
Shamora bersama Bunda Sinta berada di salah satu pusat perbelanjaan. Mereka mencari barang keperluan, sambil berbincang mereka melangkah menyusuri rak yang tertata barang. Belanja bersama sering mereka lakukan, Bunda Sinta dan juga Shamora sengaja menyisihkan waktu untuk mereka habiskan di luar rumah. Saling mengisi, menguatkan dan menghibur apabila risau datang di hati mereka.
Shamora menoleh kepada Bunda Sinta sambil menunjuk barang yang diinginkannya. Tiba-tiba gadis itu tersentak karena ujung troli berbenturan dengan troli orang lain. Netranya melebar mendapati seseorang yang menolongnya tempo hari di kampus. Laki-laki itu menatapnya datar lalu menggulirkan pandangannya ke troli.
"Maaf." Gadis itu menarik troli nya mundur. Senyum kaku terlukis di wajah cantiknya karena tatapan tanpa ekspresi dari laki-laki yang berdiri di hadapannya.
"Tidak apa-apa, Nak."
Suara lembut dari wanita paruh baya cukup mencairkan suasana. Senyum lebar penuh ketulusan dari wajah cantik wanita itu.
"Maaf Tante. Saya tidak sengaja." Shamora merasa tidak enak hati karena kejadian tadi.
"Kami lengah, apa ada barang kalian yang rusak karena benturan. Seperti telur misalnya." Bunda Sinta mendekati troli milik lawan bicara putrinya.
"Sepertinya tidak ada, Bu. Kami juga salah karena tidak melihat ke depan. Kenalkan nama saya Denita." Wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya. "Dia putra saya Nevan William." Lanjutnya tersenyum.
"Saya Sinta dan ini putri saya, Shamora."
"Cantik sekali. Senang berkenalan dengan kalian. Bagaimana kalau kita makan siang bersama, kebetulan kami hampir selesai." Ibu Denita mengajak dengan antusias. Binar manik matanya seolah menemukan intan berlian ketika melihat Shamora Keandria. Jiwa keibuan untuk memiliki menantu pun, terpanggil begitu saja.
"Ma, aku ada janji sama Zayyan." Nevan berusaha menghindar karena tak hanya kali ini sang Mama mengakrabkan diri pada wanita yang baru dikenalnya. Namun, sudah berulang-ulang dan akan berakhir perjodohan.
"Hari ini saja, Nak." Mohon Ibu Denita. Iris matanya penuh harap agar permintaannya tidak ditolak.
"Bu, jangan memaksanya. Biasa anak muda banyak acara." Bunda Sinta merasa tak enak hati, apalagi sorot dari manik mata laki-laki tampan di hadapannya itu begitu dingin.
"Bunda benar Tante. Sepertinya kami juga mau pulang. Lain waktu saja kita makan bersama." Shamora melingkarkan tangannya di lengan sang Bunda. Dalam hatinya begitu tidak menyukai sikap laki-laki yang menolongnya tempo hari. Ia berdoa semoga saja hari ini pertemuan terakhir.
"Ayo, kita cari cafe atau resto terdekat saja."
__ADS_1
Nevan menatap wajah Shamora. Hatinya tercubit mendengar kalimat yang dilontarkan dari bibir gadis itu. Sejak tadi, ia menutupi kegugupannya yang tak beralasan. Entah kenapa jantungnya bertalu indah tiap kali mendengar suara lembut Shamora. Sepasang anak manusia itu melangkah di belakang ibu masing-masing tanpa bicara sepatah kata pun. Shamora yang terlanjur kecewa atas sikap laki-laki di sampingnya ini memilih mengabaikannya. Meski begitu dengan tidak tahu malunya sumber nyawa di dada kiri menabuhkan degup yang tak biasa. Hingga, membawa sepasang matanya untuk mencuri pandang.
Tanpa Shamora sadari, Adam di sampingnya berusaha menekan rasa gejolak penasaran tentang dirinya yang abai. Sejak pertemuan pertama, rekaman wajah cantik Shamora sudah tercetak nyata di ingatan Nevan. Hatinya berdenyut jantung pun berdebar, ingin bibirnya bertanya. Apa yang kamu suka ? Sedang sendiri atau memiliki pasangan ? Namun sayang, itu semua hanya terucap dalam hati. Hanya lirikan yang Nevan berani lakukan.
Bin'cafe, tujuan Shamora dan yang lainnya. Binar senang begitu tercetak jelas di netra gadis itu saat ayunan kaki masuk ke sana. Langkahnya ringan kecewa juga tertepis, saat seorang waitres menghampiri meja. Tanpa banyak kata yang mereka ucapkan sebagai basa-basi langsung menyebut pesanan. Obrolan kembali mengalir layaknya teman lama. Hanya dua orang yang diam tidak mau tegur sapa.
