Cinta Tuan Muda Za

Cinta Tuan Muda Za
Awalan


__ADS_3

Note : Cerita ini Spin off Suami Manja dokter Zi kalau mau nyambung baca dulu cerita itu terus lanjutin Gadis pilihan asisten dingin. Karena cerita ini spesial anak-anak mereka.


Selamat membaca.


...----------------...


Siang itu nampak cantik dipandang mata, sosok manis tengah melenggang anggun menuju kafe di depan sebuah butik. Sambil memainkan ponsel, ia duduk di salah satu kursi menunggu pesanan datang. Rambut panjangnya di jepit ke atas dan sedikit terburai. Parasnya yang cantik selalu menjadi magnet untuk orang lain. Manik matanya indah berbingkai kelopak mata ganda, bulu-bulu lentik nan panjang dan tipis sebagai penyangga debu berkedip-kedip cantik. Sungguh, karya Tuhan nyata begitu indah. 


Shamora Keandria yang sering dipanggil dengan nama depannya. Dia masih menyandang status mahasiswa di salah satu Universitas. Sebentar lagi, gelar sarjana akan diraihnya. Hidup bersama orang tua tunggal tak membuat Shamora kekurangan kasih sayang. Shamora Keandria sosok gadis baik hati, ramah dan penyayang. Bibir mungil tercetak sempurna itu terangkat tipis saat pandangannya bergulir pada sosok yang datang.


"Kamu sudah lama?"


"Belum, aku sudah pesan makananmu." Shamora tersenyum, lengkungan bibirnya sekali lagi menghipnotis beberapa pengunjung laki-laki di kafe itu. Padahal, gadis ini cukup menutup diri.


Arlo Binara, selain tampan laki-laki ini memiliki pribadi yang hangat. Penuh perhatian pada gadis di depannya. Manik mata hitam itu tercetak cinta yang tak terlihat karena dinding bersahabatan yang di bangun sejak kecil. Perasaan cinta hanya Arlo simpan dalam lubuk hatinya yang terdalam.


"Setelah dari sini, apa kamu kembali ke kampus?" 


"Iya, masih ada kelas." Shamora tersenyum sambil menyeruput minumannya. 


"Aku sudah tidak ada kelas, jadi aku kembali ke cafe untuk mengecek laporan bulan ini. Ayo aku antar." Arlo menghabiskan sisa minumannya. Laki-laki ini sengaja menemui Shamora di sana hanya sekedar melepas gunung rindu yang mulai meninggi di dadanya. Sebagai pengusaha muda yang mulai merintis usahanya. Arlo sedikit sibuk hingga jarang berkumpul. "Kenapa kamu tidak bawa mobil sendiri, Sha?"  Netra Arlo melirik ke samping. Rasa cinta itu kian hari semakin terasa. Sayang, tembok persahabatan begitu tebal.


"Ada kamu yang memberi tumpangan." 


Arlo tersenyum mendengar jawaban Shamora. Setelah tiga puluh menit tibalah mereka di gerbang kampus, Shamora segera turun dari mobil. 


"Hati-hati, Ar." Gadis itu melambaikan tangannya. 


Setelah memastikan mobil Arlo menjauh, Shamora memutar tubuhnya dan mengayunkan kaki untuk melangkah masuk ke dalam. Ponsel gadis itu bergetar di dalam tas selempangnya, ia merogoh ke dalam tas mencari ponsel sambil berjalan. Tak sengaja, kakinya tersandung dan terjerembab ke depan. Tanpa diduga ada tangan kekar menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke tanah. Manik mata saling mengunci menikmati tabuhan jantung di biliknya masing-masing.

__ADS_1


"Kamu tidak apa - apa?"


Shamora mendongakkan wajah ke atas kemudian menegakkan tubuhnya. "Ah, iya ! Terimakasih sudah menolongku." Ucapnya tersenyum. Ponsel itu kembali bergetar. "Maaf, permisi aku harus menjawab telepon." Sambungnya sambil berlalu meninggalkan dua laki - laki yang masih menatapnya.


"Cantik sekali."


" Biasa saja." 


"Bagiku dia cantik tapi siapa namanya ? Sial, harusnya aku berkenalan tadi." Ucap salah satu dari dua laki-laki itu penasaran.


Nevan William, laki-laki yang terkenal dengan wajah datar dan sifat dinginnya. Iris matanya tak pernah memancarkan kehangatan, banyak wanita berusaha mendekatinya. Namun sayang, terpatahkan lebih dulu keberanian itu karena dihujam sorot dingin dari manik mata seorang Nevan.


