
Empat bulan kemudian, perkenalan yang awalnya dingin antara Shamora dan Nevan. Seiring waktu menghangat dengan sendirinya. Komunikasi mereka tidak lagi tersendat penuh gengsi, semua berjalan bak air mengalir. Seiring itu pula rasa di hati bermekaran bak bunga yang baru mengembang dari kuncupnya. Skripsi yang sebentar lagi mereka hadapi, membuat waktu bersama sedikit banyak saja, saling bantu dan dukung. Hingga, perasaan membutuhkan satu sama lain tumbuh di hati mereka masing-masing. Shamora meregangkan otot tubuhnya yang mulai terasa kaku. Duduk tegak menghadap sebuah laptop menguras energi dan juga pikirannya. Skripsi adalah perjalanan akhir dari pendidikannya di bangku kuliah.
"Sha, kamu mau makan apa ?" Arlo pemilik kafe yang sekarang di kunjungi gadis itu. Memberikan perhatian tulusnya tanpa balasan cinta atau semacamnya.
"Sama denganmu saja. Aku sangat lelah. Punggungku pegal sekali." Keluh si gadis menjatuhkan pundaknya di dinding sofa.
"Biar kupijit." Vira segera bangkit dari tempatnya duduk. Jarinya mulai menekan lembut pundak sahabatnya itu, ia tahu beban Shamora bukan hanya tentang skripsinya. Namun juga pekerjaannya di butik sang Bunda sangat menanti.
"Bagaimana, perkembangan butik Bunda Sinta?" Devin menyandarkan tubuh tingginya di sofa. Manik matanya terarah pada wajah cantik seorang Vira, laki-laki ini memendam cinta begitu lama pada gadis itu.
"Itulah yang aku pikirkan, Dev. Butik Bunda agak sepi. Aku mulai memikirkan bagaimana cara mengembangkannya. Kedepan aku berniat membuka Wedding Organizer."
Hembusan nafas penuh beban keluar tipis dari bibir Shamora. Iris matanya menatap lekat huruf-huruf di layar laptop, ingin rasanya segera lulus dan membantu sang Bunda. Selama ini wanita pelita hidupnya itu sangat berjuang keras untuk kehidupannya. Meskipun, finansial Shamora terpenuhi dari Ayah yang berjauhan tempat dengannya. Namun gadis berparas cantik ini enggan menggunakannya. Hingga bayi-bayi uang itu merangkak menjadi besar.
"Ide bagus, Wedding Organizer sangat dibutuhkan saat ini. Apalagi bila ada ide-ide yang unik kamu tuangkan di dalamnya. Orang-orang akan meliriknya, secara tidak langsung butik Bunda Sinta akan ikut berkembang. Aku mendukungmu." Arlo menyahut seraya meletakan nampan makanan di atas meja. Tangan kekarnya seolah tak pernah lelah memanjakan lidah Shamora Keandria.
"Sha, bagaimana Nevan? Aku baru tahu kalau dia berteman dengan Zayyan." Otak cantik Vira tergerak untuk menggali informasi dan kabar hati sahabatnya itu.
Jari Shamora terangkat menyentuh pergelangan tangan Vira, meminta pijatan dihentikan, mata gadis itu berbinar yang belum pernah terlihat sebelumnya. Seulas senyum melengkung tipis nan cantik, tampak malu-malu dengan rona merah tercetak nyaris jelas di kedua pipi Shamora. Gadis itu tersenyum dan berkata dengan sorot penuh kagum. "Nevan, laki-laki baik dan juga pengertian, dia juga ternyata hangat tidak sedingin pertama kali kami bertemu."
"Kamu menyukainya?"
Sakit, pertanyaan itu terlontar dari bibir Arlo. Lancangnya kalimat itu menerobos dari dalam hatinya seolah ingin tahu cepat jawaban dari gadis dicintainya dalam diam itu.
__ADS_1
Anggukkan malu-malu dari kepala Shamora memukul keras segumpal daging lembut di tubuh Arlo, sesak langsung menguasai dada bidang laki-laki itu, binar cinta dari iris mata Shamora untuk laki-laki bernama Nevan bagai tombak mencabik perasaan laki-laki berambut lurus ini.
"Semoga dia juga memiliki perasaan yang sama padamu, jangan sampai kamu mengalami cinta dalam diam, karena itu sangat sakit." Dukungan Devin, seolah pukulan telak untuk seorang Arlo.
Ya, andai keberanian itu ada. Andai friend zone itu tidak seindah yang mereka jalani, mungkin cinta itu akan terucap dari bibir Arlo. Namun, laki-laki ini masih berpikir waras tidak mau mengorbankan jalinan sahabat demi cinta yang belum tentu disambut dengan baik.