"Shamora, Bunda. Kalian di sini ?" Arlo datang setelah salah satu pegawainya memberitahu.
"Ar, ayo ke ruangan mu." Gadis itu telah dikuasai kebosanan merengek pada Arlo. Kehadiran laki-laki itu bagai angin segar menerpa hatinya yang layu.
"Sha, tidak enak sayang. Tadi Tante Denita mengajak makan bersama." Bunda Sinta menahan putrinya.
"Tidak apa-apa, Bu. Kasihan dia tidak ada teman bicara. Nevan juga mengabaikannya."
"Terimakasih, Tante." Shamora gegas berdiri.
Satu pasang mata menatap punggung gadis itu yang menjauh. Tak lupa hatinya mengutuk bibirnya yang terkunci.
"Namanya Arlo, mereka berteman sejak kecil. Andai berjodoh saya juga tidak menolak. Arlo laki-laki baik dan sopan, mandiri dan juga penyayang." Pujian terlontar dengan indah untuk sosok Arlo.
Panas, kenapa segumpal daging lembut di dalam tubuh tegap Nevan Willian terasa panas ? Namun lega mendengar status Shamora dan Arlo. Ada rasa tak rela melihat punggung gadis cantik itu menjauh dari pandangannya, kenapa tiba-tiba rasa nya kosong? Nevan masih menatap punggung Shamora yang menjauh masuk ke dalam, helaan nafas kasar terdengar tipis dari bibir laki-laki itu. Tunggu, kenapa harus merasa kesal?
"Nev, kamu kenapa?"
Pertanyaan Ibu Denita menyentak laki-laki itu, segaris senyum tertarik di bibirnya. Tingkahnya canggung seolah kedapatan mengintip anak gadis orang.
"Tidak apa-apa, Ma."
"Maafkan Shamora, dia memang dekat dengan Arlo." Bunda Sinta tersenyum lembut. Tak enak hati karena putrinya meninggalkan meja.
__ADS_1
"Iya Tante, mungkin karena kami belum terlalu kenal, jadi dia tidak nyaman." Nevan kembali menarik senyum lebih lebar.
"Iya, Bu. Santai saja." Ibu Denita ikut menimpali ucapan putranya.
Nevan, sosok laki-laki datar yang tidak mudah dekat dengan orang lain. Laki-laki itu cenderung pendiam dan tak suka ikut campur urusan orang lain. Sembari menyuap makanannya, netra laki-laki itu kembali melirik ke arah ruangan tempat Shamora masuk. Dalam hatinya berharap gadis itu keluar dan ikut bergabung. Laki-laki datar itu sering curi-curi pandang dimana keberadaan Shamora saat ini, maka lain pada gadis itu, ia tengah melahap makanannya tanpa terganggu.
"Sha, siapa mereka?" Arlo meletakkan gelas minuman di atas meja, lalu menambahkan dengan beberapa minum kaleng.
"Itu kenalan baru, tadi tidak sengaja bertemu saat belanja." Gadis itu meraih gelas lalu minum hingga airnya sisa setengah.
"Seperti tidak asing."
"Dia kuliah di tempat kita, beda jurusan saja. Kemarin aku bertemu dengannya di gerbang kampus."
"Pantas saja." Arlo mengangguk tanda mengerti.
Shamora melanjutkan makannya tanpa mengingat jika dirinya tengah di tunggu di luar. Gadis itu seperti kesurupan melahap semua makanan tersaji. Arlo tersenyum, jarang-jarang gadis penyusup hatinya itu makan sangat banyak. Sayang, lagi-lagi gelombang cinta yang bermain di relung hatinya hanya dapat Arlo rasakan sendiri.
"Kamu kenapa?"
Arlo menggeleng. "Tidak apa-apa, aku senang kamu makan banyak hari ini."
"Aku memang lapar." Shamora menyandarkan tubuhnya di dinding sofa.
Arlo terkekeh. "Bunda menunggumu."
"Ah, iya ! Aku lupa. " Gadis itu gegas bangkit dari tempatnya duduk. Jarinya meraih tas dan juga ponsel di atas meja.
"Ayo aku antar keluar."
__ADS_1
Shamora mengangguk, mengiyakan kalimat Arlo. Mereka melenggang keluar dari ruangan, senyum dan canda terlihat manis di antara keduanya. Manik mata Nevan menghunus tajam, lagi rongga dadanya menabuh kesal dan panas.