Ciuman Pertamaku

Ciuman Pertamaku
Episode - 12.


__ADS_3

Episode Sebelumnya..


"Tolong siapkan pesanannya temanku ya. Terus jika sudah kamu tolong antarkan ke meja depan itu ya," ucap Alexa kepada pelayan yang bekerja di tempatnya. Sembari menyerahkan daftar menu tersebut kepada pelayan nya itu.


"Baik kak." ucap sang pelayan. Lalu, pelayan itu langsung menyiapkan pesanan teman sang bos dan langsung mengantarkannya kepada dua laki-laki yang duduk di meja depan seperti yang dikatakan oleh bosnya itu.


"Silahkan di nikmati," ucap pelayan itu dengan ramah kepada kedua laki-laki yang merupakan teman bosnya.


"Terimakasih."


"Terimakasih, cantik." Rudy mengedipkan matanya kepada pelayan itu. Dan itu membuat pelayan tersebut menjadi salting dan wajahnya langsung berubah menjadi merah seperti kepiting rebus.


Dimas yang melihat itu. Hanya geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang suka menggoda seseorang yang dilihatnya. Sehingga laki-laki itu hafal akan sifat sahabatnya yang dikenal sebagai seorang buaya cap gajah itu.


...****...


Tok!! Tok!! Tok!!


"Iya sebentar," bibi Darma yang mendengar suara ketukan pintu segera menyahut. Wanita itu juga segera melangkah untuk membukakan pintu itu dan setelah tau siapa yang datang.


"Non Devina, ayo silahkan masuk non." ucap bibi Darma langsung mempersilahkan gadis itu untuk masuk.


Devina yang sudah masuk ke dalam rumah tersebut. "Tamara ada di kamar kan bibi?"


Bibi Darma mengangguk. "Iya ada non di dalam kamarnya. Non Tamara sepertinya lagi bersiap-siap di kamarnya."


"Oh iya, non Devina silahkan duduk. Bibi akan memanggil non Tamara kalau non Devina sudah sampai," ucap bibi Darma yang menyuruh teman majikannya itu untuk duduk di ruang tengah.


"Eh, bibi Darma, enggak usah! Biar aku aja yang ke kamarnya Tamara. Lagian aku ada sesuatu yang ingin di katakan kepadanya." ucap Devina menahan bibi Darma untuk tidak usah memanggil sahabatnya.


"Oh, baiklah jika memang non Devina ingin menghampiri non Tamara. Silahkan Non." ucap bibi Darma mempersilahkan gadis itu untuk menemui sang majikan.


"Yaudah kalau begitu Devina ke atas dulu ya bibi." gadis itu pun langsung menaiki tangga menuju ke arah kamar sahabatnya. Dan setelah sampai di depan pintu kamar itu. Devina langsung membuka pintu tersebut dan menampilkan Tamara yang sedang duduk di meja riasnya sembari membalikkan kepalanya saat sahabatnya sudah datang.


"Sudah datang," ucap Tamara saat melihat sang sahabat sudah berdiri di depan pintu kamarnya sembari cengengesan tidak jelas.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba nyengir begitu?" tanya Tamara saat gadis itu menatap sahabat yang sudah dianggapnya seperti keluarganya itu seperti orang sedang menginginkan sesuatu.


Devina pun masuk saat mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Lalu, gadis itu duduk di atas kasur empuknya dengan pandangannya masih tertuju pada sahabatnya yang berada di kursi meja riasnya.


"Kita ke kafe ya sekarang," ucap Devina saat gadis itu sudah menjatuhkan dirinya ke kasur empuk milik sahabatnya itu.


"Ke kafe? Bukannya tadi ditelepon kamu bilang kamu ke tempat nenek kamu?" tanya Tamara yang mulai penasaran dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Soalnya waktu di telepon tadi, sahabatnya itu akan mengajaknya ke rumah sang nenek, tapi kenapa sekarang malah berubah?


"Iya, awalnya begitu. Tapi sekarang udah gak jadi dan sekarang kita ke kafe aja ya," ucap Devina dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ya... tapi kenapa? Apa dulu alasannya?" tanya Tamara dengan alasan sahabatnya yang membatalkan niatnya untuk ke rumah sang nenek. Padahal gadis itu juga pengen menemui nenek dari sahabatnya itu, karena dirinya sudah sangat merindukan nenek dari sahabatnya itu.


"Ya... itu karena....," Devina nampak bingung dengan ucapannya. Gadis itu tidak tau harus memberikan alasan apa kepada sahabatnya itu.


"Karena apa Devina? Nenek kamu gak ada di rumah?" tanya Tamara dengan cepat karena sahabatnya itu belum melanjutkan kalimatnya lagi.


Mendengar perkataan Tamara. Devina langsung manggut-manggut." I-iya! Nenek gak ada di rumah! Nenek pergi ke luar kota karena harus berobat, Iyah berobat."


