Cinta Terhalang Janji

Cinta Terhalang Janji
Kejutan buat Daven


__ADS_3

Air mata Alena tidak terasa menetes membasahi pipinya. Dia merasa terharu sekaligus bahagia mendapat kejutan yang sangat indah dari Daven.


Daven meraih tangan Alena dan menggandenganya berjalan menuju meja yang kini sudah tersedia makanan lezat dan minuman di atasnya. Dia menarik kursi buat Alena serta membantu Alena untuk duduk.


"Maaf ya sayang, seharian ini aku tidak menghubungimu sama sekali." ucap Daven sembari meraih tangan Alena, menngenggamnnya,lalu membawanya ke bibirnya.


"Tidak apa-apa Sayang! justru aku sekarang sangat bahagia sekali.Terima kasih buat semua ini sayang! Aku mengira kamu tidak mengingat sama sekali." Alena menatap Daven dengan penuh cinta dengan seulas senyuman di bibirnya.


"Ayo kita makan sayang! kamu pasti sudah sangat lapar." Daven meraih piring Alena dan memotong steaknya lalu kembali menyerahkannya pada Alena.Lalu dia sekarang melakukannya untuk dirinya sendiri.


Setelah mereka selesai makan, dua orang pelayan datang dengan membawa makanan penutup( dessert) di tangan masing-masing yaitu Carrageen moss pudding.



Dengan semangat Alena menyantap puding di di piringnya sampai bersih tak bersisa. Dia bahkan masih merasa kurang, dan berkali-kali merilik ke arah piring Daven yang masih menyisakan separuh puding di piringnya.


Ekor mata Daven tertarik,melirik ke arah Alena, dan dia menyadari kalau istrinya itu masih menginginkan puding di piringnya.


"Aku sudah sangat kenyang sayang, tolong kamu habiskan punyaku!" Daven sengaja mengucapkan kata itu, karena dia tahu Alena malu untuk meminta puding miliknya.


Daven mengerutkan keningnya, heran melihat nafsu makan Alena yang gila.Seperti sekarang, puding miliknya juga kini sudah habis tak bersisa.


Setelah pelayan membersihkan meja, Daven berdiri dan mengajak Alena untuk berdansa dengan iringan lagu romatis yang berasal dari bunyi biola yang dimainkan oleh seorang violinis handal.


"Sayang apa kamu tidak memiliki hadiah untuk ku?" bisik Daven disela-sela gerakan dansanya dengan Alena.


"Aku sudah menyiapkan hadiah buatmu sayang, tapi maaf, aku menyiapkannya di rumah." bisik Alena kembali.


"Hmm, coba aku tebak! apa kamu mau membuat adik buat Dean semalaman denganku?"


"Lebih dari itu sayang.Dan aku yakin kamu pasti sangat menyukainya." bisikan Alena membuat rasa penasaran Daven akan hadiah yang dimaksud oleh Alena membuncah.


"Kalau begitu kita pulang sekarang! aku sangat penasaran dengan hadiah yang kamu siapkan untukku. Tapi sebelum itu, aku mau memberikan kamu sebuah hadiah lagi." Daven mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, sebuah kotak berwarna merah. Ketika Daven membukanya,Alena memegang pipinya sendiri,takjub melihat sebuah kalung yang sangat cantik bertahta sebuah permata yang sangat indah dapat dipastikan kalau kalung itu pasti sangat mahal.


Daven bergerak ke belakang tubuh Alena dan membantu memasangkan kalung itu di leher istrinya itu.


"Kamu cantik sekali sayang!" puji Daven lalu meyesap bibir istrinya itu dengan sangat lembut.


...----------------...

__ADS_1


Daven membuka pintu, dan meraih tangan Alena, membantu Alena turun dari mobil,ketila mereka sudah tiba di kediaman pribadi mereka.


Alena dan Daven melangkah beriringan sembari bergandengan tangan,masuk kedalam rumah.


"Bi, Dean sudah tidur ya?" tanya Daven, ketika Bibi Emma membukakan pintu untuk mereka.


"Dean, menginap di mansion Tuan Harold, Tuan! Karena besok sekolah libur, Tuan Carlos tadi membawanya ke sana?"


"Anak itu ya! main bawa saja tanpa izin! wajah Daven terlihat sangat kesal.


"Dia sudah izin tadi padaku sayang!" celetuk Alena.


"Kenapa kamu tidak ngasih tahu aku sayang?" kekesalan Daven belum memudar, kini dia semakin kesal.


