
Alexa berpikir setelah pernikahan itu selesai Arga tidak akan membawa Alina tinggal bersama mereka. Alexa berpikir Arga akan memberikan rumah baru untuk Alina dan anak-anaknya tinggali. Tidak pernah terbesit dalam pikiran Alexa bahwa dia akan tinggal serumah bersama madunya, tetapi ternyata dugaannya salah karena sehari setelah pernikahan itu berlangsung Arga justru membawa keluarga barunya tinggal bersama Alexa dan kedua anaknya.
"Mas kenapa Alina ada di rumah kita dan bawa koper?" Tanya Alexa. sedangkan kedua anaknya hanya diam menyaksikan ayah mereka yang membawa istri barunya kedalam rumah mereka. Kekecewaan tergambar jelas di kedua mata Alexa dan anak-anaknya.
"mulai hari ini Alina dan anak-anak saya akan tinggal di rumah ini, dan saya tidak butuh persetujuan kamu. ingat batasan kamu Alexa bahwa kamu hanya istri pengganti jadi jangan melewati batas karena ini rumah saya bukan rumah kamu. Ingat itu." Jawab Arga dengan sinis. matanya memandang Alexa dengan tatapan penuh ejekan.
"Masih untung saya tidak menceraikan kamu, jadi sebaiknya kamu diam saja dan tidak usah ikut campur yang bukan urusan kamu." sambung Arga.
"Tapi mas ak..."
"DIAM KAMU, nggak usah banyak membantah ucapan saya." Bentak Arga.
"Ayo sayang kita lihat kamar kamu dan anak-anak." Sambung Arga sambil menggandeng tangan Alina dan anak mereka Anaya.
"Naya pengen kamar yang besar dan bagus ya pa." Ucap Anaya.
"Siap tuan putri, perintah di laksanakan" Jawab Arga sambil mengusap kepala Anaya dengan penuh kasih sayang. bibirnya terus tersenyum memandang putrinya itu.
"Terus pangeran papa yang satu ini mau kamar yang seperti apa?" Tanya Arga pada putranya Arkan sambil mencubit gemas hidung mungil putranya itu.
__ADS_1
"Kemarin Arkan udah lihat-lihat rumah ini pa, dan Arkan pengen kamar Vano dan Revan jadi kamar Arkan karena kamarnya bagus dan besar." ucap Arkan dengan seringai sini memandang kedua saudara tirinya.
"enggak bisa itukan kamar Vano dan Abang, vano nggak setuju pa kasi kamar lain aja. kamar di rumah ini kan ada banyak papa." Jawab Vano dengan lantang. matanya memandang ayahnya dengan berkaca-kaca tapi sayang Arga enggan menatap putranya itu seakan putranya yang satu itu hanya kotoran Dimata Arga.
"Sayangnya saya tidak butuh pendapat kamu anak sial, ingat kamu dan saudara kamu serta ibu kamu itu hanya numpang di rumah saya jadi kalian tidak berhak mengatur saya di rumah saya sendiri. NGERTI KAMU." Ucap Arga sambil mendorong Devano dengan keras sampai punggung anak itu terbentur kursi yang berada tepat di belakang tubuhnya.
"Tapi kan itu kamar..."
"SAYA BILANG DIAM DAN KAMU BERITAHU ANAK KAMU AGAR TIDAK MELEWATI BATASANNYA DI RUMAH INI." Bentak Arga. Dan Alexa hanya bisa menangis meratapi nasibnya dan kedua anaknya yang begitu menyedihkan.
"Sudah sayang nggak apa-apa. Vano sama Abang bobonya di kamar mama aja ya. kita tidur bertiga, gimana?" bujuk Alexa pada kedua anaknya.
"Kata siapa papa jahat, papa nggak jahat kok de. papa mungkin lagi ada masalah aja makanya marah sama ade, tapi percaya deh sama mama kalau sebenarnya papa itu sayang banget loh sama adik sama kakak juga." hibur Alexa sambil membawa kedua anaknya kedalam dekapan hangatnya.
"Kalau sayang kenapa kita selalu dimarahin tiap hari ma bahkan kamar Vano dan Abang d rebutpun papa biasa aja." Jawab Vano. bahunya bergetar karena menangis.
"ututu anaknya mama, udah ya jangan nangis lagi nanti mukanya jadi jelek. emang Ade mau mukanya jadi jelek kayak gunduruwo?"
"Gonduruwo itu siapa ma?" Tanya Revan.
__ADS_1
"gunduruwo itu setan sayang." jawab Alexa
"Ih mama kok Ade di samain sama setan sih. adekan ganteng kayak aktor Korea favorit mama itu, siapa namanya bang Ade lupa?" Tanya Vano sambil memegang dagunya seolah dia sedang berpikir dengan keras.
