
aku masih terdiam mencerna pembicaran dari adik kelasku. Ya aku cukup mengetahui jika sebenarnya dia sering memperhatikan ku namun, aku takut dia cuma penasaran dengan ku. aidil nama adik kelas ku itu hanya merasakan cinta sesaat karena aku lebih dewasa dibandingkan dia.
"bagaimana, apakah di hati mu tersisa untuk ku" tanya aidil. aku masih terus termenung mencerna kata-katanya. beruntungnya bel pergantian jam sudah berbunyi, aku pun bergegas berdiri untuk memasuki kelas. namun, aku di cegat oleh aidil. "aku akan menunggu jawaban dan respon mu" ucap nya sambil berlalu meninggalkan ku.
mendengar perkataan dan penjelasannya membuat langkah ku menjadi gontai. ku lirik ke arah kelas pandu ternyata dia sudah berdiri di depan pintu. aku menjadi malu dan salah tingkah karena tertangkap basah mencuri pandang ke arah kelas nya.
"sudahlah aku harus fokus belajar setelah ini kan pelajaran guru kami yang tampan" ucap ku dalam hati
"haduh pelajaran yang membosankan, sebentar lagi bakal di mulai" keluh aryani. "iya, membosankan sekaligus menakutkan" jawab rita. "iya nih, tapi nggak masalah deh, gurunya ganteng walaupun udah lumayan tua" jawab ku. "hahahahahaha" tawa aryani dan rita bersamaan mendengar ucapan ku.
tak lama setelah kami mengeluh tibalah guru matematika kami. hanya sebatas mengucapkan salam dan langsung memulai pembelajaran. ia guru kami memang begitu , tanpa basah basi, tergolong guru yang cuek namun tidak pelit dengan nilai. sifatnya yang tegas, dalam mengajar membuat siswa nya menjadi sungkan untuk berbuat ulah atau bolos meninggalkan kelas. namun walaupun sifatnya yang sangat tegas, cuek dan jarang berbicara. guru kami pernah mencoba untuk membuat kami tidak tegang, "ayo, pak kita tukar nasib, siswa ku semua nya pada lamban belajarnya". ucap nya pada tukang kebun di belakang kelas yang kebetulan di belakang kelas kami merupakan taman dan kelas kami memiliki jendela kaca yang bisa di buka. entah itu sindiran atau candaan guru kami namun setelah mengatakan itu guru kami itu tersenyum, "suatu keadaan langkah melihat guru kami yang satu ini tersenyum" ucap ku dalam hati. memang guru kami yang itu jarang sekali tersenyum malahan boleh dikatakan tidak pernah sama sekali, entah hal tadi mungkin lucu baginya sehingga ia tersenyum.
__ADS_1
ting...ting bel pun berbunyi menandakan jam pelajaran telah usai, "lihat nggak tu guru kita tersenyum" ucap aryani, "ia sangat tampan" jawab ku.
tak terasa jam pelajaran terus berlalu, hingga sudah tibanya jam pulang. karena buku ku yang sangat berantakan aku pun menjadi yang paling terakhir di kelas, iya kalau jam pulang semua siswa di kelas girang sekali untuk pulang. jadi lah tinggal aku sendirian di kelas, sebenarnya aryani ingin menunggu ku namun aku menolak takut jemputan pacarnya sudah menunggu, begitu pula dengan sahabat ku rita yang juga sudah di telfon ayahnya.
