
Jam delapan, setelah Papa nya dan Parjo berangkat ke kantor, Nia yang semalam pulang jam dia bekas malam bangun dari tidurnya tidak langsung mandi, tetapi dia keluar dari langsung menuju ke ruang makan dimana Mama nya berada. Sesaat dia edarkan pandangan matanya kesana kemari, seakan tengah mencari sesuatu.
"Apa yang kamu cari?"
"Kemana anak kampung itu, Ma?" tanya Nia pada Mama nya begitu bangun dari tidurnya dan tidak melihat Parjo pagi itu.
"Parjo maksud kamu?"
"Iya, Ma. Emang ada siapa lagi anak kampung di rumah ini?"
"Ada."
"Siapa?"
"Papa mu, dan Mama juga berasal dari kampung," jawab sang Mama datar.
"Nia gak menanyakan Papa dan Mama."
"Pergi," jawab sang Mama singkat.
"Selama nya?"
"Tidak,"
"Kemana dia?"
"Buat apa kamu mencarinya? Bukankah kamu tidak suka dengan dia? Dan kamu merasa senang kalau dia tidak tinggal di rumah ini lagi?" tanya sang Mama."
"Mama bilang dia tidak selamanya pergi."
"Ya memang."
"Jadi dia akan kembali kesini lagi?"
"Ya, tentu saja. Kenapa emangnya?"
"Nia tak suka dia tinggal di sini!"
"Kenapa?"
Nia tak menyahut. Dia hanya diam sembari mengambil makanan, kemudian mencaploknya. Lalu duduk do kursi dengan kaki kanan ditengkrengkan di atas kursi.
"Nia..."
"Ya?"
"Turunkan kaki mu. Anak perempuan tingkahnya kayak tukang becak, urakan!" kata sang Mama memarahi tingkah Nia.
Nia pun menurut menurunkan kakinya dari kursi tapi tetap dengan wajahnya yang bete.
"Nia..."
"Apa lagi sih, Ma?"
"Kamu belum jawab pertanyaan mama."
"Pertanyaan yang mana?"
"Kenapa kami tak suka sama Parjo?"
"Ya karena Nia tak suka."
"Tentu ada alasannya kan?" tanya sang mama. Nia menghela napas panjang.
"Katakan, apa alasan kamu sehingga kamu tidak suka pada anak sebaik Parjo?"
"Nia malu, Ma."
"Malu?"
"Ya!"
"Malu kenapa? Parjo bukan orang jahat. Dia baik, rajin, dan juga taat menjalankan ibadah. Jadi, kenapa kamu harus malu?" tanya sang mama lagi.
'Karena dia anak kampung. Semenjak dia ada di sini, teman teman Nia selalu memperoleh Nia, Ma. Dan, mama lihat, semenjak anak kampung itu di sini, Also jarang kemari... bahkan beberapa hari belakangan ini, Aldo seperti enggang bertemu dengan Nia. Semua karena anak kampung itu, Ma." terang Nia panjang lebar kepada sang Mama.
"Biarkan saja Aldo tidak kemari. Justru itu lebih bagus."
"Kenapa mama berkata seperti itu?"
"Karena kenyataannya, semenjak kamu dekat dengan Aldo, kamu jadi berubah. Kamu tahu, papa mu bahkan sangat benci pada Aldo, karena menurut penilaian papa mu dan mama, Aldo telah membuat kamu jadi sombong, congkak, urakan, serta keburukan keburukan lain yang sebelumnya tidak ada dalam sifatmu."
"Mama jangan menuduh Aldo seperti itu!" protes Nia.
"Kenyataannya memang seperti itu kan? Coba kamu pikir baik baik. Semenjak kamu kenal dan dekat dengan Aldo, kamu melupakan sahabat baik mu, Sari. Kamu seakan malu berteman dengannya, karena dia anak orang tak punya. Padahal sebelum kenal dan dekat dengan Aldo, kamu tak pernah memilih milih dalam berteman. Bahkan, Sari adalah sahabat baikmu, sahabat berbagi suka dan duka. Tidak kah kamu sadar, kalau Aldo telah membuatmu jadi anak yang tak tahu aturan? Pergi ke diskotik, berpesta, dan entah keburukan macam apa lagi yang telah kamu lakukan di luar sana selama ini."
