Cinta Yang Nyata.

Cinta Yang Nyata.
Fahmi Putera Hilabi


__ADS_3

"Ini Fahmi mba anak semata wayang kita yang udah pasti paling ganteng.." Chacha dan Fahmi saling berpandangan, Fahmi pun mencium tangan Bunda Yanti.


"Sudah semakin besar yah Fahmi..."


"Iya tante .."


"Anak kamu juga cantik dan ganteng loh yan.."Chacha tersenyum manis mendengar ucapan Nyonya Hilabi


"Ayo pada masuk. Masa mau pada ngobrol diluar sih... yuuuk" Ajak Bunda Yanti. Mereka pun akhirnya sudah asik menikmati hidangan yang disajikan oleh Bunda Yanti.


"nak Fahmi kuliah dmn sekarang?" Tanya Bunda Yanti sambil menikmati nasi kebuli.


"Di Kesatuan tante jurusan Akutansi. "


"Loh satu kampus sama Chacha yah.."


"Iya bun chacha jg kenal Fahmi ko"


"Wah bagus klau bgt yah mba, berarti mereka bs lgsung segera menikah.."Fahmi dan Chacha menatap Tuan Hilabi setelah mendengar kata Menikah.


"Mksd nya menikah apa bi?" Fahmi pun semakin penasaran , chacha ikut mengangguk.


"Dulu sebelum alm pak Hardi meninggal kita sepakat untuk menikahkan kalian berdua. Nah sekarang rasanya waktu yang tepat.." Jelas Tuan Hilabi


"Bunda apa bener ?" Chacha menatap Bunda Yanti

__ADS_1


"Iya benar sayang itu permintaan Alm ayah kamu ke Bunda.." Chacha menelan salivanya, dia tidak menyangka ini bakal menjadi perjodohan untuk dirinya.


"Alhamdulilah Untung kalian sudah saling mengenal satu sama lain, jadi pasti bisa lebih cepat untuk menikah.."


"Bundaaaaaa ..." Ucap chacha membuat semua tertawa, chacha menatap Fahmi yang sepertinya jg kecewa dengan pertemuan ini.


"Umi senang sekali sebentar lagi akan punya anak perempuan yang cantik kaya chacha..." Chacha hanya tersenyum karena tersipu mendengar ucapan nyonya Hilabi. Setelah selesai makan Bunda Yanti , Tuan dan Nyonya Hilabi melanjutkan obrolan mereka di ruang tamu; Ghifari memilih untuk masuk ke kamarnya sedangkan chacha dan Fahmi sekarang sedang berada di taman kecil yang ada di halaman belakabf rumah chacha.


"Kayaknya soal peejodohan kita itu konyol cha. " Fahmi mencoba memulai pembicaraan.


"Gue rasa jg begitu mi. Gue ga tau kalau bokap punya amanat kaya gitu"


"Kalau emang keluarga kita ttp melaksanakan perjodohan itu bgmn?"


"Jadi maksud elu , elu setuju dengan perjodohan kita?" Chacha menelan salivanya mencoba mencerna apa yang barusan dia ucapkan.


"Bu..bukan gt mksd gue. Lu jgn salah paham mi. "


"Hahaha. udah jujur aja sbnernya elu seneng kan dengan perjodohan ini.?"


"Ya enggak lah. Gue ga mau nikah sama yang ga cinta sama gue. Dan ga gue cinta lah mi. "


"Rizky yah cha?" Chacha menatap Fahmi dan menggeleng.


"Rizky cm masa lalu gue mi. Lagian sekarang kayaknya Fany sm Rizky lagi deket mi"

__ADS_1


"Terus elu cemburu sama Fany?"


"Enggak lah mi, gue seneng kok klau Fany sama Rizky bisa jadian. "


"Nanti gue coba ngomong sama abi buat batalin perjodohan kita"


"I-iya mi" Chacha menatap Fahmi. Berarti emang lu ga suka dengan perjodohan ini mi. Knp gue ngerasa ga seneng dengan penolakan lu : Batin chacha.


"Fahmi Yuk pulang. Nanti kalau sudah muhrim baru boleh lama-lama berduaan." Tuan Hilabi terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Apa sih abi..?!" Fahmi beranjak dari kursinya dan melengos begitu saja dari hadapan chacha.


"Sabar yah nak chacha, Fahmi memang bgt sikap nya. Nanti kalau udah jadi Mahrom nya jg bakal terbiasa" Chacha hanya tersenyum dan mengangguk. Tuan Hilabi meninggalkan chacha kembali ke ruang tamu. Chacha pun menarik nafas dan berjalan meuju ruang tamu untuk menemui ke2 keluarga.


"Sayang, tante sama om katanya mau pamit plng. "


"Aduh mba suruh chacha panggil abi sama umi dong, kan bntr lagi jadi anak saya mba.." Chacha menelan salivanya mendengar ucapan dari Nyonya Hilabi


"Hahhaha iya iya mba. Nah chacha sekarang panggil abi sama umi yah"


"I-iya abi umi hati-hati di jalan." Chacha mencium telpk tangan Nyonya dan Tuan Hilabi.


"Nah kalau bgt berarti Nak Fahmi jg harus panggil Bunda yah.."Sekarang giliran Fahmi yang menelan salivanya dan mengangguk.


"Iya bunda." Fahmi pun mencium tangan bunda yanti.

__ADS_1


__ADS_2