"Namanya Cha Eun woo kan ma" jawab Revan sambil memandang ibunya dengan serius.
"Hahahahahha. kok anak-anak mama lucu banget sih kayak Upin Ipin yang lagi rebutan ayam goreng kak rose." jawab Alexa sambil tertawa memandang kedua anaknya. Revan anak sulungnya hanya tersenyum tipis memandang ibunya yang tertawa tapi anak itu tidak bodoh, dia dapat melihat luka di mata ibunya. Usia Revan memang masih empat tahun tapi rasa sakit membuatnya menjadi dewasa sebelum waktunya. Dia harus kuat dan tidak boleh cengeng agar bisa melindungi adik dan juga ibunya dari kejahatan ayahnya selama ini.
"Ma Abang selalu berdoa sama Allah semoga mama kedepannya di beri kebahagiaan entah dengan papa atau dengan orang lain. Abang akan selalu dukung mama asal mama bahagia." Batin Revan.
"Ade juga suka sama ayam goreng tapi bukan ayam goreng buatan kak rose tapi buatanya mama dong." Jawab Vano sambil tersenyum lebar memandang ibunya.
"Ayo ma, de kita beres-beres barang-barang kita dan kita bawa ke kamar mama." ucap Revan sambil menggandeng tangan adik dan ibunya menuju kamar mereka yang terletak di lantai 2. sepanjang jalan mereka terus bercanda satu sama lain dan terkadang Alexa akan menceritakan kisah-kisah lucu dan membuat kedua anaknya tertawa keras.
"Selalu tersenyum ya anak-anak mama, maafin mama yang nggak bisa buat ayah kalian sayang sama kalian seperti dia sayang sama kedua saudara kalian yang lain. maafin mama yang lemah dan bodoh ini ya nak.'' batin Alexa
setelah sampai di kamar Vano dan Revan, Alexa dan kedua anaknya segera masuk dan langsung membereskan barang-barang kedua anaknya untuk di bawa ke kamarnya. sedangkan suami dan kedua anak sambung Alexa saat ini justru sibuk bermain di atas tempat tidur dengan tawa yang terus menghiasi bibir mereka. Alexa dapat melihat kesedihan di mata kedua putranya saat memandang pemandangan menyakitkan itu. bahkan dapat Alexa lihat mata putra keduanya yang saat ini sudah mulai berkaca-kaca melihat itu, terlebih mainan yang mereka mainkan saat ini adalah mainan kedua putranya. tapi Alexa hanya bisa diam menyaksikan pemandangan menyakitkan itu. yah, memang apalagi yang bisa dilakukan Alexa selain diam.
"Ma itukan mainan adik sama Abang." Lirih Devano dengan air mata yang sudah mengalir deras membasahi pipi cabinya.
__ADS_1
"nggak apa-apa, kak Arkan dan kak anaya cuma pinjam bentar mainan adik sama Abang." ucap Alexa sambil memeluk erat putra keduanya itu. Hatinya menjerit sakit mendengar pertanyaan lirih putranya itu. sungguh rasanya Alexa ingin pergi ke sana dan merebut mainan itu dari tangan kedua anak sambungnya. tapi Alexa tidak dapat melakukan itu karena dia tau jika dia melakukan itu pasti suaminya akan kembali menyiksa fisiknya seperti sebelumnya. Tidak masalah jika suaminya hanya menyiksanya tapi suaminya juga pasti akan menyiksa atau bahkan mengurung kedua putranya di gudang seperti biasa dan itu sangat menyakitkan untuk Alexa. Tidak apa-apa jika hanya dia tapi jangan kedua anaknya juga. itulah sebabnya dia tidak pernah melawan suaminya itu, dia hanya selalu diam dan menuruti suaminya. terkadang terbesit dipikiran Alexa bahwa dia ingin pergi meninggalkan neraka tempatnya tinggal saat ini, Tapi lagi-lagi dia berpikir jika dia pergi bagaimana mereka akan hidup selanjutnya dia tidak memiliki uang dan dia juga hanya lulusan SMA juga otaknya tidak sepandai kembarannya. Dia juga masih sangat mencintai suaminya itulah sebabnya dia memilih bertahan, dia berharap suaminya dapat berubah seiring berjalannya waktu. dia berharap suaminya dapat mencintainya sedikit saja dan menerima kedua putranya, yah naif memang tapi terkadang cinta dapat membutakan segalanya dan itulah yang terjadi pada Alexa. Cintanya terlalu buta hingga membuatnya selalu bertahan walau luka fisik dan batin selalu menyertai langkahnya.