Cinta Tuan Muda Za

Cinta Tuan Muda Za
Lamaran Dadakan


__ADS_3

Hembusan angin pantai mengayun ombak menyapu bersih pasir yang menempel di kaki cantik Shamora, tak membuang kesempatan untuk meraup oksigen di pagi hari, lima anak manusia ini sudah bermain di bibir pantai. Shamora membentangkan tangannya menatap jauh penghujung laut tak bertepi, membiarkan angin menghempaskan gelisah bercampur kecewa yang menderanya sejak kemarin. Gadis cantik itu memejamkan mata sesaat merasakan sensasi air asin itu menyapa kaki mulusnya. Setetes air bening mengalir manja mencemari pipi putihnya, sekuat apapun perasaannya, tetap saja mata menangis meluapkan rasa.


"Jangan terlalu dipikirkan." Vira menghampiri sahabatnya yang dirundung kesedihan.


"Aku kecewa, kenapa Nevan tidak menyisihkan waktu untuk membalas pesan atau menjawab teleponku?"


"Sibuk, itu alasannya. Bertahanlah sedikit lagi." Vira merangkul pundak gadis itu sambil mengusap lembut. "Ada kalanya kita menghabiskan rasa mengerti kita, tapi bila tak ada balasan juga maka kita patut mempertanyakannya." 


"Kamu benar, seharusnya aku tidak memikirkannya, lebih baik memanjakan diri di tempat ini." 


Vira tersenyum. "Ini tujuan kita datang kesini untuk memanjakan diri."


Suasana hati Shamora lebih baik, senyum manis juga sudah terukir kembali membingkai wajah cantiknya. Ceria perlahan nampak menyingkir gurat mendung yang menaunginya. Di pantai itu cukup banyak orang berlibur, villa sekitarnya terlihat di isi beberapa pengunjung. Dua gadis ini melemparkan pandang segala arah, mencari tiga sosok laki-laki yang selalu setia mengintil pada mereka. 


"Dimana mereka?" Shamora semakin melebarkan pandang. 


"Mereka sepertinya di sana." Vira menunjuk kerumunan wanita yang tak jauh dari mereka.


Kaki keduanya terayun melangkah menghampiri kerumunan itu, benar saja Devin tengah bercanda ria bersama beberapa orang gadis. Tak hanya ia sendiri ada Arlo dan juga Zayyan ikut serta. 


"Jadi, ini yang kalian lakukan?" 


Kerumunan terbelah, menampilkan wajah Shamora menyoroti tajam para gadis yang menggoda tiga laki-laki tengah memamerkan tubuh mereka itu.


"Sha, bu—bukan seperti yang kamu lihat. Me—mereka yang datang kesini." Zayyan segera berucap seolah mendapatkan intimidasi dari kekasih. Lidahnya terbata dan merasa bersalah, padahal apapun yang dilakukannya tidak masalah untuk Shamora.


"Aku ingin naik kapal." Shamora menahan senyum melihat raut tegang di wajah tiga laki-laki itu. 


"Sesuai permintaanmu." Zayyan gegas bangkit dari tempatnya duduk. "Mereka tidak menyentuh tubuhku sama sekali." Lanjutnya masih berusaha menjelaskan pada Shamora.


"Hei, apa masalahnya jika mereka menyentuhmu. Tidak ada hubungannya dengan Shamora." Arlo menepuk pundak Zayyan sambil tertawa.

__ADS_1


Laki-laki itu tersenyum kaku, benar juga apa hubungannya dengan Shamora ? Kekasihnya saja bukan, mungkin efek rasa cinta terpendamnya hingga tak tega menyakiti hati Shamora. 


"Vira, aku tidak menggoda mereka." Devin menghampiri gadis itu yang diam sejak tadi.


"Memang masalahnya apa padaku?" 


Segaris senyum tertarik di bibir Devin. Cemburu, ia bisa melihatnya di dalam netra Vira, gadis itu nampak marah dan juga diam. 


"Tentu saja masalah, karena aku tidak mau kamu salah paham, mereka yang menghampiri kami." Devin melangkah mendekat menyentuh kedua bahu gadis itu.


"Aku tidak salah paham, wajar kalian masih single dan didekati oleh para gadis itu."


"Vira Oktaviana, aku akan selalu menjaga tubuh dan hatiku untuk kamu. Aku tidak main-main dengan perasaanku, aku menyukai kamu dan mencintai kamu sejak lama. Maukah, kamu jadi istriku?" 


Manik mata Vira membulat, semburat merah tercetak sempurna di pipinya, jantungnya berdebar indah menggetarkan relung hati gadis itu. Tunas-tunas cinta bersorak senang tersiram air cinta, tubuhnya mematung dengan otak mencerna kalimat yang baru saja ia dengar.


"Kamu melamar Vira ?" Arlo menatap tak percaya. Begitu pun yang lainnya. 


