Cinta Suci Cowok Kampung

Cinta Suci Cowok Kampung
Bab 2 // Bertemu dengan Nia


__ADS_3

Sore itu, Nia masih berada di rumah. Di dengan kedua orang tuanya tampak tengah duduk-duduk di ruang keluarga, menyaksikan acara televisi sambil ngobrol. Hal seperti ini, jarang terjadi semenjak Nia duduk di kelas dua SMA. Karena semenjak kelas dua SMA, tepatnya semenjak kenal dan dekat dengan Hendra, Nia jadi jarang berapa dirumah.


"Nia..."


"Ya, Pa?"


"Kamu tidak kerumah nenek lagi?"


"Enggak ah, Pa..."


"Kenapa?"


"Pengin liburan di sini. Lagi pula, banyak kegiatan yang harus Nia lakukan di sini, Pa." tutur Nia memberitahu sekaligus juga memberi alasan.


"Kegiatan apaan?"


"Banyak, Pa."


"Iya, apa aja? Papa perhatikan semenjak kamu duduk di kelas dua, kok kamu jadi jarang di rumah?" tanya sang Papa.


"Ya karena Nia banyak kegiatan, Pa."


"Kegiatan sekolah?"


"Iya lah Pa ...."


"Masa hampir tiap hari kamu ada kegiatan?"


"Papa curiga?"


"Curiga sih tidak. Cuma Papa khawatir..."


"Apa yang Papa khawatirkan? Buktinya, prestasi sekolah Nia baik baik aja. Malah naik kan, Pa?" Jawab Nia memberi alasan.


"Iya sih. Tapi, apa saat liburan seperti sekarang ini kamu juga tetap banyak kegiatan?"


"Enggak juga lah, Pa. Tapi, ada beberapa acara yang mesti Nia ikuti, Pa."


"Acara apaan?"


"Ya acara anak muda untuk mengisi liburan, Pa." jawab Nia.


"Contohnya?"


"Porseni, kemping, lomba kreatifitas, dan sebagainya..."


Papa dan mama nya hanya bisa menghela napas panjang.


"Oh ya, hari ini Nia juga ada acara, Pa"


"Acara apa?"


"Pesta ulang tahun Dea, Pa."


"Tapi Papa ingatkan, jangan berbuat yang tidak tidak ya?"


"Ya enggak lah, Pa..."


"Eh, Nia..."


"Ya, Ma?"


"Cowok yang sering mengantar kamu kemari siapa dia?"


"Aldo, maksud mama?"


"Ya."


"Kenapa emang nya, Ma?"


"Pacar kamu?"


"Ah, mama..."


"Ngaku aja deh, tak usah malu..."


"Enggak kok, Ma. Cuma teman biasa."


"Teman apa teman?" goda sang mama.


"Teman, Ma..."


"Teman biasa?"


"Iya, Ma."


"Bener cuma teman?"


Nia tersenyum sambil menghela napas panjang, kemudian termenung diam dengan mata tampak menerawang jauh, seakan dia tengah mengingat sesuatu. Hal itu membuat mama dan papa nya saling pandang, untuk kemudian sama sama mengerutkan kening dan sama sama mengarahkan pandangan ke arah Nia dengan wajah menunjukkan ketidak mengertian akan apa yang tengah dilakukan oleh putri mereka.


Saat itu, dalam ketermenungan nya Nia tengah mengingat kembali di saat pertama kali dia bertemu dan berkenalan dengan Aldo.


Nia tersenyum senyum sendiri setelah mengingat bagaimana awal mukanya dia dekat dengan Aldo. Melihat putri mereka senyum senyum sendiri, papa dan mama Nia kembali saling pandang sembari mengerutkan kening. Namun belum juga papa dan mama Nia mengatakan sesuatu atas sikap yang ditunjukkan oleh putri mereka, dari pintu depan terdengar suara orang memberi salam.


"Selamat sore. . ."


"Sore" balas seorang pembantu. "Eh, nak Aldo. ."


"Aldo! " desis Nia.


