
sebelumnya.....
persentasi dari kelompok rita pun sudah usai berbarengan dengan jam pelajaran hari ini sudah usai.
kami membereskan buku-buku dan segera bersiap pulang. kulihat di depan kelas sudah berdiri di depan pintu kelas. wajah nya ada penuh luka juga. "ada apa sebenarnya dengan wajah aidil dan pandu" tanya ku dalam hati
"ayo pulang" sambil mengatakan itu, aidil langsung menarik tangan ku. aku pun menjadi terdiam, sampai akhirnya aku menggeluarkan kata-kata ku. "wajah mu kenapa.?" tanya ku.
"ah, ini ada kesalahpahaman." jawab aidil.
"kesalahpahaman apa.?dengan siapa" tanya ku lagi.
"ini masalah anak laki-laki, april" jawabnya sambil mengacak-acak rambut ku.
"maaf, aku tidak ingin mengatakan yang sebenarnya april." tambahnya dalam hati..
sesampai di depan gerbang sekolah. aku berinisiatif untuk melepaskan tangan aidil, "sudah di depan gerbang, dan itu angkutan ku" kata ku. "nggak mau bareng" tanya aidil.
"kamu bisa naik angkutan umum. di sana panas dan berisik lho" tanya ku balik. "siapa bilang kita naik angkutan, pulang bareng naik jemputan lah" kata aidil. aidil dan pandu memang dari keluarga berada tidak heran mereka tidak nyaman dengan angkutan umum seperti ku.
"nggak usah deh, merepotkan. lagian kita kan nggak satu arah" ungkap ku. "kau pacar ku, jadi boleh kan aku mengantar mu pulang." tanya aidil.
baru mau membuka mulut protes dengan apa yang diucapkan aidil. malah aidil langsung menarik tangan ku.
"ayo, itu jemputan nya sudah datang" kata aidil sambil menarik ku.
sesampai di dalam mobil "pak, kita ke restoran biasa ya sebelum pulang" kata aidil kepada bapak yang berada di bangku pengemudi. bapak itu hanya mengangguk
"mungkin aidil akan ke restoran setelah mengantar ku" hibur ku dalam hati.
"melamun lagi" tanya aidil yang wajahnya sudah berada di depan wajah ku.
"apa.? aidil wajah mu terlalu dekat" kata ku.
"sekali saja boleh ya" tanya aidil pada ku.
__ADS_1
aku hanya terdiam tak bersuara, "malu, ada orang tua di sini" kata ku dengan suara kecil takut bapak pengemudi itu mendengar.
"berarti kalau tidak ada orang boleh?" tanya aidil.
aku terdiam "waduh, aku salah ngomong" sesal ku dalam hati.
"pak stop di super market di depan, bapak belikan roti dan minuman. kami haus" kata aidil sambil mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya.
tanpa sepatah kata bapak pengemudi langsung keluar dan sekarang tinggal kami berdua di dalam mobil.
"sekarang sudah sepi, tidak ada orang. apa aku boleh" kata aidil sambil memegang bibir ku.
"tidak, belum saat nya" jawab ku dengan cepat.
namun bukan aidil namanya kalau keinginan nya tidak terpenuhi. sudah cukup lama mengenalnya dan aidil sangat tidak suka keinginan nya tidak terpenuhi atau pun orang lain menjawab dan membantah nya dengan kata 'tidak'. sekarang bibir aidil sudah menempel sempurna di bibir ku. aku hanya terdiam dan membulatkan mataku dengan sempurna. "tidak bisa aku pungkiri, aku sudah terbiasa dengan kebaikan aidil" ungkap ku dalam hati. namun, aku masih harus menyudahi ciuman ini. semakin aku ingin melepaskan ciuman nya semakin erat dan dalam aidil mencium ku. setelah lama aidil mencium ku, akhirnya dia melepaskan bibir ku karena kami sudah kehilangan pasokan oksigen. tapi setelah beberapa menit kami mengambil oksigen kembali aidil mengulangi aksinya kembali dengan lebih dalam lagi. lidahnya mulai mendominasi di dalam mulut ku dan sesekali bibir ku di gigit dan di hisapnya. "sakit" kata ku sebisa mungkin aku menggeluarkan kata-kata itu berharap aidil melepaskan ku. setelah lama dan beberapa kali aidil mencium ku dan menggigit bibir ku, akhirnya dia melepaskan dan kembali duduk seperti biasa seolah tidak ada yang terjadi..
