Cinta Tuan Muda Za

Cinta Tuan Muda Za
Afeksi


__ADS_3

Matahari merangkak naik tak mengurungkan niat Shamora mengunjungi kantor sang kekasih. Tubuh tingginya melangkah anggun memasuki lobby kantor, menyapa ramah disertai senyum manis tersuguh dari bibir disambut hangat oleh para resepsionis. 


"Tuan Nevan, sudah menunggu di ruangannya." Salah satu resepsionis meletakkan interkom ke tempatnya.


"Terimakasih." Shamora mengayunkan langkah ke arah lift yang akan mengantarkannya ke lantai ruangan sang kekasih, dari sudut manapun di kantor itu semua orang telah mengenal Shamora sebagai calon istri wakil direktur mereka.


"Selamat datang, Nona." Sekretaris cantik bernama Yuni ini menyambut ramah kedatangan gadis itu.


"Nevan di dalam?" 


"Iya, silahkan masuk." Yuni mempersilahkan.


"Ini buat kamu." Shamora meletakkan satu kotak makanan yang ia bawa ke atas meja. Ya, seperti itulah gadis ini memperlakukan karyawan calon suaminya.


"Terimakasih, Nona."


Shamora tersenyum dan memutar tumitnya ke arah daun pintu. Tangannya terangkat mengetuk sebelum mendorong gagang pintu. Kakinya melangkah masuk hingga melukiskan senyum di wajah seseorang yang menatap ke arahnya. 


"Kamu sudah sampai?" Nevan berdiri dari kursinya dan menghampiri kekasihnya. Laki-laki ini terlihat sibuk di jam istirahat pun masih berkutat dengan pekerjaannya.


"Iya, ayo makan siang dulu." Shamora menjatuhkan tubuhnya di kursi. Tangannya cekatan membuka kotak makanan yang ia bawa.


"Iya," Nevan duduk rapi di sisi sang kekasih. Ia meraih kotak makanan itu lalu melahab nya.


Shamora tersenyum dan bangkit dari kursi mengambil satu botol air mineral yang ada di kulkas pendingin dalam ruangan itu. Ia membuka tutupnya kemudian meletakkan botol air itu ke atas meja. "Minum dulu, makan mu belepotan sekali." Gadis itu meraih tissue dan menyeka sudut bibir kekasihnya dengan lembut.


Nevan terkekeh, "Aku sudah lapar dari tadi, tapi pekerjaanku sangat banyak."


"Nev, jangan menunda makan itu tidak baik buat kesehatan kamu. Pekerjaan bisa dilanjutkan bila tubuh sehat." 


"Iya, aku tidak mengulanginya lagi." Nevan merasa bahagia ketika perhatian itu lahir dari bibir sang kekasih. 


Rasanya teramat bahagia mendapatkan sosok Shamora dalam hidupnya. Warna yang pernah hitam dalam hidupnya kembali berwarna seperti sedia kala, hati yang dulu sempat luka telah sembuh dari traumanya.


"Besok weekend, Arlo dan yang lainnya ingin mengajak liburan, apa kamu ada waktu ? Kita bisa berangkat bersama." 


Nevan menghela nafas panjang, manik matanya bergulir pada tumpukan dokumen diatas meja kerja, dengan berat hati ia meraih tangan Shamora ke genggamannya. "Maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa ikut, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." 


"Iya, tidak apa-apa." 

__ADS_1


...----------------...


Rintik hujan masih terdengar manja, seolah menyanyikan musik pengantar tidur, jatuh airnya terdengar mengalun merdu ketelinga Shamora. Meski mesin waktu telah bergerak ke angka enam, namun kelopak mata gandanya belum ingin terbuka. Masih menikmati tidur, setelah beberapa hari lalu bangun sangat pagi. Sayup-sayup ketukan di pintu menerobos gendang telinga gadis itu, semakin lama ketukan terdengar jelas, kelopak mata cantik Shamora membuka perlahan. Kesadaran berangsur kembali setelah namanya dipanggil di balik daun pintu.