"Iya, aku serius melamarnya. Vira maukah, kamu menjadi istriku ?" Ungkap Devin sekali lagi.


"Kalau perasaanmu sama, jangan ragu menerimanya. Masalah usia tidak jadi masalah." Senyum Shamora terkembang di wajahnya. Ia bahagia dua insan itu bisa menyatu dalam ikatan pernikahan.


"A—aku mau." Vira menjawab sambil tersenyum malu-malu. Perasaannya bahagia karena terbalas dengan baik. 


Devin meraih tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, bibirnya mendaratkan kecupan penuh kasih sayang di atas pucuk kepala Vira Oktaviana


"Selamat untuk kalian berdua." Shamora menyeka sudut matanya terharu. Ia meraih alih tubuh Vira dan memeluknya.


"Kamu hebat, lamaran dadakan ini begitu menguras keberanian dan kamu memenangkannya." Arlo memeluk tubuh Devin dengan perasaan bahagia.


"Selamat, Dev ! Kamu mendapatkan orang yang kamu cintai." Zayyan mendekat lalu memeluk laki-laki itu. Terbesit iri dalam hatinya bisa memiliki gadis yang dicintai. "Om Yudha dan Tante Rindy pasti senang. Selamat Kak Vira, ah aku merasa kehilangan kamu." Lanjutnya tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih Za. Jangan terus memanggilku Kakak terkesan tua rasanya." Vira terkekeh senang.


"Nanti mama memarahi aku kalau memanggil dengan nama."


"Dasar anak Om Manja !" Cibir Devin. "Tinggal kalian berdua, buka hati pada orang lain. Jangan menyiksa diri dengan cinta dalam diam kalian selama ini, Shamora akan bahagia bersama Nevan." 


"Aku akan berusaha, sekarang hatiku sudah perlahan sembuh." Arlo tersenyum yakin dengan iris mata jatuh pada Shamora yang menggoda Vira.


"Bolehkah aku jahat ?" Manik mata Zayyan juga tertuju pada wanita pemilik hatinya itu. "Bolehkah, aku mendoakan keburukan untuk hubungannya dan Nevan. Setiap hari perasaan ini tubuh sangat dalam." Lanjutnya menatap lekat.


"Jahat sekali niatmu itu, sudahlah ! Kalau berjodoh dia akan jatuh ke pelukan kamu atau Arlo. Untuk sekarang dia sudah menemukan pelabuhan hatinya yaitu Nevan William. Ayo naik kapal !" Devin merangkul pundak dua sahabatnya itu.


"Tunggu, aku masih penasaran. Villa ini mewah dengan segala fasilitasnya bagaimana kamu bisa mendapatkannya? Pengurus Villa juga begitu sungkan padamu, siapa kamu sebenarnya ?" Arlo melirik tajam pada Zayyan yang nampak serba salah. Seluruh mata tertuju padanya menanti jawaban tentang dirinya.


Laki-laki ini menghela nafas panjang dan berkata. "Aku pemilik villa ini, dan villa-villa itu milikku yang disewakan kepada pengunjung. Aku putra tunggal Zevin Kavindra."


"Jadi kamu pewaris Jaya Group !" Tebak Arlo terkejut.


"Iya, aku pikir kalian mengetahuinya." Zayyan memicingkan mata.


"Maaf kami tidak mengenali anda tuan muda." Ejek Devin menyatukan kedua telapak tangannya. " Zayyan, adalah sahabatku dan Vira tapi kami memiliki privacy jadi tidak langsung mengenalkan diri. Orang tua kami bersahabat Papaku memegang penuh rumah sakit milik Om Manja. "


"Jangan menyebutku Tuan muda !" Zayyan  mengejar Devin yang telah berlari lebih dulu bersama Vira.


"Aku tidak menyadari nama Vinjaya dibelakang namamu." Seru Arlo berhasil mengejar dan meletakkan tangannya di pundak Zayyan.


Liburan itu lebih berwarna dan dihiasi tawa bahagia, selain lamaran Devin untuk Vira, suasana hati Shamora pun membaik dengan sendirinya. 


...----------------...


Kacamata putih membingkai memberi perlindungan untuk mata seorang Nevan William, tadi malam sudah menerima edukasi dari kedua orang tuanya, sejak beberapa hari lalu ia sudah abai dengan sang kekasih. Kesibukan benar-benar menyita perhatiannya, hari ini ia akan mengunjungi Shamora di kediamannya saat nanti mereka tiba. Ya, hari ini gadis bertubuh sintal itu akan pulang dari liburannya. Dan kembali melakukan aktivitas seperti biasa, Nevan merasa bersalah karena tak bisa meluangkan waktu walau hanya sekedar membalas pesan. Seulas senyum membingkai wajah tampannya, ketika sebuah notifikasi masuk ke dalam benda pipih berharga fantastis miliknya. Pesan itu dari Shamora mengabarkan jika dirinya akan pulang hari ini. Tak dipungkiri rindu pun membara dalam dada laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2