"Udahlah! masalah seperti itu tidak perlu diributkan.Sekarang kita ke kamar saja! kamu mau tahu kan hadiah yang aku siapkan buat kamu?" Alena mengerlingkan matanya,menggoda Daven.


"Ya udah yuk!" Daven menarik tangan Alena. Rasa penasarannya mengalahkan kekesalan yang sempat singgah di pikirannya tadi.


Sesampainya di depan pintu, Alena menahan tubuh Daven agar jangan langsung masuk dulu ke dalam. "Kamu tutup mata dulu sayang! nanti kamu buka setelah aku suruh. Ingat, jangan mengintip!" Alena menghunuskan matanya, seperti sedang mengancam.


Daven terkekeh geli, melihat sorot mata Alena.


Setelah Daven menutup matanya, Alena membuka pintu dengan perlahan dan menarik tangan Daven untuk masuk.Setelah sampai di dekat ranjang, Alena sedikit berjinjit untuk bisa berbisik ke telinga suaminya itu.


"Sekarang, kamu bisa buka mata kamu!"


Daven membuka matanya perlahan,dan sontak terpukau dengan dekorasi yang telah disiapkan oleh Alena. Dekorasi yang sesuai dengan karakter dirinya.



"Kamu menyiapkan ini sendiri,sayang?" Daven mengalihkan tatapannya dari ranjang untuk kembali menatap Alena.


"Nggak sendiri sayang aku dibantu sama Bibi Emma.__ Sekarang kamu tolong singkirin balon-balonnya dari kasur, karena hadiah sebenarnya ada di tengah-tengah balon itu."


Daven mengrenyitkan keningnya, semakin penasaran dengan kejutan yang telah disiapkan Alena. Setelah balon-balonnya sudah disingkirkan,kini ada sebuah kotak yang menarik mata Daven, yang bertuliskan What's in the box?"



"Apa ini sayang?" tanya Daven, sembari meraih Box itu.

__ADS_1


"Kamu buka saja dulu!" ucap Alena sembari tersenyum penuh misteri.


Daven membuka perlahan kotak itu dan langsung bingung melihat isinya.



Dia menarik benda itu keluar dan melihat ada sebuah catatan kecil di bawahnya .Kedua netranya langsung berkaca-kaca begitu membaca catatan kecil itu.



"I-ini maksudnya apa sayang? we? maksudnya kamu lagi___"


"Iya sayang, kamu sudah berhasik kasih Dean adik,bukan hanya satu, tapi dua sekaligus.Coba kamu lihat lagi apa ada sesuatu lagi di dalam?"


Dengan tangan gemetar, Daven kembali meraih sebuah photo USG usia kandungan 4 minggu 3 hari,dan jelas terlihat di sana ada dua kantung janin.



"I-ini serius sayang?"Daven menatap Alena, meminta kepastian, dan Alena menganggukkan kepalanya, membenarkan.


Dari sudut mata Daven kini telah menetes cairan bening yang sudah ingin keluar dari tadi. Dia sontak menarik tangan Alena, dan membenamkannya ke dadanya.


"Terima kasin sayang! ini hadiah yang paling besar yang pernah aku dapatkan selain dirimu dan Dean." Daven semakin erat memeluk Alena, karena terlalu bahagia.


"Tapi tunggu dulu! sejak kapan kamu tahu,kalau kamu sudah hamil?" Daven menatap Alena dengan alis yang bertaut.


"Hehehe! sejak 3 hari yang lalu, di hari yang sama ketika Andrew tahu kalau Jenni hamil." Alena memamerkan deretan giginya yang rapi ke arah Daven.


"Jadi hari itu, kamu memaksaku melakukannya agar Dean cepat punya adik, hanya akal-akalan kamu saja?"


Alena menganggukkan kepalanya dengan tetap cengengesan.


"Hmm, pantasan tingkah kamu aneh belakangan ini. Kamu jadi malas mandi, tidak suka tuna sandwich dan malah jadi suka makan Colcanon, kamu juga suka tidur, dan satu lagi, kamu jadi makin agresif." bisik Daven yang dibalas kekehan Alena.


"Tapi, apa pun itu, aku berjanji, akan selalu menjaga kamu dan calon anak-anak kita. Aku tidak mau kehilangan momen, saat kamu hamil Dean dulu."


Tbc


Kasih hadiah anniversary buat Daven dan Alena dong gais.Like,vote dan komen juga ya gais.🙏🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2