Cinta Tuan Muda Za

Cinta Tuan Muda Za
Trauma


__ADS_3

Di ufuk timur warna keemasan telah memancarkan cahayanya, berusaha merobek sisa gelap yang ditinggalkan malam, dari sebuah ventilasi remang keemasan itu menelusup tanpa malu menyapa seseorang yang terlelap berbalut selimut tebal miliknya. Shamora Keandria, bergerak perlahan dan membuka kelopak mata menyesuaikan dengan pencahayaan di ruangan itu. Kaki tangannya menggeliat untuk meregangkan otot tubuh. Manik mata indahnya melirik jam yang tertempel di dinding kamar. Gadis itu gegas bangkit merapikan tempat peraduannya. Semalam, ia banyak mempelajari konsep-konsep baru yang akan di terobos sebagai tombak dalam wedding organizer miliknya. Gadis gigih itu telah selesai merapikan dirinya, usai mematut tampilan di sebuah kaca Shamora membawa kakinya untuk keluar dari kamar.


"Sha, sarapan dulu." 


"Iya, Bun !" Gadis itu mendaratkan tubuhnya di atas kursi. Tangannya terangkat menerima sepiring nasi goreng buatan sang Bunda. 


"Hari ini, Bunda akan menjual sisa pakaian yang ada di butik. Nanti gedungnya bisa kamu pakai, sepertinya butik itu tidak bisa dipertahankan." Sesal Bunda Sinta yang tak mampu mengembangkan usahanya. 


"Bunda tidak usah sedih, aku yang akan mengembangkannya, WO milikku juga membutuhkan gaun-gaun pengantin yang ada di sana, sebab tak semua klien bersedia membeli gaun."


"Kamu benar, Nak." 


Perbincangan itu terputus ketika Shamora berpamitan untuk pergi ke kantor WO nya. Gadis berambut panjang itu meninggalkan rumah dengan perasaan senang, tak sengaja netranya menangkap sebuah cincin yang melingkar cantik di jari manisnya. Senyum Shamora mengembang mengingat pertunangannya satu bulan lalu, mengingat itu senyumnya perlahan meredup. Ya, ayah Ricko tidak jadi hadir di acara pertunangannya karena kondisi yang tidak sehat. Shamora menghela nafas panjang penuh semangat, melihat bangunan di depan matanya yang bertuliskan WO miliknya, seulas senyum terbit di wajah cantik itu merasa bersyukur atas pencapaian tahap ini. Wanita itu memasuki gedung yang ia sewa beberapa bulan lalu disertai senyum hangat pada beberapa karyawannya. 


"Selamat pagi."


"Selamat pagi, Kak." 


"Aku menemukan konsep baru, adakan meeting satu jam lagi." Shamora melangkahkan kaki ke arah ruangannya. 

__ADS_1


"Pagi Sha." 


"Pagi, Za !" Shamora membalik tubuhnya mendengarkan sapaan yang selalu manis di gendang telinganya. Ya, dia adalah Zayyan Arkana Vinjaya. Sesuai keinginannya saat sekarang laki-laki ini bekerja bersama Shamora sebagai tim dokumentasi. Tangannya terlatih serta kecintaannya dengan seni tak diragukan lagi, hasil bidikan Zayyan begitu bagus sehingga menuai pujian dari kliennya. 


"Sudah sarapan ?" Laki-laki itu mendaratkan tubuhnya di kursi berhadapan dengan Shamora.


"Sudah, semalam aku menemukan konsep baru untuk WO kita, bagaimana kalau kita mengusungkan tema adat ? Seperti kebaya pengantinnya dan juga catering makanan khas." 


"Setuju, aku juga mengusulkan untuk mempertimbangkan agar tim catering ditambah dan juga tim depan, karena tamunya kadang datang berombongan biar tertib." Zayyan menyandarkan tubuhnya di kursi menatap lekat wajah cantik di depannya.


"Aku juga memikirkan itu, kemarin sedikit kesusahan karena tidak tertib. Aku juga melihat saat pihak pengantin meminta memutarkan video kenangan sedikit terkendala, karena terbatasnya alat kita. Sepertinya aku harus merombak sistem kerja tim agar tidak seperti kemarin." 


Alis Shamora terangkat sebelah lalu berkata. "Za, sebelumnya aku minta maaf, kamu tidak mau digaji ketika bergabung dengan WO sebagai bagian dokumentasi. Jadi bagaimana kamu membeli alat-alat itu ? Sementara peralatan proyektor dan lain-lainnya mahal."


"Aku sudah menyisihkan uang dan hal ini aku pikirkan sejak jauh-jauh hari." Zayyan tersenyum. 


Meeting berlangsung sesuai jam yang ditentukan oleh Shamora, tim catering dan juga depan lalu mengatur ulang tim dokumentasi sesuai ide yang disampaikan Zayyan. 


...----------------...

__ADS_1


Matahari merangkak naik, bekerja dibalik meja tak terasa waktu bergulir begitu saja, amunisi harus segera diisi untuk mengisi ulang tenaga lagi. Zayyan melirik jam di atas meja kerjanya, sudah waktunya makan siang.


"Kita makan siang." Zayyan menyambangi Shamora di depan pintu ruangan.


"Iya, di cafe Arlo." 


"Kita berangkat bersama." Usul Zayyan penuh harap dan semangat. Sebagai pemilik cinta untuk gadis di hadapannya ini, ia tak membuang kesempatan untuk berdua.


"Tapi, kalau Nevan tahu aku pergi sama laki-laki nanti dia marah lagi. Kamu tahu sendiri dia pencemburu sekali." 


"Nevan memang selalu berpikiran negatif dengan orang-orang setelah kekasihnya dulu pergi meninggalkannya. Dia patah sekali saat itu, tapi sekarang dia sudah sembuh dan bisa jatuh cinta lagi."


Shamora tercenung, jadi ini alasannya kenapa Nevan begitu tidak suka bila ada laki-laki lain di dekatnya, trauma masa lalu belum sembuh di hati laki-laki itu. 


"Aku berangkat sendiri saja, kamu juga pakai motor, 'kan?"


Zayyan tersenyum. "Baiklah, kita bertemu di cafe Arlo." Laki-laki itu memutar tubuhnya meninggalkan Shamora yang menatap tak enak hati padanya.


Mulai sekarang, Shamora akan lebih memahami sosok calon suaminya itu, seperti apa luka itu ? Sedalam apa ? Hingga Nevan Willian masih trauma takut kehilangan. 

__ADS_1


__ADS_2