
Pengungkapan cinta dari Nevan untuk Shamora, memang mencipta bahagia untuk semua orang, tapi tak luput pula menggores luka di hati Arlo. Meski hati suram tapi segaris senyum masih melengkung manis di bibir laki-laki itu. Cinta dalam diamnya begitu pengecut karena tak berani menerobos dinding persahabatan. Benar kata orang persahabatan antara laki-laki dan wanita tidak akan pernah murni, jauh dalam lubuk hatinya, Arlo ingin Shamora bahagia dengan pilihannya.
Di meja berukuran besar ini, Shamora dan teman-temannya berkumpul untuk meluangkan waktu usai mengurus segala hal bersangkutan dengan kampus, rona bahagia menyelimuti wajah gadis itu. Senyum malu-malu selalu membingkai bibirnya yang mungil karena Nevan menunjukan perhatiannya secara terang-terangan.
“Bagaimana rencana kalian setelah wisuda?” Zayyan menyandarkan tubuhnya ke dinding kursi, tangan laki-laki itu mengutak-atik kameranya yang tak pernah absen di dalam tas.
“Aku mulai menggantikan Papa di kantor.” Sahut Nevan. Ya, dia adalah anak salah satu pebisnis sukses di kota itu, jejak sang Ayah akan ia telusuri sebagai penerusnya.
“Aku akan melamar di salah satu perusahaan di kota ini.” Vira ikut menyuarakan tujuannya setelah kelulusan. Meski memiliki seorang ibu berprofesi dokter dan Ayah pemilik restoran besar. Ia tidak berniat mengikuti jejak kedua orang tuanya. Vira sedikit lebih lama masuk sekolah karena diwaktu kecil gadis itu susah untuk berinteraksi dengan sebayanya.
“Dan kamu, Ar ?”
Semua netra mengarah pada laki- laki itu, Arlo menegakan duduknya yang sejak tadi hanya diam menyimak, senyum tipis terlukis di wajahnya melihat tatapan para teman-teman menanti jawaban.
“Aku berniat membuka cabang kafe ini, kebetulan aku sudah mendapatkan tempat yang cocok.”
“Sepertinya aku membuka sebuah kursus.” Devin tersenyum.
“Aku mencoba wedding organizer dengan begitu butik Bunda akan bisa berkembang.”
“Aku bekerja denganmu saja kalau begitu.” Sahut Zayyan dengan cepat. Laki- laki itu memasang raut serius saat tatapan mata teman-temannya bergulir padanya. “Serius, aku akan bekerja bersama bidadariku.”
“Bidadari ?”
“Ya, Shamora Keandria adalah bidadariku.” Zayyan meyakinkan. “Itu kesan tersemat dalam hatiku saat pertama bertemu dengannya. “ Sambung laki-laki itu lagi. "Aku juga tidak tahu kalau dia berteman dengan Kak Vira."
"Hei, jangan memanggilku Kakak !" Seru Vira tidak terima dengan anak sahabat Mama nya itu.
“Jangan berlebihan ! Shamora, kekasihku.” Nevan tak menutupi rasa cemburunya saat ada laki-laki lain dengan terang menyatakan kagumnya pada gadis di sampingnya.
Denyutan kembali dirasakan oleh Arlo, sebagai laki-laki pemilik cinta tak sampai, bisa merasakan cemburu pada perkataan Zayyan. Kenapa cinta itu begitu dalam ? Namun Arlo harus rela agar hatinya bisa sembuh.
Waktu bergulir ke sore hari, pertemuan cukup lama itu tak disadari menarik mereka dalam suasana campur aduk. Nevan posesif tak ingin Shamora terlalu berinteraksi banyak pada teman laki-lakinya.
__ADS_1
“Ayo pulang.” Nevan meraih telapak tangan kekasihnya dengan lembut. Tak luput pula niat menunjukkan bahwa mereka pasangan kekasih tersemat dalam gumpalan daging lembut dalam tubuhnya.
“Iya, aku ke toilet dulu.” Shamora tersenyum manis memberi isyarat minta izin dan menunggunya.
Nevan mengangguk, laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya kembali di kursi, ia meraih benda tipis segi empat dari dalam sakunya. Ia membaca sejenak pesan masuk itu lalu menyimpan kembali ponselnya.
