CINTA UNTUK ALEXA

CINTA UNTUK ALEXA
Bab 3. Kecemasan Seorang anak


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu dan tidak terasa saat ini sudah 2 bulan lamanya Alexa tinggal serumah bersama madunya yang tak lain adalah Saudari kembarnya sendiri, dan dalam waktu dua bulan itu Alexa merasa hidupnya semakin menderita. Saudara kembarnya selalu saja memfitnah dirinya dan suaminya selalu mempercayai istri keduanya itu.


bukan hanya suaminya tapi kedua mertua dan saudara iparnya juga selalu mempercayai Alina sedangkan kedua orangtuanya semakin membencinya. Alexa sejujurnya bingung kenapa kedua orang tuanya itu selalu membenci dirinya sedangkan dia sama sekali tidak merasa melakukan banyak kesalahan selama ini. sejak kecil kedua orang tuanya selalu memperlakukan Alexa dan Alina secara berbeda. Mereka selalu mempercayai Alina tidak peduli walau Alina berbuat kesalahan sedangkan Alexa bahkan walau dia berkata jujur sekalipun dia tidak akan di percayai oleh kedua orangtuanya.


Alexa dan Alina memang kembar tapi mereka tidaklah identik bahkan perlakuan keluarga mereka juga selalu berbeda pada kedua saudari kembar itu. Alina selalu di puji semua orang sedangkan Alexa selalu mendapat cemoohan seluruh keluarga besarnya. Tidak ada satupun diantara mereka yang menyayangi Alexa hingga terkadang terbesit dalam pikiran Alexa apakah dia adalah anak kandung orang tuanya atau bukan. jika memang dia adalah anak kandung mereka kenapa perlakuan mereka berbeda padanya.


"Kamu apain lagi Alina, Alexa!" bentak Arga sambil membantu Alina berdiri sedangkan Alina menangis memeluk Arga.


"Aku nggak ngapa-ngapain dia mas, tadi Alina jatuh dan aku mau nolongin dia mas." jawab Alexa


"Jangan bohong kamu wanita murahan, kamu pikir saya tidak tau kamu dorong Alina?" bentak Arga marah.


"sumpah mas aku nggak dorong Alina." ucap Alexa dengan lirih. matanya tidak berani memandang Arga yang menatapnya dengan sinis sungguh tatapan Arga saat ini begitu membuatnya takut.


"Ikut saya kamu." ucap Arga sambil menarik tangan Alexa sampai tangan putih susu itu memerah.


Arga membawa Alexa ke lantai dua tepatnya di kamar Alexa.

__ADS_1


BRUK


"kamu tau, kamu selalu membuat saya muak."ujar Arga sinis.


"wanita menjijikkan." imbuh Arga.


Lagi-lagi Arga menyakiti dirinya, rasanya lututnya begitu sakit saat ini. Siku dan lututnya terluka karena terbentur lantai, saat ini bahkan bukan hanya fisiknya saja yang terluka melainkan batinnya juga. Bahkan batinnya berkali-kali lipat lebih sakit saat ini. Tidak bisakah suaminya ini mempercayai dirinya sekali saja. Batin Alexa menjerit, ingin rasanya Alexa berteriak melampiaskan rasa sakit di hatinya saat ini tapi jika dia melakukan hal itu kedua anaknya pasti akan langsung menyusulnya ke kamar dan melihat keadaan ibu mereka yang terlihat tidak berdaya dan tampak menyedihkan seperti ini.


tapi sepertinya harapan Alexa tidak terkabul, karena kedua anak itu kini sudah menangis melihat ibu mereka yang tampak menyedihkan. melihat kedua anaknya yang menangis hati Alexa semakin sakit. dari dulu Arga memang selalu seperti ini, selalu memaki bahkan menghukum dirinya tanpa mau mendengar apa yang sebenarnya terjadi.


berbagai cara telah dilakukan Alexa agar suaminya bisa menerimanya sebagai seorang istri, mulai dari memasak makanan untuk suaminya setiap hari walau pada akhirnya makanan itu akan selalu di buang oleh suaminya dan berakhir dia akan di caci maki setelahnya. membuatkan kopi untuk suaminya di saat suaminya sibuk bekerja walau akhirnya kopi itu sama sekali tidak di sentuh. Bahkan dalam percintaan mereka pun Arga tidak pernah menyebut nama Alexa melainkan nama saudara kembarnya lah yang di sebut oleh suaminya dan tentu saja itu sangat menyakiti hati Alexa.


