Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Happy anniversary sayang.


__ADS_3

Hari berganti hari, dan sekarang adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Alena. Dimana hari ini adalah perayaan anniversary pernikahannya dengan Daven yang ke-6.


Hari Daven kembali bangun lebih awal dari Alena.Dia tersemyum memandang wajah istrinya yang kalau sedang tidur like an angel.Sebelum beranjak dari tempat tidur, Daven mengecup sekejap kening Alena, lalu dia mulai melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Daven hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 30 menit untuk membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Dia keluar dengan hanya seutas handuk yang melilit di pinggangnya.


"Good morning! Kamu sudah bangun sayang?" sapa Daven yang melihat kalau Alena ternyata sudah bangun,dan bahkan sudah menyiapkan pakaian kerjanya di atas ranjang.


"Hmm, kenapa pagi ini kamu sepertinya cepat bersiap untuk berangkat kerja sayang?" ekor mata Alena menyipit, penasaran.


"Ada banyak yang harus aku kerjakan hari ini sayang! Dan harua diselesaikan hari ini juga." sahut Daven yang masih terlihat sibuk untuk merapikan rambutnya.


"Oh, begitu?__Hmm, apa kamu akan pulang cepat malam hari ini sayang?" Tanya Alena was-was sembari memasang dasi untuk Daven.


"Aku kurang tahu sayang! tapi akan aku usahakan nanti untuk pulang cepat. Aku berangkat dulu ya! kamu mandi dulu, dan tidak perlu mengantarkanku ke depan." Daven mencium kening Alena dengan lembut,lalu mengayunkan langkahnya, keluar dari kamar.


"Hmm, apa Daven benar-benar tidak mengingat hari apa sekarang? kenapa dia sepertinya tidak perduli, dan bahkan tidak mengucapkan apapun padaku?" batin Alena sedikit sedih.


"Hmm, gak pa-pa lah! bukannya itu makin bagus? jadi surprise aku nanti akan lebih bagus jadinya." Alena kembali bahagia.


Seharian Alena sibuk mendekor kamarnya, agar terlihat lebih romantis. Berkali-kali dia melihat ke arah ponselnya, berharap Daven menghubunginya,tapi sampai jam 4 sore begini, Daven tidak menghubunginya sama sekali, bahkan pesannya tidak dibalas oleh suaminya itu.


"Apakah Daven benar-benar sibuk hari ini? tapi, biasanya sesibuk apapun dia, pasti tidak pernah lupa kasih kabar dan nanyain aku? apa pekerjaannya sekarang sudah lebih penting dariku?" mungkin karena kondisi lagi hamil, sehingga mood Alena berubah-rubah.Tiba-tiba Sedih, sebentar lagi sudah senang lagi. Hampir setiap jam perubahan moodnya selalu berubah-rubah.


Pukul 5 sore, dibantu oleh Bibi Emma, akhirnya kamar mereka sudah selesai didekorasi dengan sangat indah, sesuai dengan karakter Daven yang lebih menyukai warna-warna yang tidak mencolok, seperti Hitam, abu-abu dan silver.


"Nona, sepertinya ada yang membunyikan bel, aku mau lihat dulu siapa yang sedang datang!" Bibi Emma nyaris sampai di depan pintu, tapi langsung ditahan oleh Alena.


"Aduh, Bi, bagaimana kalau yang datang itu Daven? aku belum mandi Bi." Alena terlihat menggigit bibirnya, dan meremas-remas kedua tangannya, karena merasa gugup.


"Hmm, Nona Alena mandi saja sekarang! seandainya itu memang Tuan Daven, nanti akan saya coba untuk menahannya di bawah, sampai Nona Alena selesai mandi dan berhias." Bibi Emma menerbitkan seulas senyuman di bibirnya, untuk menenangkan Alena.


"Baik, Bi! terima kasih!" Alena menutup pintu setelah Bibi Emma sudah beranjak. Lalu dia langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi.

__ADS_1


...----------------...


"Bi, mana Alena?" tanya Andrew ketika selesai berbasa-basi sedikit dengan Bibi Emma.


"Nona Alena sedang mandi Tuan! apa Tuan sendiri? dimana Tuan Daven?" Bibi Emma mengerdarkan tatapannya melihat kearah belakang Andrew untuk mencari keberadaab Daven.


"Daven belum bisa pulang Bi. Aku kesini mau menjemput Alena untuk makan malam dengan Mamah dan Papah, karena besok mereka mau kembali ke Kanada. Bisa Bibi panggilkan Elena?"