Zayyan Arkana Vinjaya, sosok penuh kehangatan selalu tersenyum pada siapapun. Pria pemilik hobi sebagai fotografer ini selalu menampilkan pesonanya yang tak terlihat dengan mata biasa. Tubuh atletisnya sangat menawan mata dan hati untuk menjamah. Tapi siapa sangka dibalik sifatnya yang terlihat, Za begitu orang memanggilnya sangat pelit pada tubuh dan hatinya. Hingga sampai detik ini belum ada yang berhasil menempati singgasana hatinya. 


Nevan tersenyum tipis walau dalam hatinya membenarkan perkataan Jee tentang gadis yang ditolongnya tadi. 


Dia memang cantik alami.


...----------------...


Vira Oktaviana, putri tunggal Vian dan juga Rayya. Selain cantik gadis ini sahabat satu-satunya perempuan Shamora. Sifatnya yang keibuan membuat tiga sahabatnya yang lain merasa nyaman dan tenang bersamanya selain usianya memang lebih tua dari teman-temannya itu. 


"Sha, kamu terburu-buru. Kenapa ?" 


"Aku ada janji sama Bunda untuk belanja kain." Gadis itu melirik jam di pergelangan tangannya sambil menjawab.


"Ayo, aku antar ! Kamu tidak bawa mobil, 'kan?"


Devin Anggara, Putra dari dokter Yudha dan Dokter Rindi salah satu sahabat Shamora. Dia sosok susah ditebak dengan segala keahliannya. 

__ADS_1


"Iya, besok aku bawa mobil saja biar tidak merepotkan kalian." Shamora menjatuhkan tubuh sintalnya di kursi belakang.


"Sha, sejak kecil kamu memang merepotkan kami. Tapi kenapa sadarnya baru sekarang ?" Devin begitu panggilannya mengejek diiringi lirikan kebelakang.


"Dev, jangan mengejek Shamora." Jiwa keibuan Vira langsung menegur. Kalau tidak maka akan berlanjut sampai mereka tiba ke tujuan. 


"Tidak apa-apa, Vir. Aku sudah kebal." Shamora tertawa. Sedikit pun hatinya tidak bermasalah mendengar ocehan Devin.


Persahabatan mereka tak pernah goyah sejak kecil. Saling melengkapi dan menghibur dikala masalah datang menyapa hidup salah satu dari mereka. Seperti hal nya, Shamora. Sejak kecil hidup berjauhan dari sang Ayah membuatnya selalu dipertanyakan para tetangga. Luka itu ada di hatinya bahkan belum sembuh, saat orang-orang bertanya. Kemana Ayahnya ? 


Support dari sahabat menguatkannya, kata-kata positif mereka transfer ke telinga dan hati Shamora. Agar tidak membenci Ayahnya yang kini berada jauh. Secuil pun, benci itu tidak hadir bahkan jauh di relung hatinya kerinduan itu semakin merajai hati seorang Shamora Keandria pada Ayahnya.


Manik mata indah gadis itu terlempar jauh ke arah luar, pergerakan kendaraan di samping mobil Devin tak mengisi tatapan kosongnya. Kilasan masa lalu menerawang di tempurung kepala, meski perpisahan orang tuanya terbilang baik-baik. Namun tak memberikan sedikit ruang rasa pada sang kakek. Orang yang menyebabkan perpisahan Ayah dan Bunda nya.


"Huffhh."


Hembusan nafas kasar itu menarik atensi Vira dan juga Devin. Tak terkejut lagi melihat mimik itu ada di wajah seorang Shamora.


"Kenapa, Sha?" Pertanyaan terlontar dari bibir Vira. Gadis itu tahu jika sahabatnya itu sering menutupi gelombang rasa yang bermain di hatinya.


"Cuma ingat Kakek, tidak habis pikir saja. Ada orang yang egois seperti itu."


"Sha, yang kamu alami dan Bunda, semua adalah garis tangannya. Terpenting Ayah tidak mencampakan kamu. Meski status sudah berpisah dengan Bunda Sinta. Tapi tidak membuat Ayahmu mengabaikan tanggung jawabnya. Kuatlah ! Demi Bunda." Sahut Devin tersenyum.


Hati Shamora kembali hangat dan tenang. Ya, dia adalah kekuatan sang Bunda. Ketegaran ibu nya berasal darinya. "Kamu benar, Dev ! Ketegaran Bunda ada padaku." Ujarnya tenang.


"Jadi jangan pasang lagi wajah sedih seperti itu, jika tidak mau ada air mata yang tumpah di pipi Bunda." Vira menoleh kebelakang tersenyum menguatkan.


Kenangan selama apa pun tidak akan pernah terlupakan kecuali digiring usia yang menua.

__ADS_1


 


__ADS_2