"gimana, apa jawaban mu?" tanya aidil. "jawaban apa" tanya ku balik. "apa mau aku pertegas kembali" kata aidil. aku masih termenung "di bawah pohon waktu jam istirahat" tambah nya lagi. "eh, iya baru ingat" jawab ku. "jadi apa jawaban mu" tanya aidil kembali. "bisa kah kita menjadi kakak dan adik" kata ku dengan hati-hati. "tidak, aku mau lebih, kamu tenang saja aku pasti bisa bersikap lebih dewasa dibandingkan kamu' jawab nya. "tapi" kata ku. "ku akan sabar menunggu, ya sudah ayo pulang, aku antar" kata aidil kembali. "nggak usah, nanti merepotkan" belum selesai aku menjawab aidil sudah menarik tangan ku, belum jauh kami melangkah keluar kelas. aidil hampir menabrak pandu yang entah suatu kebetulan sudah berada di depan pintu.
pandu melirik ke tangan ku dan aidil yang berpegangan lebih tepatnya sih aidil menarik tangan ku. aidil semakin menarik tangan ku hingga aku merasa sedikit sakit. sudah cukup jauh menghilang dari pandangan pandu baru lah aidil melepas tangan ku. ku pegang tangan ku "aduh ternyata sakit" keluh ku. karena ya tangan ku merah dan sakit mungkin aidil menarik ku terlalu kuat. "maaf" ucap aidil. aku yang bingung harus merespon bagaimana hanya terdiam. "ya sudah ayo kita pulang setelah sampai di rumah kamu harus obati tangan mu" nasehat aidil. "iya" jawab ku.
sesampai di depan rumah ku, aku langsung masuk ke rumah dan mengucapkan "terima kasih, maaf sudah merepotkan" kata ku. "sama sekali tidak merepotkan" jawab aidil.
belum masuk ke rumah namun, orang tua ku sudah menunggu dan menatap ku "siapa" tanya ayah "adik kelas" jawab ku. "nak, sekarang belum saat nya untuk menjalin hubungan dengan laki-laki, kamu masih terlalu kecil" nasihat ibu ku "iya bu, itu cuma adik kelas kok" jawab ku. "iya ibu percaya, sudah sana ganti baju habis itu kita sarapan siang" kata ibu.
__ADS_1
ku langkah kan kaki ku menuju kamar ku, namun belum tiba ku ke kamar, sayup-sayup aku dengan suara ayah yang menasehati ibu "anak, jangan terlalu di manja kan" kata ayah tak terdengar suara jawaban dari ibu. langsung aku menuju kamar "padahal sudah 15 tahun artinya sudah remaja kan" gerutu ku dalam hati.
setelah menganti pakaian ku. aku bergegas ke ruang makan karena perut ku sudah bernyanyi minta di isi.
"kalian harus fokus belajar, jangan ada yang menghalangi nilai atau pun studi kalian" ucap ayah sambil menyantap makanannya. "iya ayah" jawab ku dan kakak bersamaan.
sarapan telah usai aku pun sudah membantu kakak mencuci piring. setelah pekerjaan rumah usai aku bergegas ke kamar untuk menyelesaikan tugas sekolah ku. setelah satu jam lebih membuat tugas ku "akhirnya selesai juga" ucap ku. dering sms hp ku berbunyi, "lagi apa, sudah makan" tanya aidil, ternyata sms dari adik kelas ku itu. aku sangat malas membalas sms nya namun baru tangan ku ingin mengetik sms aidil sudah menelfon. "kenapa nggak di balas" tanya nya "iya ini baru mah di balas kamu sudah telfon duluan" jawab ku. "iya aku masih menunggu jawaban mu" jawab aidil "kamu sangat ingin jawaban ku tapi tidak ingin mendengar kata tidak dari ku" jawab ku. aidil masih terdiam tanpa mengeluarkan kata-kata sampai akhirnya aidil bersuara kembali "apa yang kurang dari ku. aku juga termasuk salah satu orang berada, wajah ku juga di atas rata-rata" ucap aidil. "aduh ini orang percaya diri nya tinggi juga" gerutu ku dalam hati. "buruan, apa jawaban nya" tanya aidil kembali.
aku dengan buru-buru mematikan telfon dan hp ku. untuk menghindari pertanyaan itu, aku bingung ia ingin ku menjawab nya tapi tidak mau mendengar jawaban tidak dari ku "aduh, pusing aku" ucap ku pada diri sendiri. hari pun menjelang malam, aku tertidur dengan pulas sampai melewatkan jam makan malam ku.
Tbc
__ADS_1