"Wah, panjang umur dia, " gumam mama. "Baru aja kita bicarakan, eh dia datang. . ."


"Pa, Ma, Nia tinggal dulu." kata Nia sembari beranjak bangun dari duduk nya.


"Mau kemana?"


"Nemuin Hendra, Ma, Pa. Oh ya, nanti Nia kenalin deh sama Papa dan Mama. . ." kata Nia sembari beranjak pergi meninggalkan ruang keluarga dimana Mama dan Papa nya berada, untuk menemui Aldo.


Melihat tingkah laku putri nya, Papa dan Mama nya pun tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepala.


"Hai, Aldo. . .!" seru Nia begitu tiba di ruang tamu.


"Sore, Nia."


"Sore. Duduk dulu. ."


"Makasih." Cowok tampan berambut keriting itu menurut duduk. "Jadi kita jalan ke rumah Dea?"


"Jadi dong. Tapi sebentar, ada yang mau kenalan ama lo."


"Siapa?"


"Bokap gue."


"Bokap lo ada di rumah?"


"Iya, kenapa emang nya? Takut?" tanya Nia sembari tersenyum menggoda. "Gausah takut. Bokap gue bukan harimau, kok. Apalagi kanibal. ."


"Ee eh. . . ngomong apa itu?" terdengar suara Papa Nia, membuat Nia dan Aldo langsung mengarahkan pandangan ke asal suara itu. Dan baik Nia maupun Aldo seketika tersenyum begitu melihat Papa dan Mama nya Nia muncul.


"Sore, Om, Tante." sapa Aldo seraya bangun dari duduk nya sembari mengangguk kan kepala tanda hormat dan sopan.


"Sore. . ." balas Papa dan Mama Nia

__ADS_1


"Silakan duduk." ajak Papa nya Nia.


"Makasih, Om."


Aldo pun kembali duduk. Papa dan Mama nya Nia pun juga duduk di kursi panjang yang ada di depan kursi dimana Hendra duduk.


"Ada acara?"


"Iya, Om. Nia ngajak saya pergi."


"Kemana?"


"Ke pesta ulang tahun teman sekolah kami, Pa, Ma." jawab Nia.


"Oh iya, nak Aldo anak pindahan, ya?" tanya Mama Nia.


"Iya, Tante." jawab Aldo dengan sopan.


"Pantas baru sekarang sekarang ini tante melihat nak Aldo."


"Ya, Tante."


"Kapan rencananya kalian pergi?" tanya sang Papa.


"Sebentar lagi, Pa. Soalnya kami juga mau bantu bantu sedikit." tutur Nia memberitahu.


"Sari tidak ikut?"


"Kami sudah mengajak nya, tetapi di gak mau ikut. Kata nya dia mesti bantu bantu ibu nya di rumah."


Papa dan Mama Nia manggut manggut mengerti. Mereka memahami kedudukan Sari. Tentu nya Sari menolak ikut bukan karena harus bantu bantu orang tua nya, tetapi Sari yang tau hubungan Nia dengan Aldo jadi merasa tak enak sendiri.


"Baiklah. Aldo, lo ngobrol aja dulu ama Papa dan Mama, gue mau ganti baju dulu ya? Hendra pun mengangguk.


"Pa, Ma, temani Aldo ngobrol dulu sebentar ya. Nia mau ke kamar. "


"Iya. . ." jawab Mama dan Papa Nia berbarengan.


Dengan gaya nya yang ceria dan lincah Nia berlalu meninggalkan ruang tamu dimana kedua orang tua nya dan Aldo berada untuk ganti baju di kamar nya.


"Nak Aldo?" tanya Papa Nia.


"Ya, Om?"


"Sebelum di Jakarta, nak Aldo tinggal di mana?"


"Surabaya, Om."


"Kok pindah ke Jakarta?"


"Karena Papa di pindah tugaskan di sini, Om."


"Maaf, kalau boleh Om boleh tau, Papa nya nak Aldo kerja apa?"