Di meja itu hanya tersisa Arlo, karena Vira menemani Shamora ke toilet. Sementara Devin mengecek Cctv yang rusak di pojok dinding. Beberapa jam lalu Arlo meminta temannya itu untuk mengecek untuknya karena tidak berfungsi. Sedangkan Zayyan sudah melesat pergi saat ada telpon membutuhkan jasanya sebagai fotografer.
“Berhenti menatap kekasihku dengan penuh cinta seperti itu.” Nevan menggulirkan pandangannya pada Arlo yang duduk berhadapan dengannya. Laki-laki itu sejak tadi menahan emosinya untuk tidak meledak di hadapan teman-teman yang lainnya.
“Kenapa?”
“Shamora milikku dan aku tidak suka dengan tatapanmu padanya.” Sorot menegaskan kepemilikan terpancar dari iris mata Nevan William. Laki-laki itu sangat tahu dan bisa merasakan jika sahabat kekasihnya ini memiliki cinta untuk Shamora.
“Bahagiakan dia.” Bak titah mengandung makna terlahir lebih tegas dari bibir seorang Arlo. “Selama ini jarang ada airmata hadir di bola matanya.” Sambungnya seolah menunjukkan jika dia adalah salah satu saksi perjalanan hidup sang sahabat.
“Ayo pulang.”
Suara lembut milik Shamora dihembus angin ke dalam gendang telinga dua laki-laki yang sempat bersitegang. Aura dingin pun tertransfer dengan sendirinya ke relung hati masing-masing.
“Ar, aku pulang.” Seperti biasa Shamora akan berpamitan dengan baik pada sahabatnya itu.
Arlo tersenyum. “Hati-hati, kabari aku jika sudah sampai.” Tangannya tertahan di dalam saku celananya. Terkepal erat agar tidak lancang melakukan hal seperti biasa mengelus lembut pucuk kepala Shamora jika mereka akan berpisah.
Kening gadis itu terangkat sebelah, menandakan jika ia tengah berpikir dengan kebiasaan yang telah di hafalnya. Bukankah, Arlo akan mengelus pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang bila mereka akan berpisah. Arlo memahami kebingungan gadis itu hanya tersenyum.
“Tunggu apa lagi, ayo pulang.” Nevan sedikit memaksa dengan menarik tangan Shamora untuk mengikutinya. Langkah gadis itu seolah tak berarah jika tidak dipandu untuk melangkah.
Arlo menatap sendu punggung sahabatnya yang telah menjauh, laki-laki itu menjatuhkan tubuh lagi di kursi, nafasnya berhembus kasar dengan kepala tertunduk ke bawah. Ia berusaha menekan gejolak yang tanpa malu hadir di hati karena cemburu. Sakit, tak rela berbaur menjadi satu melebur menjadi rasa tak tentu arah. Hingga, bisik iblis-iblis obsesi untuk memiliki wanita itu pun, hadir di hatinya.
“Relakan.”
Suara Devin membunuh langsung iblis-iblis obsesi yang sempat berbisik di hati Arlo. Kepala laki-laki itu terangkat menatap wajah Devin sambil menghela nafas panjang.
__ADS_1
“Aku sedang berusaha.”
“Andai pendirianmu tidak kuat dan menunjukkan rasa suka kepada Shamora sebagai laki-laki yang menyukainya. Mungkin, dia akan tahu kamu mencintainya, bukan salahnya jika melabuhkan hatinya pada Nevan.” Vira ikut menimpali pembicaraan dua laki-laki itu.
“Aku tidak percaya diri untuk menunjukkan perasaanku.”
“Itu lah penyakit mu.” Devin menyeruput sisa minumannya. “Tadi aku melihat kamu dan Nevan bicara serius, apa yang kalian bahas?”
Sudut bibir Arlo terangkat, seolah menertawakan dirinya sendiri. “Dia memintaku untuk menjauhi Shamora, itu yang tertangkap di otakku saat dia meminta aku untuk berhenti menatap Shamora dengan cinta” Ucapnya miris dan senyum pahit terukir.
“Aku rasa dia berlebihan, jatuh cinta adalah hak semua orang pada siapa saja, tapi tetap akal sehat harus mengendalikannya agar tidak salah berlabuh dan menyakiti hati orang lain. Semua kendali ada pada kita sendiri. Jika ingin dihormati dalam cinta maka tempatkan cinta itu di tempat yang pantas.”
