
tidak terasa sudah dua bulan berlalu, itu artinya sudah dua bulan juga Arga dan Alina menikah. Sejak saat itu juga kehidupan Alexa dan kedua anaknya seperti di neraka. Setiap hari mereka selalu menjadi pelampiasan amarah Arga. Dulu sebelum kedatangan Alina, Alexa dan kedua anaknya memang sering mendapatkan kekerasan dari Arga tapi tidak separah sejak kedatangan Alina. Rasanya Alexa benar-benar lelah sekarang. Dia ingin menyerah tapi saat ini Alexa masih memilih bertahan setidaknya sampai dia bisa mengumpulkan sedikit uang untuk menjadi bekal saat mereka meninggalkan rumah Arga.
kekuatan Alexa saat ini hanyalah kedua anaknya, Alexa tidak ingin berharap lagi pada suaminya. Terlebih setelah melihat kekejaman suaminya pada kedua putranya, Alexa tidak terima.
"ampun pa, Jangan pukul lagi." samar-samar Alexa mendengar suara sang anak yang merintih kesakitan. oh tidak, Alexa tidak bisa membiarkan suaminya menyiksa kedua anaknya kembali. Alexa berlari kearah toilet yang terletak di dapur rumah mereka, dan benar saja di sana Alexa dapat melihat kedua putranya sedang disiksa oleh ayah mereka di bawah guyuran shower. bibir kedua anaknya bahkan sudah membiru karena kedinginan. Di luar sedang hujan deras dan saat ini juga sudah malam jelas saja udaranya juga lebih dingin. apa Arga sudah tidak memiliki otak sampai menyiksa anaknya dibawah guyuran air seperti ini. Alexa juga melihat kedua pipi anaknya memar bahkan baju di putih putranya terdapat bercak darah.
pasti punggung putranya saat ini terluka, Alexa menangis histeris melihat keadaan kedua putranya saat ini. bahkan hewan saja tidak akan menyiksa anaknya sekejam ini tapi Arga yang manusia justru menyiksa kedua putranya seakan kedua putranya itu hanya benda mati yang tidak bisa merasakan sakit.
Alexa berlari kearah kedua putranya, d peluknya tubuh mungil itu dengan erat dan menjadikan dirinya sebagai tameng kedua putranya. Alexa menangis sambil mengecup kepala kedua putranya satu persatu.
"Maafin mama, maafin mama."gumam Alexa sambil terisak. hingga tiba-tiba kepanikan Alexa semakin menjadi saat putra sulungnya tiba-tiba saja jatuh tidak sadarkan diri.
"Abang, bangun nak. jangan bikin Mama khawatir." lirih Alexa sambil menepuk-nepuk pipi putranya, sedangkan Devano sang adik memandang sang kakak dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya yang mulai tirus.
"ma kita bawa Abang ke rumah sakit ya ma." ujar Devano lirih.
"vano bisa jalan sendiri nak?" tanya Alexa pada sang putra.
__ADS_1
"vano bisa ma." jawab Devano.
di gendongnya tubuh putranya keluar dari toilet itu, Alexa berjalan tergesa-gesa sambil menggendong putra sulungnya. sedangkan putra bungsunya mengikuti sang ibu dari belakang.
"mau kemana kamu?"tanya Arga tiba-tiba saja menghadang langkah Alexa. Alexa memandang suaminya tajam. Hatinya terlalu kalut saat ini terlebih melihat kondisi Putranya yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja saat ini. Pikiran-pikiran negatif terus menghantui pikiran Alexa. Rasanya Alexa ingin mengutuk suaminya ini, tapi dia tidak bisa melakukannya.
"saya bilang kamu mau bawa kemana anak itu? JAWAB." Bentak Arga, wajahnya bahkan memerah karena emosi saat ini.
"saya mau bawa anak saya ke rumah sakit." jawab Alexa
"tidak ada yang boleh ke rumah sakit, kamu bawa anak kamu ke kamar nanti saya akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan anak kamu." ujar Arga sambil menatap keadaan sang putra.