setiap hari Alexa selalu berharap suaminya dapat mencintai dirinya dan menerima kehadirannya di hidupnya. tapi ternyata itu tidak pernah terjadi bahkan di saat dia sedang mengandung anak mereka sekalipun Arga tidak pernah memperlakukan Alexa dengan baik. bahkan Alexa harus memenuhi keinginan ngidamnya sendiri tanpa meminta pada suaminya. pernah terbayang dalam benak Alexa seandainya suaminya bisa memenuhi satu saja keinginannya saat dia mengandung dulu pasti itu akan sangat membahagiakan untuk Alexa tapi sayang itu tidak akan pernah terjadi karena suaminya sangat membenci dirinya entah apa salah Alexa pada suaminya itu sehingga suaminya sangat membencinya.


"Mama baik-baik aja?" tanya Revano putra sulungnya. Alexa dapat melihat kecemasan di mata putranya itu.


"mama baik-baik aja sayang, Abang nggak usah khawatir ok." ucap Alexa sambil mengusap kepala sang putra dengan sayang.

__ADS_1


"tapi bibir mama berdarah, pipi mama juga memar, lutut mama juga luka." lirih Revano dengan mata yang sudah berkaca-kaca memandang sang ibu, tangannya terkepal melihat keadaan sang ibu yang begitu mengenaskan saat ini.


"jangan khawatir ya nak, mana baik-baik aja kok. mama kan kuat kayak wonder woman." ujar Alexa sambil tersenyum memandang putranya itu.


"maafin Abang ma, Abang gagal jagain mama sampai mama luka kayak gini. padahal Abang udah janji akan jagain mama tapi justru Abang gagal lagi. maaf ma, maafin Abang." lirih Revano sambil bersimpuh di hadapan ibunya. air matanya tumpah menyaksikan kondisi sang ibu saat ini. dirinya merasa gagal menjaga sang ibu sehingga sang ibu harus terluka lagi karena perbuatan sang ayah. sungguh rasanya Revano sangat marah pada sang ayah saat ini.


"Revan janji saat Revan udah gede Revan nggak akan biarin papa nyakitin mama lagi. Revan nggak bakal biarin papa dekatin mama bahkan walau papa memohon sekalipun." batin Revan.


anak berusia empat tahun itu terus memeluk sang ibu sambil menangis, anak yang bahkan tidak pernah menangis saat ayah kandungnya menyakitinya, saat ini dia menangis dengan lirih karena melihat kondisi sang ibu. Memang tidak begitu parah, tapi tetap saja melihat hal ini hati anak-anak Alexa terluka. Mereka amat menyayangi ibu mereka, jadi mereka tidak akan rela melihat ibu mereka seperti ini. Kedua anak itu terus menangis karena merasa mereka tidak mampu menjaga sang ibu sehingga sang ibu harus kembali terluka. rasanya Revan dan Devan ingin segera dewasa agar bisa melindungi ibunya.


"papa marahin mama lagi ya." tanya devano anak kedua Alexa. anak itu tiba-tiba datang dan duduk di samping sang ibu sambil memandang nanar sang ibu. Anak itu memeluk sang ibu erat berharap agar pelukan itu setidaknya bisa meringankan beban dipundaknya.


"ma ayo kita pergi dari sini ma, kita hidup bertiga aja. kita pergi yang jauh ma biar papa nggak bisa nemuin kita. kalau kita pergi pasti nggak akan ada lagi yang bisa nyakitin kita ma. adek akan kerja bantuin mama cari uang, adik janji ma." ucap putra kedua Alexa itu.


"Abang juga akan bantuin mama kerja, mama kan jago buat kue nanti mama buat kuenya Abang sama adik yang keliling jualan." sambung sang anak sulung.


Alexa hanya diam, dia bahkan tidak mampu menjawab kata-kata kedua putranya. pikirannya sibuk menerawang bagaimana hidupnya nanti jika dia memutuskan untuk bercerai dengan suaminya. hingga tiba-tiba Alexa merasakan kepalanya sakit dan pandangannya gelap. setelah itu dia tidak mengingat apapun lagi selain teriakan kedua putranya yang terus memanggil namanya. ah Alexa rasanya lelah sekali.

__ADS_1


__ADS_2