CINTA UNTUK ALEXA

CINTA UNTUK ALEXA
Bab 4. Hati Yang Rapuh


__ADS_3

Saat melihat ibu mereka pingsan, Revan dan vano sangat khawatir. Kedua anak itu berlari keluar kamar memanggil pelayan untuk membawa ibu mereka kerumah sakit. Hati kedua anak itu hancur melihat ibu mereka dan mereka tidak bisa melakukan apapun untuk membebaskan ibu mereka dari siksaan sang ayah.


kedua anak itu memandang nanar ruangan tempat ibu mereka dirawat. mereka bahkan belum mengetahui bagaimana keadaan ibu mereka saat ini. kedua anak itu dilanda kecemasan, bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada ibu mereka. bagaimana jika sang ibu meninggalkan mereka sendirian di dunia ini. Pikiran kedua anak itu berkecamuk membayangkan semua hal-hal buruk yang akan terjadi.


"om dokter gimana keadaan mama?" Tanya kedua anak itu serentak. tergambar jelas kekhawatiran di kedua mata anak-anak itu.


"kalian tidak usah khawatir, mama kalian baik-baik saja sekarang. mungkin beberapa jam lagi juga akan sadar. jadi jangan sedih lagi ok." ucap dokter Angga sambil tersenyum mengusap kepala kedua anak itu. sebenarnya dia sangat miris melihat wanita itu, dia bisa melihat pipi wanita itu membiru. Mungkin wanita itu baru saja mendapat kekerasan lagi dari suaminya. Dia sangat tau tentang wanita itu, karena dia sendiri adalah sahabat Arga. Dia sudah mencoba menasehati Arga sebenarnya, tapi Arga seakan tuli jika menyangkut tentang istri pertamanya ini. jadi dia hanya bisa diam dan mendoakan wanita itu agar selalu baik-baik saja kedepannya dan bisa segera terbebas dari suami kejamnya ini.


"Makasih ya om dokter, sekarang vano sama Abang bisa tenang." ucap vano.


"om dokter boleh nggak kalau kita ketemu mama Sekarang?" tanya Vano.


"iya boleh, tapi kalian nggak boleh berisik ok."


"siap om dokter." jawab Vano sambil memberikan tanda hormat pada sang dokter. Dokter Angga tersenyum melihat tingkah anak itu, sungguh mengingatkan dia pada sang putra bungsu.

__ADS_1


"yuk bang kita masuk." ajak vano pada sang kakak.


setelah memasuki ruangan sang ibu, kedua anak itu langsung duduk di samping tempat tidur sang ibu. mereka memandang miris sang ibu, andai mereka sudah dewasa mereka pasti bisa melindungi sang ibu dari sang ayah. tapi sayang mereka masihlah anak berusia 4 tahun. mereka bahkan masih belum bisa melindungi diri mereka sendiri apalagi harus melindungi sang ibu.


Hati kedua anak itu kini sangat rapuh. dipegangnya tangan sang ibu dengan hati-hati. bahkan sampai saat ini ayah mereka tidak datang menjenguk sang ibu, bahkan menanyakan kabar sang ibu saja tidak. apa yang bisa mereka harapkan dari pria itu sebenarnya, pria kejam itu hanya tau caranya menyakiti dan menyiksa saja. tapi pernahkah dia peduli sedikit saja pada mereka jawabannya adalah tidak.


Samar-samar Alexa mendengar suara tangis, makin lama suara tangis itu makin jelas terdengar. Dia tau itu suara kedua putranya, Alexa berusaha membuka kedua matanya agar kedua anaknya berhenti menangis. di gerakannya kedua tangannya guna untuk menggapai kedua anaknya itu, sulit memang. Tapi akhirnya dia berhasil menggapai kedua putranya. kedua matanya perlahan-lahan juga terbuka, dapat dilihatnya kedua putranya menangis tersedu-sedu memandang dirinya. Hatinya menjerit sakit melihat penampilan keduanya, tapi Alexa tetap berusaha tersenyum agar kedua anaknya tidak khawatir lagi padanya.


