
Tak ingin membuang waktu lagi, Nevan langsung melanjutkan pekerjaannya agar nanti siang langsung bisa menemui Shamora sesuai janjinya pada gadis itu. Sekilas ia melemparkan pandangannya ke daun pintu karena terdengar di ketuk.
"Permisi, Pak. Di luar ada tamu ingin bertemu dengan anda."
Nevan menatap wajah sekretarisnya. "Siapa?"
"Seorang wanita bernama Gina."
Jantung laki-laki itu berdegup kencang diiringi raut keterkejutan. Manik mata Nevan berubah warna, tangannya terkepal dengan rahang mengeras. Nampak ada kobaran amarah serta kecewa di dalam iris matanya.
"Usir saja." Titah itu terlontar dengan dingin hingga efeknya terasa di ruangan hangat ini.
"Baik, Pak." Yuni mengayunkan langkahnya keluar dari ruangan wakil direktur.
Kabar melalui interkom sudah sampai ke meja resepsionis, wanita bernama Gina itu memutar tumitnya dengan perasaan kecewa. Tak menyangka, hari ini begitu asing dan jauh dari harapan nya. Namun tak patah semangat masih ada esok hari.
...----------------...
Libur sudah selesai, tiga hari cukup memberikan kesegaran pada otak dan juga tubuh. Memanjakan mata dengan lukisan Tuhan yang begitu nyata dan memberikan semangat baru. Shamora Keandria pulang dengan wajah penuh rindu dan juga senang, beberapa menit lalu sebelum keberangkatannya. Nevan mengatakan akan datang kerumahnya, rindu memang tidak tahu malu hingga bisa membuat orang berhalusinasi dan tersenyum sendiri.
"Kamu sepertinya senang." Vira tertular senyum sahabatnya ini. Ia bersyukur aura mendung tersingkir dari wajah gadis itu.
"Iya, aku memang lagi senang, Nevan mau kerumah nanti."
"Syukurlah, semoga dia bisa meluangkan waktu lebih banyak buat kamu." Vira melemparkan pandang ke arah luar.
"Semoga saja." Shamora menatap jauh pemandangan luar bus mini.
Tak jauh darinya sudut bibir Zayyan terangkat, sedalam itu cinta Shamora pada Nevan, andai cinta itu bisa dimilikinya. Maka dia adalah laki-laki beruntung.
__ADS_1
"Kamu kenapa, jangan sering melihatnya. Kamu akan sulit mengendalikan perasaan." Arlo melirik ke sampingnya. Ia paham akan rasa di hati laki-laki di sisinya ini.
"Seperti kamu tidak saja, apa kamu sudah bisa mengendalikan perasaan?" Zayyan tersenyum dengan isyarat ejekan.
"Tentu, di awal memang sakit tapi semakin kesini rasa sakit itu berkurang. Setidaknya, aku berpikiran positif dan belajar melupakan perasaanku. Sebab, jalinan persahabatan kami bukan baru satu atau dua bulan tapi bertahun lamanya. Jadi aku bisa mengalihkan perasaan ku."
"Itulah masalahnya. Aku baru mengenal dia dan belum tahu cara mengolah perasaanku supaya tidak semakin dalam." Helaan nafas Zayyan terdengar frustasi.
"Pelan-pelan saja, semua pasti bisa dan terbiasa." Sahut Devin menyentuh pundak dua sahabatnya ini. Laki-laki itu duduk sendiri di kursi belakang. Mereka sengaja menyendiri sedikit jauh dari dua gadis yang mulai berpetualang dalam mimpi.
...----------------...
Hembusan bayu malam terasa lembut secantik langit bertabur bintang, seindah cahaya bulan yang tergantung di dinding langit. Seulas senyum tergaris cantik di wajah Shamora ketika mematutkan bayangan nya di kaca cermin, polesan make up natural semakin menambah pesona pahatan yang nyaris sempurna di wajahnya. Dentuman rindu, menabuh dada mengusik hatinya untuk tak sabar menunggu kedatangan sang kekasih.
"Sha, ada Nevan di luar." Suara Bunda Sinta menggetarkan tulang-tulang, hingga rasa gugup semakin memperdaya.
"Iya, Bun ! Aku keluar." Sekali tarik jawaban itu, mendorong nafas Shamora berhembus membuang kegugupan dan menormalkan debaran. Kaki gadis itu terayun menuju pintu kamar, tangannya terangkat memutar kenop pintu. Shamora tersenyum melihat sosok yang ia rindu menatap hangat padanya.
"Seru, tapi tidak ada kamu. Semoga lain waktu kita bisa liburan bersama."
"Iya akan aku usahakan, maaf beberapa hari ini mengabaikan kamu. Kita keluar, aku sudah reservasi tempat." Nevan meminta maaf atas beberapa hari lalu yang mengabaikan kekasihnya.