"Baik, Tuan!" Bibi Emma nyaris melangkahkan kakinya, tapi langsung berhenti ketika Andrew memanggilanya kembali.


"Bi, tolong sekalian kasih ini buat Alena! suruh dia pakai ini.Karena Jenni juga pakai yang seperti ini."Andrew menyerahkan sebuah kantong kertas, yang berisi sebuah dress yang harus dipakai oleh Alena.


Bibi Alena menerima kantongan itu dari tangan Andrew dan langsung beranjak menuju ke kamar Alena.


Alena beranjak membuka pintu, dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya, karena mendengar suara Bibi Emma yang memanggilnya.


"Siapa yang datang Bi? bukan Daven ya?"


"Bukan, Non! yang datang Tuan Andrew, yang mau menjemput Nona Alena, makan malam dengan orangtuamu, karena besok, Tuan Charles dan Nyonya Hanna akan kembali ke Kanada Nona Alena."


"Kalau untuk itu saya kurang tahu,Non.nanti coba tanyakan sendiri pada Tuan Andrew!" Alena menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Bibi Emma.


"Oh ya, Non, ini ada pakaian yang Tuan Andrew berikan, katanya kamu harus pakai ini, karena Nona Jenni juga memakainya." Bibi Emma menyerahkan kantongn yand ada di tangannya.


"Oh,Ok Bi! terima kasih!" Alena kembali menutup pintu, setelah Bibi Emme berlalu.Lalu dia pun membalutkan mini dress berwarna baby pink kesukaannya.Lalu dia mulai merias wajahnya dengan riasan yang sangat sederhana.Dia juga membiarkan rambut pirangnya yang panjang tergerai begitu saja. Setelah selesai dengan dandannya dia pun mematut kembali penampilannya, di depan cermin dengan senyuman yang tidak pernah memudar dari bibirnya.



Alena kini sudah merasa puas dengan penampilannya, lalu diapun turun kebawah untuk menemui Andrew.


"Ka, apa Daven nanti juga akan ada di sana?" tanya Alena langsung, begitu dia sudah tiba di bawah.


"Katanya dia akan menyusul kita kalau pekerjaannya sudah selesai." sahut Andrew.

__ADS_1


"Oh, begitu? apa hari ini pekerjaan Daven sangat banyak sehingga untuk memberikan kabarpun tidak sempat?" wajah Alena kembali muram.


"Iya Alena, ada satu proyek yang harus diselesaikan secepatnya. Jadi,kamu tidak usah sedih begitu.Ayo kita berangkat!" senyum Andrew terbit, dan meraih tangan Alena untuk mennuntunya melangkah keluar.


Setelah hampir setengah jamndi perjalanan, akhirnya mereka tiba di suatu tempat yang terlihat sangat sepi dengan sebuah karpet merah yang memanjang menuju suatu tempat.


"Ka Andrew, dimana semua orang? kok sepertinya sepi?" Alena mengedarkan tatapannya melihat ke semua arah


"Hmm, mereka ada di sana! sekarang kamu pergi duluan ke sana, soalya aku mau ke toilet sebentar! Andrew melangkah meninggalkan Alena, seakan -akan pergi ke arah toilet.


Alena tiba-tiba tersemyum ketika melihat sosok Daven suaminya sudah berdiri agak jauh di depannya, sembari menatap dirinya dengan penuh cinta.




Alena mengayunkan kakinya melangkah ke arah Daven, dengan senyuman yang selalu menghiasi bibirnya.Karena terlalu gugup, hampir saja Alena terjatuh, tapi untungnya dia masih bisa menahan tubuhnya untuk tidak jatuh.



Anggap saja tidak ada orang dibelakang ya gais.


"Hai Sayang, welcome to our romantic diner ( selamat datang ke makan malam romantis kita)." Ucap Daven, yang membuat kedua netra Alena membulat.


Daven menuntun Alena masuk ke sebuah tempat yang sudah didekor dengan sangat indah. Manik mata Alena seketika berkilat-kilat karena sudah penuh dengan cairan bening yang siap ditumpahkan dari wadahnya. Dia merasa kagum dengan pemandang yang disuguhkan di hadapannya.




"Happy anniversary ya Sayang!" bisik Daven, memeluk Alena dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Alena.


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa buat ninggalin jejak ya gais.Please like, vote dan komen. Kasih hadiah juga boleh ya gais๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2