"ikuti ucapan saya atau anak kamu akan mati" kata Arga dingin.
Alexa tidak ada pilihan selain menuruti perkataan suaminya, ini untuk kebaikan putranya asalkan putranya bisa kembali sehat. Alexa berjanji setelah putranya sehat, dia akan membawa kedua putranya jauh dari neraka ini. Dia menyerah, karena sampai kapanpun cintanya tidak akan terbalas. Alexa tidak ingin bertahan di tempat ini lagi, dia tidak ingin mengorbankan kedua putranya. sudah cukup keduanya menderita karena siksaan sang ayah. Alexa akan membawa mereka pergi jauh sampai Arga sekalipun tidak akan bisa menemukan mereka lagi.
sesampai di kamar Alexa langsung membaringkan putranya di atas tempat tidur, di pandanginya wajah putranya dengan sendu. sungguh Alexa berpikir dia adalah ibu yang buruk saat ini. bagaimana bisa dia seegois ini, hanya karena ingin cintanya di balas sang suami dia sampai mengorbankan kedua putranya.
__ADS_1
"maafin mama sayang, maafin mama." gumam Alexa lirih.
diraihnya tangan mungil sang putra, sungguh dia merasa sangat bersalah kepada putranya ini. padahal berkali-kali putranya mengajaknya meninggalkan rumah suami yang selalu menyiksanya ini tapi Alexa seakan tuli. Sekarang dia menyesal, sangat menyesal. jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada putranya, Alexa tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
"bisa minggir sebentar Bu, agar saya bisa memeriksa anak ibu." ujar seseorang yang berdiri di belakang tubuh Alexa.
"silahkan dok." kata Alexa sambil menyingkir dari sang putra agar dokter ini segera memeriksa keadaan putra sulungnya.
"keadaan anak ibu baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan sepertinya anak ibu juga belum makan itulah sebabnya dia pingsan. dan untuk luka yang ada ditubuh anak ibu nanti saya akan beri resep obat agar lukanya segera membaik." ucap dokter yang saat ini tengah memeriksa Revano.
"dok tolong periksa anak saya yang ini juga." ucap Alexa sambil menyuruh putra keduanya untuk berbaring di samping putra sulungnya.
setelah memeriksa kedua putranya dokter itu langsung izin pulang. sedangkan Alexa langsung ke dapur mengambil makanan untuk kedua putranya. oh tuhan ibu macam apa dirinya sampai membiarkan kedua putranya kelaparan.
sesampai di dapur Alexa langsung memasak makanan favorit kedua putranya, putranya pasti bahagia memakan makanan favorit mereka.
usai memasak Alexa langsung membawa makanan yang dimasaknya itu ke kamar kedua anaknya, agar kedua anaknya lekas makan. setelah kedua anaknya sembuh alexa akan segera meninggalkan rumah ini. Jika dia masih tetap bertahan di sini bisa saja kedua anaknya akan tewas di tangan ayah kandung mereka sendiri, dan alexa tidak akan membiarkan hal ini terjadi.
__ADS_1
entah apa dosa Alexa sampai tuhan menghukumnya seperti ini, tidak cukupkah penderitaannya selama hidup di rumah kedua orangtuanya. dulu Alexa berpikir setelah menikah dia bisa bahagia dengan suami yang akan mencintai dirinya dengan tulus. Tapi Alexa terlalu naif hingga melupakan fakta bahwa pria yang menikahinya selama ini tidak pernah mencintai dirinya, pria itu mencintai Alina bukan Alexa dan bodohnya Alexa tetap saja memilih hidup dalam kepura-puraan bahwa suaminya suatu hari akan mencintai dirinya seperti dia mencintai saudari kembarnya. Namun faktanya sampai detik ini sang suami tidak pernah sekalipun mencintainya. Justru terkesan sang suami membenci dirinya terlihat dari semua penyiksaan yang Alexa dan kedua putranya alami selama ini. Dan kini, cinta yang dulu sangat di agungkan Alexa itu kini justru memberi luka paling dalam untuk kedua putranya.
BERSAMBUNG