
Daven menghamburkan semua benda-benda yang ada di meja kantornya. Matanya berkilat-kilat dan wajah yang sudah memerah. Manik berwana perak itu, kini berubah gelap karena tertutup dengan amarah yang amat sangat, yang sudah sampai ke ubun-ubun.
Di lantai kini berserakan photo yang membuat emosi Daven meluap. Dimana di dalam photo itu nampak Alena sedang tidur bersama dengan laki-laki yang tidak dia kenal sama sekali.
Dengan nafas yang memburu, dia mengutip kembali photo-photo itu, dan keluar dari ruangannya dengan tatapan yang masih gelap.
Tujuannya cuma satu, pulang ke rumah dan menanyakan kebenaran pada photo itu.
*******
"Hai, Alena, apa kabar? kamu masih ingat aku kan?" Brianna tersenyum sinis ke arah Alena.
"Bukannya kamu Nona Brianna?" sahut Alena sembari menyipitkan matanya.
"Sepertinya ingatan kamu masih bagus Nona Alena." masih dengan senyuman sinisnya.
"Apa tujuan kamu datang ke rumahku Nona Brianna?" Alena kelihatan tenang, sehingga menimbulkan kerutan di kening Brianna yang melihat Alena terlihat santai.
"Kamu terlihat sangat santai Nona Alena, tidakkah kamu tahu, kalau Daven sekarang pasti sudah menerima photo-photo bukti perselingkuhanmu."
"Aku tidak pernah berselingkuh dari Daven Nona Brianna.Atau jangan-jangan itu adalah rencana licik anda?" tanya Alena dengan tatapan menyelidik.
"Kalau iya Kenapa? aku yakin, Daven pasti akan menceraikanmu setelah melihat photo-photo itu.Dan aku yang akan menggantikan posisimu." Brianna berucap dengan angkuh dan penuh percaya diri.
"Aku rasa Daven tidak akan mudah percaya dengan hanya melihat photo-photo itu." Alena masih berusaha untuk bersikap santai.
__ADS_1
"Hahahaha, kamu terlalu naif, Alena. Bagaimana mungkin dia tidak percaya, kalau photo-photo itu nyata, anda hilang pada acara itu dan bahkan tidak pulang ke rumah malam itu."
Alena terdiam, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sedangkan Brianna tersenyum puas melihat Alena yang bungkam.
Tiba-tiba Brianna menyemprotkan sesuatu ke matanya, sehingga menyebabkan air matanya ke luar dan mengacak-acak rambutnya sendiri, lalu meneteskan sesuatu yang berwarna merah di bibirnya. Alena bingung dan tidak mengerti apa maksud Brianna melakukan hal seperti itu.
Brianna tiba-tiba menarik tangan Alena dan meletakkannya di atas kepalanya, lalu dia menjatuhkan dirinya di lantai seolah-seolah Alena sedang menganiayanya.
"Alena apa yang kamu lakukan? kenapa kamu melakukan ini semua padaku? apa salahku.Aku hanya ingin memberitahukan Daven masalah perselingkuhanmu, kenapa kamu jadi marah dan memperlakukan ku seperti ini?" Brianna langsung berpura-pura menangis dan ber-akting seakan-akan Alena sedang menyiksanya, saat dia mendengar bunyi mobil yang baru datang, dan dia yakin kalau itu adalah Daven.
"Alenaaaa! Apa yang kamu lakukan?" suara menggelegar, terdengar membentak Alena, sehingga membuat Alena kaget dan menatap Daven yang ternyata sudah berdiri di pintu masuk dengan sorot mata yang sangat menakutkan.
"D-Daven! a-aku gak melakukannya, dia sendiri yang membuat dirinya seperti itu." ucap Alena gemetaran.
Brianna berdiri dan dengan sedikit berlari dia menghampiri Daven.Dia mencengkram lengan Daven dengan erat, lalu bersembunyi di belakang tubuh Daven, dengan wajah pura-pura ketakutan.
"Tuan Daven tolong aku! istrimu sangat kejam. Lihat, dia menyiksaku sampai seperti ini.Padahal maksud aku baik, untuk memberitahukan kamu tentang sifat dia yang sebenarnya." ucap Brianna sambil tetap menangis untuk semakin menyempurnakan sandiwaranya.
"Ka Daven, jangan percaya pada dia. Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya sama sekali." Alena berusaha meyakinkan Daven.
"Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri, tapi kamu masih berani menyangkal Alena? Dan kamu lihat ini! apa kamu masih berani untuk menyangkalnya?" Daven melemparkan photo-photo yang ada di tangannya ke wajah Alena.
"Dan kamu percaya dengan semua ini Ka Dave? Ini semua rencana Nona Brianna, yang menginginkan kita berpisah.Aku tidak tahu-menahu dengan semua yang terjadi.Aku bahkan tidak mengenal siapa laki-laki dalam photo itu." Alena masih berusaha meyakinkan Daven.
"Tapi, kenapa ketika aku bertanya kemana kamu malam itu, kamu bilang kalau kamu ketiduran di panti? hah?!"
__ADS_1
"Itu karena aku tidak mau kamu berpikiran macam-macam Ka!" Alena mulai menangis.
"Aku kira, kaka tidak akan percaya begitu saja, hanya karena photo saja, mengingat apa yang sudah terjadi pada kita selama 5 tahun ini. Aku yang mempertahankan anakmu dan bahkan untuk mencintai James saja aku susah, apa itu tidak bisa kamu jadikan pertimbangan, untuk tidak mempercayai apa yang dikatakan Nona Brianna?" Sambung Alena kembali.
Daven, tidak bergeming,mendengar semua ucapan Alena, yang menurutnya sangat masuk akal. Melihat Daven yang terdiam membuat hati Brianna merasa was-was, kalau-kalau Daven mempercayai ucapan Alena.
******
Hal serupa juga terjadi di kediaman Andrew. Dimana terjadi pertengkaran hebat antara dirinya dan istrinya Jenni. Diantara mereka juga terlihat kehadiran Clara yang tengah menangis sesunggukan. Di lantai juga berserakan beberapa buah photo.Tapi kali ini berbeda dengan kasus yang menimpa Daven dan Alena.Kali ini yang dijebak adalah Andrew. Di dalam photo itu terlihat Andrew juga tidur bertelanjang dada sambil memeluk Clara yang juga terbaring di sampingnya.
" Ternyata ini yang menyebabkan kamu tidak pernah sekalipun mengucapkan, kalau kamu mencintaiku Ndrew! ternyata kamu masih mencintai dia. Aku cuma kamu jadikan sebagai pelampiasan aja." wajah Jenni sudah banjir dengan air mata.Dia bahkan tidak mau melihat suaminya itu lagi.
"Kamu harus percaya padaku Jenni! aku sama sekali tidak punya hubungan dengan perempuan ular ini.Please jangan percaya padanya.Aku murni dijebak disini." Andrew berusaha menyentuh pundak Jenni yang sedang memunggunginya, tapi segera ditepis oleh Jenni.
"Kenapa kamu tega berkata seperti itu Ndrew setelah malam indah yang kita lalui bersama.Kamu berkata kalau kamu masih sangat mencintaiku dan tidak pernah mencintai istrimu sama sekali. Apa kamu berniat mempermainkan perasaanku?"celetuk Clara dengan bahu yang turun naik.
"Diam! kamu yang memfitnahku sekarang. Aku tidak pernah mengatakan hal seperti padamu."Bentak Andrew dengan suara yang menggelegar. "Seandainya kamu laki-laki, aku tidak akan segan-segan merobek mulutmu."
"Udahlah Ndrew, kamu tidak usah berpura-pura lagi di depanku. Kamu akui saja kalau kamu masih mencintainya. Karena itulah selama 5 tahun ini, sekalipun kamu tidak pernah mengatakan, kalau kamu mencintaiku."ucap Jenni dengan air mata yang masih merembes keluar membasahi pipinya.
"Aku tidak mengatakannya, bukan berarti kalau aku tidak mencintaimu. Tapi karena aku memiliki alasan dan menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya pada mu. Lagian bukankah semua tindakanku sudah menunjukkan rasa cinta dan kasih sayangku padamu? tidakkah kamu menyadarinya Jen?" Kali ini sosok Andrew benar-benar berubah seperti laki-laki lemah di hadapan Jenni.
"Semua hal itu perlu diungkapkan juga Ndrew. Karena itulah gunanya ada mulut. Karena bisa saja semua sikap manis yang kamu tunjukkan, hanya bentuk dari rasa tanggung jawabmu saja. Sekarang aku mau keluar dari rumah ini dan membawa Jeslyn bersamaku. Sekarang aku tidak mau jadi penghalang di antara cinta kalian berdua."
Tbc.
__ADS_1