Nia terdiam.
"Mama masih bertoleransi padamu dan masih terus menutup nutupi mu di depan papa mu. Tapi kalau sampai papa mu tahu bahwa kalau selama ini kamu dan Aldo sering pergi ke diskotik dan berpesta pesta, entah bagaimana jadinya kamu, bahkan mungkin Aldo. Kamu tahu Nia, papa mu semasa muda adalah bekas anak nakal. Tukang berkelahi. Bahkan sewaktu masih SMA, papa mu sangat ditakuti oleh anak seusianya. Appa mu juga jago karate, dan pemegang sabuk hitam. Jadi jangan anggap enteng pada papa mu itu. Kalau papa mu sudah marah, mama tak bisa bayangkan apa yang bakal terjadi pada kamu dan Aldo," tutur sang Mama mengingat kan.
__ADS_1
Nia tetap diam tak menyahut. Hatinya semakin bertambah kesal dan jengkel karena papa dan mama nya tetap saja membela anak kampung itu. Bahkan papa dan mama nya, sepertinya kini tidak menyukai kedekatannya dengan Aldo. Padahal sebelum Parjo ada, papa dan mama nya sepertinya merestui kedekatannya dengan Aldo.
Semua karena Parjo! Cowok kampung itulah penyebab semua masalah yang kini dihadapinya. Papa dan mama nya jadi sering memarahinya. Papa dan mama nya jadi tidak menyukai hubungan nya dengan Aldo, dan kini sudah beberapa hari Aldo menghilang entah kemana. Ditelpon, bahkan didatangi ke rumahnya, kata mamanya, Aldo pergi. Dan mama Aldo sendiri tak tahu kemana perginya sang anak, karena kaya sang mama, Aldo tidak memberitahu akan pergi ke mana.
Huh! Nia jadi semakin bertambah kesal dan jengkel dengan keadaan yang seperti sekarang ini. Dan kembali, dia limpahkan kekesalan serta kejengkelan nya pada Parjo. Dia menganggap bahwa cowok kampung itulah sebagai penyebab semuanya. Dia yakin, Aldo tak mau menemui dan menemani nya lagi, karena Aldo tak suka kalau Parjo berada dirumahnya. Atau Aldo mungkin cemburu dengan keberadaan Parjo dirumahnya.
"Kalau papa mu sudah marah, tidak pandang siapa yang akan dihadapinya. Kamu tahu? Pernah sebelum kamu lahir, saat itu papa mu belum seperti sekarang. Papa mu masih cuma seorang karyawan. Hidup kami pun masih biasa biasa saja, tidak seperti sekarang. Ada seorang aparat pemerintah yang sombong dan congkak. Mentang mentang seorang aparat pemerintah dan punya kedudukan yang lumayan tinggi, juga hidupnya enakan, tuh orang enak saja menjelek jelekan papa mu. Kamu tahu apa yang terjadi?"
Nia tak menyahut. Dia hanya diam dengan wajah merengut.
"Papa mu mendatangi rumah aparat itu, lalu memaki maki nya. Bahkan mungkin kalau tidak segera mama cegah, mungkin aparat itu sudah babak belur karena dihajar papa mu," tutur sang mama. "Nah, dari situ kamu bisa bayangkan, dulu saja sewaktu masih hidup pas pasan, papa mu sudah berani melabrak orang yang berpangkat dan berkedudukkan tinggi, bagaimana sekarang? Kamu bisa bayangkan, bagai jadinya dengan Aldo kalau sampai papa mu tahu kalau selama ini Aldo telah mengajakmu ke diskotik, ke pesta, dan sebagainya? Bukan cuma Aldo saja yang bakal kena amukan papa mu, tetapi bisa bisa orang tua Aldo bakal kena labrak sama papa mu."
Nia tetap diam tak menyahut. Bahkan kemudian, dia malah bangun dari duduknya, lalu bermaksud akan pergi.
