia.
"Walaupun ngantuk, semestinya dia harus nemuin kamu dulu. Toh tidak perlu sampai berjam jam. Setelah itu, boleh dia pergi tidur.
"Sudahlah, Pa. Nanti biar Mama yang menasehati nya."
"Sejak bergaul dengan Aldo, dia jadi begitu. ."
"Jangan salahkan orang lain, Pa. Tidak baik,, biasanya juga Nia tidak seperti itu. Sudahlah, sebaiknya urusan Nia biar Mama yang aja tangani. Nah, sekarang ayo kita sarapan dulu, nanti keburu dingin."
Parjo dan Papa Nia pun menurut. Mereka berusaha menikmati sarapan pagi mereka, meski perasaan Parjo semakin bertambah tak menentu setelah melihat bagaimana sikapnya Nia terhadap dirinya.
Sementara itu di dalam kamarnya, Nia memang merebahkan tubuhnya di atas ranjang, namun kedua matanya tidak terpejam. Nia tidak tidur, karena dia memang tidak mengantuk. Sebab semalam, dia sudah tidur dan menginap di rumahnya Dea di kamar sahabatnya yang dulu adalah musuh bebuyutan nya. Ya, semenjak kegagalannya mempermalukan Nia dengan menyuruh Dino menaruh obat terlaranh di tas Nia, namun ternyata yang ditemukan oleh guru justru permen Vit C, Dea benar benar berubah. Dia yang semula dari kelas satu menjadi musuh bebuyutan Nia, malah berubah menjadi sahabat baik. Apalagi semenjak Nia sering datang ke pesta bersama Aldo, hubungan nya dengan Dea menjadi semakin bertambah akrab, karena Dea pun juga sering datang ke pesta. Hal sebaliknya justru terjadi pada Sari. Semenjak Nia dekat dengan Aldo dan sering pergi ke pesta, Sari jadi jarang bersama dengan Nia. Kedua nya hanya bertemu di sekolah, setelah itu Nia akan lebih sering bersama dengan Aldo, Dea, dan kelompoknya yang memang kebanyakan anak anak orang kaya.
Semenjak bergaul dengan Aldo dan Dea serta kelompoknya, Nia pun jadi berubah. Dia yang semula dulu tidak memilih milih dalam berteman, kini sepertinya ketularan Dea teman temannya yang lain.. Memang sih, Nia masih menganggap Sari sebagai sahabatnya. Akan tetapi hubungan keduanya tidak seharmonis seperti dulu, ketika Nia belum akrab dengan Dea dan teman temannya. Jadi, bagaimana Nia kini mau menerima apalagi mengakui Parjo yang hanya orang kampunh sebagai temannya? Bisa bisa dia akan ditertawakan oleh teman temannya. Bahkan yang lebih parahnya lagi, dia bisa saja dicengin oleh teman temannya itu karena mengenal dan punya teman orang kampung.
"Huh! Brengsek! Kenapa sih dia kesini?!" dengus Nia kesal. Dia benar benar tak menyangka kalau Parjo akan datang ke Jakarta untuk menemui dirinya. Dan lebih celaka lagi, Parjo bisa menemukan alamat rumah nya. Padahal dulu dia tidak pernah memberi alamat rumah nya pada cowok kampung itu. Pasti bude nya yang sudah memberi tahukan alamat rumahnya kepada cowok kampung itu.
SIAL! SIAL! SIAL! SIALLLL...!
Yang semakin membuat nya jengkel, Papa nya malah menyuruh cowok kampung itu untuk tinggal di rumah nya. Papa nya bukannya membiarkan tuh si cowok kampung pergi, eh malah mengajaknya masuk dan tinggal di dalam rumahnya. Padahal dirinya sudah sengaja menginap di rumah Dea dan pulang pagi, dengan harapan tuh cowok kampung sudah tidak ada di rumah nya. Eh, tidak tau nya tuh cowok kampung masih saja berada di rumah nya. Papa nya juga keterlaluan. Mentang mentang tuh cowok se-kampung dengannya, disuruh menginap. Bahkan sepertinya Papa nya tidak suka dengan sikap yang ditunjukkan oleh Nia pada cowok kampung itu.
Apa yang mesti gue lakuin agar cowok kampung itu gak betah tinggal disini dan bakal cepat cepat angkat kaki dari rumah ini? desah Nia dengan hati yang resah. Kemudian dia berpikir, berusaha mencari cara agar Parjo tidak betah di rumah nya dan segera angkat kaki dari rumahnya. Sehingga dia tidak lagi harus bertemu dan melihat tampang cowok kampung itu. Hm, sepertinya gue harus bersikap kasar padanya, dan gue harus bersikap mesra pada Aldo di depannya. Gue yakin, dengan begitu pasti dia gak bakal kerasan tinggal di sini dan segera angkat kaki dari rumahnya ini. Bahkan mungkin kembali ke kampungnya. Ya, ya, ya, itu yang mesti gue lakukan agar dia cepat angkat kaki dari sini. Tapi, bagaimana dengan Papa? Ah, Papa pasti akan membelanya, karena tuh cowok se-kampung dengan Papa. Huh! Baik, di depan Papa gue akan berpura pura baik sama dia. Tetapi kalau gak ada Papa... baru gue jalanin rencana gue.
Nia tersenyum puas dengan rencana yang didapakannya. Dia yakin, jika rencananya ini dia jalankan, makan Parjo tak akan betah untuk berlama lama tinggal dirumahnya ini. Parjo pasti akan secepatnya akan angkat kaki dari rumahnya, bahkan mungkin angkat kaki dari Jakarta.
Sementara itu, Papa nya Nia pun bersiap untuk berangkat ke kantor setelah selasai sarapan pagi bersama Parjo dan juga Mama Nia. Selagi Mama nya Nia sibuk mempersiapkan segala sesuatu keperluan kerja yang akan dibawa oleh sang suami. Sambil menunggu istrinya mempersiapkan keperluan kerjanya, Paap nya Nia pun menemui Parjo.
"Jo..."
"Ya, Om."
"Om mau berangkat ke kantor dulu. Kamu di rumah saja dulu. Nanti kalau kamu pengin jalan jalan, minta antarlah sama mang usep atau ajaklah Nia untuk mengantarmu."
"Baik, Om."
Kemudian Papa nya Nia pun pergi berangkat kerja ke kantornya setelah sang istri memberikan tas kerjanya.
***
__ADS_1