
Eee,, e ,em, m ( jawab Alan dengan terbata - bata ) " e, apa ? " ( balas panitia MOS ) . " Eng,,,e,, enggak apa - apa kok kak " ( balas Alan dengan rasa gugup ) . " Kalau tidak ada apa - apa , kenapa kamu celingak - celinguk gak jelas dari tadi ? " ( tanya lagi panitia MOS ) , " beneran gak apa - apa kok kak " ( jawab Alan dengan tegas sambil menarik napas ). " Ya sudahlah . Kalau gitu kalau upacara di mulai enggak boleh seperti yang tadi ya , kamu harus tenang dan menikmati upacaranya sampai selsai , mengerti ? " ( pungkasnya ) " iya siap kak " ( jawab Alan ) . Kemudian , anggota panitia MOS tersebut pergi meninggalkan Alan . " Dasar panitia MOS , susah sekali dibilanginnya , kalau masih ngomong dengan nada yang terbata - bata dan masih saja ragu - ragu Dia enggak bakal percaya dan enggak bakal pergi dengan cepat " ( ucap Alan dalam hati ).
Empat puluh lima menit berlalu , upacara telah selsai , dan semuanya di perbolehkan untuk pulang . " Sehubungan , upacaranya telah selsai , kalian semua boleh pulang , ketika pulang harus benar - benar pulang , enggak usah mencari - cari alasan untuk pergi ke jalan - jalan dan bersantai sambil menggunakan seragam sekolah " ( ucap ketua panitia MOS , " pulanglah kalian , ingat besok adalah hari terakhir kalian MOS , yaitu memasuki tahap ketiga atau tahap terakhir , yaitu tahap pemilihan ketua kelas . Besok di lapangan ini kita akan mengadakan pemilihan ketua kelas " ( ucap ketua panitia ). Upacara telah selsai , namun Alan masih kebingungan mencari Indah untuk meminta maaf . " Kemana sih Dia ? dari tadi enggak pernah kelihatan , masak iya , Dia enggak masuk gara - gara apa yang aku katakan kemarin ? kalau beneran begitu bisa - bisa panjang nih masalahnya " ( pikir Alan sambil melihat suasana sekitar ) . Setelah lama mencari akhirnya Alan melihat Indah yang sudah naik mobil , dan dijemput oleh sopir pribadinya . " Hei ,, kamu , nanti dulu , tu ,, tu ,, tunggu " ( panggil Alan sambil berlari ke arah mobil Indah ). Tetapi semua yang dilakukan Alan hanyalah sia - sia saja . Nyatanya Indah tidak meresponnya dan tetap saja pulang . " Ah , sial aku kalah cepat " ( ucap Alan sambil mengelus kepalanya ) , " ya sudahlah besok - besok aku harus lebih cepat biar bisa minta maaf padanya " ( ucap Alan sambil berjalan ke tempat parkiran motor dan bersiap untuk pulang ).
__ADS_1
Karena gagal untuk meminta maaf , Alan memutuskan untuk segera kembali pulang , biar bisa langsung pergi ke sawah , untuk membantu kedua orang tuanya seperti biasanya . " Kalau sudah begini siapa lagi yang harus di salahkan , ya sudahlah aku harus segera pulang " ( ucap Alan sambil menaiki motornya ). Alan pun pulang dengan suasana hati yang kurang semangat dan kesal dengan dirinya sendiri karena telah gagal untuk mengejar Indah . Dan timbullah rasa kecewa di hatinya karena telah ngomong begitu ke Indah kemarin . " Apa iya Dia takut sama aku ya ? gara - gara kemarin itu , ah sudahlah tidak perlu disesali , sekarang yang harus aku lakukan adalah memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa mendekatinya dan meminta maaf padanya tanpa Dia menjauh dari ku " ( pikir Alan sambil membawa motor dengan tenang ).
Setelah itu Alan telah sampai di rumah . Dia kemudian mengganti seragam sekolahnya dan bersiap untuk berangkat ke sawah , dan melakukan hal biasa yang sering Ia lakukan sebelum berangkat ke sawah , yaitu menyiapkan bekal . " Owh ya , aku harus menyiapkan bekal untuk Ayah Ibu ku di sawah , namun sebelum itu Aku harus mencari kayu dulu untuk jadikan senjata . Kalau ada ular yang datang lagi aku bisa memukulnya sampai mati " ( ucap Alan sambil berjalan ke luar rumah dan melihat kiri kanannya ) . Setelah mencari selama sepuluh menit , akhirnya Alan menemukan alat yang pas untuk membunuh ular tersebut . " Nah sudah ketemu , ini yang aku cari - cari daripada , biar aku bisa langsung pergi ke sawah ' ( ucap Alan dengan sangat bahagia ).