"Nia, mau kemana? Diajak ngomong malah pergi..."
"Mau mandi," sahut Nia acuh sembari meneruskan langkahnya pergi meninggalkan ruang makan dimana mamanya berada. Hal itu membuat sang mama hanya bisa menghela napas panjang sembari menyelenggarakan gelengkan kepala.
Selesai mandi dan berdandan, Nia kembali menemui mama nya.
"Ma, bagi duit dong..." pinta Nia sambil menadahkan tangannya kepada sang mama.
"Kamu mau kemana?"
"Pergi Ma."
"Pergi kemana?"
"Kenapa sih semenjak anak kampung itu berada dirumah ini, mama sekarang jadi bawel banget dan mau tahu semua urusan Nia?"
"Jaga omongan mu, Nia!"
"Kenapa emang nya? Kenyataannya memang begitu kok. Sejak anak kampung itu tinggal dirumah ini, semuanya jadi berubah. Papa dan mama lebih memihak dan membelanya, ketimbang pada Nia, putri mama dan papa sendiri. Kenapa?" jawab Nia kesal.
"Karena kamu salah, Nia."
"Nia salah apa emangnya, Ma?"
"Kamu tidak sadar akan kesalahan mu?"
"Nia merasa enggak salah."
"Oh ya?"
"Ya!"
"Yang berubah itu kamu, bukan mama dan papa. Sejak kenal dan dekat dengan Aldo, kamu berubah seratus delapan puluh derajat. Kamu yang dulu lebih suka berada dirumah, sekarang lebih suka keluyuran, ke diskotik, ke tempat pesta, dan tempat tempat malam lainnya. Bagaimana Mama dan Papa mu akan membelamu, kalau kenyataannya kamu yang sama salah?!"
"Dan satu hal lagi, kamu tak tahu berterima kasih!" tegas sang mama.
"Apa maksud mama berkata seperti itu? Mengasuh dan menyayangi anak adalah kewajiban mama dan papa sebagai orang tua Nia, Ma. Apa Mama menyesal karena telah melahirkan dan membesarkan Nia?"
"Yang mama maksud bukan berterima kasih pada mama dan papa, tapi..." sang mama menggantung kalimatnya.
"Tapi apa Ma? Lalu, berterima kasih pada siapa?"
"Parjo." tegas sang Mama memberitahu.
"Huh! Kenapa Nia mesti berterima kasih pada anak kampung itu?! Justru semestinya dialah yang harus berterima kasih pada kita, karena telah diterima dan ditampunb dirumah besar kita ini. Kalau tidak, tentulah anak kampung itu sudah menjadi gelandangan di Jakarta ini!"
"Kamu pikir, Parjo suka tinggal di sini dengan sikapmu itu? Tidak, Nia. Parjo sebenarnya juga tidak betah tinggal di sini dan melihat tingkahmu yang sombong dan congkak itu, yang tak tahu berterima kasih. Kalau tidak ada dia sewaktu kamu di rumah nenekmu, apa jadinya kamu ketika kamu digigit lintah, eh?! Kalau tidak ada dia, siapa yang akan menemani mu disana? Kamu bukannya berterima kasih atas semua kebaikan yang telah dia berikan pada mu, tetapi malah bersikap congkak yang membuat hatinya jadi sakit. Apa jadinya keluarga papa mu disana, kalau sampai tahu kelakuan mu terhadap Parjo? Kami sih tidak merasakan bagaimana perasaan orang yang telah dihina dan direndahkan. Papa mu yang sudah pernah, bahkan sering dihina dan diperlakukan tidak adil oleh orang sewaktu masih susah dan menderita waktu dulu. Tentu saja tak bisa menerima perlakuan mu terhadap Parjo. Karena Papa mu akan kembali teringat pada masa lalunya, ketika dia seusia Parjo dan masih hidup menderita. Untung saja kamu anaknya, kalau tidak... mungkin saja kamu sudah dihajar oleh papamu." tutur mama Nia panjang lebar menasehati anaknya.