...****************...
Usai dengan segenap tugas, kini Shamora menanti seseorang yang akan menjemputnya memenuhi janji. Gadis ini mengenakan dress berwarna maroon, rambut panjangnya tergerai dan dilengkapi jepit simpel mempercantikan tampilan rambut hitam lurusnya. Shamora sejak tadi berusaha mengendalikan debaran jantungnya yang bertalu merdu menunggu sang penggetarnya.
"Sha, bel berbunyi." Bunda Sinta memberi isyarat perintah untuk membuka pintu.
Gadis itu gegas berdiri, seiring langkah kecilnya jantung itu berdebar seolah tahu penggetarnya berdiri di balik pintu. "Silahkan masuk, Nev." Senyum lembut penuh malu-malu tersuguh di wajah Shamora. Serangan gugup pun, melanda tubuh gadis itu apalagi aroma parfum maskulin menguap dari tubuh Nevan, semakin membuat pipinya panas.
Berpamitan untuk pergi tanpa ada hambatan. Kini dua sejoli itu tengah membelah jalanan bergabung bersama pengendara lainnya. Berkendaraan lumayan lama, mobil sport milik Nevan berhenti di salah satu resto ternama kota itu. Sebagai wakil direktur di kantor Ayahnya, sangat mudah untuk laki-laki itu membooking satu tempat.
"Silahkan duduk." Nevan menarik sandaran kursi mempersilahkan Shamora duduk. Senyum terukir manis di wajah tampan laki-laki itu.
"Kamu mempersiapkan semuanya." Pemindaian mata begitu takjub dengan keindahan tempat itu.
Di dalam satu ruangan dengan dekorasi nyaris sempurna, kemudian dilengkapi dua kursi satu meja dan disajikan beberapa menu andalan resto itu, tak lupa pula lilin cantik bertengger di atas meja. Alunan biola tergesek merdu dengan nada lagu romance genre ballad.
"Kamu suka?" Nevan mendaratkan tubuhnya di kursi setelah melepaskan kancing jas yang dikenakannya.
__ADS_1
"Suka, terimakasih." Shamora selalu menghirup aroma bunga segar yang diserahkan oleh seorang pegawai resto.
Jari tangan Nevan bergerak menandakan kode pada pemain biola agar menghentikan gesekannya. Tak menunggu lama pemain biola memutar tubuhnya untuk meninggal dua insan yang ingin mengukir kenangan di tempat itu.
"Shamora, aku minta maaf soal pertemuan kita pertama terkesan kurang baik. Tapi setelah kita sering bertemu, aku bisa melihat kamu tidak sama seperti gadis lainnya. Sha, aku merasakan berdebar bila di dekatmu, merindukanmu saat berjauhan dan ingin selalu bersamamu setiap waktu. Rasa yang tumbuh di hatiku tidak bisa dijabarkan dengan rinci namun dapat didefinisikan sebagai cinta. Shamora, aku menyukaimu sejak awal bertemu. Maukah, kamu jadi kekasihku?"
Ungkapan yang tak disangka-sangka oleh gadis bernetra hitam ini membuatnya tercenung sesaat. Benarkah ? Perasaannya bersambut dengan baik. Indah, sungguh indah dan bahagia.
"Aku mau."
Jawaban Shamora bagai air menyiram bara api. Nevan merasa lega atas perasaannya yang terbalas. Laki-laki itu tersenyum lalu mengeluarkan kotak hitam dari saku jaketnya.
"Terima kasih, sebagai tanda jadi hubungan kita. Biarkan aku mengenakan kalung ini di lehermu." Nevan membuka kotak itu dan mengeluarkan kalung bermata merah delima.
"Cantik sekali. Nev ! Terimakasih."
"Wanita cantik akan semakin tambah cantik mengenakan kalung ini." Nevan mengecup punggung tangan gadisnya penuh pesona.
"Terimakasih, Nev." Binar bahagia tercetak jelas di iris mata Shamora. Senyum gadis itu tak hentinya mengembang.
"Aku memesan makanan favoritmu." Nevan dengan bangga menyendok makanan dan berniat menyuapkan nya pada sosok yang baru jadi kekasihnya itu.
"Manis sekali." Shamora tersipu lalu membuka bibirnya.
__ADS_1
Nevan tersenyum lalu melanjutkan suapan nya. Dua sejoli yang tengah dimabuk asmara itu saling menyuapi, melempar senyum serta bercanda manja. Laki-laki datar seperti Nevan mampu melambungkan hati kekasihnya ke langit bahagia.