Cinta Suci Cowok Kampung

Cinta Suci Cowok Kampung
Bab 3 // Resah


__ADS_3

Acara pesta ulang tahun Dea sudah di mulai, namun entah mengapa pikiran dan perasaan Nia tiba tiba berkecamuk tak menentu. Hati nya gelisah dan resah. Meski di bibir dia mengatakan tak kenal dengan Parjo, namun hati kecil nya membantah apa yang diucapkannya. Sebab bagaimana pun juga, dia mengenal pemuda kampung itu. Bahkan dia pernah merajut kebahagiaan bersama dengan pemuda kampung bernama Parjo itu. Lalu, kenapa dia mengingkarinya? Malu? Gengsi, karena Parjo pemuda kampung? Kegelisahan hatinya yang tak menentu, membuat Nia jadi tak bergairah sama sekali untuk mengikuti pesta yang sedang berlangsung. Akhirnya Nia pun memilih keluar dari ruang tengah rumah mewah Dea, yang digunakan sebagai tempat acara pesta ulang tahun dilangsungkan. Nia melangkah keluar rumah, menuju ke taman yang ada di samping rumah mewah itu, kemudian dia pun duduk seorang diri di taman itu.


Melihat Nia meninggalkan ruang pesta, Aldo pun akhirnya mengikuti Nia keluar dari ruangan itu, menuju ke taman dimana Nia berada. Lalu dia pun duduk di samping Nia. Aldo kemudian menghela napas panjang setelah melihat wajah Nia yang tampak agak murung, tak bergairah sebagaimana biasanya jika berada di tempat pesta seperti sekarang ini.


Ya, semenjak mereka dekat, Aldo memang sering mengajak Nia pergi ke tempat pesta. Dan selama ini, Nia senantiasa menunjukkan keceriaan serta kebahagiaan, bahkan selalu tampak bergairah. Sehingga dia senantiasa menjadi pusat perhatian yang lain. Apalagi kalau Nia sudah turun melantai semua mata akan dibuat terkesima oleh gerak dan goyang tubuhnya. Itu pula yang membuat teman teman mereka kemudian memberi gelar pada Nia sebagai RATU PESTA.


Tapi malam ini?


Setelah tadi melihat pemuda kampung yang berada di depan rumahnya, Nia tampak kurang bergairah apalagi bersemangat. Yang ada justru kelesuan dan bahkan kemurungan. Hal itu tetntu saja membuat Aldo yang juga melihat pemuda kampung itu semakin bertambah penasaran.


"Ada apa?" tanya Aldo.


"Ee ng... Enggak, gak ada apa apa kok, Al."


"Lo teringat akan cowok kampung itu?"


"Hah? Co.. Cowok yang mana?" tanya Nia balik.


"Cowok kampung yang tadi kita lihat di depan rumah lo itu."


"Huh.. buat apa gue mikirin orang yang sama sekali gak gue kenal?!" sungut Nia kesal.


"Terus, lo kenapa?"


"Gue gapapa."


"Bener lo gapapa?"


"Ya."


"Kalau gitu, kenapa lo gak gabung sama yang lain? Gak enak kan sama Dea? Padahal lo sahabat dekatnya, semestinya lo ikut bahagia dan nunjukin semangat lo, bukan malah memilih menyendiri dan menjauhi pesta. . ."


"Kepala gue agak pening." ucap Nia beralasan.


"Kalau gitu, akan gue carikan obat."

__ADS_1


"Gausah."


"Kenapa?"


"Nanti juga hilang sendiri."


Aldo hanya bisa menghela napas panjang mendengar ucapan Nia. Dia benar benar tak mengerti dan tak habis pikir dengan sikap yang ditunjukkan oleh Nia. Aldo yakin, Nia bersikap seperti itu, tentu ada kaitannya dengan cowok kampung itu. Sebab sebelumnya, Nia senantiasa bersikap cerah ceria dan lincah tanpa mengenal suasana. Apalagi dalam suasana pesta seperti sekarang ini, biasanya Nia senantiasa tampil penuh semangat dan gairah penuh canda dan tawa. Tapi sekarang? Lesu, tidak bergairah. Sepertinya ada beban pikiran yang sedang mengganggu pikiran nya.


"Nia..."


"Ya?"


"Lo tau?"


"Apa?"


