
Hellena dan Jhon sangat prihatin melihat kondisi James putranya yang mengenaskan.Helena sudah berkali-kali membujuk James agar mau makan, tapi sedikipun James tidak menyentuh makanan itu.
James berjalan keluar dari kediamannya untuk menenangkan dirinya.Dia tidak mau diikuti oleh siapapun ,walau Mamah dan Papahnya sudah menyarankan agar James pergi dengan pengawal.
Tempat pertama yang dia kunjungi adalah rumah Alena dulu, walaupun dia tahu, kalau Alena tidak akan mungkin ada di sana lagi. James hanya puas melihat dari jauh saja. Lalu dia kembali, mengemudikan mobilnya ke arah toko kue Alena yang terlihat sudah tutup.
"Maafkan aku Alena! " bisiknya lirih. " Aku janji tidak akan mengganggumu lagi, dan kamu memang pantas bahagia dengan Daven!" sambung James berbisik kembali pada dirinya sendiri.
James memarkirkan mobilnya di sebuah taman. Taman yang dulu sering dia kunjungi bersama Alena. Dia membaringkan tubuhnya di atas sebuah kursi besi sambil menutup wajahnya dengan sebelah tangannya.
Tanpa disadarinya dia pun terlelap, mungkin karena terlalu lelah, dan hampir semalaman tidak tidur. Tampak dua orang laki-laki berbadan besar, yang ternyata sudah menguntitnya dari tadi, menghampiri tempat dimana James tertidur.
Dengan perlahan dan hati-hati dan mata yang celingak -celinguk,untuk memastikan ada orang atau tidak, tangan salah satu dari mereka terlihat masuk ke saku mantel yang dipakai oleh James, untuk mengambil dompetnya.
"Woi, berhenti! kalian mau maling ya?" teriak seseorang, yang dapat dipastikan kalau pemilik suara itu adalah seorang perempuan.
Dua orang laki-laki tadi sangat kaget sehingga dompet yang sudah sempat mereka ambil terjatuh ke tanah, dan mereka langsung berlari karena melihat tubuh James sudah bergerak.
James sontak terduduk dan melihat seorang gadis yang memungut dompetnya.
"Tuan, ini dompet anda! Kalau boleh Tuan jangan tidur di sini lagi, soalnya disini banyak malingnya." ujar gadis itu sembari menyerahkan dompet berwarna hitam itu ke tangan James.
"Terima kasih! " James, terlihat membuka dompetnya dan melihat isi dompetnya masih utuh.Dia menarik semua uang cash yang dia miliki keluar, dan memberikannya pada wanita itu.
" Nih, buat kamu! kamu ambil saja semuanya!" James meletakkan uang itu ditangan gadis itu.
Gadis itu tampak mengrenyitkan alisnya , bingung dengan maksdud James memberikan dia semua uangnya.
"Maaf, untuk apa Tuan memeberikan aku, uang sebanyak ini?" gadis itu terlihat mengrenyitkan keningnya.
"Itu buat kamu dan komplotanmu tadi." ucap James yang membuat gadis itu semakin bingung.
"Maksud anda?"
__ADS_1
"Aku tahu, kalau kamu pasti satu komplotan dengan dua laki-laki tadi. Kamu pura-pura menolong, untuk mendapat imbalan kan?" ucap James sambil menyeringai sinis.
"Maaf Tuan, anda salah paham! Aku memang tidak sekaya anda, tapi aku bisa mencari uang dengan cara yang baik, bukan dengan cara yang licik seperti ini." Tutur gadis itu, berusaha menahan amarahnya. " Ini uang anda, aku kembalikan.Aku tidak butuh itu," gadis itu meletakkan uang itu kembali ke tangan James, lalu memutar tubuhnya, berlalu meninggalkan James yang mematung.
********
Daven dan Andrew kembali kedalam penyelidikan siapa dalang yang membuat perusahaan Murpy yang ada di London,hampir collaps
Daven benar-benar ingin segera menyelesaikan masalah ini, agar bisa segera membawa pulang Alena dan Dean ke Irlandia.
Kembalinya Alena membawa dampak positif buat Daven.Pikirannya bisa bekerja dengan baik. Sehingga dalang dari pembuat masalah itu mulai mengerucut pada satu orang.
"Brengsek, ternyata dia orangnya! Dasar orang tidak tahu berterima kasih!" umpat Daven geram.
"Jadi, apa tindakan kita selanjutnya Tuan? " tanya Andrew."
"Hmmm, sepertinya kita harus menjebaknya terlebih dahulu! Biarkan dia mengaku dengan sendirinya." sahut Daven sembari menyeringai sinis.