"Direktur Kredit di BRI, Om."


"Oohhh. . ." Papa nya Nia pun manggut manggut. Tak lama kemudian Nia telah kembali menemui mereka.


"Bagaimana, Ma, Pa? Apa sudah selesai uji fit and propertes nya?" tanya Nia.


"Kamu ini... memang nya calon pejabat negara, pakai acara uji fit and propertes segala?"


"Loh. . . untuk menyeleksi apakah Aldo pantas atau tidak jadi teman dekat Nia. Papa dan Mama juga mesti melakukan uji fit and propertes." kata Nia sambil tersenyum dan memandang ke arah Aldo.


"Ah, kamu ini ada ada aja. Papa sih terserah kamu aja. Toh kamu yang akan menjalaninya, bukan Papa atau Mama mu. Yang Papa inginkan, siapa pun lelaki yang jadi teman mu, baik dan sayang pada mu." kata sang Papa memberi wejangan untuk putri semata wayangnya yaitu Nia


"Kalau Mama, bagaimana?"


"Mama juga sama seperti Papa mu. Yang penting sayang dan memahami diri mu, itu sudah lebih dari cukup. . ."


"Baik. Om, Tante, saya pamit minta ijin mengajak Nia pergi."


"Loh, kok buru buru? Bibi aja belum menyajikan minuman nya." kata Mama Nia.


"Gampang, lain kali aja, Tante."


"Benar tidak menyesal karena tidak di suguhi?" goda Mama Nia.


"Enggak, Tante. Malah saya senang karena di Terima dengan baik oleh Om dan Tante. . ."


"Ya sudah, pergi lah. Kami titip Nia, ya nak Aldo. .  ."


"Baik Om. Saya janji akan menjaga dan melindungi Nia dengan baik. Permisi, Om, Tante, Assalamu'alaikum. . ."


"Ya, hati hati, wa'alaikumsalam. . ."


Nia dan Aldo pun beriringan melangkah keluar dari rumah menuju ke mobil Honda Jazz milik Aldo yang di kendarai oleh Aldo sendiri yang berada di depan halaman rumah Nia. Begitu sampai di dekat mobil, Aldo membuka kan pintu depan mobil sebelah kiri untuk Nia. Kemudian menutup nya setelah Nia masuk. Lalu dia pun melangkah memutari depan mobil menuju ke pintu depan sebelah kanan. Membuka nya, kemudian masuk dan duduk di belakang kemudi mobil. Tak lama kemudian, Honda Jazz warna merah itu pun bergerak perlahan meninggalkan halaman depan rumah mewah dimana keluarga Nia tinggal.


Pada saat itu, Parjo yang sudah tiba di jalan depan rumah Nia tengah celingukan berusaha mencari alamat rumah Nia, tanpa sengaja melihat semua adegan yang terjadi tadi. Hatinya seketika diliputi perasaan yang tak menentu, melihat Nia tampak mesra berjalan keluar dari dalam rumah dengan seorang cowok yang tampak nya juga dari anak orang berada.


"Nia. . . !" serunya memanggil, ketika mobil Honda Jazz yang di naiki oleh Nia melaju perlahan keluar dari halaman depan rumah mewah itu. Kemudian Parjo pun melangkah menghampiri mobil Honda Jazz itu.


"Siapa dia, Nia?" tanya Aldo sembari menghentikan mobil nya.


"Entah lah, gue gak kenal."


"Tapi, dia tau nama lo, itu artinya dia kenal sama lo."


"Gak tau. Udah, mending kita mulai jalan aja. . ."


"Sebentar. . ."


"Mau apa?" tanya Nia.


"Seperti nya dia ingin bicara sama lo."


"Ah, gak ada waktu! Lagi pula, gue gak kenal sama dia. . ."


"Benar lo gak kenal sama dia?"


"Ya. Kenapa?"


"Tapi, lo tampak kaget ketika melihat ke arah nya."


"Gue, pikir dia teman kita, Tio. . ." Elak Nia


Aldo pun tersenyum sambil geleng geleng kepala.