"Jangan nangis." lirih Alexa, tangannya mengusap kepala kedua anaknya dengan penuh cinta. walau tenaganya masihlah lemah tapi itu tidak menjadi penghalang untuknya menunjukkan cintanya pada kedua buah hatinya itu.


"tapi mama pingsan tadi." Jawab Revan dengan suara lirih memandang wajah pucat sang ibu.


"tapi sekarang mama udah nggak apa-apa sayang." ucap Alexa


"mama jangan sakit lagi ya. Abang sama adik sedih lihat mama sakit kayak gini." jawab Vano, matanya berkaca-kaca memandang sang ibu. Oh, Alexa rasanya ingin menangis melihat kedua putranya ini.

__ADS_1


"jangan khawatir ok, mama baik-baik aja kok. mamakan kuat kayak wonder woman." hibur Alexa pada kedua anaknya. Revano dan Devano tersenyum mendengar itu, bahkan di saat seperti inipun sang ibu masih berpura-pura untuk kuat.


"Punggung mama gimana? masih sakit?" tanya Revano.


"mama ok kok. serius deh, sekarang punggung mama udah nggak sakit lagi. kan udah dikasih obat sama pak dokter. jadi Abang sama adik vano nggak usah khawatir lagi ya." jawab Alexa dengan senyum yang masih tersungging di bibir tipisnya yang pucat. mendengar hal itu kedua putranya hanya bisa tersenyum tanpa mengatakan apa-apa lagi.


satu Minggu telah berlalu sejak kejadian itu, dan saat ini Alexa telah di izinkan untuk pulang. tentu saja kedua anaknya sangat bahagia mendengar hal itu. Tapi di sisi lain mereka juga takut jika sang ibu pulang itu artinya sang ibu akan kembali di sakiti lagi.


bisakah mereka berharap bahwa suatu saat nanti sang ibu akan membawa mereka pergi jauh dari orang yang sudah menyakiti mereka bertiga. Bisakah mereka berharap suatu saat nanti akan ada orang yang tulus datang untuk membahagiakan ibu mereka. yah semoga saja.


sesampai mereka di rumah, mereka harus menyaksikan pemandangan yang membuat hati mereka lagi-lagi sakit. yah, pemandangan dimana sang ayah sedang menyuapi makan kedua anaknya yang lain. benar-benar definisi keluarga bahagia. terdapat ayah, ibu, dan kedua anaknya yang tersenyum cerah menanggapi candaan yang dilontarkan kedua orang tua mereka.


Hati Alexa lagi-lagi sakit, entah sampai kapan penderitaannya akan berakhir. dia sangat ingin pergi, tapi sanggupkah dia menghadapi dunia ini sendirian? dia terlalu takut melihat dunia luar. Dia takut dunia akan lebih kejam dibandingkan suaminya. Dia anak introver, yang lebih senang menghabiskan waktunya sendirian.


"Ayo ma kita pergi dari sini" ajak Revan sambil menggandeng tangan sang ibu. mereka bertiga lalu naik ke kemar mereka untuk beristirahat. sepanjang jalan ketiganya hanya diam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. entah penyiksaan seperti apa lagi yang akan mereka peroleh besok pagi.

__ADS_1


keesokan harinya, Alexa dan kedua anaknya menjalani hari mereka seperti biasa. Revano dan Devano berangkat ke sekolah sedangkan Alexa akan diam di kamar sambil melukis. Sejak dulu lukisan Alexa selalu bagus. dulu sewaktu Alexa masih bersekolah dia selalu mengikuti segala lomba melukis dan tidak jarang dia akan memenangkan lomba itu. tapi walau demikian kedua orang tuanya tidak pernah menganggap kemenangan itu sebagai sesuatu yang bisa di banggakan. Saat lulus SMA Alexa tidak melanjutkan sekolahnya kejenjang kuliah karena orang tuanya enggan membiayai. Alexa hanya di jadikan seperti seorang pelayan di rumahnya sendiri selama ini. tapi Alexa tidak pernah sekalipun mengeluh karena rasa cintanya kepada kedua orang tuanya membuatnya buta akan kekejaman mereka padanya.


__ADS_2