
Hening menyela dua insan yang masih berada di dalam sebuah mobil mewah, percakapan menjurus pada kecemburuan berakhir dengan kebungkaman seorang Nevan William. Cerita dari sang kekasih sedikit menggetarkan hati laki-laki itu tentang rumah tangga orang tua kekasihnya, bukan tanpa sebab Shamora mengungkap luka lama yang belum sepenuhnya ia lupakan. Namun di balik cerita yang baru saja ia ungkapkan ada makna tersembunyi. Betapa berharganya para sahabatnya, betapa ia butuh mereka di sisinya.
Pandangan manik mata Shamora terlempar ke luar kaca jendela mobil, satu hal yang ditangkapnya dalam pembicaraan bersama Nevan William, laki-laki itu tidak suka jika dirinya berdekatan pada teman laki-lakinya. Haruskah Nevan bersikap demikian. Sementara dirinya tidak melewati batasnya.
"Malam ini, Mama dan Papa mengundang Tante Sinta untuk makan malam, maaf baru memberitahumu. Sekarang sopir dalam perjalanan menjemput beliau." Laki-laki berambut agak ikal itu memecahkan kesunyian.
"Benarkah, harusnya aku pulang ke rumah dulu," Shamora panik karena tampilannya saat ini hanya biasa-biasa saja. Gugup langsung menyerang karena akan bertemu dengan orang tua kekasihnya.
"Kamu bisa mandi di rumahku, semuanya sudah aku siapkan." Segaris senyum tertarik dari sudut bibir Nevan.
Mobil mewah itu memasuki halaman rumah milik Nevan, di depan gerbang seorang penjaga tergopoh berlari kecil membuka pagar. Mengangguk pelan ia mempersilahkan Nevan masuk. Shamora memindai kediaman megah dan mewah di depan matanya, sedikit hatinya minder, apakah ia pantas untuk Nevan ? Shamora yang telah terbiasa hidup sederhana melupakan kekayaan yang dimiliki sang Ayah, menjadi tidak percaya diri berada di sana.
Gugup sudah menyerang sejak tadi, hingga wanita itu enggan untuk turun, mungkin dulu pernah bertemu dengan ibu Denita tapi tetap saja membuatnya takut. "Apa Bunda sudah ada di dalam ?" Shamora melirik ke samping sambil meremas jari-jarinya. Dari manik matanya sangat terlihat ketakutan yang merasuki dirinya.
Nevan tersenyum lalu meraih telapak tangan kekasihnya itu untuk di genggam. "Belum, jangan cemas seperti itu. Sudah sore kamu mandi dulu, baju mu sudah disiapkan Mama." Ujarnya menenangkan kegugupan gadisnya.
Helaan nafas panjang terdengar dari bibir mungil wanita itu. Ya, Shamora mengatur perasaannya agar tidak terlalu gugup, usai menguasai ia berkata. "Ayo turun, aku siap."
Dua insan itu menginjakkan kaki di teras rumah milik Nevan William, seorang asisten rumah tangga telah berdiri menyambut kedatangan Tuan mudanya. Sungkan, Shamora tersenyum kaku sambil membalas ucapan selamat datang dari asisten rumah tangga itu.
"Selamat datang, Nak ! Di rumah kami." Ibu Denita menyambut putra dan kekasihnya dengan antusias, senyum ceria membingkai wajahnya yang mulai beranjak tua. Kelembutannya meluruhkan gugupnya Shamora.
"Terimakasih, karena mengundang kami ke rumah Tante." Shamora membalas pelukan wanita paruh baya itu tak kalah hangatnya.
"Sekarang kalian bersihkan diri, untuk Shamora ke kamar tamu ya segala keperluan mu sudah Tante siapkan."
__ADS_1
"Sekali lagi, aku minta maaf karena merepotkan Tante, tadi Nevan tidak memberitahu kalau makan malam di sini." Gadis itu sangat merasakan tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Nak. Bersiaplah ! Sebentar lagi Bunda mu juga datang." Ibu Denita menunjukkan kamar tamu untuk Shamora.
Sementara Nevan sudah lebih dulu meninggalkan ruangan tengah, laki-laki itu hanya mengecup pucuk kepala kekasihnya kemudian sengaja memberikan waktu agar gadisnya lebih dekat pada sang Mama.
...----------------...
Bunda Sinta memasuki rumah mewah itu tanpa perasaan takjub wanita sederhana pada umumnya, kemewahan di depan matanya pernah ia rasakan berapa tahun silam. Ya, tepatnya saat masih bersama mantan suami yang terpatri indah di hatinya hingga saat ini.
"Mari Bu Sinta ! Perkenalkan dia suami saya Mahendra." Ibu Denita antusias menyambut wanita yang tak sengaja bertemu dengannya saat di pusat perbelanjaan.