"Kenapa lo senyum senyum gitu?"


"Masa sih yang udah sejak kelas satu bareng sama Tio gak bisa mengenali Tio. . ."


"Maksud lo?"


"Gue yakin, lo pasti tau siapa dia."


"Suer. . . gue gak kenal sama tuh orang. Udah deh, mending sekarang kita segera jalan. Atau kalau lo gak mau jalan, mending gue turun dan kita gak usah jalan bareng!" tegas Nia mengancam, hal ini membuat Aldo akhirnya tak bisa membantah lagi. Mau tak mau, mesti dia mendengar  dengan jelas kalau Parjo memanggil nama Nia, dan dia masih penasaran ingin tau siapa pemuda kampung itu, namun Aldo terus menjalankan mobilnya.


"Nia... tunggu. . . ! Nia. . . !" seru Parjo memanggil.


Namun, percuma saja dia terus memanggil, karena mobil Honda Jazz yang dikemudikan oleh Aldo terus saja melaju semakin kencang dan semakin jauh meninggalkan nya yang akhirnya hanya bisa berdiri mematung dengan wajah murung di depan pintu pagar halaman rumah mewah keluarga Nia.


Saat itu, Papa dan Mama nya Nia yang mendengar ada orang yang memanggil manggil nama putri mereka, keluar untuk melihat. Dan kedua nya tampak mengerutkan kening begitu melihat ada seorang pemuda kampung tampak berdiri dengan wajah yang murung di depan pintu gerbang halaman rumah mereka.

__ADS_1


Parjo bermaksud pergi meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, ketika Papa nya Nia memanggil, "Dik...?"


Parjo pun menengok. "Dik, sebentar. . ."


Papa dan Mama Nia menghampiri.


"Assalamu'alaikum, Om, Tante. . ." ucap Parjo sembari meraih dan mencium punggung tangan Papa dan Mama Nia.


"Wa'alaikumsalam. Adik ini siapa, dan dari mana adik tau nama putri kami?" tanya Mama Nia.


"Saya... Saya Parjo, Tante."


"Parjo?" ulang Papa Nia.


"Iya, Om."


"Adik kenal dengan putri kamu di mana?"


"Di Grinting, Om."


"Grinting?"


"Iya, Om." jawab Parjo dengan sopan.


"Jadi, kamu anak Grinting?"


"Iya, om." jawab Parjo lagi.


"Siapa nama orang tua mu?"


"Bapak saya bernama  safar, Om."


"Safar anak nya dari Pak Muktar?"


"Iya Om, benar."


"Aduh,, kenapa kamu tidak ngomong dari tadi. Ayo. . . ayo masuk." ajak Papa Nia sembari membimbing Parjo masuk ke dalam lingkungan rumah nya yang mewah. Bahkan kemudian mengajak Parjo masuk ke dalam rumah nya yang seperti istana yang ada dalam cerita dongeng.


"Duduk, Parjo."


"Iya Om, makasih." Parjo pun menurut duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


"Ma, tolong beritahu bi iyem untuk membuat kan minuman dan makanan untuk Parjo."


"Baik, Pa."


Mama Nia pun bergegas meninggalkan ruang tamu di mana suami nya dan Parjo berada untuk memberitahu salah satu pembantu yang ada di rumah nya agar menyiapkan minuman dan makanan kecil. Sementara Papa nya Nia, duduk menemani Parjo ngobrol di ruang tamu.


"Kenapa tidak telepon dulu kalau mau kemari? Kan nanti bisa dijemput."


"Tak apa Om, terimakasih. Takut nanti merepotkan Om dan Tante."


"Tidak. Tapi syukur lah karena kamu sampai dengan selamat."


"Iya, Om. Tapi tadi hampir aja saya celaka."


"Celaka bagaimana?"


Kemudian, Parjo pun menceritakan kejadian yang dialami nya di Pulo Gadung, dimana dia ditipu oleh seorang lelaki yang menjanjikan akan mengantarkan nya sampai di alamat yang hendak dia tuju ini.