__ADS_1
Setelah semuanya sudah siap , kini Alan mulai berangkat ke sawah untuk menyusul orang tuanya . "Oke , karena semua sudah siap saatnya pergi ke sawah . Lets go" ( ucap Alan dengan wajah senang bahagia ). Berangkatlah Alan dengan bekal dan tidak lupa dengan senjata ampuhnya untuk melawan ular yang kemarin di lihatnya . Sepanjang perjalanan Alan trus memperhatikan sekitaran rumput . Berharap ular tersebut datang melintas di depannya , dan merasakan senjata yang Dia bawa . " Ini ularnya kemana sih ? , giliran aku bawa senjata Dia tidak muncul , coba aja kalau Aku enggak bawa senjata pasti Dia sudah muncul dari tadi " ( ucap Alan dengan sedikit kesal ), ya sudahlah aku lanjutkan saja perjalanan ku dan aku harus tetap membawa senjata ku ini , siapa tahu nanti ada apa - apa di depan ,biar aku langsung bisa memukulnya , hehe ( ucap Alan sambil tertawa kecil ).
Jam makan siang telah tiba , Alan pun mengeluarkan bekalnya dan membagikannya . " Yah , Bu , Alan bawakan bekal nih , dijamin bekal kali ini mash tersusun rapi , enggak kayak yang kemarin ,hehe " ( ucap Alan sambil membuka bekalnya ) . Dan benar saja setelah di buka , bekalnya masih tersusun rapi tanpa ada yang tercampur seperti kemarin . " Bagus kan Bu ? " ( tanya Alan ke sang Ibu ) " iya nak , bagus kok , kamu menyusunnya sangat rapi dan bagus , tidak ada yang tumpah sedikit pun , Ibu bangga sama kamu , karena kamu telah menepati kata - kata mu yang kemarin " ( jawab sang Ibu sambil memperlihatkan sang Ayah ) , " ya sudah, ayo kita makan saja tanpa banyak bicara lagi , Ayah sudah lapar nih " ( jawab sang Ayah sambil mengelus perutnya ).
__ADS_1
Mereka pun langsung menyantap bekal tersebut . Suasana makan di sawah benar - benar berbeda. Mempunyai suasana yang spesial banget , yang mana membuat seseorang merasakan nikmatnya makan daripada ketika berada di rumah . Walaupun makanan yang di bawa biasa - biasa saja, namun ketika dimakan di sawah , rasanya sangat luar biasa sekali , bisa menambah nafsu makan orang .Apalagi dengan di barengi angin sepoi - sepoi , semakin menambah suasana begitu mengasyikkan , dan membuat semakin betah berada di sana.
Makan siang telah terlewatkan . Mereka asyik mengobrol dan bercanda . Kemudian sang Ayah menceritakan kehidupannya yang lalu . "Dulu , ketika Ayah dilahirkan , pada zaman yang belum semaju ini. Dulu hp cuman ada untuk orang kalangan besar dan penting saja . Sekarang malah semua orang bisa membelinya dan memilikinya , dan bahkan sekarang bisa melihat orang yang jauh dengan kita . Tidak hanya mendengar suaranya saja , sekarang apapun yang Dia lakukan bisa kita lihat melalui hp saja . Dulu ketika ada berita apa - apa selalu lewat radio dan cuman dengar suaranya saja , namun sekarang dengan adanya tv kita bisa melihatnya langsung dan merasakan apa yang mereka rasakan . Namun sungguh di sayangkan dengan zaman yang sekarang , zaman yang penuh teknologi . Semuanya dipermudah , bukan hanya yang membantu tapi yang merugikan juga banyak , contohnya saja , penipuan dan masih banyak lagi . Oleh karena itu , kita sebagai penggunanya harus bisa memanfaatkannya dengan sebaik mungkin" ( ucap sang Ayah sambil mengingat masa - masa lalu ) " iya Ayah " ( jawab Alan ) " Yah sebenarnya Alan mau ngomong sesuatu sama Ayah , tapi Alan tidak mau merepotkan Ayah Sama Ibu " ( ucap Alan dengan sedih ).
__ADS_1