"Sinta."
"Selamat datang Bu Sinta." Pak Mahendra membalas uluran tangan wanita paruh baya itu dengan ramah disertai seutas senyum.
"Mari Bu. Kita langsung ke ruang makan. Shamora dan Nevan sudah berada di sana." Ibu Denita menggandeng tanpa sungkan lengan Bunda Sinta.
Benar saja Shamora sudah ada di sana bersama Nevan, dua sejoli itu langsung berdiri melihat kedatangan Bunda Sinta.
"Bunda ! Maaf, aku langsung ke sini tanpa pulang ke rumah lebih dulu." Gadis itu merasa bersalah karena bukan kebiasaannya pergi tanpa pamit dari rumah.
"Tidak apa-apa, sebenarnya Bunda juga terkejut tiba-tiba ada sopir dari keluarga Mahendra menjemput ke rumah."
Makan malam berlangsung tanpa kendala, cetakkan bahagia membingkai wajah semua orang, khususnya ibu Denita. Wanita paruh baya itu sangat senang dengan kehadiran Shamora dan Bunda Sinta. Ya, Shamora Keandria adalah menantu idamannya, seluruh tipe menantu ada pada gadis itu, terbilang singkat memang tapi jauh dalam lubuk hatinya, ibu Denita ingin Shamora segera diboyong ke rumahnya.
__ADS_1
Usai makan malam mereka berpindah ke ruang tengah keluarga rumah Mahendra, mungkin ini saatnya berbicara serius begitu pikir sepasang suami istri itu, mereka bukan tipe pemilih menantu dari segi sosial, terpenting wanita baik-baik dan memenuhi kriteria menantu.
"Bu Sinta, saya minta maaf jika mengambil kesempatan dalam pertemuan ini, saya pikir selain menjalin hubungan baik dengan ibu sekeluarga, saya ingin membicarakan tentang anak-anak." Pak Mahendra menjeda kalimatnya, ia meraih cangkir teh untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Meski bukan sebuah lamaran hanya pembicaraan biasa tapi cukup memberikan kegugupan dalam dirinya. "Jadi, bagaimana jika Shamora dan Nevan kita tunangkan saja." Lanjutnya melemparkan senyuman pada pasangan muda di tengah-tengah mereka.
"Papa serius." Nevan berkedip dua kali masih belum percaya tentang permintaan sang Ayah.
"Papa serius, kalau kalian setuju maka setelah wisuda kalian akan bertunangan."
Nevan sumringah tidak ada penolakan, hatinya meledak bahagia, tak hanya menjadi kekasih. Namun wanita cantik di sisinya akan jadi istrinya. Hal sama pun, juga dirasakan oleh Shamora, gadis itu hanya diam dengan seulas senyum serta rona merah tercetak jelas di pipinya sebagai wakil perasaannya.
"Pak Mahendra, Bu Denita. Saya tidak keberatan dengan niat kalian berdua, alangkah baiknya seperti itu, tapi saya harus membicarakan ini pada ayahnya Shamora." Sahut Bunda Sinta tersenyum lembut. Ia sangat mensyukuri ada yang tulus mencintai putrinya dan menerima dengan baik.
"Benar, saya setuju. Jika pembicaraan kalian selesai maka kabari kami untuk melangsungkan lamaran, tapi bolehkah saya bertanya?" Pak Mahendra sedikit penasaran.
"Silahkan."
"Apa hubungan ibu dan Ayahnya Shamora berjalan baik ? Maaf jika menyinggung perasaan Ibu Sinta, saya hanya tidak ingin rencana untuk menjadikan Shamora menantu kami terkendala." Jujur Pak Mahendra tentang isi hatinya.
Segaris senyum tertarik di bibir Bunda Sinta, angin rindu hadir meniup dadanya tiba-tiba, cinta dan rindu masih bertahta di tempatnya pada satu nama yang masih terpatri indah dalam hatinya.
"Hubungan kami hingga detik ini masih baik, meski bertahun lamanya tidak bertemu tapi komunikasi kami berjalan lancar, selama ini dia masih memenuhi tanggung jawabnya sebagai Ayah. Hanya Shamora yang enggan menggunakannya."
"Syukurlah, saya lega dengan begitu hubungan mereka tidak ada kendala kedepannya. Saya berharap mantan suami Ibu bisa hadir di acara lamaran nanti." Seru Ibu Denita tersenyum.
"Apa kalian siap jika bertunangan?"
__ADS_1
"Siap, Pah." Sahut Nevan cepat. Laki-laki itu tak akan menyia-nyiakan kesempatan restu di depan mata, banyak orang berjuang untuk cinta namun ia tak banyak berjuang seolah jalan itu mulus tanpa kerikil.