Tamara yang melihat gelagat mencurigakan dari sahabatnya itu hanya menyipitkan matanya. "Beneran? Kamu gak lagi bohong kan Devina?"


"Eng-enggak kok! Beneran kok, nenek lagi pergi ke luar kota sama pak Ahmad untuk berobat. Kalau tidak percaya, tanyakan saja kepada pak Ahmad." ucap Devina dengan kepala yang mengangguk saja.


Tamara yang melihat sahabatnya yang nampak terlihat gugup itu hanya diam sejenak. Gadis itu tau kalau sahabatnya itu sedang membohonginya tentang keberadaan sang nenek. Tapi, gadis itu memilih untuk tidak menanyakannya. Mungkin sahabatnya itu memiliki alasan lain, sehingga gadis itu membatalkan kunjungannya ke neneknya.


"Yaudah, kalau memang nenek kamu lagi berobat ke luar kota. Aku percaya kok." ucap Tamara dengan membalikkan badannya menghadap ke arah cermin di depannya. Kemudian, melanjutkan kembali make up-nya yang tertunda itu.


Devina yang ada di sana pun langsung menghampiri Tamara yang sudah memoleskan kembali make up-nya dengan mata yang berbinar-binar. "Jadi.. kita ke kafe ya sekarang."


Tamara menolehkan kepalanya menatap sahabatnya itu. Kemudian menganggukkan kepalanya. "Terserah, aku ngikut aja."


"Yess!!!" seru Devina sembari mengangkat kedua tangannya. Karena sahabatnya mau diajak nya ke kafe.


"Kenapa kamu?" tanya Tamara saat melihat sahabatnya yang tiba-tiba kegirangan itu dengan alis yang terangkat.


"Hah! Eum.. nggak kok! Nggak ada apa-apa. Hehehe." ucap Devina dengan menggaruk tengkuknya lagi.

__ADS_1


Tamara yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala dan kembali melanjutkan memoles wajahnya. Gadis itu memasang make up simpel dan terlihat sangat natural seolah gadis itu tidak memakai make up. Karena memang pada awal wajahnya yang mulus dan putih itu harusnya tidak perlu lagi menambahkan sesuatu di wajahnya. Tapi karena tadi sahabatnya bilang akan ke rumah neneknya. Gadis Tamara ingin mempercantik dirinya saat bertemu dengan beliau.


Dan karena sudah batal. Dan sahabatnya juga akan mengajaknya pergi ke kafe. Jadi.. mau tidak mau gadis tetap melanjutkan polesannya itu, tidak mungkin kan gadis itu harus menghapusnya lagi dari wajahnya.


Setelah beberapa saat kemudian. Tamara pun selesai dan bangkit dari duduknya dan saat gadis itu sudah berbalik badan Devina sudah berada di belakangnya.


"Astaga! Devina. Ngapain sih berdiri kaya patung gitu! Aku kan kaget!" ucap Tamara dengan memegang dadanya yang sudah berdegup kencang akibat rasa terkejutnya.


Sedangkan, orang si pembuat ulah hanya cengengesan tanpa merasa bersalah. "Hehehe maaf yak! Sekarang kamu udah selesai, kan?"


Tamara pun hanya mengangguk kecil. "Iya sudah selesai."


"Yaudah kalau begitu, ayok kita berangkat sekarang!" ucap Devina yang langsung menarik tangan sang sahabat untuk keluar dari kamar itu dan segera turun.


Keduanya pun sampai di bawah dan bertemu dengan bibi Darma yang sedang mengelap meja ruang tengah itu. "Bibi Darma kita mau ke luar dulu ya."


"Iya non." ucap bibi Darma sembari menganggukkan kepalanya.


"Bibi Darma, kita pergi ke luar dulu ya bibi. Bibi Darma baik-baik di rumah, Devina sayang bibi." ucap Devina saat gadis itu sudah menjauh dengan terus menarik tangan sahabatnya itu menuju ke arah mobilnya.


"Hati-hati di jalan non." teriak bibi Darma dari arah ruang tengah. Karena sang majikan dan sahabatnya itu sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Kita sebenarnya mau ngapain sih ke kafe terus Dev? Bukannya kemarin kita sudah pergi ya?" tanya Tamara saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


Devina yang mengemudi mobilnya hanya menoleh dan kembali menatap lurus ke depan dengan memfokuskan pada menyetirnya itu. "Enggak kok! Nanti juga kamu bakalan tau."


Tamara yang juga menatap jalanan hanya menarik nafasnya panjang dan kemudian menoleh ke arah jendela sampingnya. Dan keduanya pun saling diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, karena Devina yang memfokuskan diri menyetir mobilnya.


Sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama. Keduanya pun sampai di depan kafe yang bernama 'Alexa Kafe' itu. Kemudian, mereka berdua pun turun dari mobilnya dengan Devina yang masuk lebih dulu. Sedangkan, Tamara mengikutinya dari belakang dengan langkah yang sedikit pelan.


.


.


.

__ADS_1


...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....


...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...


__ADS_2