"Ayo."
Sepasang anak manusia itu bangkit dari sofa dan melangkahkan kaki menemui Bunda Sinta di ruang keluarga. Wanita paruh baya itu fokus menonton acara fashion show di televisi.
"Tante, aku minta izin mengajak Shamora keluar sebentar."
Bunda Sinta tersenyum dan membawa tubuhnya untuk berdiri. "Iya, hati-hati." Ucapnya sembari menggiring kedua insan itu keluar.
__ADS_1
"Bunda, jangan tidur terlalu malam. Aku pamit."
"Iya, Nak." Bunda Sinta melambaikan tangannya.
Mobil sport milik Nevan membelah badan jalanan, berbaur dengan pengendara lain. Garis tegas rahang laki-laki itu menambah kedataran raut wajahnya.
"Aku minta maaf karena mengabaikan pesan kamu beberapa hari lalu, aku harus menyelesaikan berkas proyek baru." Tak puas karena hanya satu kali meminta maaf. Nevan kembali berucap. "Akan aku usahakan lebih banyak waktu lagi buat kamu."
Shamora menatap pantulan lampu penerangan jalan yang menimpa badan mobil di hadapan mereka. "Awalnya aku kecewa, tapi teman-teman memberikan pengertian, semakin lama aku merasa sesak dan kecewa lebih besar tapi kembali lagi aku menahan egoku. Kamu adalah sosok yang suatu hari akan menggantikan Om Mahendra. Jadi aku harus terbiasa dengan waktu yang kita miliki." Paparnya dewasa.
Sudut hati Nevan terusik, begitu pengertian kekasihnya ini, apa yang dilakukannya kemarin memang sedikit keterlaluan. Ya, ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
...----------------...
Hingar bingar kendaraan memenuhi badan jalan, beberapa hari yang lalu usai mendengarkan isi hati seorang Shamora. Kini Nevan lebih mengerti dan memberi waktu untuk hubungan mereka, pola pikirnya sedikit berubah setelah melihat guratan sedih di manik mata kekasihnya. Matahari semakin merangkak, terik pun merajalela. Meski begitu semangat para karyawan masih saja bagus, mereka hanya perlu mengambil waktu untuk beristirahat mengisi amunisi. Hal sama pun, juga dilakukan Nevan. Laki-laki itu tengah menunggu kedatangan kekasihnya untuk makan siang bersama. Sebab, Shamora sudah berjanji akan mengantarkan makan siang untuknya.
Fokus Nevan terpecah kala ketukan mendarat di daun pintu ruangannya. Netranya terarah kesana sambil berkata. "Silahkan masuk."
Seorang asisten pribadinya mengayunkan kaki melangkah menghampiri meja Nevan. Laki-laki itu nampak serius dengan raut wajah datarnya. "Tuan, wanita yang beberapa hari lalu datang kembali, padahal sudah dilarang oleh resepsionis." Ucapnya menyampaikan informasi.
Nevan menghela nafas kasar, hatinya kembali dikuasai amarah. Untuk apa wanita itu datang kembali setelah bertahun-tahun lamanya, iris mata laki-laki itu memerah mewakili isi hatinya saat ini.
"Usir saja, aku tidak mengenalnya."
"Sudah Tuan, tapi wanita itu gigih. Sebaiknya anda temui dulu dan tanyakan apa maunya, sejak kemarin dia selalu berdiri di dekat pos masuk. Sepertinya hari ini dia nekat untuk masuk gedung ini." Laki-laki bernama Wira itu menyampaikan solusi hasil dari pengamatannya beberapa hari ini.
Nevan melepaskan kaca mata yang sejak tadi bertengger di hidungnya, dia meletakkannya dengan sedikit kasar. Kedua telapak tangannya terangkat mengusap wajah. Nafas laki-laki itu naik turun seolah terdorong amarah yang menggebu. Manik matanya terlihat kosong sejenak, lalu bergulir pada asistennya yang masih menunggu jawaban.
"Baiklah, aku akan menemuinya." Putus laki-laki itu. Dalam hatinya sedikit penasaran tentang hilangnya wanita itu di masa lalu. Tubuh tegapnya gegas berdiri dari kursi lalu mengayun langkah ke arah pintu ruangannya.
__ADS_1
Sementara Wira mengikuti dari arah belakang, dengan sigap laki-laki itu maju selangkah menekan tombol buka pada lift petinggi kantor itu. Nevan masuk dengan raut wajah yang tak bisa ditebak, ia menatap pantulan dirinya ke dinding lift. Bibirnya terlipat masam, inikah wajah pria yang pernah dicampakkan tanpa penjelasan.