"Iya, Bun." Sahut gadis ini sambil menggeliat di atas kasur. Sungguh, kasur memang memiliki magnet tersendiri.


"Bangun, Sha ! Kalian mau pergi liburan hari ini, 'kan?" 


"Iya, Bun ! Aku sudah bangun." Shamora berusaha bangkit. Kakinya terulur ke bawah untuk berdiri dari kasur.


Ketukan di pintu menghilang, suara sang Bunda pun sudah tidak terdengar lagi pertanda wanita paruh baya itu sudah meninggalkan depan kamar. Shamora gegas bangkit setelah nyawanya terkumpul sempurna, kakinya mengayun langkah ke kamar mandi. Tidak ada ritual berendam, Shamora mempercepat durasi mandi dari biasanya. Menghabiskan waktu lima belas menit gadis itu keluar dengan tubuh segar. Bersolek mempercantik diri, Shamora siap keluar dari kamar. Ia tersenyum melihat para sahabatnya sudah duduk manis di kursi meja makan. Bahkan, mereka ada sudah memulai sarapan. 


"Selamat pagi." 


"Selamat pagi, Sha." Arlo mewakilkan jawaban untuk yang lainnya.


"Hanya kita berempat?" Shamora mendaratkan tubuhnya di samping Vira. 


"Zayyan ikut tapi belum sampai." Sahut Devin menyeka bibir dengan tissue menyudahi sarapan.


Tak ada lagi pertanyaan, mereka melanjutkan makan. Sementara itu Devin berniat meninggalkan meja makan untuk mengecek barang bawaaan untuk pergi berlibur. tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari arah luar, Shamora dan lainnya saling pandang sebelum bersama melangkah ke arah pintu.


“Za !” Devin menggeleng melihat tingkah laki-laki berusia lebih tua dua tahun darinya itu. Tidak heran lagi melihat tingkah randomnya.


“Kenapa ada bus mini disini?” Arlo turun dari teras rumah menghampiri Zayyan yang membicarakan hal serius pada sopir bus itu.


“Aku membawa bus ini untuk kita pakai nanti.” 


“Tapi kita bisa membawa dua mobil, Za” Shamora juga ikut turun.


“Benar kita memang bisa membawa dua mobil, tapi aku ingin kita satu mobil saja dan barang bawaan kita bisa ditaruh di kursi belakang.”


“Baiklah.” Keputusan ditetapkan oleh Vira. Gadis itu mengambil keputusan supaya perdebatan tidak berlanjut. Ia paham betul sifat putra sahabat mamanya itu. 


Senyum puas melengkung indah di bibir Zayyan, laki-laki itu melenggang masuk tanpa sungkan menjatuhkan tubuhnya di kursi makan. “Bunda aku lapar, belum sarapan.” 


“Ayo makan, Nak.” Bunda Sinta sigap menyiapkan makanan untuk laki-laki berparas tampan ini.


“Terimakasih, Bunda.” 

__ADS_1


Shamora dan yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Zayyan yang manja. Sambil menunggu laki-laki itu sarapan mereka memindahkan barang bawaan ke dalam bus mini yang dibawa oleh Zayyan. Setelah memastikan semua siap, lima anak manusia itu segera berangkat ke tempat tujuan yang direkomendasikan oleh Zayyan. Tak lupa Shamora mengirim pesan jika mereka akan berangkat pada sang kekasih, gadis itu beberapa kali menatap layar ponselnya berharap ada pesan balasan yang mengucapkan ‘Hati-hati di jalan’ atau ‘Aku pasti merindukanmu.’


Hampir menempuh tiga puluh menit, belum juga sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Shamora, gadis itu gelisah dadanya seketika sesak dengan hati yang kecewa. Kenapa Nevan begitu sibuk hingga tak memiliki waktu untuk membalas pesannya ? Tak ingin terlarut dalam asanya, gadis itu menyandarkan tubuh di sandaran kursi, helaan kasar dari nafasnya terdengar untuk mengusir perasaan yang susah dijabarkan. Mengabaikan tatapan para teman-temannya, Shamora memasang earphone di telinga, tatapan gadis itu terlempar ke arah luar jendela, entah menikmati perjalanan ini atau tidak hanya Shamora yang tahu jawabannya.