"maaf" aidil menolehkan wajahnya kearah ku dan membersihkan sisa saliva yang tercipta akibat ciuman kami tadi. aku tidak merespon dan hanya terdiam.
aidil pow.
ku lirik wajah april yang berada di samping ku dan april masih terdiam. "apa aku terlalu pada april, sampai-sampai bibir nya berdarah dan membengkak. maaf april" ungkap ku dalam hati dengan penuh penyesalan namun kata-kata ini hanya mampu aku ungkap kan dalam hati. lidah ku menjadi keluh ingin mengucapkan nya langsung
akhir aidil pow
"hanya itu yang kamu ucapkan, setelah membuat ku begini" tanya ku pada aidil.
"maaf april, aku sangat menginginkan kamu jadi milik ku" akhirnya kata-kata ini mampu aku ucapkan.
"aku bukan barang yang bisa dimiliki" gumam ku yang ternyata masih terdengar oleh aidil.
"kamu memang bukan barang, tapi kamu orang yang aku cintai" ungkap aidil dengan wajah serius. diam lagi-lagi hanya ini yang bisa aku lakukan.
"bagaimana," tanya ku sambil memegang bibir ku yang sudah cukup besar membengkak atas kelakuan aidil tadi.
ku lihat aidil melirik ke arah ku "kita ke restoran dulu, sambil mengobati bengkak bibir mu" kata aidil.
__ADS_1
"apa tidak terlalu ramai di sana" tanya ku
"ya sudah nanti, biar bapak sopir yang membelinya dan kita bisa makan di mobil,bagaimana.?" usul aidil
aku hanya mengangguk, sampai sopir yang aidil tiba dari membeli roti dan minuman.
tak berapa lama kami sampai di restoran "pak boleh minta tolong lagi, bapak ambilkan makanan 2 porsi untuk kami dan bapak boleh makan di dalam restoran saja kami akan makan di mobil" tanya aidil. bapak sopir hanya mengangguk sebagai jawaban
tanpa melihat ke arah bapak sopir, aku hanya memperhatikan ke samping karena tidak ingin pak sopir melihat bibir ku yang sudah membengkak.
"apa masih sakit" tanya aidil
"tidak, aku hanya malu dengan keadaan bibir ku yang seperti ini" jawab ku.
"iya maaf mungkin sebentar lagi hilang" hibur ku.
"iya karena kamu tidak merasakan seperti digigit lebah sakitnya tahu dan sekarang membengkak. bagaimana ini bibir ku sudah tidak perawan lagi" sesal ku dalam hati.
"April, bagaimana kamu mau menjadi pacar ku" tanya aidil. aku hanya terdiam mendengar penyataan nya entah sudah yang keberapa kali. "aku juga belum memiliki jawaban" jawab ku.
"ragu dengan perasaan ku" tanya aidil
"iya" jawab ku
"aku berjanji tidak akan menyakiti dan menyayangi mu" ungkap aidil dengan wajah serius
"tidak bisa" jawab ku.
"kenapa, bisakah kau membuka hati mu untuk ku.? sisa kan sedikit saja untuk ku.! jangan hanya pandu yang ada di hati mu" ungkap aidil.
"aku" belum selesai aku menjawab, aidil sudah membuka seragam atas ku dan menggigit leher ku, tidak hanya satu atau dua gigitan lebih dari itu Hingga menggeluarkan warna kemerahan. setelah ku lihat wajah nya puas menggigit leher ku. aidil tersenyum dan kembali menenggelamkan kepalanya di leher ku dan ku rasakan dia menghisap dan menjilat tepat dimana dia menggigit leher ku tadi.
"maaf, ini tanda kau milik ku" kata nya.
ku lirik sekilas leher ku sudah penuh dengan kemerahan.
__ADS_1
tbc