Andrew meraih telepon yang terletak di atas meja, dan memanggil orang yang dimaksud Daven.
5 Menit kemudian, terdengar ketukan pintu dari luar. Daven dan Andrew yakin kalau yang datang itu adalah orang yang yang mereka tunggu ke hadirannya.
"Masuk! " teriak Daven.
" Siang, Tuan Daven, ada yang bisa aku bantu?" orang tersebut bertanya, tanpa berani menatap mata Daven yang tajam.
"Hmm, aku cuma mau bilang Paman Gery kalau perusahaan ini akan dipindahkan ke Irlandia, karena tidak memungkinkan lagi untuk tetap berada di sini. Kemungkinan Paman tidak akan bekerja lagi di sini." ujar Daven untuk melihat reaksi Gery
" Kok begitu Tuan? kalau kita berhenti beroperasi di sini, itu berarti kita akan mengeluarkan makin banyak uang, untuk membayar pesangon para karyawan, berharap Daven memikirkan ulang keputusannya.
"Paman Gery tidak usah pusing untuk memikirkan hal itu, aku masih punya cukup uang, kalau hanya sekedar membayar pesangon buat mereka," ucap Daven, yang membuat Gery semakin pucat. Karena bila perusahaan ini benar-benar berhenti beroperasi, itu berarti dia akan kehilangan ladang uangnya.
"Bahkan kalau masih kurang, kita juga bisa menjual aset-aset Paman, mobil bugatti Divo Paman mungkin!" Daven terlihat sangat santai, sedangkan Gery semakin pucat dan gemetaran.
__ADS_1
"Darimana, Tuan Daven tahu, kalau aku punya mobil jenis itu? aku kan tidak pernah memakainya ke kantor.Atau jangan-jangan Tuan Daven sudah mulai curiga padaku!" batin Gery.
"Kenapa Paman diam saja? Paman tidak keberatan kan kalau mobil mewah paman itu,kita jual buat menutupi kerugian perusahaan? Sekalian juga dengan apartemen mewah paman. " ucap Daven yang membuat jantung Gery semakin berdetak lebih kencang.
"Apa maksud anda Tuan? aku tidak mungkin memiliki aset yang seperti itu." Gery berusaha mengelak.
Mendengar ucapan Gery membuat, Daven murka.Dia menatap tajam ke arah Gery dengan manik mata yang berkilat-kilat.
"Andrew, sepertinya Paman Gery, perlu melihat berkas-berkas yang ada di tanganmu!" Daven mengalihkan tatapannya ke arah Andrew.
Andrew yang mengerti makna ucapan dan lirikan Daven, langsung mengahapiri Gery yang semakin terlihat pucat.
Kedua netra Gery membulat dengan sempurna, begitu melihat berkas-berkas yang ada di tangan Andrew, yang berisi semua bukti-bukti penggelapan uang yang dilakukannya.
"Paman Gery, anda tidak bisa mengelak lagi, semua bukti sudah ada. Anda akan kami jebloskan kepenjara dan semua aset paman akan kami sita.
Gery sontak menjatuhkan dirinya, berlutut di depan Gerald . " Tuan ampuni saya! Anda boleh mengambil semua asetku, tapi tolong jangan jebloskan aku ke dalam penjara," mohon Gery.
"Maaf ,Paman! aku tidak bisa lagi mentolerir kesalahan Paman ini.Anda terlalu terlena dengan jabatan yang telah aku berikan,dan Paman sudah menyalah gunakannya. Aku sangat kecewa pada Paman. Sekarang Paman silahkan keluar dari ruangan ini, Cepatttt!" kali ini suara Daven sudah meninggi.
Gery masih berusaha untuk memohon, akan tetapi Daven benar-benar sudah tetap pada keputusannya. Mau tidak mau akhirnya diapun berjalan dengan gontai keluar dari ruangan Daven.
Sepeninggal Gery , Daven pun memerintahkan Andrew untuk menyuruh seseorang untuk mengurus semua aset-aset Gery, baik aset yang bergerak maupun yang tidak bergerak .
"Andrew akhirnya urusan kita sudah selesai, waktunya kita pulang! "ucap Daven sambil berdiri dari kursi singgasananya.
"Bukankah ini masih terlalu siang untuk pulang Tuan?" tanya Andrew bingung.
"Tidak! justru bagiku, ini sudah terlalu lama. Aku benar-benar sangat merindukan Alena sekarang. Dia sangat menggemaskan," Daven berjalan mendahului Andrew sambil tersenyum-senyum.
Tbc.
Please like, vote dan komen ya gais.Thank you
__ADS_1