Cinta Tentang Ketidakmampuan

Cinta Tentang Ketidakmampuan
BAB 9 ALAM KHAYALAN BAGIAN LIMA


__ADS_3

" Mau ngomong apa Nak ? , ngomong aja enggak perlu malu sama Ayah " balas sang Ayah " . " Gini yah , sebenarnya Alan mau minta uang untuk belikan kartu ku pulsa , udah masuk masa tenggang kartu Alan Yah , dan aku enggak bisa tahu info apa - apa yang ada di sekolah , karena pihak sekolah mengharuskan kita mempunyai hp untuk mengetahui seputar informasi terbaru dari pihak sekolah. Seperti kemarin Alan tidak tahu ada info terbaru mengenai MOS , jadi Alan kebingungan " ( jawab Alan sambil malu - malu ). " Oh , gak apa - apa kok nak , kenapa enggak ngomong dari kemarin ? agar Ayah langsung kamu uang buat beli pulsa dan isi kouta " ( balas sang Ayah sambil memegang pundak Alan ) " hehe , Alan Enggak enak sama Ibu Yah , ini aja nunggu Ibu tidur dulu , baru aku ngomong sama Ayah , karena Ayah tahu sendiri , kalau Aku ngasih tahu Ibu , pasti langsung repot minjam sana sini , seperti kemarin- kemarin" ( ucap Alan ) . " Itukan kemarin Nak , sekarang Ayah sudah punya uang , hasil jual padi kemarin . Alasan Ayah belum ada duit kemarin , karena tempat Ayah menjual padi , belum ngasih Ayah uang nya makanya Ayah enggak punya uang " ( ucap sang Ayah sambil mengeluarkan uang dari dompet ).


Alan pun diberikan uang untuk membeli pulsa dan kouta . Sedangkan sang Ibu nampak kecapekan dan masih tertidur pulas . Alhasil pekerjaan mengusir burung mereka lakukan berdua saja , dikarenakan tidak mau mengganggu istirahat sang Ibu .


Tiga jam berlalu , sang Ibu akhirnya terbangun dan melihat sekitarnya pada sepi dan enggak sekarang sudah jam berapa . Sang Ibu langsung melihat matahari dan langsung terkejut , ternyata sudah sore . Kemudian sang Ibu melihat kiri kanan , dan melihat sang Ayah dan Alan bersama - bersama untuk mengusir burung. Tanpa diduga kalau hari ini burung yang datang lebih banyak dari hari kemarin , sehingga harus dua orang yang turun tangan untuk mengusir burung - burung tersebut . Ketika melihat keluarga kecilnya sedang berjuang bersama - sama , seketika sang Ibu langsung ikut untuk mengusir burung - burung tersebut .

__ADS_1


" Tega ya kalian meninggalkan Ibu sendirian , dan tidak membangunkan ku . Padahal kalian tahu , kalau hari ini burungnya semakin banyak dari kemarin , apalagi kalau sudah sore - sore begini " (ucap sang Ibu sambil menghampiri mereka ) , " bukan begitu Bu , kami membiarkan Ibu sendirian tertidur dan tidak membangunkan Ibu , karena kami tidak enak untuk membangunkan Ibu yang tertidur sangat pulas dan terlihat sangat lelah sekali " ( jawab Alan ) " benar tuh Bu kata anak kita " ( ucap sang Ayah membenarkan ucapan Alan ) " ya sudah , kali ini Ibu maafkan kalian berdua , tapi kalian harus janji lain kali , apapun itu kita harus menghadapinya bersama - bersama . Karena kita adalah keluarga , keluarga itu tidak boleh meninggalkan satu sama lain " ( ucap sang Ibu ), " iya Bu , kami janji , kami tidak akan meninggalkan Ibu sendirian lagi , ya kan Yah ? " , ( jawab Alan sambil memandang sang Ayah ) " setuju " ( jawab sang Ayah dengan semangat ).


Hari ini yang begitu melelahkan . Tapi ketika dikerjakan secara bersama - bersama dan ikhlas maka semuanya begitu mudah dan terasa indah . Itulah yang diterapkan di keluarga kecil Alan . Selalu melakukan pekerjaan bersama - sama . Mereka selalu kompak dan tampak bahagia . Bagi mereka tidak ada pekerjaan yang sulit dan berat , ketika dikerjakan secara bersama - bersama.


Jam sudah menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh lima menit . Tiba waktunya untuk pulang . " Nak sudah jam berapa sekarang ? kelihatannya sudah mau magrib " ( tanya sang Ayah ) , " Sekarang jam lima lebih tiga puluh menit Yah " ( jawab Alan sambil melihat jam di hp ) , " ya sudah ayo kita pulang , biar kamu bisa beli pulsa secepatnya dan biar tau informasi apa saja yang baru di sekolah " ( ucap sang Ibu sambil membereskan semua barang - barang bawaan ) , " kok Ibu bisa tau ? Alan mau isi pulsa Bu ? " ( balas Alan ), tadi Ayah mu yang membisiki Ibu " , ( jawab sang Ibu sambil menunjuk sang Ayah ) , " owh , pantas saja Ibu bisa tau " ( jawab Alan sambil melihat Ayahnya ) , " sudah - sudah malah ngomong trus , nanti enggak jadi untuk pulang , yang ada malah ngobrol trus sampai magrib di sini " ( ucap sang Ibu sambil menarik kedua tangan mereka untuk pulang ).