"Udah, udah... Nia gak mau dengar lagi masalah anak kampung itu. Sekarang Nia minta uang. Mama mau kasih gak? Kalau enggak ya sudah, Nia selamanya tak akan minta uang lagi sama mama. Nia akan berusaha mencari uang sendiri!" tegas Nia mengancam.
"Dengan cara apa kamu mau mencari uang?"
"Cara apa aja kek. Jual diri misalnya..."
"Nia! Jaga mulutmu!" berang sang mama menahan amarah.
"Kenapa emangnya? Kalau memang mama tidak mau lagi ngasih Nia uang, ya terpaksa Nia harus cari uang sendiri. Dan karena Nia tak punya keahlian apa apa, ya jalan satu satunya jual diri..."
"Tutup mulutmu! Omongan mu semakin ngelantur saja! Benar kata papa mu, Aldo telah membuatmu jadi anak yang urakan dan tak punya tata krama serta tata susila!"
"Udha deh ma, Nia malas ribut. Sekarang mama mau kasih uang sama Nia atau tidak? Kalau gak mau kasih, ya sudah enggak usah marah marah..."
"Mama bukannya marah karena masalah uang! Mama marah karena omongan mu yang sudah tidak seperti omongan orang yang pikiran nya waras!" dengus sang mama. "Sekali lagi kamu berani ngomong ngawur seperti tadi, maka mama akan tampar mulut mu itu. Bila perlu, mama akan beritahukan kepada papa mu, agar Aldo benar benar dihajar oleh papa mu!"
"Habis, mama dimintai uang pakai ngomong yang enggak enggak..."
"Yang tidak tidak apa? Kamu sendiri yang sok mengancam. Gayanya kayak orang sudah bisa cari uang sendiri aja."
Nia hanya diam.
"Berapa yang kamu minta?" tanya sang mama.
"Tiga juga," jawab Nia enteng.
"Apa?! Tiga juta?"
__ADS_1
"Ya."
"Buat apa kamu uang sebanyak itu, Nia?"
"Untuk bekal Nia selama tiga hari."
"Memang nya kamu mau kemana?"
"Kemana aja, yang penting jauh dari rumah."
"Kenapa emangnya kalau dirumah?"
"Sudah berapa kali Nia katakan, Ma? Nia tidak suka dengan anak kampung itu tinggal disini. Kalau anak kampung itu masih disini, lebih baik Nia yang pergi dari rumah ini!" tegas Nia "Mama tinggal pilih, tetap mempertahankan anak kampunh disini dan Nia pergi dari rumah, atau mama ingin Nia tetap berada dirumah, asalkan anak kampung itu tidak disini!"
Wanita parah baya yang masih tampak muda dan cantik itu tak langsung menjawab. Dihelanua napas panjang dengan mata memandang lekat ke wajah putri semata wayangnya. Apa yang dihadapinya kini benar benar sebuah dilema. Mempertahankan Parjo tetap tinggal dirumah, putrinya mengancam akan pergi dari rumah. Tetapi membiarkan Parjo ngekost, dia juga tak enak pada orang di kampung suaminya, terutama pada kedua orang tua Parjo.
"Baiklah, Parjo yang akan pergi dari rumah ini. Dan pula, dia memang ingin keluar dari rumah ini karena dia tak enak padamu. Nah, sekarang kamu puas?"
"Mau tinggal dimana dia?"
"Itu urusannya. Lagi pula buat apa kamu memikirkannya? Bukankah kamu memang ingin dia pergi dari rumah ini?" tanya sang mama. "Jadi, buat apa kamu memikirkan dia mau tinggal dimana. Yang penting, dia tidak tinggal dirumah ini lagi kan. Dia hanya akan kemari, bila mau mengajari papa dan mama mu mengaji."
"Akh...!"
"Kenapa lagi?"
"Itu sama juga bo'ong, Ma."
"Bohong bagaimana?"
"Kalau dia kemari lagi, itu berarti dia masih menampakkan batang hidungnya disini. Padahal Nia benar benar tak ingin lagi melihat batang hidungnya!" tegas Nia.