...----------------...


Nevan, masih fokus pada laptop di depannya, tanpa merasa bersalah dengan tidak membalas pesan kekasihnya. Baginya terpenting sudah tahu jika gadis itu sudah berangkat dari rumah. Tangannya lincah menari diatas keyboard, menekan huruf-huruf untuk merangkai sebuah tulisan. Pergerakan tangannya terhenti, ketika pintu ruangannya terketuk dari luar. Tanpa menjawab ia langsung melanjutkan pekerjaannya. 


“Sudah makan siang, Nev?” Ibu Denita menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. 


“Belum, Ma.”


“Apa Shamora sudah berangkat?” Wanita paruh baya itu membuka kotak makanan yang ia bawa. Karena calon menantunya sedang berlibur, maka beliau yang mengantarkan makanan ke kantor untuk suami dan anaknya.


“Baru saja.”


Ibu Denita menghela nafas panjang. “Nev, jangan terlalu mengabaikan Shamora. Dia calon istri kamu ! sibuk apapun kamu tetap jangan melupakannya. Seperti Papa yang selalu ada waktu buat Mama disela kesibukannya. Hubungan akan harmonis apabila selalu mengutamakan pasangan.”


“Shamora pasti mengerti, Ma. Aku bekerja juga untuk masa depan kami nanti.” Nevan berpindah duduk ke sisi ibunya. Laki-laki ini langsung menarik kotak makanan dan siap menyantapnya.


“Terserah kamu saja, itu saran Mama. Sudah lama kamu tidak mengajaknya main ke rumah kita.”


Tidak adajawaban untuk meneruskan perbincangan, Nevan masih melahap makanannya tanpa menanggapi perkataan sang ibu.


...----------------...


Matahari perlahan meredup, tidak lagi memancarkan kebuasannya saat seperti siang. Ia mulai menepi memberi peluang bintang dan rembulan mengambil alih tugas menerangi tanpa lelah. Bus mini berhenti di salah satu Villa dengan view pantai di depannya. Nampak indah dan mewah, entah milik siapa. Hingga Zayyam bisa meminjamnya. 


Hawanya sejuk karena masih banyak pepohonan, tak hanya Villa mewah itu saja yang berdiri di sana, namun banyak lagi Villa lain berukuran kecil yang jauh tak berjarak dengan bangunan lainnya. Dari depan Villa bisa menyaksikan sunset secara langsung. Sebab, berhadapan dengan pantai yang tak bertepi di penglihatan mata. 


"Lumayan jauh." Keluh Devin meregangkan otot tubuhnya yang terasa pegal.


"Tapi terbayar, lihat view nya sangat indah ! Disini juga sejuk sebentar lagi kita bisa melihat sunset dari sini." Puji Vira menatap kagum sekelilingnya.


Shamora tersenyum tipis, selama perjalan tiga jam tadi hatinya tidak baik-baik saja, seberapa harap pun dengan balasan pesan dari sang kekasih tak kunjung jua masuk ke ponselnya.


"Kamu sudah mengabari Nevan kalau kita sudah sampai." Arlo menghampiri gadis itu yang menatap jauh ke arah pantai 


"Buat apa ? Pesan yang tadi saja tidak dibalas." 

__ADS_1


"Jangan egois, Nevan sangat sibuk kamu tahu sendiri tanpa perlu ku jelaskan." Arlo tersenyum mengusap lembut pucuk kepala Shamora.


Hati gadis itu menghangat, tanpa bicara lagi ia mengirim pesan mengatakan mereka sudah sampai. Tanpa berharap balasan, Shamora menenangkan hatinya sendiri dengan memanjakan diri di tempat itu, api semangatnya berlibur kembali berkobar bahkan langkahnya mantap memasuki Villa. Sudut bibir teman-temannya terangkat melihat suasana hati Shamora membaik. 


__ADS_2