Cinta Yang Sederhana

Cinta Yang Sederhana
Keadaan yang dingin


__ADS_3

***


*Hujan rintik-rintik membasahi bumi. Nadia dan Reno berada di ruang UKS. Nadia membaringkan diri tempat tidur yang tersedia di UKS. Reno memegangi sapu tangan dingin yang diletakkan di sekitar pipi Nadia. Nadia lemas luar biasa. Kalau dia masih punya tenaga, dia nggak bakalan mau tangan Nadia nyentuh pipinya sendiri. Tapi karena terpaksa. Mau gimana lagi.


"Ntar loe pulang gimana?" tanya Reno polos.


"Nggak gimana-mana. Pulang ya pulang." jawab Nadia jutek. Rasanya Nadia makin benci sama yang namanya Reno. Gara-gara Reno dirinya dilabrak hidup-hidup. Tapi kalau Reno enggak datang. Mungkin dia bakal pingsan duluan sebelum ditemukan.


"Tadi itu cewek loe ya?" ucap Nadia dengan wajah jengkel.


"Nggak." ucap Reno datar.


"Terus kok dia malah ngelabrak gue? Nyuruh jauhin loe segala. Emang dia siapa?" gerutu Nadia kesal seribu kesal. Ups! Kok gue ngomong kayak gue enggak mau jauh-jauh sama Reno. Aduuuhh...

__ADS_1


Reno sejenak tersenyum.


"Dia tuh cewek yang gue tolak. Jadi dia tau semuanya tentang gue dan termasuk tentang lo" ucap Reno sambil menunjuk Nadia.


Nadia terdiam. Dia nggak tau harus ngapain setelah Reno menunjuknya. Padahal cuma nunjuk. "Nanti bisa pulang sendiri kan?" tanya Reno.


"Bisalah. Emang loe mau nganter gue pulang?"


"Emang loe kira gue udah lupa sama rumah loe? Jangan kira lo nolak gue terus gue depresi terus lupain segala sesuatu tentang diri loe. Gue masih paham benar tentang diri loe. Malah perasaan gue masih sama kayak dulu." jelas Reno sejelas-selasnya. Reno pikir sekarang udah saatnya ngungkapin unek-uneknya.


"Perasaan gue masih kayak dulu, belum berubah sedikit pun. Asal loe tau, gue selalu cari gara-gara ama loe itu ada maksudnya. Gue nggak pengen kita musuhan, diem-dieman, atau apalah. Pas loe nolak gue, gue nggak terima. Tapi seiring berjalannya waktu, kita dapet sekolah yang sama. Gue coba buat nerima. Tapi nggak tau kenapa loe malah diemin gue. Akhirnya gue kesel, dan tanpa sadar gue malah ngajakin loe berantem." Sejenak Reno menanrik nafas.


"Loe mau nggak jadi pacar gue? Apapun jawabannya gue terima."

__ADS_1


Hening sejenak diantara mereka berdua.


"Kayaknya gue pulang duluan deh." Ucap Nadia sambil buru-buru mengambil tasnya. Inilah kebiasaan Nadia, selalu mengelak selalu menghindar pada realita. Ia bener-bener nggak tau harus ngapain. Dulu ia nolak Reno karena Nesya juga suka Reno. Tapi sekarang?


"Besok gue udah nggak sekolah disini. Gue pindah sekolah." Rno berbicara tepat saat Nadia sudah berada di ambang pintu UKS.


Nadia terdiam tak sanggup berkata-kata. Di langkahkan kakinya pergi meninggalkan UKS. Meninggalkan Reno yang termenung sendiri.


***


***


*Kelas masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang baru datang. Diliriknya bangku sebelah. Nesya belum datang. Nadia sendiri tumben datang pagi. Biasanya ia datang 5 menit sebelum bel, disaat kelas sudah padat akan penduduk. Semalam Nadia nggak bisa tidur. Entah kenapa bayangan Reno selalu terbesit di benaknya. Apa benar Reno pindah sekolah? Kenapa harus pindah? Peduli amat Reno mau pindah apa nggak, batin Nadia. "Argggg... Kenapa sih gue mikir dia terus?"

__ADS_1


"Mikirin Reno maksud loe?" ucap Nesya tiba-tiba udah ada disamping Nadia**.


__ADS_2