"Tapi mama dan papa ingin belajar mengaji, Nia."
"" Kalau mau belajar mengaji, kenapa harus dia sebagai gurunya? Memang nya dia ustad?! Kalau mama dan papa mau memperdalam agama, ya panggil ustad aja kemari, bukan malah minta dibimbing oleh anak kampung itu!"
"Jadi kamu tetap keberatan?"
"Pokoknya, Nia tidak mau melihat dia lagi disini, kalau mama pengin Nia tetap ada dirumah! Kalau tidak, maka keputusan Nia sudah bulat, Nia akan pergi dari rumah!" tegas Nia tetap pada keputusan nya.
Wanita separoh baya itu kembali hanya bisa menghela napas panjang. Dia benar benar sudah tak punya alasan lagi untuk mempertahankan Parjo agar bisa datang ke rumahnya. Ya, apa boleh buat? Daripada putrinya yang minggat dari rumah, lebih baik dia mengikuti keinginan putrinya, walau hatinya sebenarnya tidak menerima keputusan Nia.
"Baiklah, kalau begitu mama harus menghubungi Papa mu terlebih dahulu."
"Kenapa harus menghubungi Papa?"
"Karena Parjo sekarang sudah bekerja dikantor Papa mu, Nia..."
"Oh my god!" ucap Nia sambil memegang pelipisnya yang berdenyut tiba tiba.
"Apa lagi? Masih salah?"
"Buat apa Papa memperkerjakan dia disana, Ma?"
"Ya Tuhan, Nia. Apa salahnya sih membantu orang yang sudah banyak berbuat baik kepada kita, terutama kepada kamu? Kamu jangan kelewatan begini terus dong, Nia. Mmaa setuju dengan keinginanmu agar Parjo tidak lagi tinggal dirumah ini. Kamu jangan terlalu menghukumnya, Nia. Memang dia salah apa sama kamu? Dia justru baik dan sayang padamu. Bahkan sepertinya, dia rela berkorban apa saja hanya untuk kebahagiaan mu. Sehingga meski Papa dan Mama terus saja berusaha mencegahnya agar tidak pergi dari rumah ini, dia tetap memutuskan untuk ngekost agar tidak tinggal dirumah ini lagi. Kasihan dia, Nia. Jauh jauh dia datang kemari hanya ingin bertemu dengan kamu, tetapi begitu dia sampai disini, sikap dan tenggapanmu kepada nya justru malah menyakitkan..."
"Salah sendiri kenapa dia datang kemari."
"Karena dia ingin bertemu dengan kamu, Nia."
"Huh! Nia gak sudi bertemu dengan anak kampung macam dia!"
Sang mama kembali hanya bisa menghela napas panjang.
"Ma... Bagi duit dong..."
"Kamu mau kemana, Nia?"
"Jalan jalan, Ma."
"Kemana?"
"Ke mall."
"Berapa?"
"Lima ratus..."
Sang mama pun tak banyak tanya lagi. Wanita separoh baya yang masih tampak muda dan cantik itu berlalu masuk ke dalam kamarnya. Sementara Nia tampak tersenyum sembari menghela napas panjang dan lega, karena akhirnya usahanya menyingkirkan Parjo keluar dari rumahnya berhasil. Tapi dia belum puas, sebelum memberi sedikit pelajaran pada cowok kampung itu. Bila perlu, dia akan menyingkirkan cowok kampung itu selama lamanya.
"Ini..." ucap sang mama sambil memberikan sejumlah uang yang diminta oleh Putri semata wayangnya tadi.
"Thanks, Ma. Nia pergi dulu ya, Ma."
"Ya. Ingat, jangan ngelantur sampai larut malam. Papa mu bisa marah nanti..."
"Iya, beres deh Ma..."
Dengan bersenandung kecil, Nia pun meninggalkan mama nya yang cuma bisa menghela napas panjang semabri menggeleng gelengkan kepalanya. Tak lama kemudian, terdengat suara deru mesin mobil Honda Jazz meninggalkan pelataran rumah mewah itu, yang berarti kalau Nia telah pergi entah kemana.
__ADS_1
***