"Untungnya saya tidak menyerahkan semua uang yang saya miliki. Kalau tidak, entah bagaimana nasib saya sekarang. . ." ungkap Parjo dengan wajah murung.


"Ya sudah... Ikhlaskan saja. Oh iya, bagaimana kabar di Grinting?"


"Alhamdulillah baik, Om."


"Sebentar ku telpon ibu dulu untuk memberitahu pada semua orang tua mu kalau kamu sudah sampai di sini." kata Papa nya Nia sembari mengambil benda pipih yang berada di saku celanya nya, kemudian menekan nomor telepon yang ada di rumah orang tua nya di Grinting.


"Assalamu'alaikum bu, ini Hendra."


"Wa'alaikumsalam. Eh, Hen.. Ada apa?"


"Ini, saya cuma mau kasih tau sama ibu, kalau Parjo sudah sampai di rumah saya. Tolong suruh orang kasih tau sama mas Safar dan mbak Santi."


"Oh ya ya, nanti ibu sampaikan."


"Makasih Bu. Oh iya, bagaimana kabar ibu dan yang lain?"


"Alhamdulillah, semua nya baik. Kabar mu dan istri serta cucu ku bagaimana?"


"Alhamdulillah, baik juga Bu."


"Syukurlah kalau begitu."


"Ya sudah Bu, cuma itu saja yang mau Hendra sampaikan."


"Ya ya. . ."


"Assalamu'alaikum. . ."


"Wa'alaikumsalam. . ."


Papa nya Nia pun mengakhiri panggilan telepon dengan ibu nya. Kemudian setelah meletakkan ponsel nya di meja yang ada di depan mereka, Papa nya Nia pun kembali memandang ke arah Parjo.


"Parjo. . ."


"Ya, Om?"


"Kamu sekolah?"


"Baru tamat, Om."


"SMA?"


"Iya, Om."


"Dimana SMA nya?"


"Di tempat dulu Om juga sekolah."


"SMA Negeri 1 Brebes?"


"Iya, Om."


"Wow. . . tentunya kamu pintar dan cerdas, sehingga kamu bisa masuk dan diterima di sekolah itu..."


"Semua karena Om."


"Maksud mu?"


"Kesuksesan Om adalah pemacu semangat belajar saya. Om merupakan kebanggaan masyarakat desa Grinting termasuk saya. Karena saya kepingin menjadi seperti Om, sehingga dari kecil saya berusaha mengikuti setiap jejak yang Om tempuh. Sewaktu SD, saya sekolah di SD Inpres dimana Om juga dulu bersekolah disana. Begitu juga ketika SMP, saya pun memilih SMP negeri 2. Begitu juga sewaktu SMA, saya memilih masuk SMA Negeri 1 Brebes sebagaimana Om yang juga bersekolah di sekolah sekolah itu dulu nya."


"Ya ya ya... Itu bagus. Akan tetapi jauh lebih bagus kalau kamu berusaha untuk menjadi diri mu sendiri. Kamu memang boleh mengidolakan seseorang, tetapi kamu jangan terlalu berlebihan dalam mengidolakan nya. Sebagaimana yang tadi saya katakan, lebih baik menjadi diri sendiri... Kalau kamu ingin sukses, maka kamu harus yakin pada kemampuanmu sendiri serta tau apa sebenarnya bakat dan kemampuan yang kamu miliki."


"Iya, Om."


Seorang pembantu rumah keluar dengan membawa minuman dan makanan ringan ke hadapan mereka. Setelah meletakkan minuman dan makanan di atas meja dimana Parjo dan Papa nya Nia duduk, pembantu itu pun kembali pergi meninggalkan ruang tamu.


"Ayo silakan diminum, Parjo." kata Papa Nia.


"Makasih, Om."


Dari dalam, Mama Nia kembali keluar kemudian duduk di samping suami nya dan ikut nimbrung ngobrol dengan Parjo bersama sang Suami.

__ADS_1


***


__ADS_2