__ADS_1


Sepuluh menit berlalu . Mereka akhirnya sudah sampai di rumah . Sesampainya di rumah , Alan kebingungan antara mandi dulu atau isi pulsa dulu . " Ini bagaimana iya ? mandi dulu atau pergi isi pulsa dulu . Kalau aku isi pulsa dulu enggak enakan ke konter belum mandi dan masih bau keringat . Tapi kalau aku mandi dulu entar aku di marahi sama Ibu ku , aku juga sudah berjanji sama Ibuku masak harus aku ingkari . Lagian aku enggak mau bikin Ibu marah lagi gara - gara aku . Hari ini Ibu sangat kecapekan tidak seharusnya aku membuat Ibu marah lagi dan menambah beban pikirannya . Ya sudahlah , telah aku putuskan kalau aku harus pergi isi pulsa. Lebih baik di katakan jorok daripada membuat Ibuku marah " ( ucap Alan sambil berjalan ke konter hp ).


Jarak dari rumah Alan dan konter Hp tidak terlalu jauh , hanya saja Alan malas keluar rumah . Apalagi kalau malam , karena takut membuat orang tuanya khawatir . Sesampainya di konter hp Alan kemudian mengantri untuk mengisi pulsa, dan kebetulan hari ini ada dua anak gadis yang sedang isi pulsa juga . " Hadeh , kok malah ada cewek sih ? , tapi enggak apa - apa sih , masih cantik kan Indah daripada mereka berdua " ( ucap Alan dalam hati ) . Kemudian kedua gadis tersebut melihat Alan yang sedang menunggu di luar . " Tuh ada cowok , tapi belum mandi , hahaha" ( ucap kedua gadis tesebut sambil tertawa dan langsung beranjak pergi ) " enggak apa - apa kali walaupun aku belum mandi , apa hubungannya dengan kalian ?" ( jawab Alan sambil berjalan masuk ) .


Setelah berhasil isi pulsa , Alan pun langsung pulang . Alan sangat menjaga perasaan orang tuanya .Walupun sudah pasti mereka sudah tahu kalau Ia pergi isi pulsa . Tapi tetap saja enggak enak kan dan takut sama orang tuanya . " Saatnya pulang untuk pulang, entar kalau aku enggak pulang , bisa - bisa mereka khawatir dan mencari ku kemana - kemana . Walupun mereka sudah tahu kalau aku beli pulsa , tapi tetap saja aku takut kalau mereka bakal nyariin aku " ( ucap Alan sambil bergegas pulang ).

__ADS_1


Tidak lama kemudian , Diapun sampai di rumah , dan melihat sendal kedua orang tuanya. Karena Dia takut kalau mereka mencarinya. Tapi tenyata mereka masih di rumah . Sang Ibu yang sibuk di dapur dan sang Ayah yang sibuk membantu sang Ibu untuk menyiapkan makan malam. " Eh , kompak sekali Ayah sama Ibu " ( ucap Alan ) . "Iya dong , keluarga itu harus tetap kompak dan sebagai pasangan suami istri harus selalu akur dan romantis . Tidak seperti kalian yang romantis pada saat pacaran saja , pas sudah nikah sudah menikah tidak ada lagi kata romantis. Yang ada malah bertengkar trus . ( Ucap sang Ibu sambil menatap sang Ayah ) , " Nah benar kata Ibu mu , betul sekali " ( balas sang Ayah ). " Alan kan enggak pernah pacaran , dan enggak tau kalau yang sudah nikah itu mereka berbeda pada saat pacaran dan menikah. Aku kira bakal selalu romantis dan enggak pernah berantem ( jawab Alan ) " Enggak semua sih gitu , tapi rata - rata anak zaman sekarang itu kalau sudah nikah ya begitu tingkah mereka . Anak Ibu kalau suatu saat menikah , jangan sekali - sekali kamu menyakiti perasaan istrimu iya , karena tugas seorang itu lebih berat dan lebih banyak daripada laki - laki. Walaupun semua tanggung jawab diambil oleh laki - laki yang sebagai kepala keluarga. Kamu harus ingat ya nak . Tanpa seorang istri keluarga mu gak bakalan lengkap . Dan bakal terasa hambar " ( ucap sang Ibu ) " siap Ibu " ( jawab Alan dengan lantang ) . Mendengar jawaban dari anak mereka yang begitu bersemangat . " Semangat sekali kamu ketika mendengar ucapan Ibu tentang istri , apa jangan - jangan kamu sudah mau menikah ya? ( ucap sang Ibu ) , " Hmmm, hehehe " ( ucap Alan malu - malu ). " Hayo loh ngaku sama Ibu dan Ayah , apa benar kamu mau menikah ? " ( tanya sang ibu sambil melihat Alan )


__ADS_2