Cinta Tuan Muda Za

Cinta Tuan Muda Za
Patah tak sendiri


__ADS_3

Kabar baik tentang pertunangan Shamora Keandria dan Nevan William sudah sampai pada teman-teman mereka, bukan angin yang menerbangkannya tapi pemilik rencana itu sendiri yang menyampaikannya. Masih ada tanda tanya kenapa secepat ini ? Mengingat itu, kembali goresan hati terasa dan semakin perih saja. Tapi apa mau dikata jika hati telah menentukan pilihannya sendiri, tak mungkin merampasnya secara sadis.


“Apa rencana kalian tidak terlalu cepat?” Devin melayangkan tatapan menyelidik ke arah Nevan. “Hubungan kalian terbilang baru dan hari ini kalian menyampaikan kabar akan bertunangan.” Sambungnya lagi. Ada helaan nafas yang terdengar dari hidungnya lebih tepat perasaaan khawatir. Rasa sayang itu tak dipungkiri tumbuh dalam hatinya pada sosok Shamora.


“Semoga lancar dan bahagia.” Senyum dan doa tulus dari Arlo menyayat hatinya sendiri, namun dalam lubuk hati laki-laki itu doa terbaik benar adanya untuk sang sahabat.


“Itu adalah pilihan kalian, semoga pertunangan ini lancar dan sampai jenjang pernikahan.” Sahut Vira dengan tatapan yang tidak mudah diartikan.


Shamora mengerti tiap untaian kalimat dari bibir sahabatnya, mereka mendoakan terbaik namun juga tidak melepaskan rasa cemas mereka. “Om Mahendra sudah bicara sama Bunda.” 


“Aku hanya mendoakan yang terbaik untuk kalian.” Senyum lembut terukir dari bibir Zayyan.


Usai menyampaikan berita bahagia itu, Shamora dan Nevan meninggalkan tempat untuk mengurus segala keperluan  pertunangan.  Di balik punggung mereka ada tatapan sendu yang mengiringi langkah keduanya, Di balik senyum bahagia mereka ada embun saksi kesakitan membingkai netra seseorang. 


“Lepaskan dan doa kebahagiaan dia, jangan menghukum dirimu sendiri dengan rasa sakit mu.” Nasehat Vira. Ia paham dengan perasaan sahabatnya itu. 


“Ya, aku akan melakukannya, berdiri di sampingnya sebagai teman sudah cukup untukku, meski tak dapat aku pungkiri jika rasa sakit itu juga ada. Salahku yang tidak memiliki keberanian.” Arlo mengakui kekalahannya. Laki-laki itu mengusap sudut matanya karena embun yang membingkai manik matanya mencair sudah.

__ADS_1


Zayyan terdiam lalu meraih kamera dari atas meja, bibirnya tersenyum melihat isi kameranya, siapa yang tahu isi hati laki-laki itu. Selama ini senyum manis selalu ditampilkan nya sebagai topeng untuk menutupi luka yang lebih dalam di hatinya. Ya, Zayyan jatuh cinta pada seorang Shamora sejak pertama mereka bertemu, cinta itu hanya mampu ia simpan karena alasan sama seperti Arlo, dinding pertemanannya dan Nevan. Kadang iblis obsesi berbisik di telinga dan hatinya ‘Rampas dia’ bisikan itu begitu nyata di hatinya. Karena kesibukannya dengan dunia seni, Zayyan hampir tidak memiliki teman wanita selain Vira dan adik sepupunya. 


...----------------...


Dua laki-laki sedang patah hati karena cinta tak sampai tanpa sadar duduk di satu meja, tatapan mereka terpaku di dalam gelas yang berisi air tanpa warna itu, sekali menenggaknya wajah mereka memberikan reaksi berbeda, jika salah satunya datar menikmati minuman itu melewati tenggorokannya. Maka satu nya lagi memejamkan mata seolah minuman itu duri menembus leher, hal itu yang membedakan mereka terbiasa dan tidak terbiasa. 


“Arlo.” Zayyan menoleh ke samping. Ia terkejut mendapati laki-laki itu sudah setengah sadar. 


“Za.” Suara lirih Alro menandakan jika dirinya mulai melemah. Bibirnya tersenyum mengangkat gelasnya bersulang.


“Ternyata kamu bukan peminum handal, hanya beberapa botol hampir tumbang.” Zayyan melirik botol minuman yang berharga di bawah botol minuman miliknya. Laki-laki ini menggeser tubuhnya mendekati Arlo. “ Ayo aku antar pulang, kamu sudah mabuk.” Ucapnya lagi.


“Biar aku saja.” Cegah Zayyan.


Manik mata Alro menatap tak percaya dengan botol minuman berharga mahal di bar itu. “Kamu sudah gajian, kamu tidak mencuri, ‘kan?”


Zayyan hanya tersenyum lalu mengeluarkan lembaran uangnya dan mengabaikan tatapan curiga dari Arlo. Melihat dari style laki-laki itu hanya biasa-biasa saja, tak ingin berpikiran buruk mungkin Zayyan memang baru dapat gaji, Arlo mengimbangi langkah laki-laki itu untuk keluar dari sana. Mereka berhenti di salah satu jembatan, tempat itu memang cocok untuk menyepi dan menghabiskan waktu sendiri, pantulan bulan sabit di atas air menawan mata untuk selalu memandangnya. 

__ADS_1


“Kamu merokok ?” Zayyan menoleh ke samping tepat saat Arlo menyalakan pemantik.


“Iya, tapi sembunyi-sembunyi karena Shamora tidak suka aku merokok.” Kepulan asap itu memutih tertiup di udara. Arlo tersenyum mengingat bagaimana hebohnya gadis itu jika ia merokok di depannya.


“Kamu mencintainya ?”


“Semua sudah berakhir dan aku harus merelakannya, salahku sendiri takut untuk mengungkapkannya.” Tawa getir membingkai bibir Arlo. Netranya menatap jauh dinding langit malam tak bertepi, di atas sana ada bintang yang menertawakannya.


“Bidadariku akan bahagia bersama Nevan, dia adalah laki-laki baik.” 


“Kamu menyukai Shamora.” Arlo melirik ke samping. Ada makna yang tak bisa terpecahkan di raut wajah Zayyan dan Arlo bisa melihat tatapan luka serta juga cinta di dalam iris mata laki-laki di sampingnya ini.


“Rahasia.”


“Biar aku tebak, kita menyukai wanita yang sama. Sejak kapan?” Arlo tersenyum merasa senasib dan sepenanggungan. Hatinya terhibur setelah mendapati orang yang sama dengannya. 


“Sejak pertama bertemu dengannya.” Zayyan menjawab dengan malu-malu, rona wajahnya tersembunyi berkat remangnya lampu jembatan.

__ADS_1


“Aku tidak sendirian.” Tawa Arlo pecah. 


__ADS_2