"Hari ini lo benar benar berbeda dari biasanya."


"Maksud lo?"


"Bukankah udah gue bilang, kepala gue agak pening." jawab Nia.


"Hanya itu?"


"Ya. Kenapa sih lo sepertinya gak percaya dengan apa yang gue katakan?!" dengus Nia dengan wajah menunjukkan ketidak sukaan. "Udahlah Aldo, kalau lo gak percaya lagi ama gue, yaudah. Silahkan lo pergi tinggalin gue. Lo bisa cari teman lain kok.!"


"Nia... Kenapa lo berkata seperti itu?"


"Karena lo bikin gue kesel dengan ketidak percayaan lo lagi ama gue!" tegas Nia.


"Sorry.. Sorry... Gue gak bermaksud begitu. Lo mau maafin gue kan?"


Nia hanya menghelas napas panjang.


"Pliisss, Nia... Maafin gue ya? Gue janji gak bakal membuat lo kesel and sebel lagi." kata Aldo sembari mengangkat tangan kanannya dengan jari telunjuk dan jari tengah membentuk V.

__ADS_1


Nia mengangguk.


"Yaudah, yuk kita gabung. Nanti Dea nyariin kita." ajak Aldo sembari membimbing Nia agar bangun dari duduk nya.


Nia pun akhirnya menurut bangun dan membiarkan Aldo membimbing nya menuju ke ruang tengah rumah mewah itu, dimana acara pesta sedang diadakan.


"Darimana aja kalian?" tanya Dea begitu melihat Nia dan Aldo muncul. "Sedari tadi kami mencari cari lo berdua..."


"Kepala Nia agak pusing, jadi gue nemenin dia duduk duduk di taman samping rumah lo." jawab Aldo memberi alasan.


"Ada apa sih, Nia? Gue perhatiin sedari tadi lo kurang bergairah sebagaimana biasanya." tanya Dea pada Nia.


"Iya, gue juga sedari tadi perhatiin, lo gak seperti biasanya deh." timpal Liza.


"Enggak apa apa kok. Gue cuma agak pening doang." jawab Nia beralasan.


"Bener lo gak ada masalah?" tanya Dea lagi sembari memandang lekat ke wajah Nia, seakan berusaha meminta kepastian.


"Suer. . . percaya deh sama gue. Gue gak apa apa. Tadi emang kepala gue agak pening. Tapi sekarang udah sembuh kok." jawab Nia sembari tersenyum. "Aldo, yuk kita turun." ajaknya kemudian sembari menggandeng tangan Aldo. Lalu membawa cowok tampan itu menuju ke arena dansa. Lalu bagai tak ada masalah yang tengah membelit pikirannya, Nia pun menggerakkan tubuhnya mengikuti irama musik yang mengalun. Bahkan untuk meyakinkan teman temannya kalau dia tidak apa apa dan tidak ada masalah, Nia pun berusaha menunjukkan semangat dan gairah nya sebagaimana biasanya. Sehingga teman temannya pun jadi yakin dan percaya dengan apa yang dikatakannya.


"Nah, gitu dongg...!" komentar salah seorang teman cowok mereka.


"Iya! Dari tadi kek! Kalau si ratu pesta manyun, pesta pun jadi hambar rasanya!" timpal yang lain.


"Ah, bisa aja lo pada!" sahut Nia.


"Suer deh... kalau lo manyun, pesta pun jadi hambar, Nia."


"Sekarang bagaimana?" tanya Nia sembari menunjukkan aksinya sebagai seorang ratu pesta yang penuh semangat dan gairah.


"Woow. . . ! Kereeennnn. . . !" seru teman teman nya.


Kemudian mereka memberi solusi dengan cara bertepuk tangan, yang semakin membuat Nia kian bertambah bersemangat dan bergairah. Sehingga suasana pesta itu pun semakin bertambah hangat penuh gairah. Apalagi setelah beberapa teman cowok minta gantian pada Aldo untuk jojing dengan Nia. Suasana pesta pun kian terasa menggelora.


Sebutan sebagai RATU PESTA, sepertinya memang pantas disandang oleh Nia. Buktinya, dengan adanya kehadiran Nia, dia mampu membuat suasana pesta semakin bertambah meriah dan penuh gairah. Belum lagi gayanya pun semakin lincah, hangat penuh gairah.

__ADS_1


***


__ADS_2