Bak angin segar kalimat yang terlahir dari bibir seorang Vira, hati Arlo yang sedikit gelap tadi kembali terang. Iblis- iblis obsesi pun hancur menjadi abu. Bahkan Devin tak berkedip menatap wajah cantik yang menggetarkan nada-nada cinta di hatinya, bunga perasaannya semakin berkembang dan segar pada Vira oktaviana, meski terpaut usia tiga tahun tidak menyurutkan rasa cinta laki-laki itu.
“Kamu benar, seperti aku yang tidak salah menempatkan cintaku padamu.”
Pemerah pipi alami tercetak sempurna tanpa kuas di pipi Vira, kalimat yang baru saja ia dengar dari Devin membuat sejuk kalbunya hingga tunas-tunas cinta mulai memanjat naik. Bukan tak tahu tempat dan sengaja menyentil hati Arlo, tapi itu lah Devin yang selalu mengekspresikan perasaan cinta dan sukanya dengan terang tanpa harus bersembunyi di balik tembok persahabatan.
“Ar, relakan Shamora. Kunci hati dan cintamu lalu simpan di ruang yang berbeda, buka pintu hatimu yang lain, biarkan cinta yang lain mengisinya. Banyak cinta yang tulus menanti balasan mu.” Vira memberi semangat dan juga dukungan untuk pria patah hati di sampingnya.
...----------------...
Di sepanjang perjalanan Shamora Keandria membisu, bukan merasa kehilangan dengan kebiasaan Arlo Binara, tapi penyebabnya yang membuat wanita ini berpikir keras. Sudut mata Nevan melirik ke samping, ia pun berpikir kenapa kekasihnya diam ? Apakah Shamora mendengarkan perbincangannya dan Arlo tapi laki-laki ini merasa apa yang disampaikannya pada Arlo adalah hal yang wajar. Sebagai kekasih, Nevan tidak rela jika ada yang melihat Shamora penuh cinta.
“Kamu kenapa sejak tadi diam?” Tak ingin dikungkung keheningan Nevan melontarkan pertanyaan.
“Aku cuma lelah.”
“Apa karena Arlo?” Cemburu menyelinap ke hati laki-laki ini, ragu pun ikut menyapa.
“Kamu meragukanku, ada apa dengan Arlo?” Manik mata Shamora memindai ekspresi kekasihnya, ia bisa melihat ada garis-garis kesal di wajah tampan itu.
“Maaf, aku kelepasan bicara.” Sesal langsung menyadarkan Nevan atas pertanyaannya. Ia menoleh sekilas sambil tersenyum. “Aku cemburu melihatmu berinteraksi pada teman laki-lakimu.” Jujur laki-laki itu tentang perasaannya.
__ADS_1
Shamora menghembuskan nafas kasar lalu melemparkan pandangan arah depan, tatapannya menerawang kebeberapa tahun silam. Ingatan masa lalu menggerakkan bibirnya untuk berkata. “ Arlo, Devin dan Vira adalah teman yang aku miliki pertama kali di kota ini, dulu aku tinggal di luar negeri bersama kedua orang tuaku. Pernikahan Bunda dan Ayah tidak disetujui Kakek, berbagai masalah mereka hadapi untuk mempertahankan pernikahan. Kakek tidak tinggal diam banyak hal yang ia lakukan untuk memisahkan mereka, sampai pada akhirnya Bunda menyerah karena kakek menyentuh hal berharga yaitu kedua orang tua bunda. Mereka adalah salah satu karyawan bekerja di pabrik milik kakek, pemecatan tanpa pesangon waktu itu membuat ekonomi mereka menurun drastis belum lagi Nenek yang sudah sering sakit-sakitan. Kakek tidak ingin memiliki menantu dari keluarga sederhana seperti bunda. Karena itu lah bunda dan Ayah memilih berpisah baik-baik demi Bunda dan aku, Ayah tidak mau Bunda tersakiti jika terus memaksa bersama. Jadi, kehadiran Arlo dan yang lainnya adalah semangat baru untukku dan Bunda setelah kembali ke sini. Ingatan itu samar tapi terekam di benakku bagaimana mereka mendampingiku selama ini.”
Cerita cukup panjang itu seolah memberi isyarat jika 'Mereka adalah bagian dari hidupku' Dengan begitu Shamora berharap kekasihnya ini tidak menyinggung tentangnya dan para sahabatnya.